buku, resensi

[Serba-serbi] Buku Bertema Sicklit Yang Diadaptasi Ke Film

“Tanpa penderitaan, kita tidak bisa mengenal kebahagiaan.” (hlm. 365) #TheFaultInOurStars

Tema sicklit memang jarang diangkat ke sebuah buku maupun film. Mungkin karena butuh riset yang kuat. Ya, sicklit yaitu membahas tentang suatu penyakit. Jika tanpa riset yang kuat, sebuah buku hanyalah ‘mentah’ tak ubahnya buku kuliah kedokteran yang hanya menjabarkan penyakit.

Berikut buku-buku bertema sicklit yang tidak hanya best seller karena sukses cetak ulang berkali-kali, tapi juga diangkat ke layar lebar:

1.The Fault in Our Stars

the fault in our stars

Hazel Grace Lancaster. Usianya enam belas tahun. Hazel didiagnosis kanker tiroid Stadium IV ketika berusia tiga belas tahun. Sedangkan Augustus Waters berusia tujuh belas tahun. Mendapat sedikit sentuhan osteosarkoma satu setengah tahun yang lalu.

Setiap kali kau membaca buklet, situs web, atau apa saja mengenai kanker, depresi selalu disebutkan di antara efek-efek samping kanker. Tapi, sesungguhnya depresi bukan efek samping kanker. Depresi adalah efek samping sekarat.

Ketika didiagnosa menderita kanker, Hazel merasa sangat terpuruk. Dia tidak bersemangat dalam menjalani hidupnya. Dia merasa sia-sia. Sampai tiba ketika dia dipaksa ibunya untuk mengikuti suatu kegiatan kelompok penyemangat kanker. Awalnya ogah-ogahan, bukan makin semangat dalam hidup, Hazel merasa justru jenuh dengan segala keluh kesah penderita kanker lainnya yang bernasib sama dengannya.

Hingga dia bertemu Augustus Waters yang juga mengisi sisa-sisa harinya seperti yang dialaminya. Bedanya, August semangat. Nah, rasa semangat itu menjalari hidup Hazel selanjutnya.

2. If I Stay

Pernahkah terbayang tiba-tiba semua orang kita sayangi direnggut selamanya dari kita?!? Itulah yang dialami Mia. Di suatu pagi, setelah sarapan bersama Mom dan Dad serta adiknya, Teddy. Dad mengajak seluruh anggota keluarga untuk bepergian bersama mengunjungi Henry dan Willow, mereka adalah teman band Mom dan Dad yang juga punya anak. Dad juga merayu mereka, setelah mengunjungi temannya itu ke BookBarn, sebuah toko buku bekas. Dan juga mampir ke Gran dan Gramps untuk makan sore. Mia memang memilih pergi bersama keluarganya.

Mobil hancur berantakan. Hantaman truk pikap empat ton berkecepatan hampir seratus kilometer per jam pada sisi penumpang memiliki kekuatan seperti bom atom. Pintu-pintu terlepas, bangku depan penumpang terbang menembus jendela sisi pengemudi. Benturan itu mematahkan sasis, membuatnya terpental ke seberang jalan, dan merobek mesin seolah semudah merobek sarang laba-laba. Roda-roda dan kap depan terlempar jauh ke tengah hutan. Benturan tersebut memercikkan api pada serpihan-serpihan tangki bensin, sehingga sekarang api-api kecil menjilati jalanan yang basah.

Banyak yang salah pada diri Mia. Rupanya paru-parunya bocor. Limpanya robek. Ada perdarahan dalam yang asalnya tidak diketahui. Dan yang paling serius, memar-memar pada otaknya. Tulang rusuknya juga patah. Lecet-lecet pada kakinya, yang akan membutuhkan transplantasi kulit; dan pada wajahnya, yang akan butuh operasi plastic.

Sekarang, dia ruang bedah, para dokter harus mengeluarkan limpanya, memasukkan tube baru untuk mengeringkan paru-parunya yang bocor, dan menyumbat apapun yang menyebabkan perdarahan. Tidak banyak yang bisa mereka lakukan terhadap otaknya.

Ketika Mia kehilangan semua anggota keluarganya dan mengalami masa kritis, bukan berarti Mia kehilangan segalanya. Masih ada Adam, pacarnya yang setia dan Kim, sahabat baiknya serta kerabatnya yang selalu berharap agar dia siuman dan hidup seperti sedia kala meski hidup tak pernah lagi sama. Mia harus berjuang keras untuk ‘kembali’ ke tubuhnya. Akankah dia berhasil?!?

