buku, resensi

REVIEW Cinderella Tanpa Sepatu Kaca

“Hidup memang seperti sekumpulan teka-teki dengan jawaban yang sering kali tidak terduga.” (hlm. 268)

Bagi Astrid, semua kesulitan sudah dimulai sejak bertahun-tahun silam. Saat ibunya, Nenna memutuskan untuk mengkahiri masa berkabungnya yang panjang setelah kematian suaminya. Ayah Astrid, menjadi korban kecelakaan helikopter saat berada di Thailand. Menikah lagi dengan salah satu teman almarhum ayahnya, Nenna tampaknya memilih orang yang salah.

Suami kedua Nenna ternyata suka selingkuh. Samar-samar Astrid mengingat pertengkaran keduanya di masa lalu. Usianya saat itu masih berusia sekitar enam tahun. Rumah tangga itu hanya mampu bertahan kurang dari setahun. Nenna kembali menyandang predikat yang membuatnya kerap digoda lawan jenis. Hingga kemudian perempuan itu memutuskan jika sudah saatnya dia membutuhkan pendamping hidup lagi. Pilihan pun dijatuhkan pada orang yang selama bertahun-tahun pernah menjadi asisten ayahnya dulu yang bernama Dhandy.

Ternyata, saling kenal sekian lama tidak menjamin kita akan memahami seseorang dengan sempurna. Tetap saja ada sisi busuk yang bisa disembunyikan. Awalnya, semua tampak menjanjikan. Dhandy bersikap baik pada Astrid meski tidak mencurahkan perhatian yang berlebihan. Entah bagaimana, Dhandy yang tenang dan santun itu berubah drastis setelah kehadiran Willa, anak mereka.

Adu argumentasi makin tinggi frekuensinya hingga Astrid mulai akrab dengan lebam-lebam di sekujur tubuh Nenna. Bahkan setelah berlalu bertahun-tahun pun Astrid masih merasa ada yang melubangi dadanya tiap kali mengulang momen itu dalam ingatan. Dhandy jugalah yang sudah mendekatkan mereka pada penderitaan baru, kemiskinan. Harta peninggalan ayahnya ludes dalam beberapa tahun saja.

Peristiwa demi peristiwa itu pada akhirnya mengubah Astrid. Dulu, dia begitu menyukai dongeng yang rutin dibacakan ibunya saat kecil. Favoritnya adalah kisah Cinderella. Namun seiring perjalanan waktu, gadis itu belajar banyak. Bahwa dongeng memang terlalu jauh dari dunia nyata. Semua hal-hal buruk takkan bisa dituntaskan dengan kebaikan dan wajah menawan saja. Semua orang harus berjuang. Berperang. Takkan ada pangeran yang akan menyelamatkan hidupnya.

Itu yang membuat Astrid, perlahan tapi pasti, membenci segala hal yang berbau dongeng. Baginya, dongeng itu menebar harapan palsu. Nyaris semuanya diakhiri dengan ‘dan mereka hidup bahagia selama-lamanya’. Padahal, bahagia mustahil bertahan dalam hidup manusia tanpa dikelilingi kepahitan atau masalah.

Pertimbangan itu yang membuat Astrid tidak pernah memperkenalkan Willa pada dongeng. Apalagi sejak adiknya itu lahir, Nenna sendiri menghadapi banyak masalah. Willa tidak pernah ditidurkan dengan membaca dongeng yang dulu dilakukan sang ibu pada Astrid. Sang kakak yang lebih banyak mengambil alih tugas itu, memilih meninabobokan adiknya dengan nyanyian yang dihafalnya. Paling tidak, bagi Astrid, adiknya tumbuh menjadi anak yang lebih realistis di banding dirinya di masa lalu.

“Hal-hal buruk akan segera berakhir. Aku hanya perlu bekerja keras.” (hlm. 49)

“Makin keras bekerja, makin dekat dengan keajaiban.” (hlm. 69)

Tumbuh dewasa dengan keluarga yang broken home tentu bukan hal yang mudah bagi Astrid. Hidupnya yang lebih banyak pahit, ketimbang manisnya ini memang berat. Dan korban broken home, biasanya juga identik dengan sandwich generation dimana sepeninggal orangtuanya, selain harus menghidupi dirinya sendiri, dia juga harus mengurus Willa si adik tiri, anak yang dilahirkan ibunya dari bapak yang berbeda. Perbedaan usia yang terpaut cukup jauh, dua belas tahun, membuat Astrid mengurus adiknya ini seperti layaknya anaknya sendiri. Aku juga adik kandung yang terpaut usianya sepuluh tahun. Apalagi dulu mama meninggal saat adik masih kecil, yang artinya aku mengurusnya sejak kecil sampai dewasa sekarang ini layaknya bukan lagi seperti adik, tapi seperti anak, ya kayak Astrid ke Willa ini.

Broken home tidak hanya meninggalkan sisi ekonomi, tapi yang paling sering terlupakan adalah sisi psikologis sang anak. Bohong banget kalo ada yang merasa tidak apa-apa karena broken home. Dibalik bahagianya seseorang, pasti ada luka yang tidak akan menutup di hati. Butuh proses dan itu tidak mudah. Perlu waktu. Jadi, semua anak berhak bahagia, sekalipun anak broken home seperti Astrid dan Willa ini. Meski dia harus pontang-panting dan bekerja serabutan demi menghidupi dirinya dan adiknya, pada masanya nanti Astrid akan menemukan kebahagiaan.

