buku, resensi

REVIEW Alcatraz vs the Evil Librarians: The Knights of Crystallia

“Segalanya akan lebih baik bila dikuasai Pustakawan.” (hlm. 239)

Ibu Alcatraz berhasil mencuri pasangan lensa milik ayahnya. Aksi pencurian yang dilakukan ibunya adalah jika dia memiliki akses ke Oculator, dia bisa membaca Bahasa Yang Tak Terlupakan dan memahami rahasia bangsa Incarna kuno. Dia bisa membaca tentang keajaiban teknologi dan sihir mereka, menemukan senjata-senjata canggih. Ini masalah. Karena ibunya adalah pustakawan.

“Kita ini Smedry. Ketika menyerahkan kerajaan, kita bersumpah untuk menjaga semua Kerajaan Merdeka. Kita adalah garda peradaban!” (hlm. 49)

Di buku ketiga ini, Alcatraz dan Kakek Smedry tiba di Nalhalla, sebuah kastel putih berbentuk seperti piramida di pusat kota, tepatnya di Kerajaan Merdeka dengan selamat. Tapi bukan berarti masalah telah berakhir, justru pasukan Pustakawan Durjana makin membahayakan dunia.

Setiap kerajaan mempunyai aturan, budaya dan hukum sendiri. Kemudian para Pustakawan memulai penjajahan. Para raja menyadari bahwa mereka terlalu mudah ditaklukkan. Jadi, mereka mulai bersatu, menggabungkan kerajaan, membentuk persekutuan. Pernikahan memang selalu menjadi salah satu alat untuk mempersatukan sebuah kerajaan, di zaman modern seperti ini pun kita masih melihatnya. Salah satu contohnya adalah pernikahan antar anak pejabat politik agar kelak koalisi partainya makin kuat… x))

Akan ada penambahan sepupu lain dalam buku ini. Folsom adalah pemuda yang sangat baik. Brig sudah menandai pemuda itu agar menikahi salah seorang putrinya. Folsom ternyata merupakan pustakawan yang insaf x))

Masih ingat Oculator dari buku sebelum-sebelumnya? Di buku ini, kita akan mendapatkan penjelasan seputar Kaca Transportasi. Kaca itu memungkinkan orang-orang melintasi jarak jauh dalam sekejap, menggunakan pemanfaatan pasir terang yang sangat layak secara ekonomis. Sekarang, kita sudah paham kan kenapa pasir hadiah ulang tahun Alcatraz saat berumur sepuluh tahun di buku pertama, dicuri oleh orang yang tak dikenal? Di buku ketiga inilah ada benang merah jalan cerita kehidupan Alcatraz yang memang rumit.

Di halaman 81, Alcatraz terkejut karena bertemu pustakawan yang cantik. Selama ini, dia bertemu pustakawan yang tidak cantik dan tidak lagi muda. Bahkan ada beberapa pustakawan yang mencoba membunuhnya. Ini semacam sindiran halus di dunia nyata, bahwa memang jarang anak muda yang memilih berprofesi sebagai anak muda, jadilah pustakawan muda cem aku adalah mahluk yang langka, hahaha… x))

Himalaya, mantan pustakawan yang selama sepuluh tahun merasa ‘ternodai’ hidupnya saat menjalani kehidupan sebagai pustakawan. Dia dulu awalnya diangkat menjadi anak didik Pustakawan kepala setelah dia membuktikan kemampuannya untuk menggunakan sistem mercusuar terbalik. Apa itu? Ternyata yang dimaksud sistem mercusuar terbalik adalah mengatur sekelompok buku berdasarkan huruf ketiga nama gadis ibu si penulis. Mungkin maksudnya semacam nomor klasifikasi buku ya x))

Himalaya hampir memiliki kemampuan manusia super untuk mengorganisasi –mesin identifikasi dan keteraturan. Tumpukan kotor dan acak-acakan menghilang di bawah sentuhannya bertransformasi menjadi tumpukan rapi, debu dan kotoran dibersihkan dari buku-buku itu dengan satu kali sapuan tangannya.

Karena bakatlah, yang menjadikan kami istimewa, bukan? (hlm. 285)

Bakat gelap, menyiratkan bahwa itulah yang telah menyebabkan runtuhnya seluruh peradaban Incarta. Ada orang-orang yang punya bakat merusak. Setelah tiga buku tentang Alcatraz, saya baru menyadari sebenarnya tidak bisa berdekatan dengan elektronik terlalu lama. Dulu, punya notebook yang chargernya sudah lima belas kali lebih ganti, efek sering rusak. Apakah saya sebenarnya punya bakat merusak seperti Alcatraz? X))

Di buku ini pula, penulis melakukan penegasan tentang perbedaan antara perpustakaan dan kantor arsip. Susunan buku juga sempat di bahas; pengaturan waktu terbalik, bukunya disusun berdasarkan menit ketika mereka dipublikasikan, menyusun bukunya berdasarkan jumlah kata ‘the’ yang digunakan dalam lima puluh halaman pertama, atau penggolongan berdasarkan topik sederhana saja cukup.

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Fisika bukan omong kosong. Itu hanya ilmu yang belum rampung. (hlm. 17)
  2. Kuatkan dirimu. Kejadian yang amat sangat aneh akan berlangsung. Lebih aneh daripada dinosaurus yang bisa bicara. Lebih aneh daripada burung kaca. Bahkan, lebih aneh daripada analogi tentang nugget ikan. (hlm. 59)
  3. Manusia itu mahluk lucu. (hlm. 193)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Alcatraz vs the Evil Librarians: The Knights of Crystallia

Penulis                                 : Brandon Sanderson

Penerjemah                       : Nadya Andwiani

Penyunting                         : Dyah Agustine

Proofreader                       : Enfira

Penerbit                              : Mizan Fantasi

Terbit                                    : November 2017

Tebal                                     : 295 hlm.

ISBN                                      : 978-602-6699-01-5

1 thought on “REVIEW Alcatraz vs the Evil Librarians: The Knights of Crystallia”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s