buku, catatan kehidupan

10 Hal Yang Bisa di Lakukan Saat #SocialDistancing Bagi Blogger Buku

Banyak yang mengalami kebosanan saat #SocialDistancing, dari awalnya hanya 14 hari bertambah menjadi dua bulan lebih jika sampai lebaran nanti. Lalu, apa saja hal-hal yang bisa dilakukan oleh para blogger buku? Sebenarnya hal-hal ini tidak hanya bisa dilakukan bagi para blogger buku saja, tapi juga para pecinta buku. Berikut beberapa hal yang bisa kita lakukan dengan buku-buku yang kita miliki dan tanpa disadari hari-hari akan berlalu dengan cepat meski hanya #DiRumahAja

  1. Bongkar rak buku kita yang selama ini tidak sempat kita bereskan, bahkan meski hanya untuk mengelapnya. Kebetulan aku ini anaknya Gemini banget, alias bosenan. Jadilah belum lama ini aku ubah tatanan buku-buku di rak menjadi ala-ala pelangi gitu. Capek memang, harus menurunkan semua koleksi yang ada, tapi ada kepuasan tersendiri setelah melihat hasilnya. Bisa di cek di postingan [Serba-serbi] Rainbow Bookshelf.
  2. Selain membongkar dan mengatur ulang rak buku, kita bisa memilih mana buku yang masih kita simpan di rak buku kita dan mana yang sekiranya sebenarnya sudah kita perlukan lagi. Kalo aku selama ini, biasanya abis baca buku dan mereviewnya, langsung aku letakkan di rak buku jika ingin disimpan atau aku masukkan kardus yang biasanya udah penuh nanti aku bawa ke sekolah. Ya, seperti sering aku ceritakan jika buku-buku yang aku dapatkan dari pengunjung maupun penerbit yang kiranya cocok dibaca buat remaja, aku jadikan koleksi perpustakaan tempat aku kerja, bukan koleksi pribadi. Kenapa? Agar semakin banyak yang membacanya. Karena sejatinya sebuah buku akan bermanfaat jika buku itu dibaca. Semakin banyak yang membaca, tentu akan semakin bermanfaat dibandingkan hanya berjejer manis di rak tanpa ada yang menyentuhnya.
  3. Daripada membaca ulang buku yang sebenarnya sudah dibaca, sebenarnya aku lebih suka membaca buku-buku yang selama ini ditimbun alias entah belinya jaman kapan tapi gak dibaca-baca dengan alasan karena nggak ada waktu. Nah, ini saatnya kita memiliki banyak waktu luang untuk membaca. Aku sebenarnya juga membaca ulang Harry Potter, soalnya nonton ulang juga semua seri versi filmnya. Semacam kayak nostalgia gitu, apalagi serial Harry Potter ini menjadi semacam salah satu saksi bisu tumbuhkembangku saat remaja; beli tabloid/majalah yang mengulas Harry Potter, kliping artikelnya, beli pernak-perniknya, dan lain-lain kala masih sekolah, hahaha… x)) Oya, serial yang sampai sekarang masih belum aku baca adalah serial Supernova-nya Dee Lestari. Sebenarnya udah punya lengkap, sayangnya malah ada dua seri yang hilang dipinjam teman dan itupun nggak diganti.. x)) Semoga seperti serial Harry Potter, aku bakal bisa kembali mendapatkan serial Supernova secara lengkap.
  4. Blogwalking. Kalau selama #SocialDistancing kita dianjurkan tidak kemana-mana alias #DiRumahAja, ini saatnya main secara virtual alias main ke blog lainnya. Sayangnya, banyak blogger buku yang kini satu per satu mulai hiatus.
  5. Bokstagram. Kini banyak blogger buku beralih menjadi bookstagram. Mungkin karena sekarang menjadi bookstagram lebih menarik. Kalo aku, sampai sekarang masih konsisten nulis review buku via blog, soalnya selain masuk juknis pustawakan, buku yang abis aku baca jarang nganggur, apalagi masih apik utuh gitu. Ditambah kalo buku tersebut udah jadi koleksi perpustakaan, ya bakal jarang nganggur buku itu, jadi nggak mungkin mau difoto-foto ala bookstagram, bukunya udah keburu kucel kebanyakan dibaca, hahaha… x))
