Uncategorized

Titik Balik Hidup Pasca Pandemi

This image has an empty alt attribute; its file name is 1.jpg

Stresor atau penyebab stres berasal dari peristiwa yang netral. Respons kita terhadap stresor tersebutlah yang membuatnya bermakna. (hlm. 4) #LovingTheWoundedSoul

Awal tahun 2020, aku sudah bertekad mengurangi banget kegiatan di blog buku. Bukan hanya off dari semacam blogtour ataupun giveaway saja, tapi jumlah bacaan pun anjlok. Pokoknya selow aja hidup. Baca yang sekiranya disuka, dan kalo sempat aja x))

Kenapa? Entah kenapa, sepanjang 2018-2019 rasanya tuh lelah banget ama hidup. Lelah pekerjaan. Dan lelah-lelah lainnya. Makanya aku juga nggak mau menambah lelah di dunia maya.

Aku akan ‘istirahat’ sejenak dari hiruk pikuk baik dari sisi pekerjaan maupun sisi lainnya. Ada semacam kelelahan dalam menjalani hidup. Dan aku baru tahu itu ada istilahnya, yaitu burn out. Aku pernah share masalah burn out ini di instagram dan ternyata ada beberapa teman yang juga mengalaminya meski beda-beda sisi; masalah keluarga, pekerjaan, ekonomi, dan sebagainya.

Maka, untuk menjaga kesehatan mental yang menurutku buruk selama dua tahun sebelumnya, aku memutuskan untuk istirahat. Pertama, meski tidak off dari blog tapi akan membatasi diri untuk giveaway/blogtour. Aku hanya akan menghabiskan buku-buku yang selama ini tertimbun dan belum sempat dibaca. Kedua, aku tidak akan mengikuti lomba apa pun di dunia perpustakaan maupun pustakawan. Tanpa disadari, selama hampir sepuluh tahun bekerja, banyak waktu, tenaga dan pikiran yang kuhabiskan untuk bekerja. Awalnya bahagia tapi lama kelamaan kok bikin nggak bahagia. Aku merasa ada yang tidak beres dengan diri, jadi perlahan harus istirahat dari hiruk pikuk pekerjaan. Ketiga, aku berhasil detox sosmed di Facebook selama setengah tahun awal 2020. Lumayan juga ya, dari November 2019 sampai Februari 2020. Lalu, Mei 2020 sampai Juli 2020.

Dan itu ternyata wajar dialami, karena setiap manusia akan mengalami titik itu. Rasanya kayak pengen keluar dari rutinitas tapi ya nggak mungkin juga cuti terlalu lama. Waktu awal 2020 rasanya pengen cuti tapi ya nggak bisa cuti terlalu lama. Pokoknya berasa ingin ‘istirahat’ aja, nggak melakukan apa-apa. Ternyata.. BOOM!!  Alam berkonspirasi, pertengahan Maret 2020 kita semua ‘dipaksa istirahat’.

Ketika ada ‘libur’ dua minggu di rumah, sebagai anak introvert yang sering merasa lelah jika terlalu lama di keramaian, tentu rasanya senang sekali punya waktu lama di rumah. Aku jadikan ajang balas dendam untuk membaca buku-buku timbunan. Apalagi aku merasa ‘gagal’ karena dua tahun terakhir tidak bisa berhasil membaca dan menulis review lebih dari 200 buku. Ya, dua tahun terakhir hanya membaca dan menulis review 100-an buku. Ternyata itu tidak membuatku bahagia. Lalu aku memutuskan membaca buku-buku bertema pengembangan diri. Ada lumayan banyak buku terbitan PT. Gramedia Pustaka Utama yang aku baca sepanjang 2020. Sebenarnya aku mulai tertarik membaca buku-buku pengembangan diri sejak 2019, tetapi 2020 justru lebih banyak lagi. Meski jumlah buku yang aku baca dan tulis reviewnya di tahun 2020 tidak tembus 100, yang artinya jumlah paling sedikit dibandingkan jumlah bacaan sepanjang sepuluh tahun terakhir sejak punya blog buku ini, tapi aku merasa bahagia. Ada semacam kepuasan setelah membaca buku-buku pengembangan diri ini. Dan buku-buku ini tidak hanya berguna untuk kesehatan mentalku saja, bahkan lumayan banyak teman-teman bahkan anak murid di sekolah yang terbantu dengan buku-buku yang aku baca dengan referensi yang aku berikan.

