buku, resensi

REVIEW Mencari Simetri

“Kau tahulah, orang yang menghubungimu setiap hari, mengajakmu jalan bareng, kadang-kadang bahkan memegang tanganmu, tapi tidak pernah benar-benar menjadi pacarmu.” (hlm. 7)

APRIL. Umurnya resmi 29 tahun. Dia masih merasa seperti dirinya saat masih berumur 16 tahun. Dia merasakan sensasi kepanikan menerpanya saat menyadari bahwa hidup terus melaju selagi dia mematung tanpa melakukan apa-apa. Usia 29 tahun, tanpa pencapaian bermakna. Tidak pernah menoreh prestasi. Tidak pernah membuat orangtuanya bangga. Apa sih yang dilakukannya tahun-tahun belakangan?

Waktu baca sinopsisnya, usia April yang menjelang angka tiga, dekat dengan seseorang tapi tak ada kejelasan, lalu harus bolak-balik ke rumah mengurusi papanya yang sakit, ditambah lagi stresnya menghadapi setumpuk pekerjaan, belum lagi pandangan mamanya yang selalu meremehkan pekerjaan yang dijalaninya, merasa April ini kok saya banget. Ternyata salah. Saya tak sebucin April, hahaha… x))

Mengapa saya menganggap April adalah bucin? Bagaimana tidak, dia diam-diam menyukai Armin. Bukan setahun, tapi bertahun-tahun. Perihnya lagi, Armin tidak pernah menyadarinya. April memang terlihat sekali kebucinannya terhadap Armin, dan itu relatable banget dengan kehidupan di dunia nyata. Saya memiliki beberapa teman seperti ini, saya pun sempat mengalaminya. Tapi tidak sampai berlarut-larut seperti yang dilakukan April yang tanpa disadari justru menyakiti hatinya sendiri. Bucin itu tidak baik untuk kesehatan, gaesss… x))

“Pacaran sama saja dengan menyimpan bon. Kau masih bisa mundur, masih mencari yang lain. Namun begitu kau menikah, opsi untuk melarikan diri sudah hilang, tidak peduli seberapa cepat kau ingin kabur. Kau jadi belajar berpuas diri dengan pilihan yang kaubuat.” (hlm. 27)

Selain bucin, April juga hopeless banget hidupnya dalam memandang kehidupan. Tanpa disadari kerap membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Bayangkan, dia bisa iri dengan sahabatnya Sita yang sudah menikah dan memiliki anak. Dia bisa iri melihat Sita yang lagi nongkrong dengan teman-teman barunya sesama mama muda. April merasa nggak dianggap, dia merasa Sita mengabaikannya. Sama seperti April, saya juga diusia kepala tiga, malah udah lewat, hahaha… tapi saya nggak se-hopeless April. Saya nggak pernah iri dengan kehidupan teman. Makanya aneh banget, kalau yang single-single di usia saya, teman-teman menghindari reuni sekolah karena takut akan pertanyaan kapan nikah, kapan punya anak, dan pertanyaan pekerjaan, justru saya malah jadi koordinator tiap reuni pas bukber SMA dan SMP. Dan juga pas beberapa tahun melewati tahun-tahun akhir di kepala dua puluh, banyak sekali kegiatan dan kesibukan yang dijalani. Bahkan tiga tahun terakhir, saya tidak menjalani relationship dengan siapapun justru membuat saya sangat produktif baik dari sisi pekerjaan dan juga karir. Selama tiga tahun itu pula, saya yang zaman sekolah nggak pernah menorehkan prestasi apa-apa, justru di dunia kerja malah tanpa disadari membuahkan banyak prestasi, meskipun itu hanya kecil-kecilan.  Jujur, saya sampai nggak sadar sudah lewat masa-masa itu. Baru nyadar kalau umur udah segini tuh pas tahun ini, pas angka kembar, hahaha… x))

Janganlah terlalu sering membanding-bandingkan hidupmu dengan orang lain. (hlm. 96)

Salah satu dampak negatif dari media sosial adalah tanpa disadari seseorang kerap membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Merasa orang lain hidupnya lebih indah, padahal apa yang ditampilkan di media sosial adalah representasi kehidupan seseorang di dunia nyata.

