Posted in buku, resensi

REVIEW Muda Berdaya Berkarya Raya

Saat kita melihat orang berdiri di puncak, kadang yang perlu kita pelajari bukan bagaimana dia bisa sampai ke puncak. Tetapi apa yang dia pikirkan ketika ada di bawah, ketika dia mendaki, dan ketika dia menuntaskan pendakian itu. Apa yang dia cari? (hlm. 55)

Sebenarnya udah tahu nama penulisnya, udah lumayan lama, sejak zaman kuliah. Tapi sepertinya selama ini saya belum berjodoh untuk membaca buku-bukunya. Nah, pas lihat buku ini kok dari judulnya saja seperti udah bikin hati tergerak untuk mengambilnya dari rak di toko buku.

Ada beberapa BAB yang sangat menarik perhatian saat membaca buku ini. Pertama: Balas Dendam Sejarah. Pas baca kalimat demi kalimat di halaman sembilan, saya seperti berkaca pada diri sendiri. Barangkali tersebab luka, kita selalu punya tujuan untuk sembuh. Barangkali tersebab dendam, kita selalu punya keinginan untuk membalaskannya. Kita selalu belum bahagia, kita selalu belum sukses, kita selalu belum selesai dengan semua yang kita usahakan. Selalu merasa ada luka yang tak bisa kita sembuhkan dari hari-hari pahit yang pernah dilewati sebelumnya. Pada akhirnya kita sadar dan akan berada di titik: barangkali tersebab nasib yang buruk, atau buruk sekali, kita jadi punya kesempatan untuk menemukan nasib yang baik. Barangkali tersebab orang-orang yang melemparkan batu bata kepada kita, kita jadi punya bahan untuk membangun sebuah gedung. Maka untuk siapa saja yang hari ini tengah berada dalam hidup yang berat, penuh luka dan nestapa, tenang saja: hidup ini memang berat. Tetaplah berusaha untuk menemukan kebahagiaan-kebahagiaan lainnya. Balas dendam adalah hal yang menyenangkan.

Kita semua sedang menyembuhkan diri dari hal-hal yang tidak kita katakana dan berusaha mendapatkan kekuatan dari hal-hal yang kerap kita ceritakan. Semua luka memang akan sembuh, tetapi tidak semuanya akan hilang. (hlm. 10)

Impian dan Cita-cita adalah BAB favorit yang kedua. Di sini, penulis menjabarkan apa perbedaan apa itu impian dan cita-cita. Selanjutnya, Memulai dari Akhir adalah BAB paling favorit banget!! Bab ini menjawab kegelisahan hati saya selama sekitar dua tahun ini. Ya, menjadi abdi negara yang tahun ini menginjak di tahun kesembilan, dua tahun terakhir merupakan titik terjenuh yang saya alami. Jadi mikir, saya saja yang bekerja sesuai passion saja ternyata memiliki rasa berada di titik jenuh, nggak kebayang bagaimana rasanya di luaran sana banyak orang yang memilih atau terpaksa harus bekerja karena keadaan atau kebutuhan tanpa memikirkan apakah pekerjaan itu sesuai passion atau tidak. Saya memang belum seberani penulis untuk resign dini, tapi saya memang sudah memikirkannya dua tahun terakhir ini tentunya harus mempersiapkan diri secara matang. Mungkin belum sekarang, tapi nanti jika sudah bisa lepas di saat sudah punya modal untuk pilihan ke impian yang lain. Sedang diusahakan, hahaha… x)) #HayatiLelah

Oya, di bahasan penulis saat memutuskan resign dari pekerjaannya, ada selipan tentang ulasan Dan Lok sebagai 4S. Pertama, survival: masa di mana kita harus berjuang antara ‘hidup’ dan ‘mati’. Yang kedua adalah security: situasi di mana kita sudah selamat dan ingin menata hal yang lebih baik untuk keamanan jangka panjang. Banyak orang bercita-cita mencapai S yang ketiga, success. Yaitu saat kita sudah melampaui ‘rasa aman’ dan bisa memiliki sejumlah akses dan fasilitas untuk bersenang-senang. Kemudian terakhir adalah significance. Yaitu hidup bukan lagi tentang diri kita sendiri dan keluarga. Tetapi tentang memberi dan berbagi sebanyak mungkin kepada orang lain. Setelah mendapatkan uraian 4 S dalam buku ini, saya rasa hidup ini masih di fase security, masih harus melompati 2 S lagi ini x))

