Posted in buku, resensi

REVIEW Kerja Cerdas, Dong! 3

Uang. Benda ini seringkali menjadi tolak ukur kesuksesan manusia. Seseorang dikatakan sukses jika memiliki banyak harta, mobil mewah, bisnis yang melimpah, dan kekayaan lainnya yang semuanya diukur secara materi. Materi yang dimaksud tidak lain dari seberapa banyak jumlah uang atau harta benda yang dimilikinya.

Forbes, majalah bisnis dan finansial Amerika Seriat yang mulai terbit pada tahun 1927, secara berkala merilis daftar orang-orang terkaya sedunia. Lalu, apa tolak ukurnya? Tidak lain adalah harta, yang terdiri dari uang dan jumlah aset yang dimiliki. Lagi-lagi, uang menjadi acuan dalam menilai kesuksesan hidup seseorang. Dengan kata lain, jika ingin dianggap sukses, maka jadilah orang kaya.

Pertanyaannya, apa yang bisa membuat mereka begitu kaya raya? Bagaimana cara mereka bekerja dan menghasilkan uang? Apa saja bidang usaha yang mereka geluti sehingga bisa menjadikan mereka super kaya? Untuk menjawab pertanyaan itu, kita harus membaca buku ini. Selain berisi kisah sukses 10 manusia kaya dari seluruh penjuru dunia, buku ini juga menjelaskan rahasia mereka dalam mendulang jutaan dolar.

Jika di Amerika ada nama-nama orang terkaya seperti Bill Gates dan Warren Buffet, di Asia terdapat nama Li Ka-Shing. Popularitas Li Ka-Shing di seluruh dunia mungkin masih kalah dengan Bill Gates maupun Warren Buffet. Akan tetapi, sosok pengusaha ini tidak bisa dianggap remeh karena menajdi satu-satunya warga benua Asia yang masuk dalam kategori 10 besar orang terkaya di dunia, menurut majalah Forbes tahun 2013.

Li Ka-Shing tercatat sebagai orang terkaya di Asia dengan kekayaan senilai 28,8 miliar dolar AS, sebagaimana diberitakan majalah Bloomberg edisi 7 Oktober 2013. Dia adalah ketua dewan Cheung Kong Holdings. Melalui dua perusahaan raksasa ini, Li Ka-Shing menjadi ‘raja’ oprator terminal kontainer dan penjual ala-alat kesehatan serta kecantikan terbesar di dunia, selain real estate.

Li Ka-Shing terlahir dari keluarga yang miskin. Semenjak kecil, ia sudah dihadapkan pada berbagai masalah kemiskinan. Bahkan, sebelum berusia 15 tahun, Li Ka-Shing harus menerima kenyataan pahit bahwa ayahnya meninggal dunia. Dia pun terpaksa keluar sekolah, kemudian bekerja di perusahaan perdagangan plastik. Di perusahan itu, Li ka-Shing harus bekerja selama 16 jam sehari.

Li remaja rajin membaca koran dan majalah yang berisi berita bisnis dan perdagangan sebelum memutuskan untuk memasok produknya ke luar negeri. Sebelum memasok ke pasar global, Li ingin memastikan terlebih dahulu bahwa bunga plastik buatan pabriknya berkualitas tinggi dan harganya murah. Li belajar teknik pencarmuran warna dengan plastik yang menyerupai bunga plastik.

Kehidupan di masa kecil yang sangat keras membuat Li Ka-Shing menyadari pentingnya pendidikan dan kesehatan. Setidaknya, dua hal inilah yang membekas di dalam hatinya, sebab dua hal ini pula yang menjadi awal mula perjuangannya untuk tetap bertahan hidup. Ayahnya meninggal dunia saat dia masih kecil, sehingga tidak ada lagi tulang punggung keluarga. Mau tidak mau, Li pun memutuskan untuk keluar sekolah dan bekerja.

