buku, resensi

REVIEW Menangis Boleh, Menyerah Jangan

“Kita tidak butuh sihir untuk mengubah dunia. Kita sudah membawa kekuatan yang kita butuhkan di dalam kita. Kita punya kekuatan untuk mengimajinasikan hal yang lebih baik.” –J.K. Rowling- (hlm. 23)

Setiap manusia tak lepas dari yang namanya tangis. Ketika menghadapi masalah dan mampu menyelesaikannya. Ia menangis, ketika dihempas cobaan bertubi-tubi dan tak mampu mengatasinya, ia menangis. Ketika kecewa, ia menangis. Ketika dikhianati, ia menangis. Ketika terluka, ia menangis. Namun, anehnya, tangis juga hadir di kala bahagia, haru, mensyukuri nikmat, mendapatkan nikmat tak terikira dari Tuhan, dan sebagainya.

Menangis bukan soal kecengengan, tetapi ia adalah jeda untuk kita melangkah ke tahap selanjutnya. seseorang memang harus menangis sejenak untuk kemudian bangkit lagi dari keterpurukan. Seseorang tidak berhak melarang orang lain menangis, karena ia akan membuat perasaannya menjadi keras dan dingin.

Menangis bukanlah titik, tetapi koma. Menangis bukanlah solusi untuk mengatasi masalah, tetapi ia adalah jembatan yang menghubungkan untuk menyelesaikan masalah. Seringkali justru sebaliknya, kita menganggap menangis adalah akhir dari kehidupan. Seluruh kekecewaan, kesedihan kita tumpahkan dalam tangis. Tangis itu panjang dan dalam sekali, sampai berlarut-larut, seolah kesedihan itu tiada ujungnya lagi.

Buku ini mengajak kita, menangis bukanlah akhir dari segalanya. Tetapi, menangis awal dari segalanya, tempat kita mendapatkan batu pijakan untuk menekadkan dalam diri kita. Sebab, yang membolak-balikkan hati seseorang adalah Tuhan. Ketika seseorang bersedih, yang mengakhiri kesedihannya adalah Tuhan. Begitu juga ketika seseorang terlibat dalam suatu masalah besar, yang memberikan jalan keluarnya, tiada lain dan tiada bukan adalah Tuhan.

Setelah menangis, seseorang mengalami perasaan lega, karena beban-beban terangkat. Beban-beban masalah itu menumpuk menjadi stres. Akan tetapi, setelah keluar menjadi tangisan, melepas ketegangan, stres terkurangi dan wajah menjadi sumringah bahagia.

Memang menangis tidak pernah membuat seseorang dapat terselesaikan masalah hidupnya. Akan tetapi, setidak-tidaknya menangis dapat menjadi penyembuh luka yang diderita, sekaligus dapat membuat perasaan jauh lebih baik. Jika perasaan lebih baik kita alami, maka kita akan bahagia. Jika jiwa-jiwa merasa bahagia, kimia otak akan mengeluarkan hormon endorfin. Jika hormon endorfin keluar, wajah akan terlihat segar dan cantik.

Pada masa fresh garduate, yang selalu terbesit dalam angan adalah bagaimana bisa memiliki karir enak dan bayaran yang bisa dibilang besar. Itu adalah impian yang terlalu besar sebenarnya. Pekerjaan mapan itu tidak akan ada jika kita tidak mengejarnya. Ketidaksesuaian antara kualifikasi akademis yang kita miliki dengan jenis pekerjaan yang kita lakukan, adalah hal alamiah saja dalam pertama-tama bekerja. Ketika tak sesuai ya katakan saja, hitung-hitung cari pengalaman.

Jika kita menganggap gaji kecil, teman yang menggunting dalam lipatan, minimnya fasilitas dibanding tuntutan pekerjaan yang banyak sebagai sebuah masalah yang membuat kita gagal untuk berprestasi kemudian terpikir bagi kita untuk keluar dan mencari pekerjaan lain yang lebih ideal, ketahuilah bahwa di dalam setiap pekerjaan akan selalu ada faktor-faktor tersebut.

Boleh jadi, hampir setiap orang di dunia kerja pasti akan mengalaminya, tetapi mereka tidak menjadikannya sebagai masalah berarti, tidak pernah dipikirkannya sehingga tidak akan gagal dalam masalah-masalah ini. Adapun jika kita kalah dengan masalah-masalah kecil ini, kemungkinan akan kalah dengan masalah-masalah lainnya yang lebih besar dan berat.

