Uncategorized

REVIEW Rapijali 2: Menjadi

Kamu harus liat dunia lain dulu untuk benar-benar menghargai duniamu. (hlm. 304)

Buku kedua masih berlanjut tentang kehidupan Ping dan kawan-kawan. Begitu juga kisah Guntur dengan kehidupan dunia poitiknya yang jugkir-balik.

Ping dan kawan-kawan kelas XII, yang artinya masa-masa galau menentukan pilihan kuliah. Sebagai remaja pada umumnya, tentu masih banyak yang berpikiran jika kuliah di tempat yang keren, kita juga bakal keren. Kampus-kampus ternama selalu menjadi pilihan utama. Padahal poin utama dari kuliah sebenarnya bukan itu. Tapi fokus memilih jurusan yang sesuai dengan minat dan bakat kita. Remaja masih memikirkan gengsi mau kuliah dimana, daripada sibuk memikirkan jurusan apa yang mereka pilih. Ping dan Rakai memilih jurusan sesuai minat bakat mereka. Begitu juga dengan Jemima dan Buto, yang alasan dasarnya agar lulus nanti bisa mengikuti jejak orangtua mereka. Lain halnya dengan Inggil, terbiasa hidup susah, memutuskan kuliah di tempat yang tidak jauh dari kediaman rumahnya agar bapaknya tidak sendirian. Bagus sekali kalimat yang dilontarkan Profesor Dama bahwa mereka mempriotaskan kualitas, bukan hanya duit. Mereka mendahulukan jalur beasiswa untuk ikut tes gelombang pertama. Bukan di gelombang terakhir. Supaya mereka yang terbaik, yang punya keinginan paling kuat untuk serius belajar musik, dipastikan punya tempat di kampus. Sama seperti halnya di buku pertama, penulis menyelipkan sindiran halus di bidang pendidikan.

Kekuatan sosmed seringkali dianggap banyak negatifnya dibandingkan positifnya. Padal bagi generasi Z, kekuatan sosmed justru bisa menghasilkan hal-hal yang positif. Rapijali terdongkrak berkat postingan di sosial media. Postingan Buto yang mengunggah foto Rapijali, dan juga channel youtube yang dimiliki stasiun televisi, tentunya sangat berpengaruh besar akan keberadaan mereka dikenal masyarakat luas.

Demam panggung menjadi hal yang lumrah dialami bagi seseorang yang tidak hanya baru, terkadang yang sudah dewasa seperti aku pun juga masih sering mengalami yang namanya demam panggung x)) Dan itu juga terjadi pada Ping. Apalagi dia dan teman-temannya langsung terekpos layar kaca dan dihadapan mereka ada juri orang-orang terpilih di bidangnya. Belum ditambah lagi para penonton baik di dalam studio maupun di layar kaca.

Rakai ini tipe-tipe yang tanpa disadari membuat banyak cewek klepek-klepek akan sikapnya. Dan cenderung bikin GR. Tidak hanya sikapnya pada Jemima, juga pada Ping. Mungkin karena dekat dengan mamanya, Rakai selalu memperlakukan lawan jenisnya dengan manis meski tanpa bermaksud yang lain.

Tidak hanya itu, Rakai yang sejak remaja menjadi penjaga mamanya, juga bersikap sama terhadap teman-temannya. Sebenarnya dia baik tidak hanya pada teman lawan jenis saja, seperti Jemima dan Ping. Tapi juga pada Buto dan Inggil. Tapi yang lawan jenis cenderung jadi GR dengan sikap baik Rakai ini. Ya maklum ya, namanya juga masih remaja alias masa-masa puber x))

Tidak hanya itu, Rakai juga menganggap Rapijali adalah tanggung jawabnya sendiri. Mungkin karena di rumah pun, Rakai yang tidak ada figur ayah sejak remaja, juga menganggap dirinya bertanggung jawab atas kehidupan keluarganya, termasuk menjaga mama, satu-satunya anggota keluarga inti yang dimilikinya. Mungkin maksud Rakai baik, tapi tanpa disadari itu menjadi beban tersendiri baginya sampai dewasa kelak.

Dari sisi Guntur, sebagai salah satu kandidat kuat dalam pemilihan gubernur, tentu dilematis dalam menghadapi isu-isu sensitif. Salah satunya adalah saat mengangkat isu penggusuran; setuju salah, tidak setuju juga salah. benar-benar serba salah. Begitu juga mengalami problema menghadapi kesenjangan sosial. Misalnya banyak orang mampu, mereka bukannya tidak mau membantu. Mereka hanya tidak tahu caranya. Yang mereka butuhkan adalah jembatan antargolongan.

Sedangkan dari sisi Ardi, kita jadi tahu betapa beratnya menjadi seorang anak korban broken home. Di luar hidup tampak sempurna karena memiliki segalanya dan orangtua yang lengkap. Sebenarnya hatinya terluka, sering melihat papa mamanya cekcok. Tidak ada kehangatan di rumah mereka.

Dari Ping kita belajar bahwa menekuni hobi bisa menjadi passion yang akan membawa kita kepada masa depan yang cerah. Tapi tidak semua orang beruntung bisa menekuni passion mereka. Banyak juga yang kalah dengan keadaan.

Jika di buku Aroma Karsa menonjolkan indera perasa lewat aroma-aroma, di buku ini penulis mencoba indera lain yaitu pendengaran. Ya, pendengaran Ping tanpa disadari lebih peka dan tajam dibandingkan denga orang biasa. Bisa merasakan suara-suara yang terkadang terlewati bagi orang lain. Bisa mendegar suara musik tanpa harus belajar atau les musik seperti yang lainnya. Kepekaannya sudah terlatih, kemungkinan karena sejak kecil sudah dibiasakan kakeknya untuk mendengarkan lagu ataupun suara musik. Dan ternyata ada istilahnya: fear frequency.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Itu wajar dalam pertemanan. Kadang-kadang kita kagum sama sahabat sendiri. (hlm. 394)
  2. Jalan kita berpencar, tapi nggak bakal nyasar. (hlm. 417)
  3. Jalan kamu bakalan panjang. Kamu harus pelihara baik-baik area hidupmu yang lain. (hlm. 454)
  4. Masa lalu kamu harus jadi kekuatan. Bukan jadi halangan. (hlm. 476)

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Jangan ngomong soal kebaikan, soal prestasi, soal dukungan. Semua itu nggak akan memperbaiki salah kamu. (hlm. 79)
  2. Terasi udang dibalik batu bolong. Sudah busuk, terang-terangan lagi. (hlm. 346)
  3. Belajar bertahan hidup harusnya ikut pramuka, bukan belajar sama Inggil. (hlm. 389)
  4. Sama seperti semua manusia yang terlahir ke dunia, tak terkecuali dirinya. Semakin besar cinta, semakin telak cinta dapat melukai. (hlm. 433)
  5. Sibuknya yang double major. (hlm. 463)
  6. Yang kita pikir ideal, belum tentu yang terbaik buat kita. (hlm. 473)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Rapijali 2: Menjadi

Penulis                                 : Dee Lestari

Penyunting                         : Dhewiberta H. & Jia Effendie

Perancang sampul           : Fahmi Ilmansyah

Pemeriksa aksara             : Fitriana, Pritameani, Ifah Nurjany, Nuraini

Penata aksara                    : Labusiam

Foto penulis                       : Reza Gunawan

Penerbit                              : Bentang

Terbit                                    : 2021

Tebal                                     : 484 hlm.

ISBN                                      : 978-602-291-828-8        

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s