Tapi kau tidak bisa menilai seseorang dari foto instagramnya saja. (hlm. 122)

Patut diacungkan jempol untuk penulisnya yang menciptakan tokoh April, yang notabenenya memiliki banyak sikap negatif. Jarang sekali kita temui tokoh utama semenyebalkan ini. Bukan yang manis-manis semata. Sosok April, justru merepresentasikan kehidupan manusia dewasa yang sesungguhnya. April yang bucin bertahun-tahun terhadap Armin. April yang kerap sebal jika dibandingkan dengan kakaknya yang sekilas nyaris sempurna; cantik, berkeluarga, dan memiliki anak-anak yang lucu yang ternyata tak sesempurna itu. April yang kadang putus asa mengurusi papanya yang mulai sakit-sakitan. April yang bete jika mamanya meragukan pekerjaannya. April yang kerap mengeluh akan pekerjaannya. April yang tidak memiliki banyak teman, dan kerap merasakan hampa dalam hidupnya. April merasa belum melakukan hal yang luar biasa dalam hidupnya. April hanyalah manusia biasa. Pasti ada sisi April salah satunya dalam diri kita.

Lewat buku ini, baru tahu ada istilah breadcrumbing. Ibaratnya menabur remah-remah roti, dia memberimu perhatian secukupnya saja untuk membuatmu tetap tertarik dari waktu ke waktu, tapi tidak terlalu banyak sehingga dia bisa dituduh sebagai pemberi harapan palsu. Untuk apa seseorang melakukan itu, seperti Armin melakukannya pada April? Untuk memuaskan egonya. Dia senang dengan semua perhatian yang dicurahkan untuknya. Dia senang saat ada seseorang yang ada dicarinya. Itu sebabnya orang yang seperti ini tetap di dekatnya meskipun tidak berniat membuat komitmen, pacaran misalnya. Pokoknya gemes bangetlah ama orang macam tipikal kayak gini, saya punya teman yang punya semacam Armin dalam hidupnya. Rasanya pengen kusodorin buku ini biar sadar bahwa cowok macam Armin mending buang ke laut aja, buang-buang waktu gaesss…. hahaha… x))

April dengan kebucinannya bertahun-tahun terhadap Armin, sementara ada orang baru yang masuk kehidupannya, Lukman. Manakah yang akan dipilih April? Tetap menunggu Armin atau Lukma yang menawarkan dunia baru baginya?

Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Jadi kau akan menghabiskan sisa hidupmu terlunta-lunta mengharapkannya?” (hlm. 11)
  2. Kau tidak tahu seperti apa rasanya meyakini tidak pernah mendapatkan sesuatu, tapi kemudian tiba-tiba saja sesuatu itu berada di hadapanmu, siap untuk diraih, kalau saja jangkauanmu cukup panjang. (hlm. 19)
  3. Kalau kau memang akan menolaknya, apa gunanya dipertanyakan? (hlm. 29)
  4. Hanya ada dua macam orang di Tinder: orang-orang yang mengharapkan casual hookup dan jomblo tidak laku. (hlm. 30)
  5. Kau tidak boleh puas dengan nyaman, kau harus selalu mendorong diri untuk berada di luar zona nyaman. (hlm. 47)
  6. Ketika orang-orang menaruh ekspetasi mereka terhadapmu dan kau tidak mau memenuhinya, itu bukan masalahmu. Kau tidak bisa memenuhi semua orang. (hlm. 52)
  7. Hanya karena kau menyukai seseorang, bukan berarti kau tidak boleh pergi dengan orang lain. Tidak ada istilah monogami dalam dunia taksir-menaksir. (hlm. 56)
  8. Cuma soal waktu sebelum manusia bisa memilih seperti apa ciri fisik anak mereka, atau apa mereka mau yang mereka punya bakat bermusik atau matematika. (hlm. 77)
  9. Saat berpacaran saja kami bertikai setiap hari, memangnya menikah bisa memperbaiki apa? (hlm. 96)
  10. Kau tidak bisa mengharapkan ada koneksi instan. Perlu banyak kerja keras dan waktu untuk membentuk hubungan. (hlm. 189)
  11. Entah umurmu 14 atau 29, cinta yang tak berbalas tetap sama menyakitkannya. (hlm. 194)
  12. Kau tidak bisa memutuskan untuk menikah dengan seseorang hanya karena dia tahu band favoritmu. (hlm. 202)
  13. Cinta bisa datang dan pergi. Komitmenlah yang membuatmu tetap bertahan saat kau bangun pagi hari dan tidak lagi kasmaran dengan orang yang tidur di sebelahmu. (hlm. 210)
  14. Dia memang anak yang baik. Tapi jangan sampai itu membuatmu mengira kau berutang sesuatu kepadanya. (hlm. 215)
  15. Pertemanan di usia dewasa: seperti hubungan lain, kau harus terus membuat ekstra untuk mempertahankannya. (hlm. 226)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Mencari Simetri

Penulis                                 : Annisa Ihsani

Penyunting                         : Mery Riansyah

Penyelaras aksara            : Yuliono

Desain sampul                   : Sukutangan

Penerbit                              : PT. Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : 2019

Tebal                                     : 240 hlm.

ISBN                                      : 9786020629360

1 thought on “REVIEW Mencari Simetri”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s