Posted in buku, perpustakaan, resensi

REVIEW Alcatraz vs the Evil Librarians

“Kau tidak sadar bahwa semua perpustakaan jauh lebih berbahaya dari kelihatannya.” (hlm. 49)

Sebenarnya sudah lumayan lama mengincar buku ini. Apalah daya nasib nggak ada toko buku di sini. Mau beli online, selalu seri-nya nggak lengkap. Akhirnya nekat nitip teman, dua seri dapet di Bandung, dan tiga seri lainnya dapet di Jakarta. Sungguh rumit perjalanan mendapatkan lima buku ini seri secara lengkap dan akhirnya baru bisa baca kisah Alcatraz ini. Kenapa saya ngebet banget pengen baca ini? apalagi kalo bukan karena ada tokoh pustakawan, apalagi di buku ini para pustakawan berperan antagonis, hahaha… x))

ALCATRAZ SMEDRY. Di hari ulang tahunnya yang ketiga belas, dia menerima paket berupa satu-satunya warisan yang orangtuanya tinggalkan untuknya. Warisannya adalah sekantor pasir. Sejak kecil, Alcatraz berpindah dari orangtua satu ke orangtua lainnya. Tidak ada yang betah menampungnya. Kenapa? Bukan tanpa alasan. Alcatraz tanpa disadari selalu menimbulkan kerusakan, dari hal-hal yang kecil sampai yang berat. Sekilas, dia seperti anak lelaki biasa berstelan jins dan kaos. Dia pernah dibilang ganteng, ada juga yang bilang dia berwajah polos. Dia tidak terlalu tinggi, rambutnya cokelat tua, dan cukup mahir merusak barang-barang.

Ketika dia masih kecil, teman-temannya memanggilnya dengan sebutan ‘slebor’. Alcatraz selalu merusak sesuatu –piring, kamera, bahkan ayam. Entah mengapa apa yang dipegangnya pasti ujung-ujungnya jatuh, pecah atau kacau. Bukan keahlian yang membanggakan memang, tapi dia selalu berusaha melakukan segala hal sebaik mungkin. Kemudian jadi mikir, adik yang paling kecil kok mirip kayak Alcatraz ini ya, memang apa pun sering jatuh, bahkan jalan pun bisa kesandung sendiri x))

“Dia berniat baik. Hatinya baik.”

“Pertama-tama mesin cuci. Lalu, mesin pemotong rumput. Lalu, kamar mandi atas. Sekarang dapur! Dalam waktu kurun dari setahun!”

“Hidupnya selama ini sulit. Dia hanya berusaha terlalu keras. Bagaimana perasaanmu jika dioper-oper dari satu keluarga ke keluarga lainnya, tak pernah memiliki rumah permanen?”

“Yah, bukan salah orang-orang yang berusaha menyingkirkan dia.” (hlm. 20)

Setelah pertemuannya dengan Kakek Smedry, dia baru memahami jika sifatnya seakan merusak barang itu menurut kakeknya adalah suatu bakat. Tidak semua orang memilikinya. Uniknya, tidak hanya Alcatraz yang memiliki bakat, nantinya dia akan bertemu dengan sepupu-sepunya yang memiliki bakat berbeda satu sama lain, diantaranya adalah Sing Smedry yang memiliki bakat tersandung si pakar persenjataan kuno dan Quentin Smedry yang memiliki bakat omong kosong. Ternyata, sang kakek juga memiliki bakat, yaitu bakat telat x))

“Apa kau tidak paham, Nak? Bukan cuma nyawamu yang dalam bahaya! Melainkan nasib seluruh dunia! Kerajaan-kerajaan Merdeka sudah kewalahan melawan para pustakawan. Dengan bantuan Pasir Rashid, kemenangan bisa dibilang sudah ditangan para Pustakawan. Jika kita tidak merebut kembali pasir itu sebelum dilebur –yang cuma perlu waktu beberapa jam- Kerajaan-kerajaan Merdeka bisa runtuh! Kita satu-satunya harapan peradaban.” (hlm. 39)