Total ada sebelas buku bertema pengembangan diri terbitan PT. Gramedia Pustaka Utama yang aku baca sampai 2021 ini. Apa sajakah itu? Berikut buku-buku pengembangan diri terbitan PT. Gramedia Pustaka Utama yang membuatku perlahan keluar dari masalah kesehatan mental. Pertama, ada buku Berani Tidak Disukai yang ditulis oleh Ichiro Kishimi & Fumitake Koga

This image has an empty alt attribute; its file name is 9.jpg

Poin dari buku ini seperti judulnya bahwa ‘tidak ingin dibenci’ barangkali adalah tugas kita, tapi apakah orang ini atau orang itu tidak menyukai kita atau tidak bukanlah tugas kita. Sekalipun ada seseorang yang tidak berpikir baik tentang kita, kita tidak bisa mengintervensinya. Ibarat wajar kalau seseorang berupaya membawa seekor kuda ke air. Tapi apakah kuda itu minum atau tidak, itu bukan tugasnya.

Keberanian untuk bahagia juga mencakup keberanian untuk tidak disukai. Ketika kita sudah memperoleh keberanian ini, seluruh hubungan interpersonal kita akan segera berubah menjadi sesuatu yang ringan.

Pesan moral dari buku ini adalah jika seseorang hidup dengan cara memuaskan ekspetasi orang lain, dan memercayakan hidup pada orang lain, itu adalah cara hidup orang yang sedang mendustai diri sendiri, dan dia memperpanjang dustanya pada orang-orang di sekitarnya. Jadi mulai sekarang, harus berani tidak disukai! 🙂

This image has an empty alt attribute; its file name is 4.jpg

Kedua, ada buku Jangan Membuat Masalah Kecil Menjadi Masalah Besar yang ditulis oleh Richard Carlson.

Ada satu bahasan yang sangat menarik kita terapkan dalam buku ini. Poin ke 27 tentang ‘bayangkan orang-orang dalam hidup kita sebagai bayi mungil dan sebagai orang berusia seratus tahun.’ Ya, bayangkan pikirkan orang yang membuat kita sakit hati, yang membuat kita marah. Pejamkan mata kita dan cobalah membayangkan orang ini sebagai bayi mungil yang tak berdosa. Sadarilah bahwa semua bayi, tak bisa tidak, pasti berbuat salah dan setiap orang, termasuk kita, pernah menjadi bayi. Lalu, sekarang putar waktu menjadi seratus tahun. Lihat orang yang sama sebagai orangtua yang sebentar lagi akan meninggal. Pandanglah matanya yang lelah dan senyumya yang lembut, yang melambangkan sedikit kebijakan dan pengakuan akan kesalahan-kesalahan yang telah diperbuatnya. Sadarilah bahwa setiap orang termasuk kita akan berusia seratus tahun, hidup atau mati, tak lama lagi. wah.. iya juga ya, kayaknya poin ini bakal aku terapin di kehidupan sehari-hari, semoga mujarab x))

Bila suasana hati kita buruk, bukannya menyalahkan suasana hati, kita justru cenderung merasa bahwa seluruh hidup kita salah. Sepertinya kita percaya bahwa hidup kita telah hancur berantakan dalam waktu satu atau dua jam yang lalu. Kenyatannya, hidup hampir tidak pernah seburuk seperti yang terlihat bila kita berada dalam suasana hati yang buruk. Daripada terjebak dalam temperamen yang buruk, yakni melihat hidup secara realistis, kita dapat belajar mempertanyakan penilaian-penilaian kita. Suasana hati yang buruk bukanlah saat yang tepat untuk menganalisa hidup kita. Melakukannya sama saja dengan bunuh diri emosional. Bila kita memiliki problem yang mendasar, problem itu akan tetap ada bila keadaan pikiran kita membaik. Kiatnya adalah merasa bersyukur akan suasana hati yang baik dan bersikap tenang dalam suasana hati yang buruk. Lain kali, bila kita merasa suasana hati kita sedang buruk, karena alasan apa pun, ingatkan diri kita: Ini akan segera berlalu. Pasti.

