buku, resensi

REVIEW Asyiknya Jadi Orang Kantoran

Kita harus mencintai pekerjaan, apa pun itu. Sebaiknya, kita tuangkan bakat dan keahlian terhadap bidang yang kita geluti dengan sepenuh hati. Jadikan pekerjaan kita sebuah panggilan dari-Nya, sebuah panggilan yang bertujuan untuk memahami dan mencintai pekerjaan kita. Jangan jadikan pekerjaan itu hanya sebuah pekerjaan atau karier. Sebab diantara dua hal tersebut, kita masih egois dan hanya kepuasan kita sendiri yang menjadi tujuan saat bekerja. (hlm. 9)

Pas liat kaver bukunya, sungguh representatif banget dengan kehidupan para pekerja: menatap layar laptop dengan bertopang dagu mungkin lagi mentok mikirin ide yang tak kunjung datang, di sampingnya ada pekerja yang tampak pontang-panting mengangkat beban dengan tulisan ‘kerja’, lalu dibawahnya ada pekerja dengan tulisan rupiah yang harus dicapainya lumayan tinggi, di sampingnya ada sebungkus bawaan dengan gambar rupiah didepannya, lalu berlanjut dengan gambar rupiah yang melayang alias seberapa banyak uang yang kita dapat akan habis juga, hahaha… x))

Salah satu ulasan yang menarik saat membaca buku ini adalah tentang bagaimana cara serunya hari-hari saat bekerja. Pertama, berteman dengan kantor/ tempat bekerja. Mungkin maksudnya di sini adalah membangun hubungan positif yang sebenarnya dimulai dari hal-hal yang sepele; menyapa saat berpapasan, tidak pelit senyum dan menanyakan kabar. Tanpa disadari, aku juga begitu. Biasanya kalo lewat gerbang sekolah, pasti yang kita sapa duluan adalah pak satpam. Jarang sih langsung nyelonong aja. Begitu juga langkah kaki dari gerbang utama ke perpustakaan akan melewati beberapa ruangan yang bisa dipastikan akan berpapasan dengan bapak ibu guru ataupun murid. Jika bertemu murid, pasti mereka cium tangan. Kebalikannya, jika berpapasan dengan bapak ibu guru yang umurnya rata-rata sebaya dengan bapak ibu kita, pasti kita yang cium tangan. Jadi kayak udah kebiasaan gitu. Suka kebawa-bawa kalo pas ada acara di luar sekolah, refleks suka cium tangan kalo ama yang lebih tua, wkwkwk… x))

Kedua, belajar dari kantor kita. Kalo hal ini sih aku belum merasakannya karena kan kalo di sekolah, para pekerjanya di dominasi para guru, aku mah mahluk langka, hahaha… jadi agar tidak haus ilmu aku biasanya ikut komunitas atau grup pustakawan di luar sekolah agar bisa terus belajar dan gak ketinggalan ilmunya. Kalo ngendon terus di sekolah ya nggak berkembang, wong tiap hari ketemunya hanya murid-murid unyu, hahaha… x))

Ketiga, jadilah kreatif bersama kantormu. Selain sebagai pustakawan, di sekolah juga merangkap sebagai pembina mading. Jadi lumayan tersalurkan ide-ide yang ada di kepala. Aku ini tipikal Gemini banget yang bosanan. Jadi jangan heran jika tatanan perpustakaan, terutama susunan meja-meja yang ada di perpustakaan sering ganti-ganti, soalnya pustakawannya ini bosenan, untungnya ama kepeknya selama ini boleh-boleh aja. Begitu juga soal mading yang sebulan sekali ganti tema dan isi. Jadi, di depan perpustakaan ada semacam tembok besar kosong yang selama tiga tahun ini disulap menjadi mading bulanan. Belum lagi kalo ada acara-acara besar di sekolah seperti 17-an, ultah sekolah, perpisahan kelas XII dan acara lainnya yang membutuhkan dekor. Nggak perlu panggil EO, nakanak mading mah kreatif-kreatif. Terkadang, rasa nyaman itu kita sendiri yang menciptakan. Dengan kreativitas, kita bisa mengubah apa pun yang biasa menjadi luar biasa menyenangkan.

