buku, resensi

REVIEW Voice

“Ah, ya udahlah, Mbak. Mau dipanggil mas kek, mbak kek, toh mereka juga nggak akan peduli.”

“Tapi gimana Kir kalau ada cewek yang naksir suaramu? Ya kan … bisa aja. Coba kamu jadi penyiar radio deh.”

“Hah, nggak deh. Bicara dengan pelanggan aja gugup gini, apalagi harus cuap-cuap sendiri di depan mikrofon.” (hlm. 8)

KIRANA. Suaranyalah satu-satunya modal Kirana. Ia tidak bisa masuk kerja jika mendadak flu atau kehabisan suara karena batuk atau sakit tenggorokan. Untungnya, sampai saat ini tidak pernah ada masalah itu. Satu-satunya yang menjadi masalah bagi Kirana hanya jenis suaranya yang konon manly dan lebih berat ketimbang suara perempuan pada umumnya.

Manly? Mana ada coba perempuan yang punya suara manly? Ada sih, tapi rasanya aneh, kan? Kirana bisa melihat lehernya yang masih rata tanpa tonjolan jakun. Ia juga pernah ikut tes suara sebelum bekerja sebagai customer service salah satu perushaan telepon seluler swasta ini, dan saat itu jika membandingkannya dengan suara laki-laki lain, rasanya tidak mirip sama sekali.

Mungkin benar, ini pasti karena pengaruh mikrofon yang harus selalu digunakan saat berbicara dengan para pelanggan. Suka tidak suka Kirana harus melakukan pekerjaan ini. Ia hanya lulusan D3 Komunikasi, di masa seperti ini, orang yang punya gelar sarjana agak sulit mencari kerja, bagaimana yang hanya diploma?

“Kalau bicara biasa sih lumayan kayak cewek, Nad. Coba lewat telepon deh, suaranya Mbak Kira langsung berubah gitu jadi suara mas-mas, hahahaha..” (hlm. 29)

Hidup Kirana cukup berat. Ayahnya menikah lagi tujuh tahun yang lalu, bahkan dari pernikahan dengan istri barunya itu, Kirana dan Lintang sudah punya adik perempuan yang manis bernama Nadia. Sayang, hubungannya dengan ibu tiri tidak juga melunak. Sebenarnya ia ingin melanjutkan kuliah. Tapi tentu ia harus mengumpulkan biaya dulu untuk bekerja.

Di masa putus asanya karena berhenti dari pekerjaannya, Kirana mau tidak mau terpaksa menerima tawaran adiknya, Lintang untuk mengikuti sebuah audisi suara tokoh utama dari sebuah game awalnya Kirana kira. Ternyata itu adalah audisi suara untuk sebuah film animasi. Keren kan… 😀

Memang tidak memiliki suara yang sebenarnya unik. Dulu punya teman SMA, yang suaranya tuh manja banget. Banyak yang mengira suaranya dibuat-buat, dibilang centil, sok imut, sok manis, dan lain-lain. Padahal suaranya memang begitu x)) Nggak kebayang tersiksanya Kirana yang suaranya cenderung manly x)) #PukPukKirana

Novel ini menurutku cukup unik. Selain mengisahkan Kirana yang manly banget, ada juga Akira si cowok yang suaranya sweet banget x)) Tidak hanya itu, novel ini juga mengupas tentang proses pembuatan film animasi. Mulai dari pemilihan suara sesuai karakter tokoh, prosess dubbing, sampai pengerjaan poster film. Semua itu melibatkan banyak orang dan juga membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit.

Penulisnya memang cukup akurat dalam menuliskan dengan kisah para dubber ini, soalnya memang terjun langsung. Jadi paham dengan keadaan behind the scene anime yang memang sudah menjadi favoritnya sejak kecil.

Keterangan Buku:

Judul                                     : Voice

Penulis                                 : Ghyna Amanda

Cover                                    : Eduard Iwan Mangopang

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : 2014

Tebal                                     : 192 hlm.

ISBN                                      : 978-602-03—0947-7

1 thought on “REVIEW Voice”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s