Uncategorized

REVIEW The Rising Star

“Cinta memang bagian hidup kita. Kamu harus bersyukur. Bukan merasa berbeda.” (hlm. 197)

Bisa tergabung dengan RR Production dan Manajemen Artis adalah impian Alexa sejak mendapati kenyataan bahwa Papa yang dulu begitu ia banggakan sekarang hanya bisa duduk di kursi roda, tidak produktif, tidak bisa mencari nafkah apalagi membiayai kuliahnya. Padahal sejak kecil Alexa punya cita-cita yang selalu ia kumandangkan penuh bangga tiap kali ada yang bertanya tentang cita-citanya. Sekarang Alexa lebih memilih meninggalkan impian itu dan berputar seratus delapan puluh derajat, memilih profesi yang dulu tidak pernah dia bayangkan akan menjadi masa depannya. Mengubah cita-cita mulianya.

Takdir ternyata menggiringnya ke RR Production. Menjadi salah satu artis junior yang mungkin terpilih karena Tuhan benar-benar kasihan padanya. Sebab sesungguhnya, Alexa tidak suka tampil di depan umum. Apalagi berdandan menor, berpose centil, serta beradu akting. Ia risi.

Sampai saat ini masih beragam tanya masih menyesaki otaknya. Khususnya tentang masa depannya. Benarkah ini langkah yang tepat? Alexa hanya tahu pekerjaan ini cocok dengan situasinya saat ini. Cukup untuk membantu biaya perawatan papanya. Meskipun belum benar-benar mencukupi.

Beberapa orang mengatakan ia beruntung. Beberapa lagi mengatakan ia putus asa. Tercebur di dunia tak pasti. Profesi ini tak seperti yang terlihat di layar kaca. Butuh keberuntungan untuk mencapai level tertentu sehingga dilimpahi banyak materi, menjadi mahsyur dan dielu-elukan. Tetapi Alexa pantang menyerah. Ia yakin usaha kerasnya akan membuahkan hasil. Suatu hari nanti. Entah apa.

“Begini Alexa, untuk meningkatkan pamor, kita butuh skandal yang membuat masyarakat mengingat Juna. Butuh sesuatu yang ekstrim, menyentak dan mendramatisir. Meski isu yang diangkat keburukan, tapi akan terpatri dalam hati masyarakat.”

“Kenapa saya?”

“Karena belum banyak yang mengenal kamu. Kita tidak akan rugi. Kamu paling junior di sini. Jika skandal ini meledak, kamu juga dapat keuntungan. Pamormu ikut naik.”

“Jika saya menolak?”

“Dikeluarkan dari RR.”

Alexa geram. Mendadak wajah papa dan Arya muncul. Alexa masih ingat saat susah payah meminta persetujuan keduanya. Sekarang, haruskah ia menyerah? Skandal kehamilan bukan hal biasa bagi perempuan lajang seperti dirinya. Apalagi papa cukup disegani di kompleks tempat tinggal Alexa tinggal. Bagaimana ia menjelaskan? Tetapi jika menyerah sekarang, semua yang ia lakukan sia-sia. Ini belum setengah jalan. Alexa melihat ada masa depan di RR, ia merasa suatu hari nanti dapat menanjak seperti yang lain. Alexa akhirnya harus memulai menapaki kariernya dengan menjadi sampah x))

“Sekarang papa lebih sehat. Aku naik jabatan. Aku juga kerja sampingan di Forex, hasilnya lumayan. Jadi kamu nggak perlu membantu pengobatan papa. Lex, kali ini dengarkan aku. Berhenti dari RR, sekarang juga.” (hlm. 34)

Arya berharap dunia berhenti berputar. Atau paling tidak berporos pada dunia saja. Tanpa papa. Tanpa selembar surat adopsi. Ia ingin, satu kali dalam hidupnya, menjadi pria bebas. Kemudian menikahi Alexa tanpa harus memikirkan pendapat orang lain mengenai dirinya yang begitu tidak tahu malu mencintai adik angkatnya sendiri. Namun, ini dunia nyata. Sekuat apa pun Arya mengelak, kenyataan tetap tidak dapat dimungkiri. Ia dan Alexa tetap menjadi saudara angkat.

Membaca kisah Alexa ini jadi mengingatkan para artis-artis pansos di Indonesia yang mulai menjamur. Menjadi jalan pintas menuju terkenal. Image negatig nggak masalah, yang penting terkenal. Beda banget dengan artis Korea yang tuntutannya berat, harus tampil sempurna, celah dikit langsung ambless karir x))

Jika Alexa di novel ini (terpaksa) melakukan drama setting-an lewat twiter yang kala itu memang booming, semenjak 2017-an mulai banyak yang sengaja melakukan drama setting-an lewat instagram. Cuma mikir ama kelakuan mereka, dimanakah urat malunya? Aku aja yang nonton malu sendiri liatnya, hahaha…. x))

Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Untuk menjadi terkenal, harus ada yang dikorbankan. (hlm. 21)
  2. Anak muda zaman sekarang, mencari popularitas kok ya aneh-aneh. Kamu jangan seperti itu. Tunjukkan lewat prestasi. (hlm. 26)
  3. Kalau nggak pengin dicueki, cari topik dong. (hlm. 43)
  4. Tidak salah jadi yang terburuk bila belum mampu jadi yang terbaik. (hlm. 64)
  5. Tidak hanya artis stripping yang bisa lelah. Tergantung daya tubuh masing-masing. (hlm. 140)
  6. Jangan rusak keutuhan keluarga dengan cinta kita. (hlm. 157)
  7. Cinta itu harus dewasa. Mempertimbangkan bibit, bobot dan bobotnya. Apa untungnya untuk masa depanmu? Bukan sekadar dorongan hati. (hlm. 195)
  8. Mencintai bukan segalanya. Kamu boleh mencintainya. Tetapi bukan berarti harus memilikinya. (hlm. 197)

Keterangan Buku:

Judul                     : The Rising Star

Penulis                 : Angelique Puspadewi

Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                    : 2015

Tebal                     : 232 hlm.

ISBN                      : 978-602-03-1385-6

1 thought on “REVIEW The Rising Star”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s