Selanjutnya, BAB favorit dengan judul Saya Bukan Lulusan Sekolah Favorit. Ini rasanya juga berkaca pada diri sendiri, SMP dan masa kuliah, saya berada di tempat yang bukan favorit, sisanya memang bersekolah di tempat favorit. Sebenarnya Universitas kuliah adalah tempat favorit bagi kebanyakan orang, bahkan selama beberapa tahun selalu masuk tigas besar kampus dengan pendaftar SNMPTN terbanyak. Tapi, jurusan yang saya pilih adalah jurusan yang tak lazim orang pilih, alias hanya orang langka yang tertarik dengan jurusan tersebut: Ilmu Perpustakaan. Lalu kenapa saya memilih jurusan tersebut? Ya, karena alasan apalagi kalau bukan karena memang suka membaca. Hapalan saya kurang, masalah hitung-menghitung apalagi, nol banget, kemampuan saya hanya suka membaca, membaca dan membaca. Dan ternyata jurusan ini tepat sekali membawa saya ke pekerjaan sebagai pustakawan sekolah seperti sekarang ini, hehehe… x))

Tujuan penulis untuk menerbitkan karya ini di openingnya adalah untuk berbagi kepada para milenial yang sedang menghadapi krisis perempat usia. Penulis berharap, buku ini menjadi semacam ‘lubang intip’ atau paling tidak tempat bercermin bagi pertanyaan-pertanyaan di seputar krisis perempat usia yang dihadapi. Setelah membaca buku ini, saya rasa juga cocok dibaca para remaja yang mulai beranjak dewasa yang biasanya dilanda kegalauan tingkat tinggi dalam menghadapi hidup; mau kemana, bagaimana menjalani hidup dan kegalauan hidup lainnya layaknya seperti manusia dewasa pada umumnya.

Buku ini selain menjawab hal-hal yang ternyata selama ini mengendap di kepala, juga menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan murid-murid yang suka curhat terutama menjelang kelulusan SMA yang biasanya diliputi kegelisahan hidup setelah lulus nanti. Lumayan banget, buku ini nantinya menjadi semacam kamus yang akan saya buka untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari mereka, hehehe…

