buku, resensi

REVIEW Kami (Bukan) Jongos Berdasi

“Memang betul kita tidak boleh melanggar hak impian kita untuk bisa hidup. Namun ingat juga, di sebelah hak, ia punya saudara kembar bernama kewajiban. Kembar tapi tak sama.” (hlm. 393)

SANIA. Di luar sana, ada saja sebetulnya bank lain yang berbanding terbalik dengan Bank EEK dalam memperlakukan karyawan. Banyak sekali bank yang masih memandang manusia sebagai betulan manusia. bukan orang-orangan sawah. Dulu keterima di Bank EEK ini, semangat betul Sania. semangatnya melebihi semangat tentara Vietnam digabung tentara Korea Utara, digabung tentara-tentara di papan main monopoli sekaligus. Perlahan mulai runtuh semangatnya itu. Bagaimana tidak. Selama bekerja, sania sering tak fokus. Sebentar-sebenatr main ponsel. Sebentar-sebentar menyanyi di kubikelnya sendiri. gajinya tak pernah cukup rasanya. Belum setengah bulan berjalan, sudah menguap. Apalagi soal jam pulang kerja. Pukul lima sore tepat dia sudah pulang. Ya, mana ada cerita dapat bonus lembur.

JUWISA. Sejak lulus dari Kampus UDEL, Juwisa kembali tinggal ke kampungnya. Jaraknya sekitar enam tujuh jam dari ibukota. Di sana ia membuka usaha kuliner kecil-kecilan. Uangnya bisa untuk hidup sehari-hari dengan ayah dan adik-adiknya. Ibu Juwisa sudah lama berpisah dengan mereka karena bercerai. Ia mengurus pecel ayam bersama Enggar. Juwisa menyewa sebuah ruko. Sedikit naik kelas daripada pecel ayam tenda pinggir jalan. Juwisa berat hati meninggalkan kampung halamannya sekali lagi. Di ibukota, kini ia punya tujuan berbeda. Jika dulu untuk kuliah di UDEL, kini untuk mempersiapkan S2. Ia sudah gagal sebetulnya sekali. Aplikasinya ditolak semua. Baik oleh kampus yang ia inginkan, juga oleh LUDP bahkan sejak tahap administrasi. Bahkan Juwisa juga tak punya hal penting lainnya; surat rekomendasi dari satu akademisi, dan satu praktisi yang sudah hebat di bidangnya. Apalagi esai. Ia memang handal membuat proposal bisnis seperti dulu lomba di kampus, tapi menulis esai, ia tak bisa. Kendaraan Juwisa pergi merantau sekali lagi adalah keyakinan. Roda-rodanya harapan. Mesinnya senyum ayah dan adik-adiknya.

RANDI. Anak orang biasa saja. Ibunya pegawai perpustakaan di sebuah sekolah, ayahnya supir pribadi seorang pejabat. Hidupnya tak pernah jatuh, namun tak pernah pula kaya raya. Tengah-tengah dan selalu bahagia. Bagi Randi, bekerja dengan gaji tinggi saja cukup. Meski gaji tinggi belum ia dapatkan dari jadi wartawan, namunternyata ia malah menyuka pekerjaannya.

GALA. Kini jadi guru. Tak terbayangkan oleh siapa pun. Seorang lulusan arsitektur. Anak orang superkaya, pemilik imperium bisnis yang uangnya tiga generasi takkan habis, kini malah jadi guru. Gala tak mau jadi sekedar pewaris. Ia harus punya kenangan dan karya yang manis. Ia mengajar di salah satu sekolah swasta di ibukota. Memang keinginan jadi guru ini kuat sekali. Muncul sejak Gala di Kampus UDEL. Ia menemukan pelampiasan saat bergabung dengan gerakan Pustaka Kaki Gunung. Sebuah kegiatan swadaya yang dilakukan sekelompok mahasiswa UDIN, para pecinta alam. Membangun perpustakaan dan menyediakan buku-buku untuk sekolah dasar di desa terakhir sebelum pendakian. Gala bisa menyalurkan kemampuannya dalam bidang arsitektut, dengan membuat perpustakaan. Juga bis amengasah kemampuannya jadi guru lewat kegiatan di kelas. Tentunya makin jatuh cinta pula pada hobi naik gunung.

