buku, resensi

REVIEW Sweet Karma

Sampai kapan menghabiskan waktu untuk kerja dan lupa cari pasangan? (hlm. 22)

HUGO. Dia menyadari bahwa dia gagal untuk sekedar menghadapi kenangan buruknya. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia menyerah pada amarah. Memasak tidak bisa membuatnya cepat berdamai dengan luka. Tapi, ada sedikit rasa puas mengaliri dirinya. Luapan emosi yang dihadirkan senyum sinis tersungging di bibirnya, seperti sebuah pintu masuk untuk melupakan luka.

Semua staf dapur tahu kalau mereka harus mampu mengolah sajian dengan sempurna, cepat dan teratur. Jangan mengusik peraturan yang dibuat Hugo Pierre atau tak ada lagi celemek gastropub kebanggan yang dapat mereka kenakan.

Bagi Hugo, tak ada gunanya berbaik-baik dengan para staf. Dia merasa bisa menghentikan karier chef mana pun di gastropub. Dia merasa berhak dan mampu bersikap demikian, bukan hanya karena dia salah seorang pemilik saham di gastropub ini, melainkan juga karena dia tidak sepenuhnya percaya pada staf dapurnya sendiri. Hugo Pierre memang menjadi mimpi buruk bagi mereka yang bekerja di dapur gastropub ini. Hugo seperti bom waktu. Dia menyimpan begitu banyak amarah yang dapat meledak kapan saja.

Dia hanya perlu melampiaskan kebutuhan, yang sayangnya, tak pernah berhenti datang. Hingga Hugo tiba pada satu kesimpulan: wanita-wanita itu selalu terasa sama. Hanya semanis glukosa lengket. Glukosa lengket yang ada di dapur pastry memang terasa manis, tetapi tidak seperti aroma manis karamel yang Hugo suka dan tidak ada aroma seperti aroma manis karamel yang sempurna. Tidak juga berwarna secantik amber, seperti yang dihasilkan karamel. Bagi Hugo, glukosa lengket yang ada di dapur pastry hanya menyisakan dua kesimpulan: manis dan membosankan. Seperti itulah pandangan Hugo terhadap wanita.

Pada akhirnya, Hugo tiba di titik yang membuatnya merasa bias. Dia jenuh dan merasa tidak butuh. Selama dua tahun lebih, Hugo sempat memutuskan tidak menanggapi ucapan-ucapan menggoda mengenai kekokohan jemari tangannya. Kesendirian membuatnya kembali menenggelamkan diri ke dalam buaian puisi dan prosa klasik –hobi lama yang diwariskan ibunya.

Karena kejenuhan itu pula, dia bahkan menjual rumah peninggalan ibunya yang cukup mewah demi memiliki sebuah rumah perahu, selain sebuah rumah sederhana di daratan. Di rumah perahunya, dia memang lebih memilih menghabiskan malam dengan wiski, puisi, dan sastra klasik.

Bahkan, karena sebuah roman klasik, dia kembali jatuh cinta pada Jane Eyre, wanita yang dimata Hugo memiliki selera seribu maaf kepada orang yang dicintainya. Dia mengagumi karakter Jane Eyre yang sudah dikenalnya sejak remaja lewat buku milik mendiang ibunya. Dan, ketika kembali menyelaminya, Hugo justru berharap dapat belajar memaafkan masa lalunya sendiri. Dia pun mulai berharap lebih. Dia ingin menemukan Jane Eyre-nya sendiri. Dulu, dia sempat mengira Naomi adalah Jane Eyre-nya. Namun, wanita itu justru memberinya masa lalu yang teramat dia benci.

“Waktumu habis untuk bekerja. Kamu itu perempuan. Sampai kapan akan terus menghabiskan waktu seperti itu dan melupakan kenyataan bahwa usiamu sudah lebih dari cukup untuk berkeluarga?” (hlm. 19)

 AUDREY. Beranjak dari Kota Marlow, di sebuah kota di Indonesia, ada wanita yang selalu merasa hidup dalam dilema akibat sekelumit cinta masa lalu. Wanita itu juga mencintai tajamnya mata pisau terasah dan karya sastra terbalut kata-kata indah nan klasik. Dia meredam keinginannya sendiri karena dilema, sekaligus menyimpan keinginan kuat untuk menemukan takdir hatinya. Dia mencari cinta dalam sosok yang dapat menghargai dirinya secara pantas dan apa adanya.

Audrey bekerja sebagai executive chef, sebuah jabatan tertinggi dalam dapur industri di Brasserie Alinea9. Brasserie Alinea9 adalah sebuah restoran berkonsep brasserie yang dimiliki seorang pengusaha restoran, Tobey Aditya –yang biasa disapa Obi oleh Audrey- yang juga merupakan sahabat baik Audrey.

Bekerja sebagai chef bukanlah hal mudah bagi Audrey. Perempuan itu harus menghadapi dominasi para pria hingga peralatan dapur yang besar dan berat, juga jam kerja yang panjang. Dedikasi penuh harus diberikan Audrey, buatnya tak ada masalah karena dia sangat mencintai pekerjaannya ini. Hanya saja, keluarganya, terutama sang mama selalu menyesalkan keputusan Audrey yang memilih bekerja sebagai chef.