Pengalaman ini mendorong Li untuk mendirikan Li Ka-Shing Foundation di tahun 1980. Yayasan sosial ini memiliki tiga tujuan utama, yaitu mendorong terciptanya budaya memberi, menggerakkan reformasi pendidikan, dan mendukung pengembangan fasilitas kesehatan. Pada umumnya, yayasan ini difokuskan untuk mengatasi dua masalah utama, yaitu kesehatan dan pendidikan.

Atas jasanya yang begitu besar, Li Ka-Shing dianugerahi penghargaan Knight Commander of the British Empire dari Kerajaan Inggris, Commandeur Legion D’honneur dari Perancis, dan Grand Bauhinia Medal dari pemerintah Hong Kong.

Ketika kita menggunakan fasilitas internet, biasanya sebelum mencari informasi yang kita inginkan, kita akan menuliskan beberapa kata kunci di search engine. Nah, salah satu mesin pencari (search engine) yang banyak digunakan, terutama oleh warga Indonesia, adalah Google. Bahkan, karena saking sering dipakai oleh berbagai kalangan, muncul istilah ‘Mbah Google’. Bila ada orang yang menanyakan suatu hal yang kita sendiri tidak tahu jawabannya, maka kita seringkali menjawab, ‘Tanya Mbah Google saja.’

Ya, Google seolah sudah menjadi andalan untuk menelusuri berbagai informasi tentang semua hal. Mesin pencari ini seakan menjadi jawaban dari semua pertanyaan. Mulai dari hal yang paling remeh sampai penting, semua bisa ditemukan oleh Google. Lantas, siapakah orang jenius yang menjadi penggagas search engine ini? Dia adalah Larry Page.

Sebagaimana Steve Jobs yang mendapat tekanan dari dewan komisaris perusahaan, hal itu juga dirasakan oleh Larry Page. Para dewan komisaris Google mengabaikan gagasan dan ide Larry. Mereka justru memaksanya agar merekrut CEO yang baru. Akhirnya, pada tahun 2001, Eric Schmidt dipilih sebagai CEO.

Kebijakan dewan komisaris itu muncul karena mereka beranggapan bahwa Google digagas dan dibuat bersama oleh Larry dan Sergey. Padahal, orang yang menciptakan Google adalah larry, sedangkan Sergey Brin hanya membantunya. Di samping itu, Larry Page dan Sergey juga sering terlibat dalam perdebatan sengit mengenai ide pengembangan Google. Tetapi, perselisihan itu tidak sampai merusak hubungan keduanya. Meski dikenal visioner dan tegas, Larry kurang mampu menjalin hubungan secara sosial. Beda dengan Sergey yang pandai berinteraksi dengan orang lain.

Karena merasa dikucilkan, Larry memutuskan untuk tidak masuk kerja di kantor dalam waktu yang lama. Setelah bertahun-tahun tidak aktif bekerja di perusahaan, Larry mulai belajar menghargai keputusan para dewan komisaris. Ia mengevaluasi kesalahan yang ia dulu lakukan. Perenungan panjang itu membuatnya tersadar dan segera kembali ke perusahaan. Dengan tekad dan semangat baru, Larry seolah terlahir kembali menjadi manusia yang berbeda daripada sebelumnya.

Keterangan Buku:

Judul                                     : Kerja Cerdas, Dong! 3

Penulis                                 : Ahmad Asrof Fitri

Penerbit                              : Real Books

Terbit                                    : 2016

Tebal                                     : 224 hlm.

ISBN                                      : 978-602-6210-01-2

Author:

Aku ingin menjadi seperti tanaman lembut dan segar. Dari arah manapun angin menerpa, ia lentur, kuat dan ketika angin tenang, ia tegak dan lurus kembali. Demikian pula seandainya aku ditimpa musibah (aku akan mencoba bersabar hingga Tuhan akan menghilangkan kesukaran-kesukaran dari diriku). Namun, aku tak ingin seperti pohon cemara yang tegak dan keras hingga Tuhan menumbangkannya kapanpun Dia menginginkannya.

3 thoughts on “REVIEW Kerja Cerdas, Dong! 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s