Uncategorized

REVIEW Apakah Takdir Perempuan Sebagai Manusia Kelas Dua?

Mereka yang meyakini ‘teori rahim’ inferioritas perempuan sering melengkapi kesimpulan salah mereka tentang perempuan dengan teori yang sama salahnya mengenai superioritas abadi jenis kelamin laki-laki. Menurunkan ilmu pengetahuan biologi menjadi ilmu fiksi, mereka mengambarkan keluarga patriaki masa kini pada dunia binatang. Bagi mereka keluarga binatang, seperti keluarga manusia, memiliki laki-laki sebagai kepala keluarga, menafkahi dan melindungi istrinya yang bergantung padanya serta anak-anaknya, dan inilah yang membuat dia superior. Pahlawan binatang ini biasanya disebut ‘pejantan dominan’. Sebagaimana yang digambarkan para penulis fiksi, pejantan ini sebagai gambaran suami dan ayah dalam masyarakat patriaki. Bahkan banyak yang lebih fantasis menggambarkan seekor pejantan sebagai pangeran yang dikelilingi harem berisi banyak istri, selir, dan budak perempuan, di mana dia mengontrol hidup dan takdir para betinanya. Apa kebenaran di balik fantasi ini?

Seksualitas jantan dalam dunia binatang tidak membawa serta peran-peran ayah; sebaliknya, sikap petarung yang dikaitkan dengan jenis kelamin jantan membatasi pertumbuhan fungsi-fungsi tersebut. Hanya dalam dunia manusialah dapat kita temui bentuk perkembangan utuh lawan maternitas yang kita sebut sebagai paternitas. Itu muncul ketika laki-laki membebaskan diri dari kontrol langsung biologis –atau naluri- dan menumbuhkan sikap manusia yang baru dan manusiawi. Lewat dan dalam kehidupan sosial, laki-laki mempelajari peran baru seksualitasnya dan pada akhirnya memiliki fungsi-fungsi paternal ayah.

Terkadang juga disebutkan atau disampaikan karena jantan adalah jenis kelamin bersifat petarung, maka mereka memiliki peran ‘pelindung’ bagi keluarga binatang. Pada beberapa spesises primata, jembatan lingkaran pejantan berpusat pada betina dan keturunannya secara tidak langsung menjadi lingkaran luar ‘penjaga’ yang menyembunyikan tanda bahaya pada situasi berbahaya. Tetapi pejantan tidak bertarung untuk melindungi betina dan keturunannya. Mereka bertarung untuk hidupnya sendiri.

Argumen lain yang membuktikan superioritas alamiah dan dominasi laki-laki dan perempuan adalah fakta bahwa sebagian spesies jantan lebih besar dan memiliki kekuatan otot yang lebih besar. Jelas bahwa sikap petarung jantan memiliki peran dalam pertumbuhan otot.

Tetapi salah jika disimpulkan bahwa otot besar tersebut melambangkan superioritas jantan atas betina; ini hanyalah keunggulan pejantan dalam bidang kekuatan atau pejantan lain yang lemah. Secara alami, betinalah yang menentukan menerima atau tidak seekor pejantan dalam lingkaran mereka, dan ini juga berlaku pada jantan yang terkuat sekalipun. Kesempatan ini hanya terjadi selama jantan bersikap baik dan hanya selama betina merasa nyaman menerima kehadirannya. Ini dapat dilihat pada saat betina muncul untuk melahirkan, betina ditinggalkan sendiri oleh pejantan.

Oleh sebab itu terjadi kesalahan interpretasi yang menjijikan atas kehidupan dan perilaku binatang jika betina disebut tidak berdaya dan tidak mandiri sehingga tidak akan selamat tanpa perlindungan dan pengawasan dari ‘pejantan dominan’ dengan berperan sebagai suami dan ayah. Keluarga ayah adalah lembaga manusia yang ekslusif, terlebih lagi, tumbuh dengan sangat terlambat dalam sejarah sosial, bertepatan dengan pengembangan kepemilikan pribadi dan pembagian kelas. Dengan demikian, mitos ‘keluarga-ayah’ binatang berjalan beriringan dengan ‘teori rahim’ inferioritas perempuan. Fakta sebenarnya tentang biologi dipelintir dan dipalsukan untuk menyembunyikan akar sosial penindasan perempuan.

Kesalahan besar yang dilakukan oleh mereka yang dibutakan atas asumsi superioritas jenis kelamin laki-laki karena mereka tidak melihat produksi sosial perempuan primitif yang luas ini dianggap hanya sekedar kerja sederhana dalam lingkungan keluarga kecil. Tidak ada rumah tangga pribadi yang terisolasi, tertutup, dan privat dalam sistem klan primitif, seperti halnya tidak ada kelas penguasa yang menurunkan perempuan menjadi budak keluarga sebagai bagian dari kerja mereka. “Rumah tangga” primitif adalah tiang kehidupan komunal dan menggambarkan bentuk awal pabrik, laboratorium, pusat kesehatan,sekolah dan pusat sosial. Perempuan dalam komunitas matriarkal, bekerja secara kolektif, tidak memiliki sedikitpun persamaan dengan penerusnya saat ini, yang bekerja sendiri-sendiri dalam lingkup kecil rumah tangga.

