Uncategorized

REVIEW Rumah Kisah

Rumah adalah di mana semua orang yang berarti dalam hidupnya dapat tertampung di sana. Tempat di mana ia dapat berbagi kekesalan, tangis, dan tawa bersama. (hlm. 248)

Sejatinya, rumah adalah tempat ternyaman kita untuk pulang. Sejauh kemana pun, kaki berkelana, rumah adalah tempat terakhir yang akan kita tuju. Ternyata tak semuanya nyaman untuk kembali pulang, dan tak selamanya rumah adalah tempat peristirahatan terakhir.

Ada puluhan cerpen, tepatnya ada dua puluh satu cerpen yang ditulis oleh para anggota komunitas Forum IndoHogwarts dengan benang merah yang sama: rumah. Ada banyak cerita rumah yang dikisahkan para penulis dalam kumpulan cerpen ini. Baik rumah yang nyaman, maupun rumah yang menyiksa bagi yang merasakannya. Rumah bisa menjadi surga dan sebagai tempat terindah, tapi rumah ternyata juga seperti neraka dan sebagai tempat yang paling tidak ingin dikenang.

Di cerpen pertama, ada Sayap Masa Lalu yang ditulis oleh Gula Kapas. Bercerita tentang tokoh utama yang merupakan peri yang menghuni sebuah pohon. Bagi mereka, pohon adalah ruamh mereka. Ada semacam keterikatan dengan pohon yang mereka tinggali tersebut. Peri yang diceritakan dalam cerpen ini, pohon kelahirannya adalah pohon cedar. Sebuah pohon yang berkulit gelap keabu-abuan dan beraroma manis.

Para manusia menggunakan pohon yang mereka tinggali untuk membangun rumah yang kemudian membuat mereka harus berpisah dengan teman-teman peri lainnya. Untuk bisa bertahan hidup, sang peri harus berada di dekat kayu dari pohon yang menjadi tempat kelahirannya. Para peri tidak memikirkan soal kematian. Para peri yang sudah tua biasanya menghilang begitu saja, kemudian terlahir kembali menjadi bayi peri.

Kisah peri dalam cerpen ini jadi mengingatkan budaya lokal Indonesia. Jadi, karena aku tinggal di desa, tentunya masih kental suasana kearifan lokal. Salah satunya adalah kepercayaan tentang para penghuni ‘mahluk halus’ yang tinggal di pohon-pohon tertentu. Salah satu pohon yang disenangi mereka adalah pohon sawo. Dulu di rumah sempat ada pohon sawo, ditebang dengan alasan agar lingkungan rumah ‘bersih’. Begitu juga tak jarang mendengar rumah-rumah yang memiliki ‘penghuni kasat mata’. Dan tak jarang mereka susah ‘dipindah’ mungkin karena ada keterikatan dengan rumah maupun kayu-kayu rumah.

Karena ini merupakan komunitas fantasi, maka kurang afdol jika cerpen yang bertema fantasi. Salah satunya adalah cerpen KlandestinKumiko. Pesan moral dari cerpen ini adalah love always make people deeply fall into the madness. Kadang cinta buta cenderung berakhir pada kisah yang tragis.

Ketiga, ada cerpen  Hari Ana yang ditulis oleh Meutia Qoonita. Ini menurutku dapet banget pesan moralnya. Setiap dari kita yang kehilangan salah satu anggota keluarga untuk selama-lamanya, pasti pernah merasakan ini: terpuruk sedalam-dalamnya. Ditambah lagi terkadang hidup tak sesuai ekspetasi kita. Makin berlipat kekecewaan yang kita dapat. Hal itulah yang dialami Ana. Mengalami kekecewaan berat dan sampai menyalahkan Tuhan. Merasa Tuhan tidak adil, padahal sudah berusaha sekeras apa pun untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Waktu aku masih sekolah, heran sekali dengan teman-teman ambisius yang ingin mengejar segalanya harus nomer satu. Begitu pun ketika bekerja di sekolah, juga menemukan murid-murid seperti ini. Salah satu kunci bahagia adalah bersyukur dengan apa yang sudah dimiliki tanpa perlu memusingkan atas apa-apa yang tak pernah bisa kita miliki. Karena pada dasarnya, manusia bukan mahluk yang sempurna, memiliki keterbatasan.

Kematian juga tak luput dari pulang dan rumah. Dibahas dalam cerpen Everlasting Promise – Natha Calista dan Nan Liu – M. Nanda. Sejauh apa pun pergi, rumah selalu menjadi alasan untuk kembali. Terkadang harus pergi dulu, agar bisa merasakan rindunya akan rumah. Begitu yang dialami Darren, memilih passion yang dimilikinya, meski dicoret dari nama besar keluarganya. Tidak ada dirinya dalam foto keluarga selama lima tahun terakhir, sejak Darren memutuskan untuk mengejar cita-citanya di bidang musik alih-alih menjadi seorang dokter.

Wonderwall – Visi Puspita. Kisah Raditya dan Kamila yang sangat bertolak belakang. Kamila sangat dekat dengan keluarganya, sementara Raditya kebalikannya. Terkadang keluarga membuat kita dekat dengan keluarga, tapi tak jarang ada juga yang merasakan kebalikannya; keluarga membuat seseorang tak ingin pulang ke rumah, seperti yang dialami Raditya. Begitu juga dengan kisah Adrian dalam cerpen Zinia yang ditulis Three juga memiliki kisah serupa dengan sudut pandang yang berbeda.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Yang perlu kau ingat adalah menjauhkan diri dari masalah, maka kau akan baik-baik saja. (hlm. 13)
  2. Tak masalah selama kau pun tak menganggapnya masalah. (hlm. 83)
  3. Pernahkah kamu membenci seseorang, bahkan rasanya saat dia bernapas pun sudah membuatmu tidak suka? (hlm. 113)
  4. Tidak ada yang tidak suka diberi senyuman, kan? (hlm. 134)
  5. Katanya, orang yang kesepian punya lima puluh persen kesempatan mati lebih cepat daripada mereka yang punya hubungan sosial yang sehat. (hlm. 139)
  6. Tidak akan ada yang abadi. Semua orang terus bergerak. Adalah izin semesta bila dua orang asing bersinggungan di tempat yang sama. Berapa banyak waktu yang tersisa? Tidak pernah ada yang tahu. (hlm. 146)
  7. Sesekali, manusia perlu pergi agar tahu bagaimana rasanya pulang. (hlm. 147)
  8. Ada seseorang yang tidak diinginkan untuk berada di rumah. Ada seseorang yang selalu dinantikan untuk pulang ke rumah. (hlm. 252)

Keterangan Buku:

Judul                                                     : Rumah Kisah

Penulis                                                 : NIH

Penyunting                                         : Mida Nopita, Natalina, Tika Amanda, Yosi Susetiatni

Penyelaras akhir                               : Tika Amanda

Penata letak                                       : Elsa Serina, Tika Amanda

Desainer sampul & ilustrasi          : Elsa Serina

Penerbit                                              : Putra Surya Santosa

Terbit                                                    : Agustus 2020

Tebal                                                     : 271 hlm.

ISBN                                                      : 978-623-94323-7-7

1 thought on “REVIEW Rumah Kisah”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s