Uncategorized

REVIEW Mitos Inferioritas Perempuan

Perlawanan terhadap obskurantisme. Pertentangan ini datang dari teori Darwin tentang proses evolusi organik yang semakin memperjelas asal-usul manusia. Ini adalah pukulan yang lebih serius terhadap dogma mistis dalam agama, dibanding kontribusi ilmu tersebut dalam memperluas pengetahuan tentang sejarah umat manusia. Dampaknya, menunjukkan bahwa manusia bukanlah ciptaan dari mahluk Ilahi, akan tetapi merupakan Apes (manusia awal, mirip kera besar) yang telah mengalami evolusi. Kemarahan hingga keributan meledak merespon teori yang dituding anti agama ini selama beberapa generasi. Bahkan, di beberapa negara, teori evolusi dilarang diajarkan di sekolah-sekolah. Perlawanan muncul di Arkansas, ketika seorang guru perempuan dengan gagah berani memaksa negara untuk memberi ruang agar teori evolusi diajarkan di sekolah. Perlawanan seperti itu sebenarnya telah pecah jauh sebelum sebagian besar dunia tercerahkan. Saat ini, teori Darwin diterima sebagai premis dasar dalam penelitian ilmiah tentang manusia purba.

Gerakan kepeloporan dari perempuan muda, terutama di kampus-kampus, mulai mempertanyakan norma dan pandangan hidup lama yang mempersempit kehidupan perempuan yang sekedar menjadi istri, hidup di rumah, dan keluarga saja. Mereka curiga, jangan-jangan mereka selama ini telah ditipu oleh dogma bahwa perempuan adalah kelamin kedua atau bahkan lebih rendah dari itu. Kaum perempuan ini mulai melihat diri mereka dan menemukan kebenaran bahwa mereka memiliki otak dan bakat serta organ seksual untuk reproduksi. Namun, kebebasan mereka untuk mengekspresikan kreatifitas yang sebenarnya dimiliki telah benar-benar dirampas.

Banyak perempuan yang tidak sadar, bahwa dilema yang menghantui mereka tidak pernah ada sebelum terbentuk masyarakat yang terbagi dalam kelas-kelas sosial. Terbentuknya amsyarakat berkelas, telah merampas posisi terhormat dan kesetaraan yang pernah mereka nikmati selama periode masyarakat komunal primitif. Kepatuhan perempuan saat ini terjadi seiring langgengnya ekspoitasi yang dialami kelas pekerja secara keseluruhan dan praktik diskriminasi terhadap kaum kulit hitam dan minoritas lainnya. Akan tetapi, kenyataan itu hanya secara samar-samar kaum perempuan sadari. Akibatnya, mereka belum sepenuhnya sadar bahwa ketika masyarakat kapitalis dihancurkan dan hubungan sosialis dibangun, maka perempuan akan dibebaskan oleh kekuatan yang turut membebaskan semua pekerja dan minoritas ras dari penindasan dan alienasi (keterasingan).

Salah satu dongeng favorit masyarakat kita adalah, bahwa perempuan pada dasarnya jenis kelamin yang inferior. Hal itu didorong oleh fungsi biologis yaitu melahirkan anak. Dikisahkan, seorang perempuan harus terhenti di rumah, karena dia harus melahirkan dan merawat anak, maka disimpukan bahwa tempat yang pas untuk perempuan adalah di rumah. Keberadaannya yang hanya di rumah, membuatnya secara sosial menjadi ‘tidak terlihat’ dan menjadi ‘jenis kelamin kedua’. Sementara laki-laki ditempatkan sebagai jenis kelamin utama dalam kehidupan ekonomi, politik, dan intelektual, sehingga disebut jenis kelamin yang terunggul. Jika kita telisik lebih dalam, sistem patriaki ini hanya propaganda. Fungsi keibuan perempuan digunakan untuk membenarkan ketidaksetaraan antar jenis kelamin dalam masyarakat, dan posisi terdegredasi yang ditempatkan terhadap perempuan.

