buku, resensi

REVIEW Mawar Merah Metamorfosis

Jangan tertipu dengan apa yang kita lihat, dan jangan percaya pada siapa pun. (hlm. 153)

Menjalani praktik kerja lapangan di Cosmo TV ternyata memberi pengalaman baru bagi Riva. Pengalaman yang sebagian besar menyenangkan. Bukan hanya karena Riva sering bertemu para penyiar yang cakep-cakep yang selama ini hanya dilihatnya di TV, atau kadang-kadang, artis maupun penyanyi yang sedang mengisi acara di situ, Riva juga mendapat pengalaman baru, tentang cara kerja dunia pertelevisian, terutama di bagian pemberitaan. Dia banyak belajar dari para kru, mulai dari pengarah acara, penulis skrip, sampai ke bagian properties, tentang cara memproduksi sebuah acara berita, dari mulai proses peliputan hingga tayang. Dan semua itu ternyata tidak gampang, bahkan kadang-kadang membutuhkan banyak pengorbanan dari para kru yang terlibat. Makanya diam-diam Riva merasa berdosa, karena dulu dia sering menyepelekan para pembaca berita yang menurutnya hanya modal tampang doang. Padahal tidak hanya itu. Seorang pembawa acara berita yang biasa disebut presenter tersebut juga harus ikut turun mencari berita, atau menjadi reporter, dan itu membutuhkan skill tersendiri.

Selain mendapat ilmu dan pengalaman baru, Riva juga mendapat teman-teman baru di tempat praktiknya, terutama di kalangan para kru. Dia telah mengenal sebagian besar kru di bagian pemberitaan, karena dia sehari-hari nongkrong di situ. Mungkin karena sifat Riva yang ramah dan mudah bergaul, jadi dia bisa cepat akrab dengan orang lain. Walau menurut pengakuan Aris, juru kamera yang sering dikerjain Riva, dia bisa cepat akrab dengan para kru karena bisa disuruh-suruh. Dari disuruh ngetikin skrip berita, sampai disuruh beli nasi uduk di kantin kalau pas jam makan siang.

“Kalian bisa membebaskannya dari hukuman mati?”

“Kami CIA. Kadang-kadang kami bisa lebih berkuasa dari Presiden AS, terutama terhadap negara-negara dunia ketiga dan sekutu AS. Kami bisa melakukan apa saja, termasuk menentukan apakah seseorang bersalah atau tidak.” (hlm. 236)

Sekilas Riva seperti mahasiswa pada umumnya. Ini adalah sekuel dari buku Trilogi Mawar Merah. Yang pertama berjudul Mawar Merah: Mosaik. Masih menceritakan Rachel, tapi di buku kedua ini, menurutku lebih menceritakan tentang Riva. Trilogi ini sempat booming pada masanya. Bahkan buku yang aku baca ini meski terbitan tahun 2014, sudah memasuki cetakan keempat. Ada banyak faktor kenapa buku ini bisa dikatakan menarik dan cetak ulang berkali-kali. Pertama, tema dan jalan ceritanya yang menarik. Kedua, berbeda dengan novel Indonesia pada umumnya. Ketiga, banyak tokoh yang terlibat. Keempat, rasanya akan menarik sekali jika buku ini diangkat ke layar lebar. Jadi penasaran ama buku ketiganya: Mawar Merah: Matahari.

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Jangan stres gitu dong. Santai aja. (hlm. 23)
  2. Menelepon teman-teman kamu bisa membahayakan keselamatan mereka dan keluarga mereka. (hlm. 139)
  3. Kenapa lo nggak berhenti dari pekerjaan lo yang sekarang? (hlm. 153)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Mawar Merah Metamorfosis

Penulis                                 : Luna Torashyngu

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : November 2014 (Cetakan keempat)

Tebal                                     : 248 hlm.

ISBN                                      : 978-602-03-`1076-3

1 thought on “REVIEW Mawar Merah Metamorfosis”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s