Uncategorized

REVIEW Seni Memahami & Menerima Diri

Pemahaman atas diri sendiri akan memandu kita menemukan kelebihan dan kelemahan diri. Namun, setelah proses ini, jangan sampai kita habis-habisan memikirkan kelemahan diri, karena itulah sesungguhya potensi dan kekuatan kita yang selama ini terpendam.

Penemuan atas potensi diri sebenarnya adalah sebuah permulaan yang menjanjikan, sebab dari sinilah kita bisa lebih mantap menentukan rencana dan langkah-langkah kita selanjutnya. Kita patut bersyukur untuk itu, sebab banyak orang yang hingga masa tuanya, tidak pernah tahu apa potensi terbesarnya dalam hidup. Hal ini membuat mereka menjalani hidup apa adanya, tanpa perjuangan memberikan makna dan capaian besar atas potensi tersebut.

Keinginan dan ekspetasi yang terlalu berlebihan, ditambah selalu memandang keluar diri inilah yang membuat kita sulit bahagia dan mencintai diri sendiri apa adanya. Kebiasaan memandang keluar diri berakibat kerap membandingkan diri sendiri dengan orang lain yang kita anggap segala-galanya di atas kita, dan kita sangat berhasrat ingin menjadi seperti orang itu.

Kita lupa pada kenyataan bahwa sesungguhnya, tidak ada manusia dan apa pun yang sempurna di dunia kecuali Tuhan. Dengan pemahaman diri yang baik, kita akan mampu menanggapi dan menyikapi hidup ini dengan lebih matang dan dewasa, sehingga kita akan mampu mencintai diri sendiri apa adanya.

Setiap orang memiliki kelemahan dan kelebihan. Ini harus benar-benar kita camkan dan menjadi landasan bagi kita untuk menyikapi sesuatu yang terkadang tampak ‘wah’, fantasik, dan luar biasa secara sekilas.

Harus kita akui bahwa godaan untuk berkeluh kesah itu dialami banyak orang. Sekali lagi, karena itu bagian dari sifat dasar kita. Akan tetapi, jangan kita turuti dorongan dalam diri sendiri yang tidak baik itu. Kita harus mampu mendidik, menggembleng dan mengarahkan diri sendiri agar mampu keluar dari sifat dasar yang jika dibiarkan, akan menghancurkan diri kita sendiri.

Kebiasaan mudah berkeluh kesah selain dapat menghancurkan diri sendiri, juga menular, yang berarti turut membahayakan orang lain, terutama mereka yang tertular. Jika seseorang bergabung dengan sekelompok orang yang bermentalitas mudah berkeluh kesah, dan ia tidak memiliki kepribadian yang kuat, maka ia akan iku-ikutan menjadi bagian dari ciri kelompok tersebut; mudah berkeluh kesah. Oleh karena itu, kita harus menghindari orang-orang dengan sifat semacam itu.

Hidup ini singkat untuk dibiarkan begitu saja tanpa melakukan kegiatan positif dan produktif. Oleh karena itu, kesadaran tentang waktu mesti kita suntikkan ke dalam diri dan sanubari diri kita. Ya, agar kita memiliki semangat untuk bergerak dan memanfaatkan setiap detik yang kita punya di dunia ini. Pada akhirnya, setiap orang akan dinilai berdasarkan karya dan amal perbuatannya yang baik dan member sumbangsih terhadap kehidupan ini.

Tidakkah berlebihan jika dikatakan bahwa salah satu aspek penting manusia dan menandakan ciri kemanusiaannya adalah pikirannya. Jika kita terus-terusan berpikir buruk, maka orang lain akan mengenali kita sebagai orang yang tidak baik. Sebaliknya, jika kita mampu menunjukkan konsistensi untuk terus berpikir positif, maka orang lain pun akan mengenali kita sebagai orang yang baik.

Sebagaimana pikiran negatif turut memengaruhi setiap tindakan dan orang lain di sekitar kita, begitu pula dengan pikiran positif. Bedanya, jika pikiran negatif mengarah pada hal-hal yang bersifat destruktif dan tidak produktif, pikiran positif akan membawa kita, orang lain dan lingkungan sekitar berbeda pada hal-hal yang bersifat membangun dan produktif.

Berpikir positif sendiri sangat menyehatkan dan membuat orang lebih tahan terhadap stress. Orang yang berpikir positif tak ubahnya seperti orang yang membangun banteng kukuh dalam dirinya sendiri.