This image has an empty alt attribute; its file name is 6.jpg

Ketiga, ada buku Tak Mungkin Membuat Semua Orang Senang yang ditulis oleh Jeong Moon Jeong. Orang-orang yang menyelinap ke ruang pribadi kita biasanya adalah orang-orang yang tidak mengenal baik diri kita. Walaupun harus berhadapan dengan mereka, kita tidak perlu berbagi perasaan kita. Kita tidak perlu membuka ruang pribadi kita untuk orang-orang itu. Ada juga orang-orang yang tidak memahami personal space dan berpikir mereka boleh seenaknya datang mendekat walaupun kita belum siap. Jika ingin melanjutkan suatu hubungan menurut keinginan kita sendiri tanpa ditarik ke sana kemari oleh orang lain, kita harus berpegang teguh pada cara kita sendiri. Tidak mudah mempertahankan ruang pribadi kita dan tetap tenang, tetapi hal itu berharga dilakukan. Karena berhubungan dengan bagaimana kita melindungi diri sendiri.

This image has an empty alt attribute; its file name is 5.jpg

Tak Masalah Menjadi Orang Yang Introver yang ditulis oleh Sylvia Loehken adalah buku keempat yang aku baca.

Orang-orang introver tidak mengisi baterai dengan cara sama seperti rekan-rekan mereka yang ekstrover. Mereka memerlukan ketenangan, senang menyendiri dan melakukan perenungan guna mendapatkan kembali energi mereka. Selain itu, mereka juga menggunakan energ yang relatif lebih banyak ketika berkomunikasi dengan orang lain, terlebih dalam perbincangan santai atau dalam situasi yang sangat emosional seperti ketika mengadapi konflik dan ketika berinteraksi dengan kelompok-kelompok besar.

Bagi kaum introver, masa istirahat adalah kebutuhan utama yang tidak dapat ditawar. Apabila tidak sempat beristirahat karena terlampau sibuk, akibat buruknya akan cukup besar: sosok introver tanpa peluang untuk menyendiri akan mengalami fase ‘tanpa daya’ jika energi yang dikuras terlalu banyak. Mereka juga akan jadi malas berbiara, apalagi berdiskusi, dan menghindari datang ke acara-acara sosial, karena semua itu terlalu melelahkan untuk dilakukan tanpa disertai istirahat yang memadai.

Tidak banyak orang introver yang senang bertelepon. Banyak sosok introver merasa terganggu ketika telepon berdering. Ini berlaku khususnya bagi orang-orang yang senang bekerja di sebuah proyek jangka panjang, tetapi itu juga berlaku secara umum: dering sebuah telepon membuat kita kehilangan konsentrasi, bahkan energi. Pribadi introver merasa agak tertekan ketika harus menerima telepon. Oh ternyata memang introver tuh ternyata punya kecenderungan malas mengangkat telepon ya, sama seperti aku, nomer yang dikenal aja malas diangkat dan baru akan diangkat setelah beberapa kali telpon yang artinya penting, dan jangan harap nomer tidak dikenal bakal diangkat, hahaha… x))

Demam panggung adalah bentuk rasa takut atau kecemasan di tingkat sedang, sebelum tampil di depan umum. Banyak keuntungan yang dapat dimanfaatkan dari kondisi ini: dosis adrenalin sekecil apa pun akan membuat orang terjaga dan waspada ketika berhadapan dengan orang banyak.

Yang menjadi masalah dari adrenalin bukanlah dosisnya. Dampaknya akan menjadi negatif apabila demam panggung berubah menjadi rasa takut untuk tampil di depan umum. Ini juga aku banget. Selama ini sering banget nolak tawaran sebagai pembicara seperti di seminar, worskhop ataupun bimteka. Bukannya pelit, tapi aku tuh kalo ngomong di panggung depan banyak orang, biasanya nge-blank. Beda kalo ngobrol rame di depan orang banyak yang memang kita kenal, aku banyak nyerocosnya. Dan untunglah pekerjaanku ini nggak mengharuskan tampil di depan publik. Berhadapannya bersama ribuan buku alias benda mati, wkwkwk.. x))

Suka menyendiri, sering lelah jika di tempat keramaian yang tidak kita kenal, malas menerima telepon, dan demaam panggung, fix-lah aku ini masuk kategori introver. Dari sekian banyak tokoh yang memiliki sifat introver yang disebutkan dalam buku ini, yang paling mendekati mirip karakter aku adalah Christine di halaman 93-95. Seperti apakah Christine? Baca aja bukunya langsung x))

