buku, resensi

REVIEW Eat Right in a Modern

Buku ini merupakan sebuah panduan untuk belajar bagaimana memberi makan kepada jiwa kita agar kita juga memperoleh makanan darinya secara teratur. Makanan bukanlah sebuah jalan satu arah; lebih dari itu, bayangkan sebuah lingkaran. Mari kita lihat bagaimana siklus makanan bekerja dengan kembali ke kebun sejenak. Tidak mungkin sebuah kebun dapat memberikan gizi kepada semua sayuran dan buah tanpa bantuan dari kita. Ini jelas sekali. Sebuah kebun dapat tumbuh hanya bila ada seorang tukang kebun yang memangkas, memberi pupuk, menabur benih dan secara rutin memerhatikan kondisi tanah dan tanaman.

Ini tidak jauh berbeda dengan tubuh kita. Bila kita ingin jiwa kita berkembang dan mengarahkan hidup kita ke arah yang berarti dan bermakna, kita perlu memberi diri kita makanan yang bergizi, aktivitas dan hubungan yang memicu pertumbuhan.

Bila kita mengkonsumsi makanan bergizi, itu berarti kita mengenal diri sendiri. Kita mengenal perasaan kita dan prioritas kita, serta memiliki pemahaman yang jelas tentang tujuan utama dalam hidup kita. Kita memiliki kebebasan untuk bertindak sesuai dengan kehormatan diri kita. Jika kita memberi makanan bergizi pada diri sendir, berarti kita menjalani hidup dengan kekuatan yang luwes, bukannya bereaksi tanpa daya terhadap angin dan badai yang menerpa diri kita. Bila kita dapat mendengar dan menanggapi pesan dari dalam jiwa kita, berarti kita telah mendapat makanan bergizi itu. Di satu sisi, makanan bergizi (nourishment) adalah makanan (food), namun makanan saja tidak akan pernah cukup untuk memberikan gizi kepada diri kita. Makanan memang berlimpah di rak-rak pasar swalayan, namun di negeri ini kita masih kelaparan dan menginginkan yang lebih lagi. Kita lapar akan makanan yang bergizi dan aktivitas yang mengasupi tubuh, hati, pikiran, dan jiwa sebagi satu kesatuan yang utuh.

Disiplin memberikan asupan makan bergizi kepada tubuh kita merupakan alat yang sangat efektif bagi perkembangan dan transformasi spiritual. Bagaimana makanan dan memberikan makanan kepada diri sendiri menjadi sebuah praktik spiritual? Bila makanan tampaknya lebih bersifat duniawi ketimbang yoga, mediasi atau doa, itu karena memang demikian adanya. Makanan adalah kebutuhan primer manusia. Setiap hari, beberapa kali dalam sehari, kita memasukkan sesuatu dalam mulut. Bila kita mengkonsumsi makanan tanpa berpikir banyak kecuali citarasa makanan tersebut, ini disebut menyantap (eating). Kita tahu apa yang dimaksudkan dengan menyantap: memasuki tangan ke dalam kantong berisi kentang goreng; makan walaupun terasa kenyang karena makanan tersedia; mengambil beberapa suapan makan siang di tengah rapat; menikmati rasa makanan tanpa memedulikan bagaimana perasaan tubuh. Alamaaakkk…baca ulasan ini rasanya kayak ditampar x))

Bila kita membuat pilihan makanan secara teliti atau dasar kebutuhan akan energi fisik, kejernihan mental, kreativitas, dan fokus, disebut memberi makan kepada diri sendiri (feeding oneself). Kita menggunakan istilah itu untuk menekankan perbedaan antara konsumsi tanpa berpikir panjang dan mengisi perut dengan tujuan yang jelas. Istilah memberi makan diri sendiri juga menunjukkan betapa makanan transformasional membutuhkan dua komponen bagian dari diri kita yang memberi makan dan bagian yang meneriman makanan. Ketika kita memberi makan diri sendiri, kita sadar dan tanggap terhadap kebutuhan khas akan makanan saat ini.

Ketika kita diberi makanan bergizi, kita merasa kenyang. Kita merasakan keadaan tubuh yang sehat secara menyeluruh. Dan itu sudah cukup. Seberapa sering kita merasa bahwa sesuatu itu sudah cukup untuk kebutuhan kita? Bagian yang memberi makanan mudah dikenal – salad yang segar, sup buatan sendiri, sayuran panggang. Bagian yang menerima adalah tempat dimana kita sampai di pemberhentian yang hiruk –pikuk.

Bila kita benar-benar hadir dan penuh cinta di saat makan, walaupun hanya sekali dalam sehari atau seminggu, hal yang luar biasa akan terjadi. Kita makan makin sedikit karena kita menerima lebih banyak. Hal ini tidak terasa. Setiap kali kita memberi makan buat diri sendiri, ini adalah sebuah kesempatan untuk berinteraksi dengan tubuh, hati, pikiran, dan jiwa kita. Di sini. Sekarang. Saat ini juga.

Keterangan Buku:

Judul                                     : Eat Right in a Modern

Penulis                                 : Hale Sofia Schatz, Shira Shaiman

Pengalih bahasa               : Lintje Tania

Penyunting                         : Dion Pare

Penata letak                       : Nia Kurniawati

Desain                                  : Anthenrys

Penerbit                              : PT Bhuana Ilmu Populer

Terbit                                    : 2004

Tebal                                     : 237 hlm.

ISBN                                      : 979-694-759-5

 

5 thoughts on “REVIEW Eat Right in a Modern”

  1. Membaca buku ini tampaknya butuh direnungkan juga. Membaca resensi di atas, masih belum cukup paham tujuan memperhatikan makanan yang kita makan, di luar alasan untuk kesehatan.

    1. Hehehe..iya, orang Indonesia, termasuk aku juga yang doyan jajan banget ini, kalo makan masih sebatas enak dan kenyang. Belum bisa memilah makanan yang bergizi dan sehat buat tubuh x))

  2. Maa syaa Allah
    Keren kak reviewnya…
    ga nyangka aku baru cek email, trus dapat notif review kaka, kaka masih aktif ngereview buku. Judul kyaknya tahun 2015 deh ikutan giveaway bukunya kaka dan alhamdulillah menang🤗😅
    Salah dari aku kak.
    Di Kendari🤗

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s