buku, resensi

REVIEW Kotak Pelangi

“Apa kalian ndak kangen sama orangtua kalian? Keluarga itu harta paling berharga yang dimiliki manusia dan harus dijaga melebihi apa pun di dunia ini. Apa pun. Keluarga adalah harta paling berharga yang dimiliki manusia.” (hlm. 23)

Itu adalah kalimat yang dilontarkan Eyang Santoso, sebagai pemilik Kosan Soda dihadapan anak kosnya yang memiliki berbagai sifat dan karakter yang berbeda satu sama lain. Eyang Santoso suka sekali bercerita. Setiap hari beliau selalu meminta Aiko menggambar keindahan alam Indonesia yang pernah beliau singgahi. Katanya, beliau takut memori indah itu hilang begitu saja dari ingatannya lantaran usianya yang semakin tua. Eyang Santoso akan bercerita panjang-lebar mengenai pengalamannya, dan Aiko akan menggambarkannya dalam secarik kertas.

AIKO. Ipank merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Aiko membuat Ipank terpesona. Entah apa yang menarik dari gadis itu. Yang jelas, waktu terasa berhenti ketika Aiko menatapnya. Dia membuat Ipank melayang, tertarik masuk ke dunianya. Aiko adalah candu bagi Ipank sekarang. Aiko bagi Ipank, rasanya seperti melihat bunga Sakura di Jepang. Gadis canti versi Ipank: tak harus banyak bicara. Tapi sekalinya bicara, bisa bikin hati adem. Kadang keindahan tak perlu bersuara, hanya perlu hati untuk bisa merasakan. Dan itu cukup bagi Ipank.

Sejak tahu Aiko masuk Universitas Pelita, Ipank merasa Tuhan baik banget sama dia. Pasalnya, meskipun anak-anak Soda tahu Ipank naksir berat sama Aiko, cowok itu tidak berani terang-terangan PDKT. Soalnya pasti Jhony dan Dara meledeknya habis-habisan. Bisa-bisa Aiko tidak nyaman tinggal di kos-kosan Soda. Ipank tidak mau hal itu terjadi. Makanya selama ini anak-anak Kosan Soda selalu diam-diam jika ingin meledek untuk kasus percintaan Ipank – Aiko x))

Bagi Ipank, Aiko kayak lukisan abstrak yang harganya ratusan juta, tapi nggak semua orang bisa mengerti. Ipank tahu tentang Aiko. Dari hobinya, kebiasaannya, kelemahannya, sampai barang-barang yang dia punya pun Ipank tahu semua. Tapi, setiap kali Ipank merasa tahu banyak hal tentang Aiko, kali itu juga dia merasa masih banyak yang tidak ia ketahui. Dan satu lagi, Ipank masih penasaran kenapa Aiko seperti takut dengan Ipank x))

Membaca buku ini bagai mengenang memori jaman kuliah dan juga jaman ngekos. Aura-aura kampus terasa kental di dalam buku ini, terutama dari kisah Ipank – Aiko dibandingkan tokoh lainnya yang muncul di sini. Ipank adalah ketua pecinta alam sekaligus wakil ketua senat di kampusnya. Jika masih di bangku putih abu-abu alias masih sekolah, cowok idaman biasanya yang keren adalah tjakep, style hype abiss, dan juga bawaan motor gede atau mobil mahal meski punya orang tua x)) tapi definsi cowok keren versi kuliah justru akan bergeser dengan definisi aktif di organisasi, kalau bisa menjabat di organisasi kemahasiswaan, punya banyak teman, pintar orasi, semakin berani akan semakin banyak yang kagum. Dan definisi itu semua melekat pada Ipank x))

Nuansa kampusnya emang dapet banget. Mulai dari OSPEK kampus dengan peraturan senior selalu benar sampai sesi-sesi nggak jelas selama OSPEK seperti harus berburu tanda tangan para senior pun ada di buku ini, hahaha… x))