LIRA. Saat ini hanya perlu menunggu kuburan kampus UDEL diberi batu nisan. Sebetulnya, ini adalah masalah besar baginya. Kampus UDEL ini berada di bawah yayasan yang dipimpin ayahnya. Kasus ini membuat banyak aset dan tabungan ayahnya lenyap. Mulai dari membayar denda, penyelesaian hukum, hingga pesangon untuk dosen-dosen dan para staf kampus. Kini Lira bercita-cita ingin kembali ke Amerika. Ke laboratorium bersama kawan-kawannya. Mencari hal-hal yang belum ditemukan, seperti obat-obatan, atau apa pun dari proses rekayasa genetika hewan. Namun, keinginan itu harus ia bungkus dalam-dalam. Situasi mentalnya sama dengan mahasiswanya sendiri, sama-sama diambang kebimbangan soal karir.

“Masa menghadapi tikus-tikus busuk ini saja kalian tidak bisa? Apalagi menghadapi kejamnya dunia? Nanti setelah kalian lulus, di luar sana, dunia nyata jauh lebih menjijikkan daripada tikus-tikus ini. Mau jadi apa kalian setelah lulus? Sarjana kertas? Ngerasa pintar, hebat di atas kertas, tapi menghadapi dunia nyata malah nggak bisa? Kalian ini mahasiswa, bukan maha-sia.” (hlm. 9)

ada banyak pesan moral yang kita dapatkan setelah membaca buku ini. Pertama, dari kisah Sania yang bekerja di sebuah bank, berangkat pagi pulang petang baru sampai rumah, sementara pendapatan yang dihasilkan tak sebanding. Mengakibatkannya bekerja sesuai jam kerja saja, bahkan beberapa kali telat karena tidur larut malam, tidak konsen bekerja karena sering online di saat jam kerja, tidak memiliki rekan kerja yang sejalan, hingga tidak akur dengan atasan. Mungkin di awal-awal kita bakal sebal dengan karakter seperti Sania karena di kehidupan nyata pun ada banyak manusia yang seperti ini; kerja ogah-ogahan, maunya gaji besar. Hidup foya-foya, termasuk nekat ikut konser dengan jalan pintas; lewat pinjaman online. Tapi setelah dirunut, memang banyak faktor kenapa Sania tampak begitu menyebalkan di awal. Dia yang sejak dulu sebenarnya lebih suka menyanyi, diharuskan bekerja kantoran ditambah menekuni bidang yang tidak disukai.

Kedua, dari kisah Juwisa. Merantau ke ibukota, meninggalkan kampung halaman dan keluarga serta mengandalkan orang yang disukainya, bercita-cita ingin menjadi abdi negara dan melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Sekilas impian Juwisa ini terlalu banyak dan terlalu muluk. Ada banyak hal dia ingin sukses. Ayahnya yang single parent, mau tau mau Juwisa terjebak dalam garis sandiwich generation: menghidupi keluarga dan adik-adiknya. Ketika Juwisa lulus abdi negara pun bukan akhir dari segalanya. Di tempat yang baru baginya yang fresh graduate itu, tentu semacam uji nyali. Yang relate dengan kehidupanku adalah kisah Juwisa ini. Menjadi sandiwich generation dan menjadi abdi negara yang tak seindah kenyataan, hahaha.. x))

Kemudian ketiga, ada Randi si pemburu berita dengan bermodal clik bait di setiap tulisannya ini, sejak dulu ingin menikah. Sayangnya kisah percintaannya tak selalu mulus. Meski dengan gaji yang lumayan, apakah dia akan bertahan dengan pekerjaan yang bahkan dibenci para sahabatanya itu?