Fakta bahwa klan saudara laki-laki dari ibu merupakan unit ekonomi alami masyarakat kesukuan telah membantah klaim bahwa keluarga berdasarkan garis keturunan ayah itu selalu ada. Klaim ini biasanya dibuat atas dasar ketergantungan ekonomi perempuan yang sebagian besar terjadi saat ini. Pertanyaan yang dimunculkan, tanpa suami, siapa yang akan memenuhi kebutuhan perempuan dan anak-anaknya untuk hidup? Dengan kata lain, kita dituntun untuk percaya bahwa perempuan selalu menjadi mahluk yang tidak berdaya dan menjadi mahluk yang selalu tergantung. Mereka juga mengklaim bahwa tanpa ayah yang berdiri sebagai kepala di setiap unit keluarga skala kecil, masyarakat dinilai akan runtuh.

Namun, temuan sejarah awal manusia menunjukkan bukti yang justru sebaliknya. Masyarakat primitif tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang secara komunal di mana perempuan secara kolektif melakukan fungsi sebagai ibu dan semua laki-laki secara kolektif melakukan fungsi ayah untuk semua anak-anak di komunitas. Tak ada perempuan yang bergantung pada laki-laki. Tak ada yang bergantung pada ayah atau ibu individu mereka.

Dalam perjalanan waktu, ‘pasangan perkawinan’ atau ‘keluarga pasangan’ muncul, dan suami para perempuan menggantikan peran dari saudara klan mereka sebagai mitra ekonomi yang baru. Namun, saat komunitas masyarakat mempertahankan prinsip-prinsip kolektif, tak ada yang namanya ketergantungan keluarga atau ketidaksetaraan antar dan dalam keluarga. Seluruh masyarakat terlibat dalam membuat ketentuan untuk setiap anggota di dalamnya, dan semua orang dewasa secara sosial adalah ‘ibu dan ayah’ dari semua anak di komunitas itu. Prinsip persaudaraan masih menjadi dasar hubungan sosial.

Di masyarakat awal ini, jauh dari kesengsaraan atau anggapan bahwa inferioritas sebagai kondisi alami. Jiwa keibuan memberi perempuan suatu kekuatan dan martabat. Jiwa kemanusiaan muncul dari dunia binatang. Alam hanya memberkahi salah satu jenis kelamin – jenis kelamin perempuan- dengan organ dan fungsi kehamilan. Endowmen biologis ini memberikan jembatan alami bagi kemanusiaan, seperti yang ditunjukkan oleh Robert Briffault dalam karyanya The Mother, bahwa perempuan adalah spesies yang memiliki tanggung jawab merawat, memberi makan, dan melindungi spesies yang lebih muda.

Namun, Marx dan Engels menunjukkan bahwa semua masyarakat, baik zaman dulu maupun sekarang, eksis karena kekuatan tenaga kerja. Dengan demikian, bukan karena kemampuan perempuan untuk melahirkan yang memainkan peran penting, karena semua hewan betina juga melahirkan. Apa yang menentukan bagi spesies manusia adalah fakta bahwa persalinan menyebabkan hadirnya tenaga kerja dan dalam perpaduan persalinan dan kerja inilah sistem sosial manusia yang pertama terbentuk.

Hanya para ibu yang bisa melahirkan, dan dengan cara yang sama mereka merintis jalan menuju kemanusiaan. Para ibu adalah produsen utama, bagi para pekerja dan peta-peta pemimpin dalam kehidupan ilmiah, intelektual dan budaya. Mereka menjadi semua ini justru karena mereka adalah ibu. Para ibu yang telah melahirkan tenaga-tenaga kerja baru melalui proses persalinan. Atas hal ini, dalam bahasa orang-orang primitif, istilah ‘ibu’ identik dengan ‘produser-prokreasi’.

Tujuan dalam penjelasan ini adalah untuk menghancurkan satu dan semua mitos yang sudah dibentuk sebelumnya oleh masyarakat berkelas bahwa perempuan secara alami atau secara bawaan adalah inferior. Jalan yang tepat untuk menunjukkan ini, pertama-tama yaitu dengan secara rinci mencatat catatan persalinan perempuan primitif.

Perempuan bukan hanya pekerja terampil dari masyarakat primitif, mereka juga merupakan pengangkut berbagai barang dan peralatan. Sebelum hewan peliharaan melepaskan perempuan dari sebagian beban mereka, di belakang merekalah transportasi yang bersifat primitif digerakkan. Mereka tidak hanya mengangkut bahan baku yang digunakan untuk industri, tetapi juga seluruh barang rumah tangga yang dipindahkan dari satu tempat ke tempat yang lain.