Untuk poin keempat, rapikan dan poin kelima, nyamankan kantomu rasanya nggak jauh berbeda dengan poin ketiga yang aku jabarkan di atas. Sedangkan terakhir, yang keenam adalah bersenang-senang di kantor. Dari penjabaran poin ini, yang udah kulakukan adalah mendengarkan musik yang kita sukai saat bekerja. Meski bekerja di perpustakaan yang identik dengan tempat sunyi dan senyap, perpustakaan tempatku bekerja aku ubah mindsetnya tidak begitu. Boleh mendengarkan lagu-lagu yang nggak hanya pilihan pustakawannya, tapi juga pilihan murid-murid unyu. Justru dengan mendengarkan lagulah para murid unyu ini jadi makin semangat ngerjain tugas atau belajar di perpustakaan. Tak jarang malah jadi semacam nyanyi berjamaah, mungkin untuk melepas penat setelah berjam-jam di kelas bergumul dengan rumus-rumus yang bikin kusut kepala, hahaha… x)

Jika melihat pekerjaan sebagai karier semata akan berujung pada kesuksesan saja, bukan kebahagiaan. Jika ingin bahagia, maka kita harus melihat pekerjaan sebagai sebuah panggilan. Inilah titik puncak dari seseorang yang bekerja. Kita sedang menjalankan skenario alam semesta, atau lebih tepatnya skenario Tuhan, yaitu bekerja untuk ibadah. (hlm. 10)

Omong-omong soal ibadah dalam bekerja, aku jadi teringat dengan sebuah pernyataan guru di sekolah. Jadi bapak guru ini, kebetulan ruang kerjanya yang samping perpustakaan. Jadi secara tidak langsung aku bisa melihat keseharian para bapak guru yang berada di ruangan tersebut. Memang harus diakui, mereka terlihat lebih rajin dibandingkan yang berada di ruang guru x)) maksudnya gini, jika yang lainnya hanya sekedar berangkat, ngajar, lalu pulang. Berbeda dengan para bapak guru yang berada di ruangan sebelah perpustakaan. Mereka tidak hanya sekedar datang di saat ada jam ngajar. Mereka setiap hari datang, setiap hari bekerja melakukan sesuatu meskipun tidak ada jam mengajar. Dan hebatnya, justru mereka yang punya banyak kesibukan ini jarang ijin bekerja. Kesibukan lain yang mereka miliki tidak menghambat tujuan utama mereka, yaitu mengajar. Bahkan aku dulu pernah nanya ke salah satu dari mereka, kenapa kalau masuk kelas selalu tepat waktu banget dan jarang banget ijin. Jawaban beliau karena bekerja adalah ibadah yang nanti akan dimintai pertanggungjawaban oleh-Nya. Mak jlebb.. mungkin aku nggak akan kaget kalo yang bilang ini bapaknya bertampang alim alias agamis gitu. Justru bukan bertampang sok alim yang dikit-dikit ceramah soal agama, tapi para bapak guru ini selain mengajar tepat waktu dan jarang ijin, tiap adzan dzuhur dan juga asar pasti langsung ke masjid yang kebetulan samping pas perpustakaan. Jadi aku apal mana yang suka ke masjid, baik guru maupun murid, hahaha… x))

Bekerja adalah jalan hidup. Kita bekerja karena kita harus melakukannya. Kita bersenang-senang karena suka melakukannya. Jika keduanya dipadukan, maka kita bekerja karena kita suka, sehingga harus melakukannya. (hlm. 11)

2020 inilah adalah tahun kesepuluh kubekerja menginjak di tempat yang sama. Dulu aku pikir jika kita bekerja sesuai passion, pasti tidak akan bosan. Tapi aku keliru. Dua tahun ini aku merasakan titik jenuh dalam bekerja. Mungkin ibarat kita mendaki gunung, sudah sampai puncak, mau apalagi yang dilakukan. Aku bukan tipe ketika sudah berhasil melewati puncak gunung satu, akan tertantang ke puncak gunung lainnya, begitu terus. Aku kebetulan bukan seperti itu. Mungkin sekarang aku di fase zona nyaman. Banyak yang bilang sebenarnya zona nyaman adalah hal yang berbahaya.