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Hidup ini berat. Balas dendam adalah hal yang menyenangkan. (hlm. 5)
  2. Tenang saja, manusia terbaik di dunia pun dicaci dan dibenci banyak orang. Satu, seribu, sejuta orang yang membenci dan meremehkanmu, tak serta-merta menentukan kualitas dirimu. Hidup kita tidak ditentukan orang lain dan tak ada seorang pun yang berhak merusak kebahagiaanmu. Tetaplah bermimpi yang tinggi, teruslah rendah hati. Kaulah tuan bagi dirimu sendiri. (hlm. 13)
  3. Tentang impian, selalu ada jarak di antara ‘siapa diri kita sekarang’ dan ‘siapa diri kita nanti’. Sebagian menangisi jarak itu untuk kemudian merasa kalah dan menyerah. Sebagian lain tetap tersenyum untuk mengalahkan jarak itu dengan sikap pantang menyerah. Jarak itu bernama tantangan. (hlm. 29)
  4. Hidup ini samudera cerita. Dan setiap kita adalah pencerita, yang berlayar dengan kapal masing-masing. (hlm. 33)
  5. Kau harus bergerak. Jika kau tidak bisa berlari, berjalanlah. Bila tak sanggup melangkah, berteriaklah. Panggil, katakan, tuliskan. Sebab ketika kau tak sanggup melakukan apa-apa lagi, hatimu harus terus berdoa. Pikiranmu harus terus berputar. Kau tak boleh berhenti. (hlm. 43)
  6. Sesuatu yang kau tunda akan menggumpalkan kekuatan untuk memburumu tanpa ampun. (hlm. 49)
  7. Tidak apa-apa. Teruslah menjadi orang gila, yang tak mau menurunkan impian-impiannya, meski kebanyakan orang tak sanggup membayangkannya. (hlm. 59)
  8. Mereka yang melulu mengeluh tentang sampan yang dikayuh, tak akan sampai ke tepian. (hlm. 63)
  9. Jika impianmu tak terlihat di batas cakrawala, mungkin kau belum cukup jauh berlari. (hlm. 67)
  10. Kadang kala kita harus jatuh secara luar biasa, untuk bangkit kembali secara luar biasa. (hlm. 79)
  11. Pada satu titik dalam hidup, setiap orang pasti membutuhkan pertolongan. Jika saat itu tiba dalam hidupmu, tak selalu berarti kau jadi orang yang lemah. Karena satu yang pasti saat kau meminta tolong, kau sedang ingin menjadi seseorang yang lebih baik. (hlm. 86)
  12. Sebelum jujur kepada orang lain, sebelum mengatakan kepada dunia siapa dirimu yang sebenarnya, cobalah untuk belajar jujur kepada diri sendiri. (hlm. 93)
  13. Kapanpun kau ingin menyerah, jangan mengingat orang yang kau cintai karena tak ingin membuat mereka menangis. Ingatlah orang yang kau benci karena mereka tak boleh tertawa di atas kegagalan-kegagalanmu, lebih keras lagi. (hlm. 95)
  14. Kadang kita hanya perlu duduk tenang dan mengamati sekeliling. Kita selalu butuh ruang untuk memperbaiki persepsi, selalu butuh waktu untuk menguji daya observasi. (hlm. 99)
  15. Kadang kita ragu mencoba hal baru. Kita enggan keluar dari zona nyaman. Padahal di seberang segala yang kita khawatirkan bahkan takutkan selalu ada ilmu dan hikmah yang bisa kita temukan. Semua yang memberi kita makna, warna, dan rasa yang memperkaya hati dan pikiran kita. (hlm. 103)
  16. Kita kerap menilai orang karena kesalahan yang mereka buat, tetapi jarang menilai mereka dari bagaimana mereka menyelesaikan dan keluar dari masalah-masalah itu. (hlm. 107)
  17. Kadang-kadang, persepsi adalah sebuah perangkap. Dan tafsir kita terhadap sesuatu sering keliru. (hlm. 111)
  18. Orang gagal akan berusaha memberitahu orang lain tentang kesuksesan dalam hidupnya. Orang sukses akan berusaha memberitahu orang lain tentang kegagalan dalam hidupnya. Para pecundang akan selalu mencari tepuk tangan, para pemenang akan selalu mengerti cara menghargai. (hlm. 115)
  19. Setiap kita memiliki dua jenis waktu; waktu hidup dan waktu mati. (hlm. 117)
  20. Hidup bukan tentang sebagai apa kita dilahirkan, melainkan bagaimana kita bertindak dan sebagai siapa nanti kita mati. (hlm. 130)
  21. Tidak semua yang memakimu adalah musuh. Tidak semua yang menyanjungmu adalah teman. (hlm. 133)
  22. Jika hidup adalah sebuah lomba lari, setiap orang berhak menjadi juaranya. (hlm. 137)
  23. Kalau kau tak disukai semua orang, jelas ada yang salah dengan dirimu. Kenyataannya, sikap dan pilihan-pilihanmu tak akan menyenangkan semua orang. Sementara hal-hal yang kau cinta, mungkin dibenci sejumlah orang. Namun, begitulah hidup berjalan. Jika kau berani memutuskan dan punya pendirian. (hlm. 149)