Lalu keempat, ada Gala. Dengan modal privilege memiliki ayah yang terpandang dan segala kemewahan yang dimilikinya, sebenarnya bukan hal yang susah bagi Gala jika mendapatkan jodoh terlebih dahulu dibandingkan yang lain. Begitu juga mewujudkan cita-citanya untuk membangun banyak perpustakaan di kaki gunung. Beruntunglah anak-anak yang terlahir dengan privilege yang tidak bisa didapatkan semua orang di dunia ini. Sekeras apa pun usaha teman-temannya, kehidupan mereka tak akan pernah melampaui kehidupan Gala yang nyaris sempurna.

Kelima, kisah bu dosen mereka, Lira. Masih single di usia tiga puluhan. Selain waktunya habis untuk memikirkan ayah dan kampus yang dirintis sudah payah oleh ayahnya sejak dulu. Lira yang sering menjadi semacam role model bagi mahasiswanya ini sebenarnya juga diliputi kegelisahan hati.

Sebenarnya masih banyak tokoh lainnya yang ada di buku ini. Ada Arko, Ogi, Agnes dan masih banyak lagi. Buku ini bagus banget buat para fresh graduate. Kenapa? Karena semacam kisi-kisi bagaimana kehidupan setelah lulus kuliah: kehidupan yang sesungguhnya. Ada sebuah pergolakan batin antara memilih passion atau kebutuhan, orangtua atau idealisme, masa depan atau realita.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Alam semesta tidak diam untuk setiap harga yang kau bayar lewat air mata dan keringat. tiap tetesannya adalah bibit yang akan menjulang tinggi, mengganti rugi semua lelahmu. (hlm. 10)
  2. Hidup ini ada yang namanya fleksibiltas. Kita tetap fokus pada mimpi, namun jalan mencapainya kan, macam-macam. (hlm. 27)
  3. Tak apa rasa lelah hingga ke tulang, untuk tempat yang kita sebut pulang. Hidup ini memang soal tualang, bukan soal siapa kalah siapa menang. (hlm. 38)
  4. mudahkanlah urusan orang, ini akan berdampak pada mudahnya urusanmu kemudian hari. entah dengan cara apa, entah lewat tangan siapa. tidak satu dua kali kita menyaksikan ini dalam hidup. (hlm. 43)
  5. Tak ada yang sempurna. Jika mencari yang sempurna, takkan ada. Kalaupun ada, hanya dalam khayalan dan manusia dewasa paham, terlena dalam khayalan amat menyakitkan. (hlm. 52)
  6. Bolh jadi Sang Mahapasti menciptakan kata ‘tapi’ untuk mengingatkan manusia bahwa kesempurnaan memang bukan berada di dunia ini. (hlm. 59)
  7. Kurangilah kecepatan, entah sedang mengejar apapun itu. Beberapa hal justru baru terlihat saat engkau melangkah pelan. (hlm. 68)
  8. Betapa sebetulnya penting sekali kita bergerak bersama saling rangkul, saling bantu. (hlm. 75)
  9. Dari sendiri, kita kembali sendiri lagi. Begitu semua orang. (hlm. 92)
  10. Saat kau sudah bebas dengan kegagalan, saat itulah apa yang kau cari selama ini tumbuh. ini bukan rumus motivator. gagal ibarat akar, dia tumbuh ke bawah dan terus menguat. Ketika sudah tiba saatnya, ia baru tumbuh ke atas. Setinggi apapun kelak tumbuhnya, takkan goyah karena akar kegagalan itu sudah begitu mencengkram. (hlm. 109)
  11. Jika hari ini engkau terhenti, coba lihat dan tanyakan. Apa kira-kira yang membuat langkahmu berhenti? Carilah, takkan kau temukan. Karena memang tak ada yang betul-betul bisa membuatmu berhenti, selain dirimu. (hlm. 211)
  12. Dalam hidup seseorang, kita semua pernah menjadi figuran. Cukup ada hanya untuk pelengkap. Tak ada juga tak masalah. Belum selesai satu adegan, langsung terlupakan, berganti dengan figuran lainnya. Jangan sedih. Boleh ajdi semua film sedang disiapkan, untuk kita menjadi pemeran utamanya. (hlm. 219)
  13. Beberapa hal mungkin harus kita lepaskan. Untuk memberi ruang pada hal yang akan datang. Di sana, ada sesuatu yang menunggu untuk kau perjuangkan. Di sana, mungkin kau akan lebih dari sekedar pemenang. (hlm. 229)
  14. Saat kita lelah, diam dan mengakui adalah cara yang benar. Jika malah ngotot dan bersikeras kita tak salah, ini akan memberikan tontonan gratis pada orang lain bahwa betapa tidak pintarnya kita. Diamlah. Terimalah. Itulah cara yang benar saat kita salah. (hlm. 238)
  15. Beberapa hal tersisih. Beberapa terpilih. Jangan sedih, hidup bukan hitam dan putih. kini kau letih dan tertindih, besok sesuatu mungkin akan kau raih. satu yang pasti, Sang Mahapasti tak pernah pilih kasih. (hlm. 271)
  16. Orang yang percaya sepenuhnya, pada akhirnya akan mendapat ganjaran yang juga penuh bahkan lebih. Yang percaya separuh-separih, jangan menyesal jika kelak tak dapat sesuai harapan. (hlm. 320)
  17. kadang kita emang nggak tahu sih, apa yang kita cari-cari selama ini, nemunya di mana. (hlm. 349)
  18. Ada orang yang berhasil, namun masih amatir dalam mengolah keberhasilan. Terlena, tidak hanya sesaat namun lama sekali. Terlena akan kesuksesannya yang sekali itu. Ia lupa dunia terus melahirkan keberhasilan lainnya. (hlm. 362)
  19. Jauh adalah jarak yang bisa ditempuh oleh dan peluh waktu. (hlm. 372)
  20. Matematika dunia sesulit apa pun, bisa ditemukan rumus dan pemecahannya. Matematika langit, lebih sering tak masuk akal. Rumus kali bagi tambah kurang, kerap tak berlaku. Boleh percaya, boleh tidak. (hlm. 406)

