Posted in buku, resensi

REVIEW Seni Hidup Minimalis

“Ada tiga kategori barang, yaitu barang fungsional, barang dekoratif, dan barang emosional.” (hlm. 6)

Terapkan prinsip, jika barang itu membuat kita bahagia, letakkanlah di tempat yang terlihat jelas dan nikmati keberadaannya. Sebaliknya, jika mempertahankan suatu barang hanya karena merasa berkewajiban, kita harus mempertimbangkan keberadaan barang itu dengan serius.

Kita juga sering kali sulit melepas barang-barang masa lalu dan bertahan dengan barang-barang tertentu yang membuktikan prestasi atau siapa kita. Berapa banyak orang yang masih menyimpan seragam tim ektrakurikuler sekolah, jaket dengan inisial sekolah, piala, atau buku catatan masa kuliah dulu? Dalam upaya membenarkan keberadaan barang-barang ini, kita beranggapan bahwa ini adalah bukti pencapaian. Namun, justru barang-barang ini yang sering kali berada dalam suatu kotak entah di mana, tidak terlihat dan karenanya tidak bisa membuktikan apa-apa. Jika ini yang kita alami, mungkin sudah waktunya melepas barang-barang usang dari suatu masa lalu kita.

Saat menilai barang-barang dengan kritis, kita mungkin terkejut melihat betapa banyaknya barang yang mengenang masa lalu, melambangkan harapan atau masa depan, atau melambangkan sosok yang kita khayalkan. Sayangnya, memberikan terlalu banyak, ruang, waktu, dan energi untuk barang-barang tersebut membuat kita sulit menjalani hidup dan menghargai momen yang sedang berlangsung ini.

Ingatlah bahwa kenangan, mimpi, dan cita-cita tidak terbatas pada barang, melainkan ada dalam diri kita sendiri. Barang milik kita bukanlah kita. Yang menentukan siapa kita adalah tindakan, pikiran, dan mereka yang kita cintai. Dengan membuang ‘puing-puing’ waktu luang di masa lampau, upaya yang tidak pernah selesai, dan khayalan yang tidak pernah diwujudkan, kita akan mendapatkan ruang untuk kemungkinan-kemungkinan baru (dan nyata). Barang aspirasi adalah perlengkapan bagi versi diri yang kita impikan; kita harus membersihkan barang-barang ini agar punya waktu, energi, dan ruang untuk benar-benar mengaktualiskan diri kita sendiri serta meraih setiap potensi yang kita miliki.

Menemukan cara untuk ‘mencintai tanpa memiliki’ sesuatu adalah salah satu kunci bagi kehidupan minimalis. Menerapkan hidup minimalis berarti melawan keinginan untuk menghadirkan tiruan dunia luar di dalam rumah kita sendiri. Kita tetap bisa menikmati semua kegiatan yang sama tanpa harus menyimpan dan merawat barang-barang itu.

Jadilah dermawan. Barang yang selama ini berada di rumah kita, tidak dipakai dan tidak disayang, mungkin bisa berguna dan menyenangkan hati orang lain. Ini adalah kategori untuk barang-barang dengan kondisi masih baik, tapi tak lagi bermanfaat untuk kita. Tidak perlu merasa bersalah. Biarkan barang-barang ini pergi. Berikan mereka kehidupan yang baru. Yang terpenting adalah kita harus melawan godaan untuk menahan suatu barang hanya karena kita merasa ‘sewaktu-waktu akan perlu’ – jika barang itu belum dibutuhkan sampai sekarang, kemungkinan besar kita tidak akan menggunakannya kapan pun. Kalaupun, ya, apakah kita bisa menemukannya? Apakah kondisinya masih baik? Ataukah kita justru akan pergi dan membeli barang yang baru? Jika suatu barang mudah didapat dan digantikan, biarkan barang itu dimiliki orang lain daripada disimpan hanya karena kita membayangkan suatu situasi yang tidak akan terjadi.

