Uncategorized

REVIEW Rapijali 1: Mencari

“Buat apa pintar tapi melarat? Bosan aku jadi orang miskin.” (hlm. 236)

Tanpa perlu melanjutkan kuliah sekalipun, jalur karier ODING terbuka lebar. Oding adalah atlet selancar junior terbaik di Jawa Barat. Berbagai turnamen junior internasional menantinya. Oding akan melampui prestasi Acep Mulyana, baik dalam kejuaraan maupun kotrak komersial. Semua pihak sepakat bahwa Oding punya faktor X yang belum tentu dimiliki selancar lain meski sama-sama piawai mengendarai ombak. Fisik Oding menjual dan indah di kamera. Mereka bilang, Oding punya karisma. Kualitas bintang. Sudah santer kabar bahwa Oding diincar beberapa merk dunia untuk menjadi dutanya.

Oding kenal baik dengan salah seorang atlet selancar senior asal Bali yang sudah berpengalaman menerima beberapa kontrak merk intrenasional. Seniornya itu kini menetap di Sydney, setelah sebelumnya disponsori berkeliling dunia mengikuti berbagai kejuaraan selancar. Oding tahu persisi hidup seperti itulah yang ia inginkan. Bukan menjaga kandang seperti ayahnya.

Berlainan dengan jalan Oding yang terang benderang, PING merasa jalannya remang-remang. Semua orang bilang Ping berbakat musik, tetapi Ping tak pernah tahu kebenarannya. Ia tak pernah mengecap pendidikan musik formal. Pelajaran musiknya hanya berasal dari kakeknya dan D’Brehoh. Ping mengeksplorasi sendiri alat-alat musik di rumahnya tanpa tahu secuil pun teori. Sudah jelas ia paling jago musik dibanding teman-temannya di Batu Karas. Namun, di luar sana ada dunia besar yang belum menguji kemampuannya.

Ping tahu Batu Karas tak cukup untuk menampung potensinya, tetapi ia tidak pernah tahu harus kemana dan melakukan apa. Kakeknya tidak pernah mendiskusikan pendidikan Ping selepas SMA. Yuda bahkan tak pernah membicarakan kemungkinan Ping keluar dari Cijulang. Dalam hati, Ping menyimpan kecurigaan bahwa Yuda sengaja mengurungnya di sana.

Ping terlalu marah untuk bersekolah. Terlalu marah untuk bertemu siapa pun. Ia tak tahan mendapat ucapan duka dari kiri-kanan berembel-embel pujian betapa mulusnya kematian Yuda yang tidak merepotkan cucunya. Bagi Ping, kematian kakeknya sangat kejam.

Sehari setelah pemakaman, Ping baru mengetahui perihal status Hotel Kinari yang bukan miliknya lagi. Ping dapat membayangkan berbagai scenario sulit tentang masa depannya nanti. Tak sedikit pun ia gentar menghadapi itu semua. Gentarnya dikalahkan oleh amarah membara yang bagai sekam tak punya jalan mengeluarkan api. Ping murka menjadi orang yang paling tak tahu apa-apa. Dan, orang yang diamuknya sudah tidak ada di dunia.

Dari semua anak subsidi di Pradipta Bangsa, RAKAI yang paling popular. Kadang Inggil lupa sama sekali bahwa Rakai sebetulnya senasib dengannya. Popularitas Rakai sedikit banyak terdorong ibunya, Ira, guru favorit banyak siswa. Rakai bukan Laskar Pangeran, tetapi ia punya karisma tersendiri. Kemana-mana membawa buku sketsa beserta aneka pensil berkarbon tebal yang nongol di sakunya. Kemana-mana membawa stik drum, mengetuk-etukannya dalam kecepatan yang memusingkan dengan pergelangan tanganya nan lentur, menyenandungkan lagu-lagu tak dikenal. Rakai disellimuti aura misterius yang membungkusnya dalam sebuah dunia retro yang tak dimengerti siapa pun. Itu semua membuatnya keren.