Banyak juga selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Gedung tinggi fondasinya kuat. Menancap ke dalam dan tak terlihat. Jika ujian hidupmu kelam dan pekat, angap saja agar kelak kau tinggi mencuat.
  2. Tak masalah jadi orang yang biasa-biasa saja. (hlm. 19)
  3. Guru-guru harus punya kompetensi. Jangan asal ngajar. Punya orientasi yang mengikuti zaman dan nanti lulusannya berguna. (hlm. 23)
  4. Sumber daya paling berharga adalah waktu. Jika hari ini kau bangkrut lalu dipecat, besok kau bisa memulai lagi. Sederhana saja cara membuktikannya. Jika umurmu bisa dijual setahun, berapa kau mau menjualnya? (hlm. 32)
  5. Senang terus hidup ini ya tak mungkin. Jauh dan sedih terus, tak mungkin pula. Sang Mahapasti tak seamatir itu menentukan plot hidup seseorang. (hlm. 78)
  6. Kalau ada teman lo berkarya, harusnya lo malah harga premium. (hlm. 80)
  7. Sebuah keputusan buruk, di hari yang tak kalah buruk, boleh jadi adalah pembuka dari sebuah cerita hebat. (hlm. 85)
  8. Jika ada temanmu yang tampak tak bijaksana, belum dewasa dengan jalan hidupnya, tak apa. Tak perlu memaksakan. Dewasa itu tidak sepetik jari. Kamu juga pernah merasakannya bukan? (hlm. 94)
  9. Boleh saja ada seribu yang tak percaya pada impianmu. Tapi pastikan dari seribu orang itu, dirimu sendiri bukan salah satunya. (hlm. 119)
  10. Jika hidupmu tak seru, berhentilah membicarakan orang melulu. Cari dan pelajarilah sesuatu yang baru. Terima tantangan, telusuri rintangan, kejar sesuatu yang bermakna, hingga kesasar kalau perlu. Karena, tersesat di jalan yang benar, lebih baik daripada melaju mulus di jalan yang salah. (hlm. 140)
  11. Berupaya keras untuk memperbaiki seseorang, justru takkan membawamu ke mana-mana. Ingin berubah itu dimulai lewat panggilan dari dalam hati. Kalau sudah ada, baru faktor luar ikut menentukan
  12. Pernahkah engkau ingin marah pada sesuatu, lalu tak mampu menyatakannya, yang berujung engkau malah marah pada diri sendiri. Pastikan marahmu dengan cara yang tepat. Lalu dibuang di tempat yang semestinya. Banyak orang marah tak tahu cara, tak tahu tempat, tak tahu waktu. Marahnya berujung hancur untuk dirinya sendiri. (hlm. 166)
  13. Nikah tuh bukan balap-balapan, bukan sesuatu yang harus dikejar semua orang. (hlm. 172)
  14. Boleh saja mengira-ngira, asal tetap bertakar logika. Tak mampu mengatur prasangka, mempersulit datangnya bahagia. (hlm. 176)
  15. Berhentilah mengatakan orang lain berpikiran tertutup, kalau kita sendiri tak mampu mengambil sesuatu dari sudut pandang orang lain yang berbeda. Justru malah mempertontonkan dengan amat terang benderang betapa tertutupnya pikiran kita. (hlm. 188)