Oya, Aiko ini kan lumayan sering ke perpus. Demi Aiko, Ipank yang jarang menginjakkan kaki ke perpus pun bela-belain masuk ke ruangan yang penuh buku itu. Meski begitu, dia akrab dengan Pak Narji, salah satu pustakawan di perpustakaan kampusnya itu. Dia memanfaatkan kesempatan kedekatan itu. Dia meminta ijin untuk meminjam ensiklopedia Indonesia, yang termasuk buku langka. Sebenarnya pun buku tipe tersebut tidak boleh dibawa pulang, alias hanya boleh baca di tempat. Tapi, Pak Narji ini kayak aku banget, pustakawan yang tak jarang memperbolehkan pemustakanya membawa pulang buku yang sebenarnya dilarang untuk dibawa pulang. Apalagi ensiklopedia Indonesia yang dipinjam Ipank ini demi melancarkan misi mahasiswa tersebut untuk pedekate dengan Aiko yang sebenarnya ingin meminjam buku tersebut meski selama tiga hari ke depan berturut-turut, Ipank harus rela disuruh Pak Narji membantu mengembalikan buku-buku perpustakaan yang habis dipinjam ke raknya masing-masing sesuai kode yang tertera. Bayangkan saja kalau setiap harinya ada puluhan judul buku yang dipinjam dan harus dikembalikan lagi ke raknya masing-masing. Sebagai pustakawan garis keras, kupaling suka scene ini, hahaha… x))

Selain mengenang masa jaman kuliah dan juga jaman ngekos, buku ini juga mengingatkan hal-hal manis di Jogja. Waktu Ipank mengajak Aiko ke Kali Code, khususnya ke museum Affandi, salah satu maestro Indonesia ini mengingatkan jaman kuliah dulu juga pernah diajak ama seseorang buat liat-liat lukisan di salah satu galeri di Jogja, kuhanya manggut-manggut meski nggak ngerti tema lukisannya, hahaha… x))

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Akan selalu ada pelangi sehabis hujan, asalkan kita berada pada sudut yang tepat. (hlm. 14)
  2. Kita semua keluarga. Harus saling menjaga. Harus saling memahami. Masalah satu orang di antara kita adalah masalah kita bersama. Tapi bukan berarti hal-hal pribadi harus diketahui semuanya. Masing-masing tahu batasannya. Selama di hati kita ada cinta, semua masalah pasti bisa diselesaikan.” (hlm. 24)
  3. Cinta adalah keindahan yang menaungi setiap hati manusia. Di dalamnya terkandung ribuan doa, pengorbanan, kasih sayang, dan air mata. Tapi semuanya tertuju pada hal yang sama: kebahagiaan. (hlm. 234)
  4. Terkadang cinta datang tanpa harus dimengerti. Semua mengalir begitu saja tanpa ada yang mampu menghentikannya. Cinta adalah masalah hati. Tak pedulu rupa, kasta, waktu, atau jarak sekalipun. (hlm. 234)

Sebenarnya ini buku tetralogi dari buku yang sebelumnya terbit; Canting Cantiq, Cinderella Rambut Pink, dan Rock’n Roll Onthel. Ini adalah buku keempatnya. Tahunya pas baca ucapan terima kasih penulisnya di awal buku, hahaha… sempat berpikir, apakah bakal nyantol ama bukunya jika tidak membaca buku sebelumnya terlebih dahulu, biasanya buku tetralogi kan berkelanjutan jalan ceritanya satu sama lain, ternyata setelah membaca buku ini, bisa dipahami meski tidak membaca buku sebelum-sebelumnya 😉

Keterangan Buku:

Judul                                     : Kotak Pelangi

Penulis                                 : Dyan Nuranindya

Editor                                    : Mursyidatul Umamah

Ilustrator                             : maryana_design@yahoo.com

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : 2014

Tebal                                     : 280 hlm.

ISBN                                      : 978-602-03-1040-4

4 thoughts on “REVIEW Kotak Pelangi”

  1. Bener banget nih ngomongin soal pergeseran tipe keren baik untuk cowok atau cewek pas SMA bakal rubah pas kuliah. Dulu juga gitu, kalo liat perempuan putih, kurus, dan jago modern dance, kelihatannya keren banget. Eh, pas kuliah malah bergeser ke yang berkerudung, kalem, kalo ngomong bikin adem. Pokoknya berubah drastis.

    Saya masih ngekos nih makanya masih ada relate-nya sedikit. Walaupun konteks saya ngekos karena kerjaan lebih deket, bukan kuliah lagi, hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s