resensi

REVIEW Meskipun Hujan Masih Turun

“Aku nggak bisa bersama orang lain dengan terus ingat kamu.” (hlm. 243)

Gani. Baru saja lulus kuliah, dan tidak ingin berlama-lama menjadi pengangguran. Sementara waktu, selain waktunya dihabiskan untuk menulis, Gani bekerja di sebuah penatu yang berada di jalan Gajayana, yang tidak jauh dari kampus UIN Maulana Malik Ibrahim. Dua pekerjaan yang bisa seiring sejalan dilakoninya. Cukup banyak tulisan Gani yang dimuat di media massa.

“Menulis adalah suatu cara untuk bicara.” (hlm. 25)

Karena Gani adalah seorang penulis, maka akan ada beberapa selipan tentang dunia menulis. Pertama, sebelum berangkat kerja ke penatu, Gani menyelesaikan empat halaman cerpen tentang seseorang yang mencabuti kenangan dari kepalanya. Sudah cukup halaman untuk sebuah surat kabar lokal. Namun perlu ditambah beberapa kalau dikirim ke surat kabar nasional.

Kedua, salah satu yang Gani lakukan pada Minggu pagi, selain mengecek di grup Sastra Minggu perihal pemuatan karya, adalah membaca karya-karya yang ada di sana. Alasan pertama, tentu karena Gani ingin belajar dari tulisan-tulisan yang dimuat. Alasan kedua, untuk mengetahui selera media tersebut. Kalau kita ingin mengirimkan tulisan ke suatu media, kita harus mengenalnya, kan? Harus melihat juga apakah naskah yang kita kirim kira-kira cocok atau tidak. Sebab, bisa saja naskah ditolak bukan karena buruk, tetapi karena tidak cocok.

Ketiga, jangan pernah sembarangan membuang karya kita meski seremeh apa pun tulisan itu. Karena kita tidak akan pernah tahu siapa kelak yang akan memungut tulisan yang berpotensi menjadi karya itu.

Membaca kisah Gani ini, merasa Gani ini sifatnya mirip denganku, terutama keabsurdannya, hahaha.. x)) Apa saja itu? Pertama, ketika kenal dengan seseorang yang awalnya tidak dikenal sama sekali, aku lebih percaya dengan mengecek sosial medianya secara langsung dibandingkan mencari tahu dengan pendapat orang disekitarnya. Kenapa? Soalnya, meskipun seseorang yang kita kenal dekat sekalipun, cenderung akan menutupi kejelekan seseorang yang sebenarnya kita cari tahu karakternya. Kenapa aku bisa bilang begitu? Karena sudah dua kali aku berkenalan dengan laki-laki, yang direkomendasikan oleh orang terdekat malah berakhir zonk alias nggak doyan perempuan. Yang masih tidak habis pikir adalah orang yang mengenalkanku ini benar-benar tidak tahu karena terlalu lugu, ataukah justru menyelamatkan kenalannya itu agar doyan perempuan, sementara kita jadi korban, hahaha… x)) Dan kenapa aku lebih percaya dengan mengecek sosial media seseorang yang awalnya benar-benar tidak kita kenal? Karena tanpa disadari, seseorang tersebut akan terlihat karakternya dari apa yang dia posting. Misal, cowok doyan selfie plus pake filter beauty. Helllowww…kita aja yang cewek gak pernah pake filter beauty, ya kan… hahaha… dan sebenarnya masih banyak hal yang bisa kita cek dari sosial medianya x))

Begitu juga dengan Gani, langsung serach nama Pengelana di Facebook setelah mereka bertemu di kereta. Dibandingkan wa langsung yang terkesan personal, Gani mencari tahu nama Pengelana di Facebook.

Kedua, Gani sebagai penulis, memiliki jiwa sentimentil terhadap sesuatu. Jika Gani masih menyimpan gelas plastik kosong bekas cokelat yang nggak dicuci dan mengakibatkan bau hingga mengakibatkan Dewi, sahabatnya dibuat geram dengan kelakuan Gani ini. Sama halnya dengan Gani, aku juga pernah melakukan hal seabsurd itu zaman kuliah. Bedanya, aku pernah dengan sentimentil dengan sebuah permen yang pernah dikasih kakak tingkat beda jurusan. Waktu itu dikasih pas kita rame-rame acara sebuah UKM yang aku ikuti, melakukan semacam acara rame-rame ke curug yang perjalanannya jauuuhhh banget. Mungkin karena melihat aku kelelahan, aku dikasih permen yang katanya buat penambah tenaga. Bukannya aku makan, malah aku simpan di kantong dan begitu sampai kosan, aku pajang di dinding kosan bareng barang-barang lainnya di dinding sampai hampir mau lulus kuliah. Sungguh absurd sekali kala itu, hahaha.. x))

Ketiga, sama halnya seperti Gani, aku juga tidak terlalu percaya dengan orang yang dikenal karena satu perjalanan. Dulu zaman kuliah, kalo pulang dari Bandung ke Lampung, seringkali satu kursi dengan penumpang absurd. Pas awal-awal, biasanya aku ladenin dengan alasan kesopanan soalnya sapa tau kapan-kapan ada peluang ketemu ntah di jalan atau di mana gitu, soalnya kan kotaku kecil. Tapi lama-lama males juga, jadi kalo naik bus sengaja banyak aktivitas, jadi pas malem naik bus, bakal tidur sepanjang jalan karena kecapekan biar gak diajakin ngobrol dengan penumpang sebelah seperti Pengelana yang menurutku lumayan kepo dengan kehidupan Gani yang baru dikenalnya di kereta. Jujur, kalo aku, meski setjakep apa pun itu, pasti bakal risih. Ternyata Gani pun punya pemikiran yang sama. Bedanya, Gani masih belum lepas dari bayang-bayang Pengelana yang baru ditemuinya sekali itu di kereta.