This image has an empty alt attribute; its file name is 3.jpg

Going Offline adalah buku kelima yang aku baca ini ditulis oleh Desi Anwar. Ada banyak bahasan menarik yang kita simak tentang pergulatan batin antara dunia maya dan dunia nyata. Pertama, tentang sosial media. Saat kita sibuk, selalu dipenuhi dengan berbagai hal yang harus dikerjakan, apa yang benar-benar kita kerjakan atau perhatikan? Ke mana kita memfokuskan mata dan menunjukkan pikiran? Untuk seumuranku, sebagian besar sudah menarik diri dari sosial media. Kenapa? Selain karena tuntutan pekerjaan yang ada etikanya, tak ada waktu, mulai tidak nyaman, dan yang terakhir adalah merasa resah dengan apa yang kita posting: apakah disukai orang lain, apakah ada komentar negatif, bahkan apa ada yang peduli dengan postinganya kita yang tentunya meninggalkan rasa kecemasan yang berlebih. Sejujurnya, meski aku aktif di dunia maya; facebook, instagram maupun twitter, tidak menjadikannya beban moral. Tidak peduli juga sih berapa like yang didapat. Toh, sampai saat ini juga tidak semua postingan selalu mendapat like yang banyak. Hanya kadang-kadang saja dapat like banyak, tapi lebih banyak postingan dengan like sedikit sih, hahaha… x)) Apa alasannya? Kita bertanggung jawab penuh atas apa yang kita posting. Tidak peduli dengan berapa hasil like yang kita dapatkan di setiap postingan. Ada banyak sebab kenapa aku masih aktif di sosial media. Pertama, untuk arsip diri. Ini manfaatnya banyak banget. Salah satunya adalah membawaku menjadi finalis pustakawan berprestasi di tingkat nasional dengan membahas promosi perpustakaan melalui media sosial. Kedua, meski aku tampak aktif di sosial media, sampai sekarang aku tidak pernah membahas urusan rumah maupun relasi. Lebih baik posting makanan, ketimbang posting gebetan yang belum tentu sampai pelaminan, repot kalo musti apus-apus postingan di sosmed, ngerusak feed, hahaha… x))

Kedua, tentang penggunaan handphone. Begitu mudahnya kita mencurahkan is hati dan pikiran kita ke gawai karena itu benda mati yang tidak balas menatap kita, tidak menghakimi, tidak menyalahkan atau membantah atau menentang kita. Tanpa kita sadari, ternyata banyak sekali pertemuan-pertemuan atau kegiatan-kegiatan dengan mengumpulkan banyak orang tapi masing-masing justru malah sibuk dengan gawainya. Dari dulu, meski aku aktif di sosmed, tapi kalo posting cenderung latepost gitu. Lebih senang menikmati suatu momen, postingnya setelah acara tersebut berlalu. Sama halnya posting makanan; makannya udah kapan hari, tapi foto makanannya baru diposting, tergantung mood dan feed x))

Ketiga tentang kejamnya dunia maya. Tanpa disadari, kini banyak polisi sosmed alias netizen suka banget komentar tentang postingan orang lain. Jangankan artis yang jelas-jelas selain punya fans tapi juga pasti punya banyak haters, kita sebagai manusia tentu juga selain memiliki banyak orang yang menyukai kita, tapi tentu saja ada yang tidak menyukai kita. Sebab kita hanyalah manusia biasa; punya kelebihan, tentu juga punya kelemahan. Di usia dewasa, kita semakin sadar bahwa tidak perlu membutuhkan banyak teman. Sebab lebih banyak sahabat yang bisa mengerti kita dalam keadaan suka maupun duka dibandingkan punya followers tapi sebenarnya kita tidak kenal satu sama lain.

