buku, resensi

REVIEW Off the Record 2

Masa depan sifatnya  kayak kartu isi pulsa yang dibelakangnya digosok pakai koin, terus muncul angka-angka. Kenapa? Masa depan harus digosok biar semakin lama semakin terlihat. (hlm. 11)

Sejujurnya aku telat kenal Ria SW, content creator yang fokus ke traveling dan makanan ini. Tidak seperti content creator lainnya yang terkadang nyinyir ataupun nge-prank nggak jelas, konten vlognya Ria ini travelling banget. Keliatan banget dia menikmat hal-hal yang dilakukannya sepanjang perjalanan. Begitu juga dengan makanan atau yang dia cicipi selama traveling. Mulai dari food street sampai makanan berkelas. Sepanjang menonton belasan vlognya, kita pasti heran, kenapa dia terlihat tidak berkolaborasi dengan vlogger lainnya. Setelah membaca buku ini kita jadi tahu bahwa dia menikmati kesendiriannya dan tidak mau bergantung dengan orang lain. Tipikal introvert, kayak aku juga gitu sih, hahaha… x))

Baginya, makanan adalah salah satu hal yang bisa bikin orang jadi lebih dekat, nyaman, dan terbuka. Jadi, kalau kalian lagi berencana dekat sama seseorang, cari makanan enak di tempat yang nyama. Dijamin bisa bikin kalian saling mengenal lebih dalam. Tapi untuk tingkat keberhasilan, tergantung apa yang ada di dalam hati masing-masing. Syukur-syukur hatinya ada isinya meski sedikit. Seenggaknya ya nggak kosong melompong, wkwkwk… x))

Selain traveling dan nyoba berbagai makanan, ternyata Ria (atau sebutannya Iaa ini) juga suka nonton konser. Buat dia, nonton konser secara langsung sama seperti makan malam romantis atau nonton bioskop untuk pertama kalinya sama pasangan atau gebetan. Ibaratnya tuh kayak ponsel yang baterainya tinggal dua persen, terus lupa bawa charger, eh terus ada orang baik yang pinjemin charger. Yang tadinya sekarat, jadi muncul harapan baru. Jadi bikin hidup lebih berwarna dan jadi sadar kalau hidup itu jauh lebih indah daripada keluhan kita selama ini. ini sih aku setuju banget. Tahun ini, aku berhasil nonton Westife yang sedang tur dunia. Kapan lagi coba mereka mampir ke Indonesia. Nggak papa deh abis itu nggembel. Pernah baca twitnya seseorang, jika band/ penyanyi yang diidolakan udah berumur, nonton konser harus disegerakan. Kita nggak bakal tahu umur karir band/ penyanyi tersebut, kan. Hal penyesalan dalam hidup adalah belum kesampaian nonton Linkin Park ama The Cranberries, keburu para vokalisnya nggak ada semua 😦

Seperti kita ketahui, Ria nge-fans parah dengan G-Dragon. Ya, setiap dari kita pasti punya semacam role model dalam hidupnya. Ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari role model kita; menggapai impian, tekad yang besar, dan nggak menyia-nyiakan waktu.

Selama perjalanannya keliling Indonesia maupun dunia, ada juga hal mistis yang dialaminya. Di rumahnya, ada sosok kasatmata yang mengganggunya. Tak hanya sekali, tapi juga berkali-kali. Nggak hanya di malam hari, tapi juga siang hari. Wadudu…aku nulis review ini pun malam hari, ujan deras plus sendirian pula x))

Ria salah satu vlogger yang lumayan idealis menurutku. Jarang terlihat menerima endorse. Tapi dia akan nge-vlog suatu tempat meskipun tempatnya kecil atau tidak terkenal, karena makanannya memang enak untuk dinikmati. Baginya lebih baik bikin video makanan enak dari pedagang kecil. Dia lebih senang negdit videonya tayang, mereka akan mendapat banyak rejeki dari kita. Seenggaknya kita bisa bantu promosi dengan apa yang kita punya. Lagi-lagi aku sependapat ama Ria. Selama ini aku kalau posting makanan bukan sekedar untuk pamer atau cari endorse-an. Tapi lebih ke berbagi info tentang makanan yang enak, meskipun itu hanya dipinggir jalan. Jadi kalo dapet endorse makanan, anggap aja sebagai bonus atau apa yang selama ini dilakukan. Itupun milih-milih, kalo aku nggak suka makanannya masak mau aku terima dan bilang enak x))