Namun, orang yang berpikir negatif tidak hanya tidak membangun banteng kukuh buat dirinya, ia juga menciptakan banyak musuh di dalam dirinya. Pikiran buruknya tak ubahnya musuh-musuh yang diciptakannya sendiri. Ia akan kelelahan dalam menjalani hidupnya, sebab dalam pikirannya, hidup terasa begitu sempit dan tidak ada jalan keluar dari setiap permasalahan yang dihadapinya.

Setiap orang harusnya menjadi bagian integral dari dirinya sendiri. Bahkan bayang-bayang yang dilihat harusnya bayang-bayang dirinya sendiri, bukan orang lain. Namun seringnya, tidak sedikit manusia yang rela menjadi bayang-bayang orang lain. Inilah yang menyulitkannya untuk menerima dirinya sendiri.

Membandingkan diri sendiri dengan orang lain tidak akan pernah ada habisnya. Bisa-bisa yang ada, kita kelelahan sendiri dan stress. Bisa-bisa yang ada, kita kelelahan sendiri dan stress. Oleh karena itu, perlu bagi kita untuk menanamkan keyakinan bahwa sebenarnya apa yang kita butuhkan itu sudah tercukupi.

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Perjalanan hidup itu tidak selalu mulus dan lancer-lancar saja. Sepintar dan secanggih apa pun seseorang, suatu saat tetap akan menemui kesulitan dan kesalahan. (hlm. 7)
  2. Kita membutuhkan orang lain, begitu pun orang lain membutuhkan kita. (hlm. 13)
  3. Jangan sampai kita habis-habisan memikirkan kelemahan diri. (hlm. 16)
  4. Percayalah, sekejam apa pun sebuah kritik, ia tidak akan membuat kita mati. (hlm. 19)
  5. Apa pun permasalahan yang datang kepada kita, harus kita selesaikan. (hlm. 23)
  6. Memahami diri sendiri dan bukan mengutuk diri sendiri, itulah jalan menuju kedamaian batin dan kedewasaan. (hlm. 27)
  7. Tidak ada yang sia-sia dari ciptaan Tuhan. (hlm. 33)
  8. Setiap orang itu seperti bulan, memiliki sisi gelap yang tidak pernah ditampakkan kepada orang lain. (hlm. 38)
  9. Segala yang kita miliki, termasuk kekuatan dan jenis keunggulan apa pun itu, hanyalah pinjaman. (hlm. 44)
  10. Kita harus berani menjadi diri kita sendiri, betapa pun menakutkan dan tidak biasanya diri kita, tapi kita harus tetap membuktikan itulah diri kita. (hlm. 56)
  11. Seringkali orang-orang baru sadar siapa dirinya setelah berada dalam situasi sulit atau menghadapi ujian dan tantangan berat. (hlm. 65)
  12. Manusia hanya perlu berusaha, sedangkan Tuhan yang menentukan segala-galanya. (hlm. 83)
  13. Kesuksesan tidak dibangun dalam semalam atau sehari, tetapi setiap hari. (hlm. 89)
  14. Seburuk apa pun pengalaman kita, tetaplah ada hal baik yang dapat kita ambil sebagai pelajaran. (hlm. 92)
  15. Apa yang kamu pikirkan tentang dirimu itu jauh lebih penting daripada apa yang orang pikirkan tentangmu. (hlm. 105)
  16. Menerima emosi negative yang muncul memudahkan kita untuk melaluinya. (hlm. 140)
  17. Jangan pernah mengatakan hal-hal buruk kepada diri sendiri yang tak akan pernah kita katakan kepada orang lain. (hlm. 145)
  18. Menerima diri sendiri berarti merasa senang terhadap apa dan siapa diri sesungguhnya. (hlm. 157)
  19. Yang terbaik adalah menyudahi tuntutan kesempurnaan diri dan mulai melakukan tindakan nyata. (hlm. 160)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Seni Memahami & Menerima Diri

Penulis                                 : Aba Mehmed Agha

Penyunting                         : Zhivana A. U.

Pemeriksa aksara             : Aditya

Ilustrasi                                 : Firsta Atinda

Layout                                  : Mas Adro

Desain sampul                   : SaveAs

Penerbit                              : Checklist

Terbit                                    : 2021

Tebal                                     : 166 hlm.

ISBN                                      : 978-623-7661-54-2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s