This image has an empty alt attribute; its file name is going-offline.jpg

Lanjut buku keenam ada Mendaki Tangga yang Salah ditulis oleh Eric Barker. Setelah membaca buku ini, benar-benar membuka pikiran tentang hal-hal yang selama ini aku tidak menemukan jawabannya. Pertama, tentang mengapa orang-orang nomor satu di sekolah jarang menjadi orang nomor satu di kehidupan nyata? Ada dua sebab. Pertama, sekolah menghadiahi siswa yang konsisten melakukan apa yang diperintahkan kepada mereka. Nilai akademis hanya memiliki sedikit korelasi dengan tingkat kecerdasan. Tetapi, nilai akademis adalah peramal yang sangat bagus untuk kedisiplinan, kesungguhan, dan kemampuan untuk mematuhi aturan. Penyebab kedua adalah sekolah memberi penghargaan pada kaum generalis. Tidak banyak pengakuan yang diberikan kepada passion atau kemahiran siswa. Tetapi dunia nyata melakukan hal yang sebaliknya. Sekolah memiliki aturan yang jelas, sedangkan hidup sering kali tidak memiliki aturan yang jelas. Ketika ada jalan yang jelas yang harus diikuti, para pencapai akademis itu menjadi bingung dan berantakan. Mengikuti aturan tidaklah menciptakan kesuksesan; ia hanya menghapus ekstremis –ekstrem bagus dan eksrem buruk. Meskipun mengikuti aturan adalah sesuatu yang baik, yang akan menyingkirkan risiko buruk, tetapi sering kali ini juga menyingkirkan pencapaian yang mengguncang dunia. Ini seperti memasang pengatur pada mesin yang mencegah mobil untuk melaju melebihi kecepatan enam puluh kilometer per jam: ini memang memperkecil kemungkinan kita untuk mengalami kecelakaan fatal, tetapi kita juga tidak akan menciptakan rekor kecepatan di darat.

This image has an empty alt attribute; its file name is 8.jpg

Beresin Dulu Hidupmu adalah buku ketujuh yang aku baca, ditulis oleh Gary John Bishop.Hadapi masalah kita saat mereka datang, satu per satu, curahkan perhatian yang diperlukan, lalu lanjutkan perjalanan. Tidaklah akan menolong jika kita mengikat semua masalah itu menjadi satu bundel kebingungan dan membiarkan kebundelan itu membebanimu. Akan diperlukan ketepatan, kesabaran, dan disiplin pikiran. Oleh setiap masalah secara pragmatis dan ciptakan jalan keluar di benak kita. Ingatlah segala sesuatu bisa diselesaikan, dan jika kita tidak melihat jalan keluar, itu berarti kita belum menanganinya.

Seperti banyak hal lain di hidup kita, sebagian dari penolakan kita pada ketidakpastian datang dari ketakutan kita untuk dihakimi orang lain. Dengan cara yang sangat nyata, kita takut pada apa yang dipikirkan oleh kelompok kita dan kemungkinan untuk dibuang ke ketidakpastian rimba liar yang misterius.

This image has an empty alt attribute; its file name is 7.jpg

Kedelapan, ada Living the 80/20 Way yang ditulis oleh Richard Koch. Siapa pun bisa meningkatkan hidupnya dengan menggunakan cara 80/20: penerapan prinsip 80/20 dalam kehidupan kita sehari-hari, dengan tujuan mengurangi kerja keras dan kekhawatiran, dan meningkatkan kebahagiaan serta hasil yang kita inginkan. Kita menggunakan cara 80/20 agar sejalan dengan alam semesta, menciptakan hasil yang lebih baik dengan cara yang lebih mudah. Jika kita berhasil melakukannya, orang lain juga akan merasakan manfaatnnya.

Apa yang akan terjadi jika semua orang menggunakan cara 80/20? Semua orang akan menjadi lebih baik. Masih adakah 20 persen teratas dan 80 persen terbawah dari semua hal? Pasti. Kecuali jika tidak ada peningkatan lebih lanjut yang mungkin dilakukan. Hanya jika kita mencapai utopia atau nirwana –dunia yang sempurna- prinsip 80/20 mungkin tidak lagi berlaku. Untungnya hal itu tidak akan terjadi: kita selalu punya sesuatu untuk ditingkatkan.