Rumah dan semua barangnya dapat diumpamakan seperti seember air, sedangkan membereskan rumah bagaikan membuat lubang kecil pada dasar ember itu sehingga air di dalamnya keluar perlahan, setetes demi setetes – seperti inilah yang terjadi saat kita perlahan merapikan rumah dan membuang barang-barang yang tak diinginkan. Bagus. Selama bisa konsisten dengan proses ini, jumlah barang kita pasti akan berkurang.

Tapi, jangan lupakakan satu hal, yaitu isi ember hanya akan berkurang bila tidak ada air yang ditambahkan. Setiap barang yang memasuki rumah kita seperti aliran air yang masuk ke ember. Jadi, jika kita masih terus berbelanja, membeli barang-barang baru, dan membawa pulang suvenir dari acara konferensi atau seminar, air yang menetes dari lubang di bawah  ember pun tidak akan bermanfaat banyak. Isi emebr ini tidak akan pernah kosong, malah justru mungkin meluber. Masalah ini bisa diselesaikan dengan satu peraturan sederhana. Ketika satu barang masuk, satu barang keluar. Setiap kali ada barang baru, barang lama yang serupa harus dikeluarkan. Untuk setiap tetes yang masuk ke ember, harus ada tetesan lain yang keluar.

Setelah itu, kita pun akan melihat jumlah barang kita akan terus berkurang selama perjalanan ini. Apa sebabnya? Kita sudah ‘menutup keran’ sehingga tetesan yang keluar dari bawah ember tadi memberikan efek yang signifikan dan memuaskan. Tentu saja, semakin banyak barang yang kita keluarkan, hasil yang dicapai pun semakin menyenangkan untuk dilihat. Pada bab berikutnya, kita akan melihat cara mengubah ‘tetesan air’ tersebut menjadi ‘aliran’.

Dibandingkan hidup minimalis ala Konmari dan Fumiko Sasaki, saya lebih menyukai hidup minimalis ala Francine Jay ini. Hidup minimalis ala Komari lebih menitikberatkan pada membereskan barang-barang yang kita miliki. Hidup minimalis ala Fumiko Sasaki rada ekstrim sih, dan rasanya sulit diterapkan kita yang tinggal di Indonesia. Fumio Sasaki hanya memiliki beberapa potong baju, celana dan kaos kaki. Kenapa tadi saya lebih menyukai hidup minimalis ala Francine Jay? Karena masih bisa diterapkan di kehidupan kita yang tinggal di Indonesia. Hidup minimalis bukan berarti memiliki sedikit mungkin barang, tapi mengurangi penyimpanan barang yang serupa. Filosofi ala Francine Jay: ketika satu barang masuk, satu barang keluar tentu lebih efektif kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Misal, punya satu set cangkir baru, kita disarankan mengeluarkan satu set cangkir yang lama. Tapi bukan berarti kita tidak memiliki satu set cangkir. Ini lebih masuk akal diterapkan hidup minimalis di Indonesia.

Keterangan Buku:

Judul                                     : Seni Hidup Minimalis

Penulis                                 : Francine Jay

Penerjemah                       : Annisa Cinantya Putri

Perwajahan sampul        : Mila Hidajat

Perwajahan isi                   : Fajarianto

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : April 2019 (Cetakan keempat)

Tebal                                     : 260 hlm.

ISBN                                      : 978-602-03-9844-0

Author:

Aku ingin menjadi seperti tanaman lembut dan segar. Dari arah manapun angin menerpa, ia lentur, kuat dan ketika angin tenang, ia tegak dan lurus kembali. Demikian pula seandainya aku ditimpa musibah (aku akan mencoba bersabar hingga Tuhan akan menghilangkan kesukaran-kesukaran dari diriku). Namun, aku tak ingin seperti pohon cemara yang tegak dan keras hingga Tuhan menumbangkannya kapanpun Dia menginginkannya.

One thought on “REVIEW Seni Hidup Minimalis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s