buku, resensi

REVIEW Laguna

Sakit hati itu menyakitkan, dikecewakan itu memuakkan. Butuh proses panjang untuk merekatkan kembali hati yang hancur. (hlm. 135)

NETA. Dia mengakui bahwa ia bukan karyawan teladan. Bukan sekali dua kali ia datang terlambat. Tetapi, Mark tidak bisa membuat kesimpulan hanya karena memergokinya datang terlambat pada hari pertama lelaki itu bekerja. Apakah pada hari pertamanya ini lelaki itu sudah menginterogasi bagian HR, siapa saja karyawan yang paling sering datang terlambat, lalu memperoleh informasi bahwa Arneta Djajakusumalah si pemegang rekor sehingga harus diumumkan di tengah rapat manajemen?

Dari awal dia memilih terdampar di Pulau Bintan Utara ini, khususnya bekerja di Blue Lagoon adalah untuk melarikan diri dari kekecewaan, yang sebenarnya menemukan kedamaian di sini. Dia tidak ingin meninggalkan Blue Lagoon. Sampai suatu hari Mark Peter datang, bertugas membenahi apa saja kekurangan Blue Lagoon selama ini.

Dua tahun lalu, Neta memaksa papanya untuk menempatkannya di salah satu posisi kosong di Blue Lagoon, tak seorang pun berani mengusiknya. Neta, sang putri pemilik resor. Ada yang berani mengganggunya? Tentu saja tidak. Semua orang tahu cara menghargai dan menghormatinya. Dan baru sekarang, lewat kelakukan Mark Peter yang membuatnnya merasa terganggu.

Dari awal, sebenarnya aku nggak terlalu suka dengan sikap dan sifat Neta yang terlalu childish sih. Marah karena ditegur general manager baru di hotel tempat ia bekerja. Memang sih itu hotel milih papanya, tapi harusnya dia bersikap profesional. Ditambah lagi mengadu pada papanya atas apa yang dilakukan Mark padanya.

MARK. Sebagai general manager yang ditempatkan di Blue Lagoon, otomatis dia juga akan melaksanakan tugas sebagai direktur operasional, karena sejak awal posisi jabatan tersebut belum difungsikan untuk dipegang pejabat khusus. Punya tampang yang mendukung, tentu menjadi poin plus tersendiri bagi Mark untuk memikat customer yang datang ke Blue Lagoon, resor yang dipegagnya kini.

GALANG. Sudah membuat hati Neta hancur. Lelaki itu meninggalkannya di saat ia mengharapkan kejelasan hubungan mereka. Ini bukan tentang kisah cinta kilat yang hanya dirajut dalam satu periode purnama. Ini tentang jalinan kasih mereka yang sudah berjalan empat tahun lamanya. Ini tentang sosok yang sudah dipilih Neta tak asal pilih mengandalkan tampang dan penampilan, melainkan sudah menilainya dari banyak sisi. Dulunya, Neta pikir Galang adalah cinta pertama yang Neta harap juga akan menjadi cinta terakhirnya. Galang adalah alasan Neta melarikan diri ke Pulau Lagoon

Sebenarnya bukan tanpa alasan jika Galang belum siap menjalin hubungan dengan Neta ke jenjang lebih serius. Galang, sebagai laki-laki tentu punya harga diri. Dia ingin nantinya bisa sejajar dengan keluarga Neta yang memang berada. Memang sih, Neta menjanjikan jabatan bagi Galang di perusahaan papanya jika mereka bersama. Tapi Galang tidak mau jalan pintas itu. Ia ingin sukses itu berasal dari hasil keringatnya sendiri. Aku sih malah suka Galang ya. Bukan dia tidak berani berkomitmen, tapi dia tidak ingin menelantarkan Neta kelak jika menjadi pasangannya.

Novel Laguna yang ditulis Om Iwok Abqary ini adalah salah satu finalis lomba novel amore yang diadakan oleh PT Gramedia Pustaka Utama. Sejujurnya, ini kali pertama baca tulisan beliau yang bertema ‘amore’ alias fase dewasa, karena beberapa kali membaca karya beliau justru yang bertema teenlit bahkan anak-anak. Penulis mungkin mencoba keluar dari zona nyamannya, dan mencoba hal baru yang belum pernah dicobanya selama ini.

Poin plus dari buku ini adalah mengambil setting yang belum terjamah novel lainnya. Pulau Bintan Utara. Pulau ini adalah surga, dengan segala keindahan dan keelokan alamnya. Pasir putihnya, biru lautnya, ekowisatanya, flora dan faunanya, tersaji sebagai kekayaan alam yang tak bisa diabaikan begitu saja. Siapa sangka, di balik pesisir barat Sumatra tersimpan titisan tanah surga yang begitu memukau.

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Terlambat lebih dari tiga puluh menit bukan sebuah kebetulan, bukan? (hlm. 7)
  2. Tidakkah kita sadari, kesalahan segelintir orang bisa merusak kerja tim secara keseluruhan? Jangan membawa pengalaman buruk pada orang lain. (hlm. 21)
  3. Bagaimana program kerja akan berjalan kalau tidak disertai etos kerja yang baik? (hlm. 21)
  4. Disiplin, satu hal yang kecil memang, tapi bisa mengacaukan semuanya kalau kita melanggarnya. (hlm. 21)
  5. Memang berat menanggung luka seperti itu. (hlm. 161)
  6. Lelaki tanpa komitmen adalah lelaki yang tidak yakin atas dirinya sendiri, tidak percaya atas kemampuan diri, terlebih tidak bisa bertanggung jawab atas tindakan yang sudah diambilnya. (hlm. 163)
  7. Kecemburuan membuat akal sehatku membabi buta ke mana-mana. (hlm. 213)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Laguna

Penulis                                                 : Iwok Abqary

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : November 2013

Tebal                                     : 232 hlm.

ISBN                                      : 978-602-03-0053-5

2 thoughts on “REVIEW Laguna”

  1. Kover bukunya sangat fresh. Saya penasaran cerita lengkap hubungan Neta dan Mark Peter dengan latar Pulau Bintan. Pasti menarik membaca narasi penggambaran pulau tersebut. Dan kayaknya yang paling menonjol wisatanya itu pantai ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s