buku, resensi

REVIEW Rumah Kertas

“Membangun perpustakaan adalah mencipta kehidupan. Perpustakaan tak pernah menjadi kumpulan acak dari buku-buku belaka.” (hlm. 26)

Udah nyidam banget ama buku ini sejak kali pertama terbit, sekitar 2016 yang artinya sudah lima tahun berlalu. Dan belum kesampaian juga, mau beli online kok sayang banget soalnya ongkirnya gak jauh beda ama harga bukunya, hahaha.. x))

Akhirnya baru berjodoh dengan buku ini awal tahun ini. Kebetulan ada online bookshop lokal yang menjual buku ini. Sempat kehabisan, dan akhirnya pas gelombang dua baru kebagian. Buku yang aku baca ini sudah memasuki cetakan kelima.

“Aku pun kerap bertanya-tanya mengapa kusimpan buku-buku yang mungkin baru ada gunanya jauh di masa mendatang, judul-judul yang tak terkait dengan minatku pada umumnya, buku-buku yang pernah kubaca sekali dan tidak akan kubuka-buka lagi selama bertahun-tahun. Itupun kalau pernah!” (hlm. 9)

Kenapa buku yang hanya setebal 75 halaman ini begitu banyak diminati? Khususnya bagi pecinta buku, buku sangat beraroma buku banget. Apa saja itu?

Pertama. Ada banyak judul buku yang bertebaran dalam buku ini. Beberapa diantaranya adalah Poems karya Emily Dickson, buku lawas yang dibaca Bluma Lennon yang membuatnya tewas karena menyusuri puisi kedua di tikungan jalan pertama, ia ditabrak mobil dan meninggal. Apakah ini spoiler? Tentu tidak, kematian Bluma justru menjadi pembuka cerita buku ini yang akan mengantarkan kita untuk bertemu kepada beberapa orang yang ternyata ‘gila’ buku.

Selain Poems karya Emily Dickson, ada buku Seratus Tahun Kesunyian, Irish and Folk Tales, Correspondance inedite du Maquis de Sade et de ses proches et de ses familiers, The Call of the Wild, Zorba the Greek, The Twenty-Fifth Four, Farewell to Arms – Hemingway, Huidobro, Neruda, Bartolome de las Casas, Eliot, Lorca, El Renacimiento – Burckhardt, Palliere dan masih banyak lagi.

Kedua. Perkara menyimpan buku. Dulu aku pikir diri ini sudah aneh karena lebih senang membeli buku ketimbang membeli baju ataupun make seperti perempuan pada umumnya. Ternyata, sejak sepuluh tahun yang lalu, tepatnya sejak bergabung dengan grup Blogger Buku Indonesia, masih banyak yang jauuhh lebih amazing jumlah koleksi dan kecintaannya dengan buku. Ditambah setelah membaca buku, dimana ada tokoh yang sangat kecanduan buku, dimana rumahnya hampir disegala penjuru dipenuhi buku x))

Ketiga. Tipe pembaca buku pun diselipkan dalam cerita di buku ini. Ada yang ketika membaca akan menuliskan hal-hal yang menarik dari sebuah buku yang dituliskan dicatatan tersendiri baik berupa buku khusus ataupun hanya sebatas di sobekan kertas yang nantinya akan kita pindahkan berupa ulasan buku tersebut. Dan ada juga tipe pembaca seperti Brauer yang buku-buku ia baca dipenuhi dengan coretan tulisan tangannya yang sebenarnya berpeluang besar bisa merusak buku.

Keempat. Perbedaan buku yang diterbitkan secara mayor versus buku yang diterbitkan secara indie. Buku yang diterbitkan oleh penerbit kecil justru biasanya memperlakukan naskah para penulisnya dengan sungguh-sungguh. Sedangkan buku yang diterbitkan oleh penerbit besar biasanya bersinar terang selama sebulan lantas lenyap bak bintang jautuh dari deretan buku baru.

Kelima. Perkara diskusi buku. Banyak sekali penulis yang menerbitkan buku, tapi jarang sekali yang mendiskusikan buku-buku yang sudah terbit itu.

Keenam. Aspirasi sastra yang tak ubahnya kampanye politik, atau tepatnya taktik militer, yang dikerahkan untuk merobohkan tembok-tembok ketidakterkenalan, penghalang tak tertembus yang hanya bisa diatasi oleh segelintir orang untuk mencapai status terpandang.

Ketujuh. Buku yang dicetak secara terbatas alias limited edition. Buku-buku yang hanya dicetak tiga ratus, lima ratus eksemplar, yang seiring waktu menjadi kian sulit didapat, dan karenanya menjadi sangat mahal.

Kedelapan. Pencurian buku. Pemerintah telah berupaya membeli banyak perpustakaan pribadi yang penting dan mengukuhkan suatu warisan budaya yang kaya. Namun banyak juga dari perpustakaan itu telah dirampok dengan cara-cara yang paling tidak terbayangkan. Orang-orang datang mencuri karya-karya yang paling berharga.