Kakek Smedry mengatakan jika Alcatraz, cucunya ini sangat spesial. Dan para pustakawan mengincarnya. Meski judulnya Alcatraz melawan pustakawan durjana, di buku pertama ini belum terlalu kelihatan pergerakan pustakawan secara menonjol. Baru di pertengahan cerita, Kakek Smedry bercerita pada cucunya, menjelaskan ada tingkatan pustakawan durjana ini; Para Oculator Gelap, Orde Lensa Pecah, Kerangka Juru Tulis. Meskipun mereka bekerjasama, ada persaingan di antara mereka. Tugas Alcatraz adalah membawa kembali pasir yang dihadiahi untuknya dari tangan pustakawan durjana. Dan itu tidak mudah, nyawa pun akan menjadi taruhannya.

Salah satu tingkatan pustakawan durjana adalah Orde Lensa. Ada satu rahasia yang mulai terkuak tipe pustakawan durjana tipe ini di buku pertama. Mereka memiliki Lensa Daya yang berkaitan dengan Bangsa Incarna. Sayangnya tidak ada yang bisa membaca catatan mereka, dan mereka menghilang berabad-abad lalu.

Bagi Alcatraz dan timnya, belum pernah merasakan betapa menyesakkan keagungan perpustakaan sungguhan. Perpustakaan-perpustakaan umum ada untuk memikat orang. Para pustakawan ingin semua orang membaca buku-buku mereka. Namun, itu bukan perpustakaan sungguhan. Perpustakaan sungguhan tidak terlalu peduli untuk tampil memikat. Di sini, murid-murid semacam pustakawan punya banyak waktu untuk melatih hal-hal yang tidak masuk akal bagi Alcatraz, hahaha… x)) apa sajakah itu? Pertama, mereka mempelajari sistem pengisian yang rumitnya luar biasa dan terlihat tidak penting (Yeah, klasifikasi buku sekilas memang sungguh rumit dan tidak penting, wkwkw) yang digunakan untuk mendata buku-buku di rak bagian belakang perpustakaan. Kedua, berlatih menggunakan pengait buku (ini saya nggak ngerti maksudnya apa, hahaha..) dan ketiga, merencanakan cara menyiksa masyarakat tak berdosa. Apa juga ini maksudnya?!? X))

Membaca buku pertama dari serial ini, masih menimbulkan rasa penasaran kenapa pustakawan dianggap jahat dalam buku ini? Kenapa mereka menginginkan sekantong pasir milik Alcatraz yang konon katanya akan menghancurkan dunia? Makin penasaran buat baca buku berikutnya 😉

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Menahan diri dalam membuat simpulan yang tidak disebutkan secara eksplisit. (hlm. 33)
  2. Kau akan baik-baik saja, Nak. (hlm. 93)
  3. Kau berpikir begitu karena kau telah membaca terlalu banyak kisha konyol tentang orang-orang yang meraih hal-hal yang mereka anggap mustahil. (hlm. 174)
  4. Orang dapat melakukan hal hebat. Namun, ada pula hal-hal yang memang tidak bisa mereka lakukan. (hlm. 174)
  5. Mungkin dalam hidupmu kau punya sesuatu yang berharga dan memberimu kebahagiaan. Mungkin mainan. Mungkin foto-foto. Mungkin peluru yang telah menewaskan musuh bebuyutanmu. (hlm. 242)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Alcatraz vs the Evil Librarians

Penulis                                 : Brandon Sanderson

Penerjemah                       : Dyah Agustine

Proofreader                       : Emi Kusmiati

Penerbit                              : Mizan Fantasi

Terbit                                    : Juli 2017

Tebal                                     : 285 hlm.

ISBN                                      : 978-602-61099-7-2

Author:

Aku ingin menjadi seperti tanaman lembut dan segar. Dari arah manapun angin menerpa, ia lentur, kuat dan ketika angin tenang, ia tegak dan lurus kembali. Demikian pula seandainya aku ditimpa musibah (aku akan mencoba bersabar hingga Tuhan akan menghilangkan kesukaran-kesukaran dari diriku). Namun, aku tak ingin seperti pohon cemara yang tegak dan keras hingga Tuhan menumbangkannya kapanpun Dia menginginkannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s