Kita dapat menerima kesimpulan bahwa laki-laki memiliki karakteristik pejuang yang membuat mereka beradaptasi dengan kerja berburu. Tetapi kesimpulan bahwa perempuan tidak mampu berburu karena bentukan biologis mereka yang cacat akibat adanya rahim harus dibantah. Kita hanya perlu menelitis perilaku hewan karnivora, binatang pemburu, untuk melihat bagaimana cepat dan dan ahlinya seekor betina berburu sama halnya dengan jantan. Tidak ada cacat yang dapat dikaitkan dengan rahim jika berkaitan dengan kemampuan berburu singa betina terhadap singa jantan.

Menurut propaganda yang berlaku, pembagian kerja antar jenis kelamin selalu sama, di mana pekerjaan perempuan terikat dengan rumah dan keluarga. Sejak sejarah awal umat manusia hingga saat ini pembagian kerja antar jenis kelamin diyakini telah menjadi pembagian antara suami dan istri dalam keluarga. Suami keluar untuk bekerja, sedangkan perempuan tinggal di rumah untuk mengurus rumah tangga dan anak-anak. Sebagian perempuan dalam gerakan pembebasan marah karena suaminya dibayar untuk pekerjaannya sedangkan istrinya tidak. Tetapi ketidakadilan yang ada jauh lebih dalam dari ini. Melibatkan aksi-aksi, ketergantungan, budaya kehidupan steril di mana perempuan terkurung dalam lingkup domestik dan melakukan tugas-tugas yang membodohkan.

Perempuan dicabut haknya atas kerja-kerja yang memungkinkan mereka memiliki kemandirian ekonomi; kerjaan tersebut hanya disediakan untuk laki-laki. Pernikahan dan keluarga dianggap sebagai karir terbaik yang dapat diraih perempuan. Kontrasepsi reaksioner dan hukum aborsi memaksa perempuan untuk melahirkan anak, baik dia menginginkannya ataupun tidak, dan harus mengasuhnya tanpa adanya pusat penitipan anak sehingga setiap perempuan menanggung beban pengasuhan anak seorang diri.

Oleh karena itu, sedikit demi sedikit, ketika perempuan dilucuti dari kemandirian ekonominya, maka harga diri sosialnya jatuh. Pada masa awal masyarakat kelas, perempuan disingkirkan dari kerja-kerja sosial dan kepemimpinan sosial menjadi pekerja produktif pertanian berbasis keluarga, bekerja bagi suaminya untuk rumah dan keluarganya. Tetapi dengan perpindahan produksi produksi perkebunan berbasis keluarga ke keluarga inti dalam kehidupan industri perkotaan, perempuan semakin terdorong dari pijakan terakhirnya.

Perempuan kemudian diberi dua alternatif yang menyedihkan. Mereka dapat mencari perlindungan dari suami sebagai pencari nafkah dan ditakdirkan menjadi ibu rumah tangga dalam rumah petak atau apartemen di perkotaan untuk membesarkan generasi budak upahan berikutnya. Atau yang paling miskin dan paling tak beruntung bisa menjadi pekerja marjinal di pabrik-pabrik (bersama dengan pekerja anak) membanting tulang sebagai bagian dari tenaga kerja rendah dan diupahi paling murah.

Selama beberapa generasi terakhir pekerja perempuan telah melakukan perjuangan sebagai pekerja upahan atau berjuang bersama laki-laki untuk meningkatkan upah dan kondisi kerja mereka. Tetapi perempuan sebagai ibu rumah tangga yang bergantung kepada laki-laki tidak memiliki sarana perjuangan sosial seperti itu. Mereka hanya bisa mengeluh atau mengalami perselisihan dengan suami dan anak-anak karena kesengsaraan hidup mereka. Gesekan antar jenis kelamin menjadi lebih dalam dan lebih tajam dengan ketergantungan perempuan dan kepatuhan mereka pada laki-laki.

Oleh karena ibu rumah tangga tidak menghasilkan barang produksi bagi pasar dan juga tidak memberikan nilai tambah bagi pengambil keuntungan maka perempuan tidak menjadi pusat dari operasi kapitalisme. Keberadaan perempuan dibenarkan hanya untuk menjalankan tigaaa peran: sebagai penerus keturunan, petugas kebersihan rumah dan sebagai konsumen.

Pertama, walaupun pembebasan perempuan tidak akan terjadi tanpa revolusi sosial, bukan berarti perjuangan tersebut ditunda hingga revolusi sosial tercapai. Sangat penting bagi perempuan marxis untuk bahu membahu berjuang bersama para perempuan lainnya dalam aksi-aksi terorganisir  dengan tujuan spesifik mulai sekarang.

Kedua, mengapa perempuan harus memimpin sendiri perjuangan pembebasan perempuan, jika akhirnya kombinasi dari serangan anti-kapitalis di seluruh dunia dari seluruh kelas pekerjalah yang dibutuhkan untuk memenangkan perjuangan revolusi sosial? Alasannya bahwa tidak ada satupun segmen masyarakat yang mengalami penindasan, baik mereka dari negara-negara dunia  ketiga maupun perempuan, yang dapat mendelegasikan kepemimpinan dan tuntutan mereka atas kemerdekaan gerakan yang lain –walaupun gerakan lain menjadi sekutu.

Keterangan Buku:

Judul                                     : Apakah Takdir Perempuan Sebagai Manusia Kelas Dua?

Penulis                                 : Evelyn Reed

Penerjemah                       : Sri Navirika Dewi

Penyunting                         : Arif Novianto

Tata letak                            : Wahyu Budi Utomo

Ilustrasi sampul                 : Aum

Penata sampul                  : SemangArt

Penerbit                              : Independen

Terbit                                    : Agustus 2000

Tebal                                     : 120 hlm.

ISBN                                      : 978-623-93362-3-3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s