buku, resensi

REVIEW Berani Tidak Disukai

Dusta kehidupan yang terbesar dari semuanya adalah tidak hidup di sini pada saat ini. Buanglah dusta kehidupanmu, dan tanpa merasa takut, arahkanlah lampu sorot yang terang benderang itu pada hidupmu di sini saat ini. Itu adalah sesuatu yang bisa kau lakukan. (hlm. 306)

Mungkin ini fenomena yang banyak terjadi di Jepang: Hikikomori semacam mengisolasi diri di kamar. Semua kegiatan dilakukan di kamar: makan, baca buku/ komik, nonton film. Tahun 2016 saja, di Jepang ada sekitar 541 ribu orang yang terkena sindrom hikikomori, berkisar antara umur 15-39 tahun. Bahkan 35 persennya sudah mengalami ansos selama 7 tahun. Waduh…

Ada banyak faktor yang mempengaruhinya. Salah satunya adalah dia dianiaya oleh orangtuanya dan tumbuh dewasa tanpa pernah merasakan kasih sayang. Karena itulah dia takut berinteraksi dengan orang dan karena itulah dia tidak bisa keluar. Faktor lainnya adalah tekanan hidup. Luka batin seseorang (trauma) menyebabkan ketidakbahagiaannya saat ini.

Di buku ini ada selipan pentingnya membaca. Kita membaca buku baru dan memperoleh pengetahuan baru. Pada dasarnya, kita terus-menerus mengumpulkan pengetahuan. Semakin banyak dibaca, semakin meningkat pula pengetahuan yang didapat. Kita menemukan konsep-konsep baru tentang nilai, dan bagi kita, tampaknya hal itu akan mengubah kita. Tapi sebenarnya tak peduli seberapa banyak apa pun pengetahuan yang kita peroleh, watak atau pribadi kita pada dasarnya tidak akan berubah. Kalau pondasi kita bengkok, semua yang kita pelajari sia-sia. Ya, seluruh pengetahuan yang kita peroleh akan runtuh di sekeliling kita. Jadi, kita tidak bisa berubah karena kita sendiri terus berulang kali membuat keputusan untuk tidak berubah. Kita tidak cukup berani untuk memilih gaya hidup baru. Dengan kata lain, kita tidak cukup berani untuk menjadi bahagia, dan itulah sebabnya kita tidak bahagia. Gaya hidup bukanlah sesuatu yang ada sejak lahir, tapi pilihan kita sendiri, kita pasti bisa memilihnya lagi dari awal.

Saat ini kita tidak bisa merasakan kebahagiaan sejati. Kita mendapati hidup ini sulit, bahkan berharap bisa terlahir kembali sebagai orang yang bahagia. Tapi kita sekarang tidak bahagia karena kita sendirilah yang memilih untuk ‘menjadi tidak bahagia’. Bukan karena kita tidak dilahirkan di bawah bintang kesialan.

Kita tidak memiliki kepercayaan dan selalu pesismistis terhadap segala hal. Dan kurasa kita terlalu canggung karena mengkhawatirkan pandangan orang lain dan hidup dengan rasa tidak percaya diri yang berkelanjutan kepada orang lain. Kita tidak pernah bersikap wajar; selalu ada sesuatu yang dibuat-buat dalam perkataan dan tindakan kita. Jangan mengelak. Menjadi ‘apa adanya diriku’ dengan segala kekurangan kita adalah kebajikan yang berharga. Dengan kata lain, sesuatu yang menguntungkan bagi kita. Kita mungkin takut dicela siapa diri kita. Sulit mengakuinya, tapi kita benar.

Kesendirian tidak membuat kita merasa kesepian. Kesepian adalah mengetahui bahwa ada orang lain, masyarakat, dan komunitas di sekitarmu, namun merasa benar-benar dikecualikan oleh mereka. Untuk merasa kesepian, kita perlu orang lain. Artinya, hanya dalam konteks sosial seseorang menjadi ‘individu’.

Nah, poin dari buku ini seperti judulnya bahwa ‘tidak ingin dibenci’ barangkali adalah tugas kita, tapi apakah orang ini atau orang itu tidak menyukai kita atau tidak bukanlah tugas kita. Sekalipun ada seseorang yang tidak berpikir baik tentang kita, kita tidak bisa mengintervensinya. Ibarat wajar kalau seseorang berupaya membawa seekor kuda ke air. Tapi apakah kuda itu minum atau tidak, itu bukan tugasnya.

Keberanian untuk bahagia juga mencakup keberanian untuk tidak disukai. Ketika kita sudah memperoleh keberanian ini, seluruh hubungan interpersonal kita akan segera berubah menjadi sesuatu yang ringan.

Pesan moral dari buku ini adalah jika seseorang hidup dengan cara memuaskan ekspetasi orang lain, dan memercayakan hidup pada orang lain, itu adalah cara hidup orang yang sedang mendustai diri sendiri, dan dia memperpanjang dustanya pada orang-orang di sekitarnya. Jadi mulai sekarang, harus berani tidak disukai! 😉

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Saat ini, dunia terlihat lebih rumit dan misterius bagimu, tapi jika engkau berubah, dunia ini akan terlihat lebih sederhana. Persoalannya bukanlah tentang bagaimana dunia ini, tapi tentang bagaimana engkau. (hlm. xix)
  2. Manusia tidak bisa berubah. Dan di waktu yang sama, engkau berharap bisa berubah. (hlm. xx)
  3. Yang penting bukanlah dengan apa seorang dilahirkan, namun bagaimana dia memanfaatkannya. (hlm. 31)
  4. Kalau hidup ini seperti mendaki gunung untuk sampai ke puncak, pada akhirnya sebagian besar hidup kita adalah ‘dalam perjalanan’. (hlm. 291)
  5. Hidup adalah rangkaian momen. (hlm. 291)

Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Bukan dunia yang rumit. Tapi kaulah yang membuat dunia ini rumit. (hlm. xviii)
  2. Tidak ada seorang pun diantara kita yang tinggal di dunia yang objektif, melainkan di dunia yang kita maknai secara subjektif. (hlm. xviii)
  3. Manusia tidak digerakkan oleh pencetus di masa lalunya, namun bergerak menuju tujuan yang mereka tetapkan sendiri. (hlm. 23)
  4. Kita tidak bisa mengubah masa lalu, dan itulah sebabnya hidup ini begitu sulit. (hlm. 22)
  5. Kalau kau tidak bisa benar-benar merasa bahagia, jelas ada yang tidak beres dengan keadaanmu saat ini. kau harus terus melangkah dan tidak berhenti. (hlm. 30)
  6. Kau sekarang tidak bahagia karena kau sendirilah yang memilih untuk menjadi tidak bahagia. (hlm. 33)
  7. Manusia selalu memilih untuk tidak berubah. (hlm. 36)
  8. Manusia dapat berubah sewaktu-waktu, tanpa memandang lingkungannya. Kau tidak bisa berubah hanya karena kau mengambil keputusan untuk tidak berubah. (hlm. 40)
  9. Mengakuinya adalah sikap yang baik. Tapi jangan lupa, pada dasarnya mustahil untuk tidak terluka dalam hubungannya dengan orang lain. (hlm. 57)
  10. Yang bisa dilakukan seorang manusia untuk menyingkirkan masalahnya hanyalah menjalani hidupnya seorang diri di alam semesta ini. (hlm. 57)
  11. Kita tidak bisa mengubah fakta objektif. Tapi penafsiran subjektif bisa diubah sesering yang kita inginkan. Dan kita menghuni alam subjektivitas. (hlm. 66)
  12. Kalau seseorang benar-benar yakin pada dirinya sendiri, dia tidak merasa perlu berbangga. (hlm. 78)
  13. Kita akan selalu membandingkan diri dengan orang lain, tak peduli bagaimanapun keadaannya. Justru dari situlah perasaan inferior kita muncul, bukan? (hlm. 84)
  14. Fakta bahwa engkaulah yang memutuskan gaya hidupmu, bukan orang lain. (hlm. 120)
  15. Meskipun engkau sedang menghindari tugas-tugas kehidupanmu dan melekat pada dusta kehidupanmu, ini tidak terjadi karena dirimu dipenuhi dengan kejahatan. (hlm. 121)
  16. Jangan hidup demi memenuhi ekspetasi orang lain. (hlm. 133)
  17. Engkau tidak hidup untuk memuaskan ekspetasi orang lain. Kita tidak perlu memuaskan ekspetasi orang lain. (hlm. 135)
  18. Seseorang harus mendapatkan pengakuan, atau dia akan menderita. Jika tidak mendapatkan pengakuan dari orang lain dan dari orangtuanya, dia tidak akan memiliki keyakinan pada diri sendiri. Apakah itu hidup yang sehat? (hlm. 137)
  19. Tidaklah terlalu sulit mengukur apa yang diharapkan orang lain pada diri seseorang, atau peran seperti apa yang sedang dituntut darinya. Hidup sesuka hati, di pihak lain, sangatlah sulit. (hlm. 162)
  20. Tidak ada alasan apa pun yang mengatakan bahwa seseorang tidak boleh menjalani hidupnya sesuka hati. (hlm. 165)
  21. Dipuji membuat orang membangun keyakinan bahwa mereka tidak memiliki kemampuan. (hlm. 217)
  22. Tidak ada manusia yang sempurna. Tidak ada yang namanya orang dengan skor seratus persen. (hlm. 248)
  23. Bagi manusia, ketidakbahagiaan terbesar adalah tidak mampu menyukai diri sendiri. (hlm. 277)
  24. Hidup terdiri dari serangkaian momen, tanpa masa lalu dan masa depan. Kau berusaha memberikan jalan keluar bagi dirimu sendiri dengan berfokus pada masa lalu dan masa depan. Apa yang terjadi di masa lalu sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu yang ada di sini saat ini, dan apa yang mungkin terjadi di masa depan bukanlah hal yang diperlu dipikirkan di sini pada saat ini. (hlm. 300)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Berani Tidak Disukai

Penulis                                 : Ichiro Kishimi & Fumitake Koga

Penerjemah                       : Agnes Cynthia

Perwajahan isi                   : Mulyono

Perwajahan sampul        : Suprianto

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : November 2019 (Cetakan kedua)

Tebal                                     : 323 hlm.

ISBN                                      : 978-602-06-3321-3

11 thoughts on “REVIEW Berani Tidak Disukai”

  1. Saya baru tahu ada praktik Hikikomori, mengisolasi diri dalam kamar. Ini lebih parah ketimbang orang introvert dong ya. Jadi penasaran apa yang sebenarnya bisa memotivasi seseorang untuk berani keluar…

  2. Keren banget bukunya, jadi pengen baca juga😍, banyak kata-kata yang kayaknya nyidir banget tapi bikin semangat. Saya juga baru tahu soal hikikomori. Ternyata banyak orang jepang melakukan hal seperti itu ya….

  3. Wah banyak banget kutipan menariknya. Pengen baca sih tapi takutnya bahasanya kaku. Soalnya terjemahan kan ya? Menurut kakak sendiri gimana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s