  16. Orang yang betul-betul berilmu itu, tahu kapan harus bicara. Orang betul-betul berilmu itu, justru senang banyak mendengar ilmu lain. (hlm. 195)
  17. Saat seisi dunia melawanmu, lalu ada satu yang tetap berdiri, ikut menyakinkan dan memperjuangkan, saat itulah dunia sesungguhnya hadir untukmu. (hlm. 204)
  18. Menggubris orang lain secara berlebihan, boleh jadi dapat membuatmu tak bahagia. Hidupmu, kamu yang paling tahu. Sederhana sekali rumusnya. Pada takaran tertentu, kita perlu mengabaikan beberapa hal. Jahitkan bajumu sendiri, buat yang pas. Kancingnya boleh dibuatkan orang lain. (hlm. 245)
  19. Sebetulnya boleh saja mengeluh. Itu manusiawi. Hanya saja, jangan berlebihan. (hlm. 265)
  20. Sesekali memang dalam hidup, sesuatu yang tampak tak adil menimpa. (hlm. 286)
  21. Benarlah adanya jika hati bisa tumbuh hingga seluas tujuh lautan. Jika sering menyakiti hati seseorang, jangan harap kita membuatnya kalah, justru malah memperbesar wadah. Kelak, racun receh sepertimu justru akan membuat tenggelam tak bersisa. (hlm. 297)
  22. Kopi tuh kayak hidup. Kadang pahit, kadang manis. Kalau giliran pas banyak manisnya, kita lupa ama yang pahit. Kalau kebanyakan pahit, sampai lupa rasanya manis. (hlm. 303)
  23. Ketika kita menyimpulkan seseorang belum dewasa, dari cara ia menyikapi masalah, boleh jadi memang ia belum dewasa. Namun jika sering betul kita menilai orang-orang belum dewasa, boleh ajdi kitalah yang masih kanak-kanak. (hlm. 313)
  24. Apa yang kita lakukan, ada saja yang tak suka. Berbuat kebaikan, ada yang nyinyir. Mencoba memberi masukan, ada yang marah. Memberi perhatian, dibilang menjilat. Kita juga pernah begitu. Curiga pada orang yang baik tanpa sebab.  Tidak terima atas saran yang kita kira tak mendasar. Merasa seseorang itu perlu untuk tak disukai orang lain. Pada akhirnya kita sadar, entah kitanya yang racun, atau lingkungan kita. Jika lingkungan, maka tinggalkan. Jika kitanya, engkau sendiri yang tahu obatnya kawan. (hlm. 334)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Kami (Bukan) Jongos Berdasi

Penulis                                 : J.S. Khairen

Penata letak                       : Nunu

Penyunting                         : MB Winata

Penyelaras Tata Letak    : Bayu N. L.

Penyelaras Aksara           : Sein Arlo

Desainer Sampul              : @arcahyadi

Penyelaras Desain Sampul: Raden Monic

Penerbit                              : Bukune

Terbit                                    : Januari 2020

Tebal                                     : 409 hlm.

ISBN                                      : 978-620-220-335-3

1 thought on “REVIEW Kami (Bukan) Jongos Berdasi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s