buku, resensi

REVIEW Love, Lust, Lost

Sudah delapan kali Saski menghadiri perhelatan mode akbar ini. Selama seminggu penuh harus berkutat dalam jadwal fashion show di negara yang bertebaran laki-laki ganteng genit bertubuh tegap. Rasanya dulu, tak mungkin Saski berada di sini. Mantannya super posesif. Tak terbayang bagaimana caranya dapat izin dari dia, untuk bisa pergi selama sepekan ke kota-kota yang jelas-jelas akan penuh godaan. Pasti akan dituduhnya macam-macam. Cinta penuh gejolak yang bergejolak lima tahun lalu itu, sesekali memang masih berhasil membuat hatinya perih.

Saski dan Eja sudah pacaran sejak di bangku putih abu-abu. Saski jatuh hati bukan hanya karena wajahnya mirip aktor kenamaan Hollywood Tom Cruise. Tapi dia datang di saat yang tepat. Ketika kasus perceraian orangtuanya bergejolak, Eja selalu menemaninya. Saski tidak pernah bisa percaya dengan laki-laki, karena contoh yang ia lihat dari kecil adalah bapaknya. Seorang pejabat sukses yang sering gonta-ganti pacar. Sementara ibunya setia mengalah pada setiap perselingkuhan yang terjadi.

Saski selalu berjanji dalam hati tidak akan pernah mau mengalah pada laki-laki. Dia tidak mau seperti ibunya. Ibunya lemah. Mengalah dan tertindas. Saski tak mau itu terjadi pada dirinya. Dia merasa dirinya harus tangguh dan mendominasi.

Tapi Eja datang membawa kenyamanan. Lelaki keturunan Sunda ningrat dengan kulit putih yang makin pucat karena jarang main ke luar rumah. Mata sipit teduhnya menawan dinaungi alis tebal yang naik sebelah. Walau postur tubuhnya tidak terlalu tinggi, tetap saja dia jadi bintang SMA yang digandrungi para pelajar putri. Saski salah satu cewek beruntung yang jadi sahabatnya sedari kelas 1 SMA.

Waktu baca sinopsis belakangnya, kupikir bakal seperti novel-novel fashionista ala tetralogi Syamedi Dean, ternyata meski sama-sama mengambil background dunia fashion yang nggak jauh-jauh dari brand-brand terkenal yang harganya selangit, buku ini malah isinya kebanyakan pengalaman ena-ena sang tokoh, hahaha… x))

Di bab-bab awal, sebenarnya udah dapet banget dunia modelling gitu, harusnya menjadi poin lebih buku ini. Apalagi udah ditambah semacam pemotretan ala-ala yang dilakukan oleh model-model ternama Indonesia kala itu yang kalo kita simak semacam benang merah isi cerita buku ini. Sayang banget malah nggak diterusin, hanya berpusat pada kehidupan sang tokoh utama; Saski sebagai bucin alias budak cinta x))

Iya sih, banckgroudnya memang nggak hanya di Jakarta, tapi juga di luar negeri yang kehidupannya memang bebas. Tapi ya masak tiap ketemu ama pacarnya, si Saski ini selalu ena ena melulu. Nggak cuma sama Eja, sama yang lain juga. Ni anak hiper apa gimana ya, hahaha… x))

Isi novel ini didominasi oleh kehidupan Saski yang bucin antara Eja atau Dimitri. Kisah Saski ini sekilas kayak novel-novel percintaan sekarang ini yang ‘diangkut’ dari wattpad dengan tema: cinta, seks dan juga ada masokisnya x))

Keterangan Buku:

Judul                     : Love, Lust, Lost

Penulis                 : Quartini Sari

Editor                    : Mirna Yulistianti

Desain sampul   : Tiara Adikusumah

Setting                  : Sena

Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                    : September 2011

Tebal                     : 189 hlm.

ISBN                      : 978-979-22-7485-1

2 thoughts on “REVIEW Love, Lust, Lost”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s