buku, resensi

REVIEW Storm Cloud Marriage

“Pernikahan emang nggak selamanya indah. Bohong aja yang bilang nikah itu berarti udah happily ever after. Tapi, tiap kali ada di situasi buruk, kita harus ngelewatinnya nggak sendirian, ada pasangan yang bakal selalu nyediain bahunya buat kita, itu bikin keadaan seburuk apa pun jadi nggak terlalu buruk.” (hlm. 90)

Pernikahan, selalu menarik untuk diangkat menjadi tema sebuah novel. Permasalahan anak menjadi hal yang sensitif untuk diulas. Jika selama ini membaca novel dengan tema ini selalu permasalahan kesuburan dari sisi perempuan, kali ini sisi laki-laki. Representasi tergambarkan lewat tokoh Gino yang sebenarnya nyaris sempurna, hanya memang memiliki masalah kesuburan yang sebenarnya sudah diketahui Atha sebelum menikah dengan laki-laki tersebut.

“Selamat seperempat abad, Samkiss. Kalau Aa ngajak kamu habisin tiga per empat abad sisanya bareng-bareng, kamu mau nggak?” (hlm. 22)

Butuh waktu beberapa menit sampai makna kalimat itu masuk ke kepala Atha. Dia tidak menyangka Gino akan melamarnya saat itu. Mereka baru saling kenal tiga bulan sebelum Gino mengajaknya pacaran. Ketika itu usia pacaran mereka bahkan belum genap setengah tahun.

Memang kedua orangtua mereka sudah saling mengenal. Gino juga dekat dengan Sandiga, kakak laki-laki Atha. Dia, Diga, dan Desta, adik laki-laki Gino yang saat itu masih SMP, sering melakukan kegiatan bersama, entah futsal, nobar bola, atau sekedar duduk-duduk di kafe. Atha sendiri sering hangout dengan Alina, kakak perempuan Gino. Keponakan Gino, Olivia anak dari Alina, juga sudah mengenal Atha. Tetap saja Atha tidak pernah mengira Gino mantap melamarnya secepat itu. Setelah Atha menerima lamarannya, enam bulan kemudian mereka resmi menikah.

“Aa tahu Aa nggak sempurna. Kalau kamu sampai pergi, Aa bukan cuma jadi nggak sempurna, tapi juga jauh dari utuh. Aa butuh kamu, Tha.” (hlm. 41)

Ada banyak selipan seputaran pernikahan khususnya masalah anak, baik dari sisi Atha maupun sisi Gino. Dari novel ini, memang terlihat lebih banyak Atha yang berusaha, sementara Gino kelihatan lebih pasrah padahal masalah sebenarnya justru pada kesuburannya. Pertama, tiap tidur, Atha akan berbaring telentang di sebelah Gino dengan bantal di bawah pinggul dan selimut menutupi tubuh. Katanya posisi itu membantu sperma lebih cepat mencapai tuba falopi dan sel telur. Entah sudah berapa kali hal itu dilakukan Atha dalam setahun terakhir begitu mereka selesai, tetap saja tidak membuahkan hasil. Kedua, dokter bilang berhubungan tiap hari malah nggak bagus buat peluang bisa punya anak. Seenggaknya ditumpuk dulu, dua sampai tiga hari. Ketiga, program bayi tabung yang sudah dijalankan Atha dan Gino, dan gagal. Atha masih mengumpulkan nyali dan hati untuk menghadapi kegagalan sebelum memutuskan mencoba lagi. Ketiga, Atha yang selalu mengingatkan Gino untuk tidak menaruh smartphone di saku depan celana karena bisa mengurangi kualitas sperma. Terlalu lama memangku laptop tanpa alas juga nggak bagus. Terkadang, Gino sampai kesal jika Atha mulai mengingatkannya karena sebenarnya tanpa dikasih tahu terus-terusan pun dia sebenarnya sudah mengerti. Keempat, second honeymoon atas ide Atha karena merasa quality time-nya bersama Gino sudah mulai berkurang. Tapi jangankan second honeymoon, buat makan siang bareng aja Gino nggak ada waktu alias menumpuknya kerjaan x))

“Menurut lo apa yang gue lakuin sekarang? Kalau gue nggak peduli lagi sama rumah tangga gue, udah dari tahun lalu gue minta pisah ranjang. Gue tahu kami nggak seintim dulu. Aa makin nggak punya waktu buat gue. Komunikasi juga kacau banget belakanga ini. Gue cuma berharap hubungan intim bisa bikin kami baik-baik saja. Kehadiran anak bakal bantu banget.” (hlm. 18-19)

Novel ini bagus buat dibaca yang sudah maupun yang belum menikah. Mengajarkan bahwa pernikahan tak hanya melulu soal senang bersama, tapi juga sedih bersama :’)

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Kalian pasti ngelewatin ini. Lo cuma harus lebih banyak sabar. (hlm. 83)
  2. Pelangi paling indah akan muncul setelah badai besar. (hlm. 116)

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Udah waktunya tumbuh dewasa dan kurangi tingkah kayak anak-anak. Jangan sampai nanti saingan sama anak manjanya. (hlm. 12)
  2. Semua orang pernah jadi idiot, paling nggak sekali. (hlm. 16)
  3. Apa yang harusnya nyenengin, berubah jadi kewajiban. Apa bedanya sama kerjaan di kantor? (hlm. 17)
  4. Dokter bukan Tuhan yang bisa gitu aja mastiin kalian nggak akan pernah punya anak. Banyak juga pasangan yang jauh lebih sehat dari kalian, tetap harus nunggu bertahun-tahun buat dapetin anak pertama. (hlm. 82)
  5. Pakaian kamu tolong diperhatikan. Memang tidak ada aturan tertulis, tetapi rok ketat sependek itu tidak pantas. (hlm. 83)
  6. Apa kita harus berhenti pengin? Berhenti usaha? (hlm. 86)
  7. Kalau gitu, nggak usah pengin lagi ya? (hlm. 86)
  8. Itu risiko punya pasangan yang fisiknya sempurna. Lo cuma udah terlalu lama tingga bareng ama dia, jadi mulai kebal ama pesonanya. (hlm. 99)
  9. Laki-laki normal mana coba yang masih mau deketin perempuan yang udah jadi istri orang kalau bukan bajingan? (hlm. 201)
  10. Ini kita ngobrol, kan? Nggak diem-dieman. (hlm. 237)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Storm Cloud Marriage

Penulis                                 : Elsa Puspita

Penyunting                         : Septi Ws

Penata letak sampul       : Tim Desain Broccoli

Penata isi                             : Tim Desan Broccoli

Penerbit                              : PT Grasindo

Terbit                                    : 2016

Tebal                                     : 252 hlm.

ISBN                                      : 9786023756902

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s