buku, resensi

REVIEW Putri Kunang-kunang

Sesulit itu jatuh cinta? (hlm. 75)

Namanya Kasanding Hapsari. Teman-temannya memanggilnya Sanding. Umurnya enam belas tahun, dan ia baru saja menamatkan Sekolah Menengah Pertama. Rambutnya yang sebahu sedikit bergelombang. Kata ayahnya, itu adalah rambut turunan ibunya, yang meninggal saat melahirkan Sanding. Enam belas tahun Sanding hidup dengan ayahnya, yang merupakan pemilik kafe terkenal di daerah pantai pasir putih. Dan selama itu pula dirinya begitu mencintai laut dan pantai.

Awalnya Sanding berpikir ia akan hidup bersama lautan selamanya. Sampai pada akhirnya saat ia lulus SMP, ayahnya mendaftarkannya ke SMA terkenal di kota. Kata ayahnya, itu salah satu permintaan terakhir ibunya.

Sudah bisa dipastikan anak-anak yang akan menjadi penguasa di SMA Nusa sama seperti saat SMP dan SD. Mereka adalah Kala, Ragan, Aldo, Mojo, Riza, Afrodit, Ayas, Seila. Kumpulan orang-orang populer yang dicintai sekaligus dibenci.

Di sekolahnya yang baru, sejak awal Sanding tidak berminat mengikuti audisi pemeran drama Ramayana. Ia beralasan, sejak SMP ia hanya berperan di belakang panggung dan merasa lebih nyaman jika ia tetap bekerja di balik layar. Tiap hari Sabtu di kelas drama ini, setelah beberapa anak selesai mengikuti audisi, Bu Martha terus memaksanya membaca cuplikan dialog Sinta, teman-temannya juga ikut memaksanya, termasuk Kala. Dengan enggan, Sanding membaca beberapa dialog Sinta. Dari nada suaranya, kentara sekali ia tak berniat lolos audisi.

Belum pernah Sanding menangis karena masalah sepele macam begini. Saat SMP ia pernah bertengkar dengan teman cowok di kelasnya gara-gara temannya itu selalu mengejek rambutnya yang begitu tebal. Bahkan saking marahnya ia pernah meninju cowok itu saat kenaikan kelas delapan.

Sebelumnya Sanding tak pernah peduli dengan orang-orang yang membencinya. Ia tak pernah peduli dengan orang-orang yang bertingkah seolah tak mengenalnya. Tapi kali ini terasa lain. Ada sesuatu di dadanya, terasa nyeri saat menatap mata dingin Kala pagi itu. Begitu asing. Dan kepedihan ini membuat air matanya meleleh begitu saja.

Kisah Kala dan Sanding dalam buku ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Benci jadi cinta. Kehidupan di sekolah di novel ini terasa banget. Pertama, tentang para murid yang lelah tiap mendengarkan ceramah kepala sekolah yang panjang lebar. Tidak hanya sekali, tapi beberapa kali dilakukan x)) Kedua, tentang kejahilan di kelas, bagaimana ulah teman-teman barunya di SMA saat Sanding kali pertama masuk kelas. Ketiga, tentang esktrakurikuler yang bukan favorit di sekolah. Sama seperti Bu Martha, aku juga menjadi pembina ekstrakurikuler yang tidak menjadi lima besar favorit di sekolah, tapi justru menikmati amanah ini. Karena menurutku lebih baik membimbing sedikit murid tapi kompak daripada banyak murid tapi susah diatur x)) Keempat, problema remaja terutama perempuan yang selalu memikirkan diet jika ingin makan, merasa gendut saat pipi mulai tembab x)) Kelima, tentang toilet di sekolah yang angker. Dimana-mana selalu gitu, termasuk di sekolah tempat aku kerja, hahaha.. x)) Kelima, tentang gaya pacaran anak sekolah zaman sekarang yang mulai mengkhawatirkan seperti Heisye dan Bima. Keenam, tentang tekanan keluarga seperti yang dialami Ragan.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Pemenang yang sesungguhnya adalah yang lebih dulu menemukan pendar kunang-kunang. (hlm. 97)
  2. Ada waktunya memutuskan, kapan kamu harus tetap berjuang atau melepaskan. (hlm. 178)
  3. Aka ada perayaan di setiap perkenalan maupun perpisahan. (hlm. 189)

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Berhenti merajuk kalau kamu sayang ibumu. (hlm. 12)
  2. Anak SMA tidak seharusnya berkeliaran di pub. (hlm. 47)
  3. Orang jatuh cinta itu nggak pernah bisa bohong. Masalah hati, mata yang berbicara. (hlm. 75)
  4. Jangan pernah menyalahkan orang lain karena dia nggak bersikap seperti yang kita harapkan. (hlm. 75)
  5. Nggak ada singa yang membunuh anaknya sendiri. (hlm. 177)
  6. Ya gitu kalau logika sama hati nggak pas. (hlm. 178)
  7. Kamu nggak sakit hati, kan? (hlm. 187)
  8. Dunia ini lebih fiksi dari cerita fiksi itu sendiri. (hlm. 188)

Keterangan Buku

Judul                     : Putri Kunang-kunang

Penulis                 : Titi Setiyoningsih

Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                    : 2015

Tebal                     : 192 hlm.

ISBN                      : 978-602-03-1507-2

1 thought on “REVIEW Putri Kunang-kunang”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s