Kesembilan. Klasikasi buku. Semakin banyak buku yang dimiliki, tentu akan semakin sulit untuk mengingatnya. Ini adalah salah satu manfaat mengklasifikasi buku. Bagi Brauer, mengklasifikasi dua puluh ribu judul buku yang dimilikinya bukanlah pekerjaan gampang. Brauer tidak sekedar mengklasifikasi buku layaknya tugas pustakawan seperti umumnya. Brauer lebih dari itu. Dia bahkan sangat peduli jika ada dua penulis yang pernah cekcok, dia tidak akan meletakkan buku mereka di jajaran rak yang sama x))

Kesepuluh. Sesuai judulnya, rumah kertas bukan sekedar umpama kata semata. Di akhir cerita, nanti kita akan dikejutkan dengan sebuah karya yang sangat relate dengan judul buku ini. Representasi kegilaan seseorang terhadap buku-buku yang dimilikinya.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Tak ada yang eksis di luar representasinya. Tiap orang berhak memilih representasi yang mereka suka. (hlm. 3)
  2. Jauh lebih sulit membuang buku ketimbang memperolehnya. (hlm. 9)
  3. Dunia orang hidup berisi cukup keajaiban dan misteri sebagaimana adanya –keajaiban dan misteri yang menindaki perasaan dan pemikiran kita dengan cara-cara yang begitu tak terjelaskan sampai-sampai nyaris membenarkan konsepsi tentang hidup sebagai suatu kondisi kena sirep. (hlm. 22)

Beberapa kalimat beraroma buku dan perpustakaan:

  1. Buku mengubah takdir hidup orang-orang. (hlm. 1)
  2. Jauh lebih sulit membuang buku ketimbang memperolehnya. Dengan mereka kita terikat pada fakta kebutuhan dan pengabdian, seolah-olah mereka menjadi saksi bagi momen hidup kita yang takkan pernah terjumpai lagi. Namun selama buku-buku itu masih ada, momen itu pun tetap menjadi bagian dari diri kita. (hlm. 9)
  3. Kita lebih suka kehilangan cincin, arloji, payung ketimbang buku yang halaman-halamannya takkan pernah bisa kita baca lagi namun yang tetap terkenang, seperti bunyi judulnya, sebagai emosi yang jauh dan lama dirindu. (hlm. 10)
  4. Pada akhirnya, ukuran perpustakaan itu ternyata memang penting. Kita pajang buku-buku kita ibarat kita sedang dikuak lebar-lebar untuk diteliti, sambil mengutarakan alasan-alasan omong kosong dan basa-basi sok merendah soal jumlah koleksi yang tak seberapa. (hlm. 10)
  5. Sebagai pembaca, kita saling memata-matai perpustakaan kawan satu sama lain, sekalipun hanya di waktu senggang. Kadang kita berharap menjumpai buku yang ingin kita baca tapi kita tidak punya, atau mencari tahu apa yang sudah dilahap oleh kutu buku di seberang kita ini. (hlm. 10)
  6. Ada suatu momen tertentu saat kita sudah mengumpulkan begitu banyak buku sampai mereka menembus garis batas tak kasat mata. Yang dulunya menjadi sumber kebanggaan kini menjadi beban, karena sejak saat itu ruang akan senantiasa menjadi masalah. (hlm. 11)
  7. Pembaca buku tulen, sanggup mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk buku yang akan menyita waktu mereka berjam-jam, tanpa kebutuhan lain kecuali untuk mempelajari dan memahaminya. (hlm. 17)
  8. Tidak semua orang bisa menulis. Tidak semua orang harus menulis. (hlm. 31)
  9. Seorang pembaca adalah pengelana dalam lanskap yang sudah jadi. Dan lanskap itu tak berkesudahan. (hlm. 31)
  10. Buku yang tidak bisa kau temukan ya berarti tidak eksis. (hlm. 36)
  11. Kemudahan untuk menemukan buku-buku yang dicari itu satu hal, tapi menempatkannya berdekatan atau berjauhan itu soal lain. (hlm. 38)
  12. Pada buku-buku tertentu, karena halaman tercetak itu sebenarnya adalah gambar yang rumit, permainan garis dan figur kecil-kecil yang mengalir dari huruf hidup ke huruf mati, mematuhi dalil-dalil ritme dan komposisinya sendiri, semuanya berdasarkan pada besar huruf, jenis huruf yang dipilih, lebar marjin, ketebalan kertas, nomor halaman rata kanan dan kiri, detail kecil-kecil tak berbilang banyaknya yang berpadu menciptakan objek yang indah itu. Betapa pun baru edisinya, betapa pun putih kertasnya, cahaya lilin memberikan ke sebuah buku pendar tambahan yang bisa memancarkan nilai-nilai dan kelembutannya dengan ajaib. Dan jalan-jalan setapaknya pun jadi kenikmatan tersendiri. (hlm. 43)
  13. Orang juga rupanya bisa mengubah takdir buku-buku. (hlm. 57)
  14. Jambangan, teko dan pesawat teve jauh lebih sering rusak ketimbang buku. Sebuah buku tidak akan hancur lebur kecuali pemiliknya menghendaki demikian, dengan merobek-robek halamannya, membakarnya. (hlm. 57)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Rumah Kertas

Penulis                                 : Carlos Maria Dominguez

Penerjemah                       : Ronny Agustinus

Ilustrasi isi                           : Melia P. Khoo

Penerbit                              : Marjin Kiri

Terbit                                    : Desember 2020 (Cetakan kelima)

Tebal                                     : 76 hlm.

ISBN                                      : 978-979-1260-62-6

2 thoughts on “REVIEW Rumah Kertas”

  1. Sulit banget melihat pesona yang ada di buku ini sampai banyak pembaca menilai buku ini bagus. Pas baca dulu (2017) saya tidak menemukan poin itu. Tapi fakta jika buku ini menggali karakter manusia pecinta buku, saya setuju sekali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s