ARDI. DI sekolah, dikenal dengan sebutan Laskar Pangeran. Yang terdiri empat cowok-cowok hits di sekolahnya. Yang lain mirip satelit. Tergantung siapa yang lagi akur sama siapa, siapa yang lagi ngetop. Ditambah lagi, ayahnya sedang menjadi salah satu kandidat dalam pemilihan gubernur. Mau tidak mau, secara langsung, sang anak juga menjadi sorotan baik di sekolah maupun di luar sekolah.

JEMIMA. Tak ada yang bisa menyangkal keandalan Leonard Hartanto, ayahnya sebagai pebisnis. Namun, Jemi lebih mengagumi kelihaian ayahnya menciptakan ilusi kebebasan dalam dosis tepat. Jemi seringkali mendengar cerita dari sepupu-sepupunya yang hidupnya dikendalikan penuh oleh orang tua mereka, dan Jemi selalu merasa beruntung orangtuanya tidak begitu. Tapi, dengan cara halus, ayahnya telah menatahkan jalan hidupnya di atas batu. Jelas dan tak tergoyahkan.

“Ini bukan masalah kecil, Pak. Banyak orang akan terlibat, terkena dampak. Saya harus bicara dulu dengan keluarga saya, dengan tim saya.” (hlm. 6)

Kisah GUNTUR dalam buku ini mengingatkan pemilihan Gubernur Jakarta pada beberapa tahun ke belakang. Meski tidak sama plek, tapi mengambil benang merah yang sekilas alurnya mirip: pembunuhan karakter. Memang sudah menjadi resiko jika menjadi orang terkenal baik di bidang entertainment, politik, dan bidang lainnya, tanpa disadari akan dikuliti habis-habisan sampaih ketemu celah kelemahan atau kekurangannya alias masa lalu seseorang dikorek-korek. Hal itu tidak hanya berimbas pada satu dua orang dekat, tapi juga berpengaruh kepada banyak orang-orang di lingkungannya baik secara langsung maupun tidak langsung.

Karena dulu pernah magang di sekolah berlabel internasional, ada beberapa hal di buku ini yang relate dengan kehidupan sekolah elit macam Pradipa Bangsa. Misalnya, ada semacam perbedaan kasta bagi anak-anak yang tidak mampu. Kalau di novel ini disebut denga anak subsisdi. Beda lagi denga anak hibrida seperti Ping.

Ada juga selipan sindiran halus dalam buku ini dalam bidang pendidikan. Misalnya kritik sosial tentang Dinas Pendidikan. Lomba-lomba yang diadakan dinas cenderung pemenangnya adalah pesanan. Lombanya pun tidak variatif, dari tahun ke tahun. Hanya sekedar menghabiskan anggaran semata. Begitu juga dengan sekolah-sekolah yang mengikuti event hanya sekedar mengikuti surat edaran yang diberikan.

Waktu buku ini terbit tahun lalu, meski aku suka karya-karyanya Ibu Suri, aku gak ikutan untuk PO bukunya. Bukan apa-apa, memang sudah beberapa tahun terakhir ini gak pernah beli buku online mengingat harga ongkir dari Pulau Jawa ke Lampung yang lumayan wow, bisa buat beli satu buku per kilogramnya. Makanya selama beberapa tahun terakhir, aku lebih suka membeli buku langsung ke toko buku Gramedia, meski kudu perjuangan harus ke ibukota x))

Nah, begitu pada geger karena banyak yang kecewa dengan buku ini karena ternyata sebuah trilogi, aku juga gak ikutan geger. Dan hanya berpikir nanti bacanya pas semua serinya udah terbit baru mau baca semuanya sekaligus x))

Sebagai penikmat buku karya-karya Ibu Suri –meski belum semuanya-, sebagai pembaca, aku bisa meraba kisah Ping dan kawan-kawan dalam buku mengingatkan kisah Kugi dan Keenan dalam Perahu Kertas. Setipe ala-ala remaja yang diramu antara persahabatan dan percintaan. Renyah alias tidak terlalu bikin kita mikir berat. Khas novel remaja.

