buku, resensi

REVIEW Tak Masalah Jadi Orang Introver

Bagi kaum introver, stimulus berlebihan justru membakar banyak energi mereka. Contoh untuk hal ini dalam konteks pekerjaan adalah kewajiban menyelesaikan banyak tugas sekaligus pada waktu yang bersamaan. Dalam kehidupan pribadi, itu mungkin muncul sebagai undangan ke sebuah pesta atau acara dengan banyak orang yang tidak dikenal dan musik keras. Bagi kaum introver, simulasi atau rangsangan yang berlebihan juga mengandung arti bahwa mereka perlu menghindar dari situ. Bagi kaum introver cenderung memerlukan masa tenang lebih panjang tanpa rangsangan sama sekali sebelum mereka sanggup terjun kembali ke dalam kesibukan sehari-hari.

Introver sering kurang terlihat, padahal mereka ada di mana-mana. Orang pendiam yang enggan bicara dalam situasi sosial akan dengan mudah disebut ‘antisosial’. Ini tidak adil. Introversi dan kualitas-kualitas seperti sikap ramah atau ketertarikan pada sesama manusia merupakan karakteristik kepribadian yang sangat berbeda.

Semua orang adalah mahluk sosial. Kita saling membutuhkan. Semua orang perlu memperhatikan orrang lain agar dapat menentukan norma perilaku yang dianggap wajar. Sosok introver juga dapat merasa lebih nyaman sewaktu bersama orang lain, tetapi ada bedanya. Kaum introver memerlukan lebh sedikit rangsangan; banyak hal terjadi dalam pikiran mereka tanpa pencetus dari luar, berbeda dengan pikiran kaum ekstrover. Ini sebenarnya orang pendiam sering merasa acara sosial membuat mereka tidak berdaya, jadi mereka berusah memasang pertahanan diri: mereka mengajukan beberapa persyaratan yang sangat tegas, atau memilih posisi yang pasif ketimbang secara aktif mendekati orang lain. Kaum introver juga lebih menyukai bentuk komunikasi yang lain: mereka lebih suka berbincang dengan satu atau dua orang dalam waktu yang sama, ketimbang dengan banyak orang sekaligus. Dan, betapa pun menggugah perbincangan yang terjadi, energi yang diinvestasikan di situ hanya dapat digantikan ketika rangsangan tersebut diproses dalam periode istirahat. Sendirian.

Sosok introver perlu menyendiri dari waktu ke waktu: untuk mencerna dan melakukan regenerasi. Dengan cara ini, kita terhindar dari stimulus yang berlebihan, kehabisan tenaga, serta keharusan ‘mematikan mesin’ di tengah sebuah perbincangan. Selain itu, kebutuhan untuk menyendiri sama sekali bukan perbuatan yang antisosial.

Ada sebagian kaum introver penyendiri yang sangat membutuhkan ketenangan dan keheningan (introver paling ujung di kontinum), khususnya sesudah menjalani suatu situasi sosial, sementara bagi kaum introver yang berada di posisi lebih ke tengah pada kontinum cukup puas dengan waktu menyendiri yang lebih sedikit. Mereka senang bergaul, dan merawat kontak sedemikian sehingga mereka dapat dengan mudah tampil seperti kaum introver. Istilah yang pas adalah introver fleksibel. Sepertinya aku jenis introver ini, senang bergaul, tapi ada kalanya senang sendirian jika sudah merasa lelah x))

Sosok introver yang fleksibel ini secara sepintas sering sulit dibedakan dari sosok ekstrover. Banyak orang dengan tipe kepribadian ini senang bergaul dan sering sangat ahli memulai kontak dengan orang lain. Hanya saja, ketika berurusan dengan manajemen energi, mereka berbeda dari kaum ekstrover: mereka memerlukan masa tenang dan menyendiri sebelum mampu berhadapan dengan orang lain lagi.

Kemandirian para introver khususnya tampak dari mudahnya mereka menghabiskan waktu sendirian dan juga dari kebutuhan mereka menyendiri untuk mengisi ulang baterai-baterai mereka. Orang-orang mandiri tidak perlu khawatir terhadap pikiran orang lain, dan mereka merasa lebih mudah mengatakan dan melakukan yang menurut mereka benar serta penting.

Maka kemandirian berarti kemampuan memenuhi kebutuhan sendiri dan kebebasan batin. Kemandirian mendatangkan kemampuan memikul tanggung jawab atas diri sendiri dan membuat keputusan tanpa perlu terus-menerus mencari dukungan dari orang lain. Sisi buruknya, kemandirian dapat mengurangi kemampuan komunikasi serta mengurangi kemampuan hidup bersama dengan orang lain dan bekerja dalam tim.