  6. Review buku menjadi alternatif selanjutnya. Kenapa? Kenapa, karena sebenarnya manusia pada umumnya memiliki keterbatasan dalam menyimpan banyak memori. Aku salah satunya, pelupa banget anaknya, hahaha… x)) Nah, jika kita menuliskan reviewnya, bisa menjadi semacam arsip kita di masa mendatang. Nggak melulu harus ulasan panjang, yang punya aku instagram, bisa menuliskan mini reviewnya di caption. Serba-serbi Review Buku sudah pernah aku tulis lengkap ya via blog.
  7. Menyampul buku menjadi salah satu hal yang paling menyenangkan menurutku. Dulu pas masih kerja di perpustakaan kampus, meski ada pegawai yang pekerjaan mengolah buku salah satunya menyampul, aku biasanya request kalo buku-buku semacam ensiklopedia, kamus dan buku-buku tebal lainnya biar aku yang nyampul, padahal aku ada jobdesk lain, tapi aku malah senang-senang aja, hahaha… Kalo di perpustakaan sekolah mah jangan ditanya, kayak tukang sate, semua dikerjain, termasuk menyampul buku-buku yang ada di perpustakaan. Entah kenapa menurutku tuh kalo menyampul buku, apalagi buku baru tuh rasanya menemukan kebahagiaan tersendiri, hahaha… x)) Bahkan aku pernah buat ulasan khusus tutorial tentang Serba-serbi Menyampul Buku.
  8. Salah satu hal yang sering terlupa dari sensasi mengoleksi buku adalah mengoleksi bookmarknya. Sayangnya nggak semua buku ada bookmarknya. Tanpa disadari, saking banyaknya buku yang pernah aku pernah, ada banyaaaaakkk sekali bookmark yang aku kumpulkan. Dan bahkan dua tahun lalu pernah aku jadikan untuk semacam background Lapak Baca di Stan Perpustakaan Sekolah tempat aku kerja dan menjadi daya tarik sendiri. Dan alhamdulillah dari enam puluhan lapak baca, tempatku masuk juara 3 kategori umum. Oya, aku pernah buat menulis ulasan tentang macam-macam membuat Bookmark Unyu yang bisa kita lakukan di rumah ya.
  9. Inventaris buku. Jika koleksi buku kita sudah banyak dan kita nggak bisa mengingat semuanya, apalagi banyak yang meminjam, kita bisa menginventaris buku-buku tersebut. Boleh manual atau bisa juga secara otomatis. Sekarang sudah banyak aplikasi untuk inventaris buku. Salah satunya yang paling banyak digunakan dan bisa diunduh gratis adalah SLIMS. Kebetulan aku di perpustakaan sekolah menggunakan program tersebut. Oya, bisa diunduh gratis dan ini legal kok. Jadi aman jika kita mengunduhnya. Ini buatan orang-orang Indonesia. Program ini nggak hanya dipakai perpustakaan-perpustakaan di Indonesia saja, tapi juga perpustakaan-perpustakaan luar negeri loh.
  10. Penomoran buku. Jangan pusing dulu dengan membayangkan jutaan nomor klasifikasi buku. Sekarang udah ada versi Indonesianya dan itupun dalam bentuk digital. Tutorialnya ada langsung di blog pustakawan penciptanya ya. Klik di link INI. Jika dirasa ribet, bisa juga kok penomoran menggunakan warna. Misal stiker warna merah untuk novel, stiker warna kuning untuk buku non fiksi, dan selanjutnya.

Nah, itu tadi sepuluh hal yang bisa kita lakukan selama #SocialDistancing. apakah ada yang sama aku atau punya ide yang lain? 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s