buku, resensi

REVIEW Jurnal Cinta Andromeda

I mean, love is not as plain as mozzarella. Cinta punya dua rasa, manis dan asam. Meskipun pasta tomat juga warnanya merah menyala melambangkan asmara yang menggebu-gebu, lebih kental dari saus tomat, tetapi tidak sepadat keju. (hlm. 72)

ANDROMEDA. Untuk membuktikan pada orangtuanya bahwa dia bisa hidup dengan uang hasil keringatnya, Andromeda menerima tawaran Doni untuk bekerja di Oregasuki. Kemudian setelah melihat keluarga Edith, melihat kontribusi Prof. Kasna dan Pak Saga terhadap dunia pendidikan, tidak saja melebarkan matanya tentang apa yang riil, tapi juga menjewer kupingnya untuk lebih mendengar jeritan penderitaan orang lain.

EDITH. Menurut Doni, Edith sudah menikah dua kali. Keduanya warga negara asing. Pria pertama yang berhubungan dengannya adalah orang Inggris, suami pertamanya orang Arab, dan suami keduanya orang Taiwan. Waktu dia masih kuliah di akademi pariwisata di Bandung, dia sempat berpacaran dengan salah satu anggota pertukaran pelajar dari Inggris. Dan kemudian Edith hamil setelah pacarnya kembali ke Inggris. Edith tidak memberitahu sang pacar dan tidak meminta pertanggungjawaban apa pun karena mereka sudah putus pada saat Edith hamil.

Dari awal, entah kenapa aku nggak suka ama dua tokoh utamanya. Andromeda yang masih muda, terlalu bucin dengan Edith yang umurnya lebih tua darinya. Sebenarnya nggak masalah sih ya jika hubungan sepasang manusia, lebih dewasa perempuannya. Di dunia banyak kok, dan langgeng-langgeng aja. Tapi ya balik lagi ke Edith, aku nggak suka karakternya.

Novel ini lumayan tebal, membahas kebucinan Andromeda terhadap Edith. Dan menurutku juga, terlalu banyak yang dibahas. Jadi pas baca buku ini tuh seakan dijejali banyak kejadian ataupun tema yang sebenarnya keluar dari inti kisah Andromeda dan Edith ini. Bahkan ada beberapa hal yang kesannya penulis menggurui pembaca.

Beberapa juga agak ganjil sih menurutku. Misal, Edith yang dari awal kayaknya hidupnya susah payah pontang-panting mengurusi tiga anaknya, bahkan sempat menjadi TKW juga. Sementara orangtua Edith adalah orang berpunya, bahkan bisa menyekolahkan anak-anak yang tidak mampu. Memang sih disebutkan jika orangtua Edith mendidiknya untuk hidup mandiri. Tapi menurutku juga gak gitu-gitu amatlah hidup mandiri, ampe kerja di luar negeri jadi TKW pula. Kalo mandiri, terus punya usaha yang dirintis dari nol sih masuk akal ya untuk mendidik sang anak untuk mandiri. Kisah Edith ini menurutku terlalu sinetron banget. Sorry to say ini mah… x))

Andromeda juga nggak dewasa, bucin ke Edith mah takarannya udah akut banget. Rela melakukan apa aja untuk Edith. Jatuh cinta memang nggak memandang usia ama keadaan, tapi ya musti realistislah yaa.. x))

Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Sudah tahu rokok itu nggak sehat, bisa merusak organ-organ vital, menyebabkan kanker, mandul pula. Masih aja ngerokok. (hlm. 57)
  2. Love is like tomato paste, what do you mean? (hlm. 71)
  3. Kita butuh membahagiakan diri sendiri. (hlm. 85)
  4. Mereka yang suka bersenang-senang, belum merasakan nikmatnya memberi, termasuk kamu. (hlm. 85)
  5. Umur tidak ada kaitannya dengan kebijaksanaan seseorang dalam mengambil keputusan. (hlm. 88)
  6. Jangan salahkan orang lain, salahkan dirimu sendiri. (hlm. 114)
  7. Jangan jadi pengecut yang selalu ketakutan mengetahui kesalahan dan kekonyolanmu sendiri. (hlm. 116)
  8. Kamu sudah dewasa. Bersikaplah dewasa. (hlm. 116)
  9. Jika kamu mencintai seorang wanita suatu hari nanti, baiknya kamu jelaskan padanya kenapa kamu mencintainya, janga lupa untuk memujinya secara fisik. Karena ketika kamu mengatakan bahwa kamu suka kepribadiannya, percayalah wanita tidak akan puas. (hlm. 130-131)
  10. Jangan terlalu sering bilang cinta, nanti nggak sakral lagi. Hanya sekali saja jika dibutuhkan. (hlm. 131)
  11. Yang namanya cinta itu terburu-buru, kalau nggak buru-buru ya bukan cinta. (hlm. 132)
  12. Dari koneksi internet segalanya bermula. Para pelaku masa lalu dapat dihadirkan, tak sesulit menghadirkan jelangkung. Hanya butuh mengetik nama, dan muncullah daftar nama yang dicari. (hlm. 257)
  13. Menunjukkan emosi, membela diri, menyalahkan orang lain, hanya akan membuat kita terlihat semakin kalah. (hlm. 285)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Jurnal Cinta Andromeda

Penulis                                 : S.J. Tsurayya

Desain sampul                   : Marcel A.W.

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : 2015

Tebal                                     : 312 hlm.

ISBN                                      : 978-602-03-1455-6

1 thought on “REVIEW Jurnal Cinta Andromeda”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s