Rentetan pertanyaan seputar kapan menikah dari sang mama selalu membuat Audrey terpojok. Audrey tidak membenci pernikahan. Hanya saja, dia selalu yakin, memilih pasangan tidak semudah menghirup udara. Memilih pasangan bukan lagi tentang menemukan kekasih dalam sekali pandang saja –seperti saat usianya masih di awal dua puluh tahun. Saat ini, Audrey memutuskan, dalam menemukan cinta perlu perhitungan matang dan realistis. Dia mendamba pria yang mengerti dirinya, keinginan dan pekerjaannya sebagai chef yang banyak menyita waktu.

Audrey pun menginginkan pria yang berdedikasi tinggi pada impiannya sendiri. Selama ini, Audrey merasa belum menemukannya. Meskipun memang, dulu pernah ada yang bersamanya. Bagi Rob, Audrey punya jiwa seperti semangkuk sup consomme: sederhana, membumi, dan hangat. Jiwa yang menurut Rob dapat mengajari Hugo tentang arti sebuah kepercayaan. Entah mengapa Rob merasa yakin, suatu saat Audrey dapat meluluhkan arogansi dan amarah Hugo yang sudah menempel layaknya lumut berusia jutaan tahun.

Namun, di luar kegiatan memasak, Audrey sering merindukan ayahnya. Berkali-kali, dia bermimpi ayahnya mendatanginya, lalu duduk di sebuah kursi putih untuk membacakan buku cerita atau mengajarinya memasak. Mimpi-mimpi semacam itu seolah hanya menjadi titipan kenangan untuk mengobati kerinduan.

Ada kehampaan yang Audrey rasakan saat akhirnya pagi datang dan menghentikan mimpi-mimpinya. Tak jarang, juga terselip perasaan rindu yang berbeda. Rindu yang dia sendiri tidak tahu ditujukan untuk siapa.

Dia tahu, kesedihan bisa meredam semangatnya. Kesedihan, bagi Audrey seperti halnya perasaan rindu kepada ayahnya –hanya dapat disembuhkan saat dia berada di dapur. Baginya, berada dan bekerja di dapur adalah obat mujarab. Obat yang mampu menyembuhkannya dari beragam kesedihan, kekecewaan bahkan amarah.

Tidak mudah menemukan cinta sejati. Ada beberapa orang yang beruntung bisa mencintai dan memiliki seseorang yang mereka cintai. Namun, ada sebagian lain yang tidak seberuntung itu, selalu kehilangan, dan tak bisa memiliki orang yang mereka cintai. Bisa jadi, itu memang sudah takdir, tetapi bisa jadi karena mereka belum bisa berdamai dengan hati mereka sendiri. (hlm. 276)

Baik dari sisi Hugo maupun sisi Audrey, dunia perdapuran sangatlah kental terdeskripsikan dengan baik. Dunia kuliner di sini nggak hanya sekedar tempelan belaka. Dari awal baca, ngebayangin Hugo ini kayak Chef Juna. Terus, si Aundrey kayak Chef Rennata Moelek. Nah, Obi sahabatnya Audrey, kayak Chef Arnold yang juga punya usaha tempat makanan. Kayaknya ini bagus kalo di angkat ke layar lebar meski agak susah karena settingnya kudu di luar negeri yang artinya akan memakan biaya produksi yang tidak sedikit, hehehehe… x))

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Ada kalanya, sebagai seorang ibu, terasa berat melepas anak perempuan jauh dari rumah. (hlm. 59)
  2. Masih ada waktu untuk hidup tanpa penyesalan. (hlm. 59)
  3. Di mana pun kita bekerja, tantangan pasti selalu ada, kan? (hlm. 79)
  4. Kehilangan seseorang yang kita cinta sering kali terasa seperti takdir yang terjadi begitu cepat. (hlm. 233)
  5. Cinta hanya komoditas, sebuah kamuflase sempurna untuk memuaskan hasrat semata. (hlm. 243)

Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Ada hari baik, ada pula hari buruk. (hlm. 11)
  2. Kata orang, terkadang cinta bisa hadir dari kelezatan masakan loh! (hlm. 23)
  3. Orang yang selalu mengedepankan amarah tak pantas memimpin dapur mana pun! (hlm. 29)
  4. Pengalaman memang penting, tapi sikap jauh lebih penting. (hlm. 31)
  5. Kamu bilang, sikap yang jauh lebih penting. Lalu, bagaimana dengan sikapmu sendiri? (hlm. 31)
  6. Bagaimana kamu bisa mengharapkan kelembutan kembali merengkuhnya, jika dia selalu menolak memercayai orang lain? (hlm. 35)
  7. Uang memang penting, tapi bukan yang terpenting bagiku. (hlm. 40)
  8. Kalian harus membuat keputusan bersama. Tolong buang keegoisan kalian masing-masing. (hlm. 49)
  9. Ada kalanya, ada jeda untuk merasa ragu saat mengambil sebuah keputusan. (hlm. 55)
  10. Jadi, kamu menyerah? Tidak berani menerima orang yang sudah berani melawanmu di sini? (hlm. 85)
  11. Tidak semua hal di dunia ini perlu alasan. (hlm. 186)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Sweet Karma

Penulis                                 : Ayudewi

Editor                                    : Yuke Ratna

Penyelaras aksara            : Tesara Rafiantika

Penata letak                       : Dipa Sandi Dewanty

Tata letak                            : Gita Ramayudha

Desainer sampul              : Amanta Nathania

Penerbit                              : Gagas Media

Terbit                                    : 2015

Tebal                                     : 300 hlm.

ISBN                                      : 978-780-808-4

1 thought on “REVIEW Sweet Karma”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s