Oya, kalau kita nyimak vlog-vlognya, kita sering menemukan si curut yang selalu menemani kemanapu ia pergi. Ternyata lewat buku ini, kita jadi tahu bahwa nggak hanya curut yang selalu menemaninya, tapi ada Mata Genit, Perut Karung, Lidah Api dan juga Otak Random…. hahaha… x))

Suka dengan buku ini. dengan jumlah halaman 251 ini, harganya sebenarnya lumayan mahal. Tapi kalo kita lihat dalamnya, banyak infografis di dalam. Jadinya sebanding jika harganya segitu. Meski tebal, aku bacanya lumayan cepat. Jalan ceritanya ringan, jadi pas baca nggak terasa. Jadi penasaran ama bukunya yang pertama 😉

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Kalau beda tujuan sama sahabat, nggak apa-apa kok. Lagi pula, pada akhirnya, cepat atau lambat, kita akan menghadapi dunia ini sendirian. (hlm. 13)
  2. Yang harus kita lakukan hanya bersikap baik, memberi aura baik, dan menabur hal baik biar kita mendapat hal yang baik juga. (hlm. 34)
  3. Tiap orang punya pendapat dan cara pemikiran berbeda. (hlm. 50)
  4. Kita nggak bisa mengharapkan sesuatu tetap sama seperti yang ada di memori kita. (hlm. 55)
  5. Semua hal yang kita mau dan impikan pasti selalu ada rintangannya. (hlm. 62)
  6. Dunia kita nggak boleh berhenti karena orang lain. Kita harus tetap berjalan karena cepat atau lambat, pada akhirnya kita akan berjalan sendiri dan nggak ada satu orang pun yang bisa kita andalkan, kecuali diri sendiri dan Sang Pencipta. (hlm. 172)
  7. Untuk meraih apa yang kita mau, kadang kita harus kehilangan sesuatu yang berharga. (hlm. 241)

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Selalu bareng kadang nggak baik untuk perkembangan diri. Ini kelihatan sederhana, tapi hal sederhana inilah yang justru menghambat kita untuk melangkah maju dengan cepat. Gimana nggak menghambat kalau sedikit-sedikit cari teman? (hlm. 13)
  2. Kenyataan itu nggak seindah drama Korea. (hlm. 26)
  3. Namanya juga hidup. Bahkan di film, komik, maupun drama juga begitu. Nah, apalagi di kehidupan nyata? Kalau kalian mau hidupnya lancar-lancar aja, mending kalian tidur dan bermimpi aja. Eh, bahkan mimpi aja ada rintangannya! (hlm. 63)
  4. Sesayang-sayangnya kita sama pasangan, jangan bikin kita juga jadi ikutan nggak masuk akal. (hlm. 68)
  5. Nggak bakal ada hal hebat yang bisa didapat dengan cara instan. Bahkan mie instan saja harus pakai usaha dan waktu untuk masaknya. (hlm. 84)
  6. Kita harus bersahabat dengan proses. Proses inilah yang bakal ngebentuk mental dan kualitas kita nantinya. Makanya, jangan memusuhi atau membenci proses. (hlm. 84)
  7. Bukan impian kalo nggak ada tantangannya. Main game aja butuh waktu berhari-hari buat naikin level. Apalagi mau menggapai mimpi? (hlm. 84)
  8. Siapa kita dan akan jadi seperti apa kita nggak dibentuk dari omongan orang lain. Meskipun punya inner circle yang nggak bisa kita ubah, bukan berarti kita jadi berserah dan menyerah. (hlm. 251)

Keterangan Buku:

Judul                                                     : Off the Record 2

Penulis                                                 : Ria SW

Editor                                                    : Tri Saputra Sakti

Ilustrasi kover & isi buku               : Orkha Creative & Zuchal Rosyidin

Proofreader                                       : Yuniar Budiarti

Layouter                                              : Anna Evita

Penerbit                                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                                    : November 2019

Tebal                                                     : 256 hlm.

ISBN                                                      : 9786020635491

1 thought on “REVIEW Off the Record 2”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s