Agak aneh memang namanya seorang perempuan bernama Gani, soalnya dulu pas SMA punya teman bernama Gani tapi cowok x))

Tidak hanya kisah Gani dan Pengelana yang baru ditemuinya di kereta, tapi juga dengan Wira. Gani dan Wira bersama sejak kecil. Saling menjaga agar tidak melebihi batas satu sama lain. Saling menjaga agar tidak menyinggung satu sama lain. Dan mungkin saking menjaganya, Wira-lah yang selama ini selalu mengalah. Jadi kelak, manakah yang akan dipilih Gani: Pengelana yang baru ditemuinya atau Wira yang sudah dikenalnya sejak kecil?

Khas tulisan Mbak Shabrina. Meski tidak ada konflik yang berat, tapi lebih pada menitikberatkan pada pergolakan hati para tokohnya yang relate banget dengan sehari-hari. Tanpa disadari, kita pernah menjadi Gani, Pengelana atapun menjadi Wira.

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Beberapa hal berubah justru saat kita telah lama mengenalnya. (hlm. 19)
  2. Rezeki itu dari Allah, sementara bekerja adalah bagian dari mensyukuri kesempatan yang diberikan Allah kepada kita. (hlm. 29)
  3. Kenangan hanya tentang bagaimana seseorang memilih apa yang ingin diingatnya. (hlm. 35)
  4. Kita kadang tidak sadar, telah ditangguhkan oleh canda musim-musim semi. (hlm. 41)
  5. Tidak semua hal bisa diukur dengan materi. (hlm. 44)
  6. Dalam cerita, penulis mungkin perlu kisah yang masuk akal. Sementara dalam kehidupan nyata, seringkali beberapa hal seolah di luar nalar. (hlm. 49)
  7. Apa sih yang tidak mungkin terjadi dalam hidup ini jika Allah sudah menghendaki? (hlm. 55)
  8. Kita nggak pernah tahu tulisan kita yang mana yang menginspirasi orang lain. (hlm. 72)
  9. Ada kalanya kau berdoa untuk seseorang, tanpa ia minta, tanpa ia tahu, tanpa perlu kau bilang kepadanya. (hlm. 89)
  10. Katanya kalau kita mencintai seseorang, kadang kita akan membiarkannya salah paham daripada melukainya. (hlm. 109)
  11. Manusia tidak lain hanyalah sekumpulan hari. Setiap satu hari berlalu, maka sebagian dari diri kita pun ikut pergi. (hlm. 145)
  12. Ada hal-hal di dunia ini yang tidak perlu kita paksakan, menjadi seperti kata orang lain, misalnya. (hlm. 177)
  13. Ada hal-hal di dunia ini yang nggak bisa kita paksakan. (hlm. 183)
  14. Kita hidup dengan pilihan kita sendiri. Bukan dengan anggapan orang lain. Kita nggak perlu memaksakan diri menjadi kata-kata orang. (hlm. 183)
  15. Hal-hal berubah saat waktu berlalu. Terasa tidak sama saat kita menatap pada masa yang berbeda. Tetapi kenangan tidak pernah berubah. (hlm. 204)

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Kebetulan atau keberuntungan mungkin ada pada mereka yang tidak percaya takdir. (hlm. 3)
  2. Dunia belum berakhir hanya karena seseorang meninggalkan kita, kan? (hlm. 5)
  3. Bertahun-tahun meyakini hal yang sama, ternyata nggak cukup untuk bertahan. Apalagi ketika orang yang kau percaya mengatakan ada satu perbedaan yang mungkin sulit untuk dibangun jembatan. (hlm. 7)
  4. Nggak semua hal terjadi sesuai yang kita harapkan, bukan? (hlm. 8)
  5. Dunia belum berakhir hanya karena seseorang meninggalkan kita, kan? (hlm. 9)
  6. Makanya hati-hati sama orang asing. (hlm. 16)
  7. Bukankah tidak ada sesuatu yang kebetulan di dunia ini? (hlm. 17)
  8. Memperjuangkan orang yang tidak mau diperjuangkan? (hlm. 74)
  9. Mengakui tulisan orang lain sebagai tulisannya jelas sudah tidak bisa dibenarkan. (hlm. 104)
  10. Perjuangkan yang layak kamu perjuangkan. Jangan sampai menyesal. (hlm. 242)

Keterangan Buku:

Judul                                     :  Meskipun Hujan Masih Turun

Penulis                                 : Shabrina Ws

Editor                                    : Sigit Wibowo

Penyelaras aksara            : Cerberus404

Tata letak                            : Eros Rosita

Ilustrasi isi                           : Sarupani

Desain sampul                   : Sarupani

Penerbit                              : Tinta Merah Indonesia

Terbit                                    : November 2020

Tebal                                     : 250 hlm.

ISBN                                      : 9786239442477

3 thoughts on “REVIEW Meskipun Hujan Masih Turun”

    1. Nah.. pas bagian mana ini mbak yang sama, jadi penasaran versi curcol Mbak, apakah sebelas dua belas kayak aku, hahaha… x))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s