“Apa salahku… kalau papaku..jahat? Aku kan tidak bisa memilih.. siapa orangtuaku. Kalau bisa, aku pasti lebih suka punya papa yang baik. Kayak papanya Adis, teman SDku..” (hlm. 105)

Jika dari sisi Astrid kita banyak belajar tentang selipan broken home dan sandwich generation, dari sisi Willa juga ada bahasan yang bisa kita ambil hikmahnya. Memiliki orangtua yang bermasalah, tanpa disadari akan mempengaruhi kehidupan sang anak. Seperti halnya Willa ini, yang kerap dibully oleh tema-teman di sekolahnya. Awalnya dia hanya diam dan menahan diri. Tapi lama-kelamaan sebagai anak-anak biasa pada umumnya yang juga tidak tahan dan bisa marah untuk meluapkan emosinya.

Selain itu, ada juga tentang kasus pelecehan seksual. Di kehidupan nyata, kita juga sering mendengar tentang pelecahan seksual yang justru datang dari keluarga sang korban. Ini menjadi pembelajaran buat kita bahwa kita harus waspada dan tidak terlalu percaya dengan orang lain meskipun itu masih hitungan saudara.

“Tidak ada orang yang hidupnya hanya dipenuhi hal-hal buruk saja.” (hlm. 264)

Selain keadaannya yang cukup rumit, dari sisi Astrid kita belajar bagaimana memahami kenapa seseorang melakukan pilihan hidup meski terkadang harus mengorbankan passionya karena keadaan. Astrid punya keinginan menjadi seorang desainer, dia merasa harus tahu diri. Dia memilih program studi Akuntansi karena menilai peluang untuk segera bekerja terbuka lebar. Itupun akhirnya Astrid akhirnya mengambil cuti kuliah satu semester karena terbentur masalah biaya. Meski sudah bekerja sekeras yang diizinkan oleh tubuhnya. Namun dia tahu diri dan memilih cuti karena harus fokus memikirkan Willa yang akan segera berseragam putih biru. Dan itu artinya hanya satu, Astrid harus menyiapkan dana tambahan.

Masalah passion sebenarnya juga dibahas tidak hanya dari sisi Astrid. Tapi juga dari sisi Jang Song Joo. Sebenarnya, bekerja di bidang fashion tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Meski Song Joo tidak asing dengan Trend Setter yang didirikan ibunya tatkala usianya baru empat tahun. Namun Song Joo tidak bisa memikirkan alternatif lain setelah karier impiannya sebagai pemain bulu tangkis kandas. Cedera parah yang dideritanya saat latihan membelokkan kariernya.

Song Joo mengalihkan energinya pada dunia pendidikan. Dia memilih untuk mengambil jurusan bisnis di universitas, sambil mulai bergabung di Trend Setter. Kesedihan dan kekecewaannya tidak ditampakkan pada dunia. Dengan lihai Song Joo menyembunyikan perasaan terdalamnya di balik sikap tenang dan senyum lebarnya.

Sesuai judulnya, kehidupan Astrid di buku ini layaknyak Cinderella tanpa sepatu kaca. Poin plusnya dari novel ini adalah selain membahas kehidupan Astrid, juga membahas dunia fashion: mulai dari tingkat kedisplinan para model saat datang untuk pemotretan, susahnya sebuah ide tercipta, sampai bagaimana ketatnya persaingan yang terkadang tidak sehat mulai dari diambilnya sang model sampai pencurian ide.

Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Ternyata, saling kenal sekian lama tidak menjamin kamu akan memahami seseorang dengan sempurna. (hlm. 7)
  2. Berlakulah seperti anak-anak seusiamu. Jangan sok tua. (hlm. 9)
  3. Anak zaman sekarang memang dewasa karena keadaan. (hlm. 9)
  4. Masalah diri sudah terlalu rumit, tidak perlu ditambah dengan memikirkan cara hidup yang dipilih orang lain. (hlm. 10)
  5. Lebih baik tidur ketimbang ocehanmu makin aneh. (hlm. 12)
  6. Cerdas bukan berarti harus menjadi dokter. (hlm. 12)
  7. Tuduhan pahit bisa menguntit tanpa alasan. (hlm. 65)
  8. Kemarahan dan kesedihan menyapu semua akal sehat. (hlm. 105)
  9. Ada hal-hal tertentu di dunia ini yang tidak berani digali lebih dalam karena kita terlalu cemas menemukan kebenaran mengerikan di baliknya. (hlm. 218)
  10. Jangan karena kamu tidak ingin dinilai sebagai orang yang tak punya pendirian, membuatmu terpaksa. (hlm. 263)
  11. Orang dewasa itu memiliki masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan mudah. (hlm. 289)
  12. Patah hati bisa mengubah susunan kimia tubuh manusia. (hlm. 293)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Cinderella Tanpa Sepatu Kaca

Penulis                                 : Indah Hanaco

Editor                                    : Afrianty P. Pardede

Penerbit                              : PT. Elex Media Komputindo

Terbit                                    : 2018

Tebal                                     : 315 hlm.

ISBN                                      : 978-602-04-8494-5

2 thoughts on “REVIEW Cinderella Tanpa Sepatu Kaca”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s