3. Me Before You

me before you

Will Traynor adalah pemuda dengan karir cemerlang. Hidupnya nyaris sempurna, apalagi ditambah kekasih yang juga sempurna. Sayangnya, sebuah kecelakaan merenggut semua impiannya. Dia tidak bisa apa-apa, bahkan untuk melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri. Will merasa hidupnya sudah tidak berguna lagi. Apalah arti hidup jika tidak bisa melakukan apa-apa dan hidup hanya bergantung dari orang lain. Di usianya yang mencapai tiga puluhan, Will sangat putus akan keadaan dirinya.

Will menderita quadriplegic. Suatu penyakit dimana seseorang tidak dapat menggerakkan anggota tubuhnya. Kelumpuhan yang disebabkan oleh penyakit atau cedera pada manusia yang mengakibatkan hilangnya sebagian atau seluruh anggota tubuhnya. Belum lagi ditambah rasa belas kasihan dari orang-orang terdekatnya, bukan menjadi penyemangat, justru makin membuat Will merasa putus asa dan tak berguna. Dua tahun bukan waktu yang sebentar, sahabatnya akan menikah dengan mantan kekasihnya. Kebayang kan rasanya jadi Will? :’)

Louisa Clark adalah gadis yang baru saja dipecat dari pekerjaannya. Selama ini, keluarganya tergantung kepadanya. Tidak hanya orangtuanya dan kakekknya saja, tapi juga adiknya yang sudah memiliki anak. Apa pun dia lakukan demi mendapatkan pekerjaan, termasuk tawaran merawat orang yang sakit yang dia pikir akan merawat orangtua. Bukan, seseorang yang dirawatnya itu ternyata masih muda, dialah Will.

Upaya Lou untuk diterima Will tidaklah mudah. Bahkan Lou sempat putus asa di hari pertamanya bekerja untuk merawat Will. Demi kehidupannya, Lou membuanng semua segala hambatan yang diterimanya. Lambat laun, Lou merasakan hidupnya merawat Will tidak hanya sekedar agar mendapat upah, tapi sesuatu yang lain.

4. Before I Die

before i die

Apa rasanya ketika di masa mudamu yang harusnya sedang mekar-mekarnya malah harus menunggu malaikat pencabut nyawa yang akan membawamu kapan saja tanpa diduga? Adalah Tessa yang mengalami kanker leukemia sejak empat tahun yang lalu. Usinya baru enam belas tahun. Dia ingin merasakan indahnya ketika berumur tujuh belas tahun. Dia ingin seperti remaja lainnya. Dia ingin merasakan cinta.

Tessa hanya memiliki dua pilihan; terus berlindung di bawah selimut dan melanjutkan hidup sebagai orang yang sekarat, atau kembali melaksanakan daftar keinginan dan melanjutkan hidupnya.

Buku ini hanya terdiri dari beberapa tokoh tapi memegang peranan penting bagi tokoh utamanya. Zoey, meski kesannya dia tipikal remaja nakal, tapi dia adalah contoh sahabat yang setia terhadap Tessa baik suka maupun duka. Dia menemani Tessa dalam keadaan apa pun, bahkan dia adalah orang yang selalu menyemangati Tessa saat dalam kondisi paling terpuruk. Zoey lah yang selalu mendorong Tessa untuk mewujudkan impiannya yang belum tercapai. Bahkan ketika ayah Tessa angkat tangan untuk membujuk Tessa mau keluar dari kamar, Zoey lah yang berhasil menaklukkan Tessa.

Dari semua buku di atas, aku sudah menonton semua versi filmnya, dan memang bagus sih. Bahkan malah lebih bagus dibandingkan filmnya. The in Our Stars, kalau kita baca buku versi terjemahannya, ada jalan cerita yang dipotong dan kita akan tahu saat menonton versi filmnya. Sedangkan Me Before You, versi bukunya yang bisa dikatakan sebagai kategori buku bantal, soalnya 600-an halaman ini, aku malah lebih suka versi filmnya, nggak berbelit. Will di versi film ternyata tak sejelek yang kubayangkan di buku pasca kecelakaan x))

Ada yang mau menambahkan, buku bertema sicklit yang diangkat ke film? Sebenarnya ada masih banyak buku sicklit lainnya yang pernah aku baca. Nanti aku buat postingan jilid duanya ya! 😉

2 thoughts on “[Serba-serbi] Buku Bertema Sicklit Yang Diadaptasi Ke Film”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s