buku, resensi

REVIEW Miss. Pesimis

“Biasanya tindakan yang lebih berhati-hati datang dengan usia, dan kebanyakan memang perlu kedewasaan.” (hlm. 91)

ADRIANA AMANDIRA. Umurnya tiga puluh, masih single tanpa prospek ada suami. Seumur hidupnya, jumlah laki-laki yang berhubungan serius dengannya hanya bisa dihitung dengan jari. Jumlah tawaran menikah hanya satu kali, yaitu ketika dia berumur 27 tahun, yang kemudian ia tolak. Vincent Blake, satu-satunya laki-laki yang cukup nekat untuk mengajaknya menikah setelah menjalin hubungan dengannya selama dua tahun itu terpaksa mundur teratur setelah Adriana memberitahunya bahwa ia akan pulang ke Indonesia dan tidak akan kembali lagi ke D.C.

Hampir dua tahun telah berlalu semenjak Adriane meninggalkan Amerika. Vincent telah menikah setahun yang lalu dengan perempuan asal Malaysia bernama Farah. Sedangkan Adriana masih tetap sendiri. Niatnya untuk bertemu Baron diurungkannya dengan alasan sibuk dengan pekerjaannya. Tapi sejujurnya, dia takut bertemu dengannya lagi. Bahkan untuk bertanya-tanya tentang Baron pun dia tidak berani, sehingga pengetahuannya tentang keberadaan Baron menjadi sangat terbatas. Teman-teman SMP-nya tidak bisa memberikan informasi apa-apa karena Adriana dan Baron memang tidak bergaul di lingkaran yang sama. Baron adalah lingkaran dari anak-anak gaul, sedangkan Adriana bergerak di lingkungan lainnya. Lebih tepatnya dia masuk di lingkungan kurang gaul x))

Kalau ada yang bisa membaca pikirannya dan bertanya mengapa Adriana sangat terobsesi dengan Baron, sejujurnya satu-satunya alasan yang bisa keluar dari mulut Adriana adalah bahwa Baron-lah cowok yang paling sempurna di matanya. Dia hampir selalu jadi juara kelas, dia dari keluarga yang cukup berada, setahunya agamanya sama dengan Adriana, tapi yang lebih penting dari itu semua, Baron adalah salah satu cowok paling tampan yang pernah dilihatnya sepanjang hidupnya. Kulitnya putih bersih, rambutnya ikal agak kemerah-merahan, tubuhnya tinggi tegap, dan kalau dia tersenyum sepertinya seluuh dunia ini akan ikut tersenyum dengannya. Senyumnyalah yang pertama kali membuatnya memperhatikannya.

Adriana mengenal Baron semenjak kelas satu SD dan selama delapan tahun, dia tahu bahwa segala sesuatunya tentang Baron selalu luar biasa. Mulai dari wajahnya, rangking di kelasnya, hingga gosip pacarnya. Meskipun begitu, Adriana sama sekali tidak pernah menganggapnya lebih daripada seorang cowok yang satu sekolah dan terkadang satu kelas dengannya. Tetapi setahun terakhir sebelum mereka lulus SMP, dia baru menyadari bahwa betapa luar biasanya Baron dan Adriana tidak pernah melupakannya semenjak itu.

Selama ini aku tidak percaya bahwa satu senyuman bisa membuat orang tersenyum tersipu-sipu tanpa sebab. Ternyata aku salah, karena saat itu aku tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila. (hlm. 12)

Baron adalah satu-satunya cowok yang berani mendekati Adriana saat itu, meskipun dia tahu reputasinya sebagai cewek paling mengerikan satu sekolah. Dia selalu mencari alasan untuk mencoba berbicara dengannya tanpa ada topik pembicaraan yang jelas dan beberapa kali Adriana mendapati memandanginya dengan tatapan ingin tahu. Pertama-tama Adriana tidak menghiraukan perhatiannya dan menganggap bahwa perasaannya mengenai tingkah laku Baron hanyalah perasaan biasa, sebab Adriana tahu dia bukan perempuan yang disukai Baron. Tapi perasaannya itu dikonfirmasikan oleh kedua sahabatnya, Dara dan Nadia yang menyatakan bahwa mereka pun melihat gelagat Baron memberikan perhatian lebih padanya.

Kini setelah belasan tahun, Adriana harus bertemu dengan Baron cepat atau lambat. Dia harus menyelesaikan masalahnya denganya agar dia bisa melanjutkan hidupnya. Adriana harus tahu bahwa apakah ada sesuatu diantara mereka pada saat SMP dulu, dan apakah rasa itu masih berbekas di dirinya seperti yang dialaminya. Adriana meragukan hal itu, karena kalau Baron menginginkannya, Baron pasti sudah mencoba menghubunginya ketika Adriana di Amerika. Adriana sempat menunggu kabarnya selama beberapa bulan, tapi tidak pernah mendengar apa-apa darinya. Tapi Adriana tidak bisa menyalahkan Baron sepenuhnya, karena sejujurnya cowok itu mungkin juga bingung dengan tingkah laku Adriana terhadapnya, dan kepergiannya ke Amerika mungkin dianggapnya sebagai konfirmasi bahwa dia tidak menginginkannya.

Berapa kali sebetulnya orang bisa bikin malu sendiri dalam satu hari? (hlm.7)

Membaca kisah Adriana ini, masuk kategori bucin akut. Gimana nggak, lha sejak SMP ampe umur tiga puluh suka dengan orang yang sama, yang nggak tahu keberadaannya, apakah masih single ataukah udah beristri, dan yang terpenting apakah sang gebetan memiliki perasaan yang sama dengannya. Ya sesuai banget ama judulnya: Miss Pesimis x))

Keterangan Buku:

Judul                                     : Miss. Pesimis

Penulis                                 : aliaZalea

Ilustrasi                                : Orkha Creative

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : 2010

Tebal                                     : 272 hlm.

ISBN                                      : 978-602-03-2837-9

 

1 thought on “REVIEW Miss. Pesimis”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s