Banyak orang introver lebih suka berkomunikasi melalui tulisan, entah untuk diri sendiri atau untuk orang lain. Sewaktu mereka menimbang pikiran mereka dan menuangkannya dalam kata-kata sebelum berkomunikasi, menulis tampaknya menjadi medium yang baik untuk mengekspresikannya. Selain itu, kegiatan menulis dapat diatur mengikuti irama pribadi; bahasa tertulis memperlambat komunikasi yang berarti mereka tidak harus menanggapi berdasarkan tempo orang yang diajak bicara. Artinya, ketika orang menulis, mereka dapat melakukannya dengan irama mereka sendiri.

Orang-orang introver tidak mengisi baterai dengan cara sama seperti rekan-rekan mereka yang ekstrover. Mereka memerlukan ketenangan, senang menyendiri dan melakukan perenungan guna mendapatkan kembali energi mereka. Selain itu, mereka juga menggunakan energ yang relatif lebih banyak ketika berkomunikasi dengan orang lain, terlebih dalam perbincangan santai atau dalam situasi yang sangat emosional seperti ketika mengadapi konflik dan ketika berinteraksi dengan kelompok-kelompok besar.

Bagi kaum introver, masa istirahat adalah kebutuhan utama yang tidak dapat ditawar. Apabila tidak sempat beristirahat karena terlampau sibuk, akibat buruknya akan cukup besar: sosok introver tanpa peluang untuk menyendiri akan mengalami fase ‘tanpa daya’ jika energi yang dikuras terlalu banyak. Mereka juga akan jadi malas berbiara, apalagi berdiskusi, dan menghindari datang ke acara-acara sosial, karena semua itu terlalu melelahkan untuk dilakukan tanpa disertai istirahat yang memadai.

Tidak banyak orang introver yang senang bertelepon. Banyak sosok introver merasa terganggu ketika telepon berdering. Ini berlaku khususnya bagi orang-orang yang senang bekerja di sebuah proyek jangka panjang, tetapi itu juga berlaku secara umum: dering sebuah telepon membuat kita kehilangan konsentrasi, bahkan energi. Pribadi introver merasa agak tertekan ketika harus menerima telepon. Oh ternyata memang introver tuh ternyata punya kecenderungan malas mengangkat telepon ya, sama seperti aku, nomer yang dikenal aja malas diangkat dan baru akan diangkat setelah beberapa kali telpon yang artinya penting, dan jangan harap nomer tidak dikenal bakal diangkat, hahaha… x))

Demam panggung adalah bentuk rasa takut atau kecemasan di tingkat sedang, sebelum tampil di depan umum. Banyak keuntungan yang dapat dimanfaatkan dari kondisi ini: dosis adrenalin sekecil apa pun akan membuat orang terjaga dan waspada ketika berhadapan dengan orang banyak.

Yang menjadi masalah dari adrenalin bukanlah dosisnya. Dampaknya akan menjadi negatif apabila demam panggung berubah menjadi rasa takut untuk tampil di depan umum. Ini juga aku banget. Selama ini sering banget nolak tawaran sebagai pembicara seperti di seminar, worskhop ataupun bimteka. Bukannya pelit, tapi aku tuh kalo ngomong di panggung depan banyak orang, biasanya nge-blank. Beda kalo ngobrol rame di depan orang banyak yang memang kita kenal, aku banyak nyerocosnya. Dan untunglah pekerjaanku ini nggak mengharuskan tampil di depan publik. Berhadapannya bersama ribuan buku alias benda mati, wkwkwk.. x))

Suka menyendiri, sering lelah jika di tempat keramaian yang tidak kita kenal, malas menerima telepon, dan demaam panggung, fix-lah aku ini masuk kategori introver. Dari sekian banyak tokoh yang memiliki sifat introver yang disebutkan dalam buku ini, yang paling mendekati mirip karakter aku adalah Christine di halaman 93-95. Seperti apakah Christine? Baca aja bukunya langsung x))

Keterangan Buku:

Judul                                     : Tak Masalah Jadi Orang Introver

Penulis                                 : Sylvia Loehken

Alih bahasa                         : Alaex Tri Kantjono Widodo

Editor                                    : Pandan Kuntaswari

Desain sampul                   : Suprianto

Setting                                  : Ayu Lestari

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : Januari 2020 (Cetakan keempat)

Tebal                                     : 305 hlm.

ISBN                                      : 978-602-06-3407-4

 

2 thoughts on “REVIEW Tak Masalah Jadi Orang Introver”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s