Tapi pas baca buku ini disebutkan jika kita telah menemukan zona nyaman di pekerjaan, tidak masalah jika ingin tetap berada di sana. Jika memang yang dicari adalah kenyamanan, maka tidak perlu susah payah keluar dari tempat bekerja hanya untuk mendapat kenaikan posisi/jabatan atau tunjangan. Manusia memang diminta untuk terus maju dan berproses, tetapi hidup itu adalah sebuah proses. Dan, hidup tidak hanya terdiri atas pekerjaan semata.

Kita tidak pernah tahu jika dengan menjadi karyawan biasa, seseorang memiliki waktu dan tenaga ekstra melakukan hal di luar pekerjaannya. Justru dengan tidak memiliki jabatan yang tinggi, kita memiliki kesempatan yang lebih luas untuk berkarya di bidang yang kita cintai sekaligus menjadi sarana menyumbangkan potensial. Dalam hal inilah, kita bisa dibilang keluar dari zona nyaman kita. Jadi, hal yang aku tangkap dari kalimat sebelumnya adalah kita bisa keluar dari zona nyaman tanpa harus keluar dari tempat kita bekerja. Kita bisa melakukan banyak hal di luar bidang pekerjaan kita. Misalnya, kalo aku kan sehari-hari berkutat dengan buku dan buku melulu. Nah, aku mencoba eksplorasi diri dari sisi yang lain. Selain suka baca buku, sebenarnya aku suka makan. Jadilah sekarang aku suka posting-posting tempat makanan yang enak, hahaha… x))

Terkadang tetap berada di zona nyaman adalah cara terbaik bagi seseorang untuk bisa mengeluarkan yang terbaik dalam dirinya. Kita tidak bisa selalu memaksakan pandangan kita kepada semua orang. Tuhan menciptakan manusia dengan berbeda-beda. Karenanya, sungguh naif jika kita mengira bisa menyamakan semua teman atau orang kenalan kita, meskipun dengan dalih ‘menjadi lebih baik’.

Buku ini cocok untuk para fresh graduate yang sedang berjuang untuk mencari kerja ataupun yang sudah bekerja tapi lagi di titik jenuh seperti yang aku alami saat ini. Saranku coba diperbanyak infografis yang makin menambah daya tarik buku ini. Juga menambahkan tentang tantangan atau kendala dalam bekerja misalnya bagaimana menghadapi rekan kerja yang tidak sejalan atau lingkungan kerja yang tidak sehat karena di buku ini yang aku tangkap saat membaca lebih banyak ke poin-poin positif dalam bekerja, negatifnya belum terlalu diulas mendalam. Seru juga kayaknya jika ditambah semacam challenge atau kuis tentang kepribadian seseorang yang nilainya nanti jika diakumulasikan cocoknya bekerja di bidang apa.

Keterangan Buku:

Judul                                     : Asyiknya Jadi Orang Kantoran

Penulis                                 : Dion Yulianto

Editor                                    : Arin Vita

Proofreader                       : Dyas

Layout                                  : Pandanarum

Desain cover                      : AM Studio

Kredit ilustrasi                   : freepik.com

Penerbit                              : C-Klik Media

Terbit                                    : 2019

Tebal                                     : 143 hlm.

ISBN                                      : 978-623-7333-08-1

1 thought on “REVIEW Asyiknya Jadi Orang Kantoran”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s