buku, resensi

REVIEW Alcatraz vs the Evil Librarians: The Dark Talent

“Pustakawan tak pernah bisa berpikir lurus kalau buku-buku mereka berantakan.” (hlm. 214)

“Teknologi pustakawan. Cuma sedikit lebih maju daripada teriakan keras.” (hlm. 87)

Para pustakawan tahu semua orang akan mengungsi. Sekarang, mereka bermaksud meratakan kota menggunakan robot sementara semua orang bersembunyi.

Alcatraz akhirnya berhasil menyelamatkan Kerajaan Mokia, namun harga yang harus dibayar pun sangat mahal, semua bakat lenyap. Itulah konsekuensinya. Sementara mereka harus menyusup ke Perpustakaan Agung, markas utama para penguasa kultus Pustakawan Durjana dengan tujuan untuk mencari semacam penawar bagi Bastile yang sedang kritis dan juga upaya untuk menghentikan tujuan ayah Alcatraz yang berencana untuk menghancurkan dunia. Berhasil Alcatraz?

 “Tak usah menyebalkan begitu, Alcatraz. Aku tidak mendukung segala hal yang dilakukan pustakawan, sama seperti kau tidak mendukung segala hal yang dilakukan Kerajaan Merdeka –dan para penguasanya.” (hlm. 43)

Menurut buku ini, pustakawan adalah pihak yang bertekad mengendalikan informasi dan mencegah semua orang di Negeri-negeri Sunyi mempelajari hal-hal keren seperti sihir dan puff keju yang tidak membuat jemari ternoda warna oranye. Sebagai bagian dari rencana gegabah Alcatraz untuk menyingkirkan para pustakawan, Bastille justru tertembak dan kini koma. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan gadis itu adalah dengan menyusup ke Perpustakaan Agung, pusat kekuatan Pustakawan di Negeri Sunyi. Dan satu-satunya cara untuk melakukan hal itu adalah dengan mengandalkan ibu Alcatraz, Shasta Smedry, seorang pustakawan durjana sampai ke sumsumnya.

“Hanya pustakawan paling penting yang akan memiliki akses ke informasi semacam itu. Kalau tempat ini sama seperti perpustakaan level tinggi lain, mereka akan membawa sesuatu yang disebut autentikator. Yang akan membiarkan orang-orang masuk ke ruangan-ruangan penting, dan barangkali termasuk peta serta salinan indeks-indeks lokal. Jadi kita perlu mencuri salah satunya. Atau, meyakinkan seorang pustakawan untuk menuntun kita ke tempat yang ingin kita tuju.” (hlm. 149)

Di awal buku seri kelima ini, Alcatraz terlihat membenci politik. Ternyata nggak hanya di dunia nyata, di dunia fantasi pun politik memang menyebalkan, hahaha… x)) Perpustakaan Agung bukan semacam cabang lokal biasa; ada sistem perlindungan dimana-mana. Pertahanan. Setiap kali seorang Oculator menggunakan salah satu Lensa di dalam tempat itu, mereka akan bersinar sangat terang. Kau tak akan bisa menggunakannya dengan menyamar.

“Bakat itu tidak hidup. Tak lebih seperti hati nuranimu, atau kemarahanmu. Kau mungkin merasa seperti ada kehidupan pada perasaan tersebut, tetapi itu berbahaya –itu menjadikan mereka eksternal, Al. Seolah-olah kau tidak memiliki tanggung jawab atas mereka. Bakatmu adalah bagian dari dirimu. Aku punya firasat bahwa jika kita akan mendapatkan bakat lagi, kau bakal perlu memahaminya.” (hlm. 37)

Alcatraz mulai berontak terhadap ayah dan ibunya. Bahkan sempat terlontar kata-kata yang mewakili kemarahannya pada sang ibu. Alcatraz hanya menganggap ibunya hanyalah perempuan yang sekedar melahirkannya, tapi tidak pernah merawatnya yang bertahun-tahun hidup Alcatraz memang berpindah dari orangtua angkat satu ke orangtua angkat yang lain, begitu terus.

Seperti yang sempat dijabarkan di ending buku keempat, buku sebelumnya tentang kenapa pustakawan-pustakawan disini dianggap jahat? Karena mereka sebenarnya takut perubahan. Di buku ini pun ditegaskan kembali. Ibunya Alcatraz adalah pustakawan, yang artinya sang ibu juga takut akan perubahan. Beliau juga ketakutan memikirkan orang-orang biasa yang diluar kendalinya. Salah satunya adalah hal yang dilakukannya saat Alcatraz masih kecil.

Inilah akhir perjalanan Alcatraz dan kawan-kawan. Cukup lama mengumpulkan seri ini secara lengkap agar bisa membacanya secara berurutan. Dua seri hasil nitip di Jakarta, dan tiga seri lainnya nitip di Bandung, sungguh perjuangan jika membaca buku yang berseri seperti ini. Kenapa saya begitu tertarik menginginkan membaca buku ini sejak lama? Karena temanya pustakawan banget. Apalagi di sini banyak pesan moral yang disampaikan penulisnya.

Keterangan Buku:

Judul                                     : Alcatraz vs the Evil Librarians: The Dark Talent

Penulis                                 : Brandon Sanderson

Penerjemah                       : Nadya Andwiani

Penyunting                         : Dyah Agustine

Proofreader                       : Emi Kusmiati

Penerbit                              : Mizan Fantasi

Terbit                                    : Januari 2018

Tebal                                     : 260 hlm.

ISBN                                      : 978-602-6699-09-1

1 thought on “REVIEW Alcatraz vs the Evil Librarians: The Dark Talent”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s