This image has an empty alt attribute; its file name is 80-20-1.jpg

Mengatasi Masalah Besar dalam Hidup yang ditulis oleh Richard Carlson adalah buku kesembilan. Jika kita mengalami rasa sakit, carilah seseorang yang dapat menolong kita; seseorang yang dapat menemani kita sementara kita bersedih. Mungkin kita bisa mencari kelompok pendukung untuk orang-orang yang merasa rasa sakit yang serupa. Atau mungkin kita mempunyai seorang teman baik atau bahkan seorang konselor yang dapat menolong. Ketahuilah bahwa kita tidak sendiri dalam kesedihan kita dan bahwa buka hanya tidak apa-apa, tetapi juga layak, jika kita bersedih sesuka hati kita. Ini yang juga alami, biasanya kalau lagi ada masalah, bisa cerita ke teman dekat atau saudara yang bisa dipercaya. Lebih plong dibandingkan menulis status-status galau di sosmed yang kadang justru menambah masalah lainnya. Bercerita kepada orang lain mungkin tidak selalu bisa memberikan solusi, tapi bukan itu poinnya menurutku. Bercerita pada orang lain sebenarnya hanya untuk ingin didengarkan dan justru tidak ingin mendapat banyak solusi ataupun nasehat. Mungkin inilah salah satu faktor kenapa banyak murid yang akhirnya bisa menceritakan keadaan keluarganya dengan beragam problematika, padahal ama Guru BK belum tentu mereka seterbuka itu untuk berterus terang. Ya, mereka hanya mau didengarkan, bukan untuk dinasehati, apalagi dihakimi.

This image has an empty alt attribute; its file name is mengatasi-masalah-besar-dalam-hidup.jpg

Kesepuluh, ada buku Tak Masalah Menjadi Orang yang Berbeda ditulis oleh Kim Doo Eung. Kita semua hebat. Berkat ibu yang melahirkan, merawat dan membesarkan kita ada di dunia ini. ketika seorang dokter berkata, “sangat lemah” dan ikut menyerah bersama jiwa yang lemah, ibulah yang menyelamatkan. Kemudian, ketika seorang guru juga menyerah terhadap anak yang ‘cacat’, ibulah yang membesarkan anak tersebut menjadi orang hebat. Jika ibu tidak ada di dunia ini, banyak kemungkinan, keberanian dan cinta yang tidak akan bangkit. Buku ini membahas puluhan ibu yang melahirkan sosok kuat dan hebat. Tokoh-tokoh yang berpengaruh terhadap perkembangan dunia.

This image has an empty alt attribute; its file name is tak-masalah-menjadi-orang-yang-berbeda.jpg

Terakhir, kesebelas ada buku Loving the Wounded Soul yang ditulis oleh Regis Machdy ini bagus banget. Kita selalu punya pilihan untuk menjadikan depresi sebagai guru yang membuat jiwa bertumbuh atau sebagai momok yang menggerogoti jiwa. Depresi memang sangat menyakitkan, tetapi di sisi lain, kita juga paham bahwa melalui kesakitan kita mendapat kesempatan untuk tumbuh menjadi lebih bijaksana.

Buku ini ditulis berdasarkan pengalaman sang penulis yang sempat mengalami depresi. Sejak sekolah bahkan sampai dewasa, waktunya hanya dihabiskan untuk belajar. Mengikuti berbagai aktivitas, hingga sampai tidak ada lagi waktu untuk istirahat. Dia mengorbankan banyak hal demi menjadi orang terhebat di mata teman-teman dan keluarganya. Kadang mereka juga heran kenapa dia seakan memiliki energi yang tidak habis-habis untuk mengejar cita-citanya.

Belakangan, sang penulis menyadari bahwa yang menjadi bahan bakar energinya adalah perasaan inferior karena sedari kecil dia tidak pernah mendapat pujian dari ayah dan kakaknya, juga tidak merasa dekat dengan teman-temannya. Dari perasaan rendah diri itu, penulis bertumbuh menjadi sosok yang haus akan pujian dan prestasi.

Orang-orang gifted dan high achiever juga cenderung merupakan orang yang perfeksionis. Mereka memikirkan suatu hal secara kompleks dan memiliki banyak pertimbangan, maka disebut dengan natural overthinker. Mereka memang rentan terhadap berbagai permasalahan psikologis karena otak mereka yang lebih aktif.

Demikianlah buku-buku pengembangan diri terbitan PT. Gramedia Pustaka Utama yang mengubah hidupku selama setahun terakhir. Terima kasih, selama setahun terakhir ini membantuku keluar dari masalah kesehatan mental. Sukses terus buat PT. Gramedia Pustaka Utama, terus menelurkan buku-buku yang mendukung Indonesia khususnya dalam bidang literasi. Selamat ulang tahun yang ke 47, #BersamaBeradaptasi 🙂

Tulisan ini diikutsertakan dalam event #BersamaBeradaptasi #GPU47 yang diselenggarakan oleh Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama

Image
Image
Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s