Bersetting Batu Karas, mengingatkanku memori ketika zaman kuliah dulu punya sahabat satu kelas bernama Ima. Pas masih awal semester, aku pernah diajak ke rumahnya yang berada di pinggir Pantai Pangandaran. Dan Batu Karas juga tentunya. Nuansa pantainya yang selalu bisa kita lihat baik saat matahari muncul maupun saat matahari terbenam. Sayang sekali tidak disebutkan juga lokasi ‘surga dunia’ yang tidak jauh dari Pantai Pangandaran maupun Batu Karas, yaitu Green Canyon Pangandaran yang masyaallah keren banget tempatnya plus alami banget menurutku kala itu. Entah kalau sekarang masih bagus seperti dulu atau sudah berubah.

Karena Rapijali mengangkat cerita anak band, tentunya kurang afdol jika tidak kita temukan banyak judul lagu dalam novel ini. Judul-judul lagu yang bertebaran dalam buku ini, mungkin tidak hanya bagi remaja, tapi juga generasi milenial seperti aku, serasa asing saat membaca trivia judul-judul lagu dalam novel ini. Missal, Stevie Wonder yang menyanyikan Still Got The Blues di halaman 25, Bohemian Rhapsody milik Queen yang menjadi lagu pembuka perkenalan antara Rakai dan Ping di studio musik milik sekolah, begitu juga dengan Fix You-nya Coldplay. Berlanjut di halaman 195, lagu Firth of Fifth-nya Genesis menjadi perkenalan Ira dengan Ping. Kemudian ada lagu The Nearness of You, yang dimainkan Ping dengan piano yang diberikan Guntur. Dan masih banyak lagi judul lagu yang bertebaran dalam novel ini.

Untuk aku yang membaca langsung tiga seri sekaligus, rasanya tidak masalah membacanya. Tapi beda halnya dengan yang membaca saat baru buku ini terbit dan memiliki jeda dengan buku selanjutnya. Perpindahan dari buku satu ke buku berikutnya serasa pemenggalan tiba-tiba. Meski jarang membaca buku berseri, tapi pengalamanku membaca beberapa buku yang berseri, rasanya memiliki klimaks di setiap bukunya. Misal, saat membaca buku serial Harry Potter yang terdiri dari tujuh serial, tapi di setiap serialnnya, kita akan disuguhi permasalahan di awal cerita dan selalu ada ending di setiap penutup bukunya. Tapi tidak dengan buku ini. Kebayang ini yang bacanya masih awal banget buku ini terbit, rasanya kayak menggantung gak ada klimaks, dan tentunya geregetan buat baca lanjutannya dari kisah Ping dan kawan-kawannya ini x))

Beberapa kalimat sindiran halus dalam buku ini:

  1. Kematian sekalipun tak akan menekukkan lututnya di hadapan musuh, tetapi hidup berkeinginan lain. (hlm. 1)
  2. Sudah sebulan kamu nggak makan malam. Tetap saja gendut. Mending juga makan. (hlm. 17)
  3. Masa seumur-umur nge-band sama D’Brehoh? Jangan cuma jadi jagoan kandang. (hlm. 37)
  4. Susah-susah sekolah music buat nge-band. Mendingan juga langsung senang-senang nge-band. Toh, ujungnya, sama-sama hidup susah. (hlm. 43)
  5. Lebih sulit menemukan siapa yang tidak datang ketimbang yang datang. (hlm. 330)
  6. Semakin muda kita mulai, semakin cepat kita kaya. (hlm. 236)
  7. Mau tahu siapa pemain bola paling jago di dunia? Komentator! Mereka nggak perlu tahu susahnya main bola, karena kerjaan mereka cuma duduk, nonton, terus nunjuk-nunjuk kesalahan orang. (hlm. 347)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Rapijali 1: Mencari

Penulis                                 : Dee Lestari

Penyunting                         : Dhewiberta H.

Perancang sampul           : Fahmi Ilmansyah

Pemeriksa aksara             : Fitriana, Pritameani, Ifah Nurjany, Nuraini

Penata aksara                    : Labusiam

Foto penulis                       : Reza Gunawan

Penerbit                              : Bentang

Terbit                                    : 2021

Tebal                                     : 352 hlm.

ISBN                                      : 978-602-291-772-4        

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s