Dari catatan kerja perempuan dalam sistem sosial sebelumnya, dapat dilihat bahwa kedua jenis kelamin telah memainkan peran mereka dalam membangun masyarakat dan memajukan kemanusiaan hingga saat ini. Namun, mereka tidak memainkannya secara bersamaan atau seragam. Ada perkembangan jenis kelamin yang tidak merata. Ini, pada gilirannya, hanya merupakan ekspresi dari perkembangan masyarakat yang tidak merata secara keseluruhan.

Perempuan kelas berkuasa memiliki minat yang sama seperti laki-laki kelas-berkuasa dalam upaya mereka menegakkan dan mempertahankan tatanan masyarakat kapitalis. Adanya perempuan kelas berkuasa dengan kepemilikan privat yang melimpah, tidak terlepas dari hasil reformasi gerakan perempuan borjuis. Kaum feminis borjuis ini bertempur, antara lain agar perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki terkait hak kepemilikan properti atas nama mereka sendiri. Mereka akhirnya memenangkan hak ini. Sekarang, perempuan plutokratis memiliki kekayaan luar biasa atas nama mereka sendiri. Mereka memiliki kepentingan yang sama dengan laki-laki plutokratis yang berhasrat untuk berakumulasi dan terus mengabdikan sistem kapitalis. Artinya kepentingan perempuan kelas-berkuasa ini berbeda dengan perempuan kelas pekerja. Emansipasi bagi perempuan kelas berkuasa –justru mereka adalah bagian dari keseluruhan sistem kapitalis yang perlu untuk dilawan.

Untuk mengindetifikasi kepentingan semua kelas di antara perempuan yang memberi dampak paling berbahaya, kita dapat mengambil contoh dalam bidang kecantikan perempuan. Mitos yang berkembang saat ini bahwa sejak awal, semua perempuan menginginkan kecantikan. Mereka semua dianggap memiliki kepentingan yang sama dalam hal kosmetik dan fashion demi mencapai standar kecantikan tertentu. Untuk menopang mitos ini, muncul klaim bahwa fashion kecantikan telah ada sejak manusia ada di dunia dan itu berlaku untuk perempuan dari berbagai kelas sosial. Untuk memberikan bukti, para pengeruk untung dari komiditi fashion memberi fakta bahwa dalam masyarakat primitif, perempuan melukis dan menghiasi tubuh mereka. Mitos tersebut pada dasarnya keliru.

Kesulitan dan perasaan kalah yang diderita kaum perempuan, menjadi hal yang sangat bermanfaat bagi para pebisnis fashion. Mereka berupaya mengarahkan agar para perempuan itu membeli berbagai produk mereka sebagai obat atas kecemasan dan perasaan gagal yang mereka derita. Sebagai solusi cepat atas masalah yang dihadapi dan untuk membangkitkan rasa percaya diri, banyak perempuan yang berlomba membeli fashion keluaran terbaru dan alat bantu kecantikan lainnya.

Menjadi tugas kita bersama untuk menunjukkan bahwa sistem kapitalis adalah sumber kejahatan dan dengan mesin propagandanya, mereka menipu kaum perempuan bahwa jalan menuju kehidupan dan cinta yang sukses adalah melalui pembelian barang-barang. Memaklumi atau menerima standar kapitalis dalam bidang apa pun. Mulai dari politik hingga urusan kosmetik akan menopang dan melanggengkan sistem keuntungan yang kejam ini dan terus mengorbankan perempuan.  

Keterangan Buku:

Judul                                     : Mitos Inferioritas Perempuan

Penulis                                 : Evelyn Reed

Penerjemah                       : Pramudya Ken Dipta

Penyunting                         : Dipantara Mahardika

Tata letak                            : Wahyu Budi Utomo

Ilustrasi sampul                 : Aum

Tata sampul                        : SemangArt

Penerbit                              : Independen

Terbit                                    : November 2020

Tebal                                     : 130 hlm.

ISBN                                      : 9786239024946

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s