Dari sekian banyak penjabaran hal-hal yang sering bikin kita menangis, aku paling tertarik dengan bahasan pekerjaan. Kenapa? Karena beberapa tahun terakhir dalam bekerja sempat mengalaminya. Tidak hanya sekedar menangis, bahkan sempat terlintas beberapa kali untuk memutuskan resign, hahaha… x))

Ibarat anak tangga, kegagalan adalah anak tangga yang kita lewati untuk menuju istana yang indah di atas awan. Kelelahan adalah terputusnya nyali kita untuk menaiki anak tangga kegagalan berikutnya. Dengan demikian, kelelahan adalah sikap menyerah sebelum sampai ke tempat tujuan, sementara kita tidak tahu sampai berapa jumlah anak tangganya, dan pada anak tangga yang keberapa kita gagal. Kita yakin kegagalan kita ini takkan selamanya, tetapi suatu saat kita akan mencapai ujung anak tangga itu, yakni tujuan yang berhasil kita capai.

Kalau kemudian kita merasa lelah, artinya kita berada di tengah-tengah anak tangga itu. Lantas, kita tidak akan bisa jalan, karena yang membuat kita mencapai tujuan adalah kegagalan demi kegagalan yang kita lewati, bukan kegagalan demi kegagalan yang kita tangisi. Kemudian, kita tak mau melangkah lagi.

Lelah adalah hal yang manusiawi. Lelah adalah tabungan energi untuk melangkah. Dalam lelah kita meluruskan kaki kita, kita menghirup napas panjang. Lelah kita adalah lelah yang positif dan tidak akan menjelma menjadi keputusasaan, keragu-raguan, keinginan menyerah, sehingga semakin menambah beban kita saja.

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Jika seseorang memikirkan banyak orang, suatu saat banyak orang akan memikirkan satu orang tersebut. Jika kita memberi bantuan orang lain, walaupun diri kita juga dilanda kekurangan, maka sudah sewajarnya suatu saat orang lain akan membantu kita. (hlm. 7)
  2. Tak peduli apakah kamu miskin, tak punya pekerjaan, asalkan kamu punya keyakinan. (hlm. 26)
  3. Sukses adalah kegagalan yang tertunda. (hlm. 26)
  4. Hidup harus diteruskan, hidup tidak harus disikapi dengan sedih-sedih tanpa ada keinginan untuk mengubah semuanya. (hlm. 46)
  5. Orang yang bermental baja haruslah memiliki kecerdasan emosional yang tinggi. (hlm. 107)
  6. Seseorang yang bermental baja pastilah memiliki rasa percaya diri yang tinggi. (hlm. 107)
  7. Seseorang yang bermental baja juga akan berani mengatakan tidak, untuk sesuatu yang memang tidak bisa dikerjakannya. (hlm. 108)
  8. Seseorang yang bermental baja tidak akan terjebak pada masa lalu. (hlm. 109)
  9. Seseorang yang bermental baja tidak akan menolah perubahan situasi. (hlm. 110)
  10. Seseorang yang bermental baja tidak akan pernah takut gagal. (hlm. 110)
  11.  Seseorang yang bermental baja tidak akan mengharapkan hasil instan. (hlm. 111)
  12. Seseorang yang bermental baja tidak akan iri dengan kesuksesan orang lain. (hlm. 111)
  13. Seseorang yang bermental baja tidak akan takut sendiri. (hlm. 113)
  14. Berpisah boleh, patah hati jangan. Patah hati boleh, menahan tangis jangan. Bersedih boleh, merasa kehilangan jangan. (hlm. 120)
  15. Membalas kejahatan dengan kebaikan adalah derajat tinggi orang yang paling berkualitas imannya.. (hlm. 331)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Menangis Boleh, Menyerah Jangan

Penulis                                 : Wiwid Parsetiyo

Penyunting                         : Fira Husaini

Pemeriksa aksara             : Ryan

Perancang sampul           : Ryan

Penerbit                              : Psikologi Corner

Terbit                                    : 2020

Tebal                                     : 430 hlm.

ISBN                                      : 978-623-244-198-9

2 thoughts on “REVIEW Menangis Boleh, Menyerah Jangan”

  1. Permisi, Perkenalkan nama saya Rio. Saya ingin meminta izin mengambil referensi ini sebagai konten rekomendasi di Positivevibes.id. Kami mohon atas perhatiannya, Terima Kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s