  24. Yang menyedihkan adalah ketika seseorang dihakimi karena menjadi diri sendiri, tetapi justru dipuji saat menjadi orang lain. (hlm. 155)
  25. Kalau sekarang kita mengeluh, mengapa masyarakat kita jadi cenderung terbelah, mudah berkonflik, dan doyan berdebat untuk hal-hal yang sebenarnya nggak penting-penting amat, mungkin salah kita sendiri. Salah kita sendiri yang terlalu nyaman hidup di dunia yang kita sukai saja. (hlm. 160)
  26. Bila ada yang membicarakanmu di belakang, teruslah berjalan. Maka mereka akan terus tertinggal di belakang. (hlm. 161)
  27. Tanam satu kebaikan di hidup setiap orang yang kamu kenali. (hlm. 169)
  28. Hidup ini bukan tentang berapa lama kita menjalaninya, tetapi berapa dalam kita memaknainya. (hlm. 173)
  29. Tolonglah sebanyak mungkin orang. Hidup itu akan jauh lebih bermakna saat kita bisa membuat banyak orang lebih berdaya. (hlm. 202)
  30. Kabar baiknya, mereka yang memandangmu sebelah mata adalah mereka yang menaruh fokusnya pada dirimu. (hlm. 217)
  31. Di dunia ini ada beberapa orang yang ketika kau tidak dihargai oleh mereka, hidupmu terasa tak berguna. (hlm. 225)
  32. Jadilah orang yang merdeka yang hak-haknya terpenuhi, tak menjajah kebebasan siapa pun. Mulailah dengan tidak menyepelekan hak orang lain, karena kita pun terluka jika hak kita dianggap tak berdaya. (hlm. 236)
  33. Setiap kita pernah menjadi individu yang berusaha menjadi diri sendiri dengan cara meniru orang lain. (hlm. 249)
  34. Belajarlah pada siapa saja. Jangan lihat siapanya. Setiap orang yang ditakdirkan bertemu denganmu, membawa satu ilmu dan kebijaksanaan yang tak boleh kamu lewatkan. (hlm. 261)
  35. Saat kau menolong orang lain, sebenarnya kamu menolong dirimu sendiri. (hlm. 268)
  36. Jika Tuhan memberi rezeki lebih, sesungguhnya Ia sedang tidak memintamu membeli lebih, Ia memberimu kesempatan untuk berbagi lebih. (hlm. 272)
  37. Kita selalu gagal menertawakan lelucon yang sama untuk kali kedua atau ketiga, kan? Lalu, mengapa kita selalu berhasil menangisi hal yang sama berkali-kali? (hlm. 285)
  38. Kadang-kadang hidup adalah tentang menyusun dan menemukan makna dari cerita-cerita yang dialirkan oleh serangkaian peristiwa kebetulan. (hlm. 305)
  39. Jangan mencari tahu apa yang terjadi besok. Hidup tak menarik lagi jika kita sudah tahu rahasia yang disimpan hari esok. (hlm. 312)
  40. Jika kau merasa menderita, bersyukurlah sebab segalanya berjalan tak baik-baik saja dan kau merasa kekacauan ini harus dirapikan, badai harus ditembus, kesalahan-kesalahan harus ditebus, dan apa-apa yang belum sanggup membunuhmu membuatmu lebih kuat. (hlm. 327)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Muda Berdaya Berkarya Raya

Penulis                                 : Fahd Pahdepie

Editor                                    : Triana Rahmawati

Penerbit                              : Republika

Desain cover                      : Sukutangan

Lay out                                 : Alfian

Penerbit                              : Maret 2019

Tebal                                     : 2019

ISBN                                      : 9786025734724

Author:

Aku ingin menjadi seperti tanaman lembut dan segar. Dari arah manapun angin menerpa, ia lentur, kuat dan ketika angin tenang, ia tegak dan lurus kembali. Demikian pula seandainya aku ditimpa musibah (aku akan mencoba bersabar hingga Tuhan akan menghilangkan kesukaran-kesukaran dari diriku). Namun, aku tak ingin seperti pohon cemara yang tegak dan keras hingga Tuhan menumbangkannya kapanpun Dia menginginkannya.

3 thoughts on “REVIEW Muda Berdaya Berkarya Raya

  1. Duh jadi pengen baca, jleb banget tuh kak ya kadang orang tau suksesnya doang gatau perihnya nih dan emang sekarang ortu khawatir n marah kalo anaknya ngga masuk sekolah favorit tapi ternyata banyak kok org survive dari sekolah yang biasa aja heheh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s