Uncategorized

REVIEW Rapijali 3: Kembali

“Pikiran kita punya mekanisme perlindungan diri. Label ‘nggak penting’ sering kali jadi tameng kita berlindung dari hal-hal yang menyakitkan. Justru karena menyakitkan, artinya dia penting. Yang tidak penting tidak akan menyakiti. Hanya hal-hal penting yang bisa menyakiti kita.” (hlm. 79)

PING. Semenjak kariernya melesat, Ping tidak punya siapa-siapa lagi selain Pedro. Orang terdekat keduanya adalah Ken Ikeda. Meski demikian, Ping jarang membahas hal pribadi dengan Ken. Dalam hamper delapan tahun berkarier, Ping kenal ratusan orang baru. Pada saat seperti ini, barulah ia tersadar, ratusan orang baru itu hanya sampai lingkaran luar hidupnya. Lingkaran dalamnya tetap sepi, nyaris tak perpenghuni. Meski bisa merasakan ketulusan Pedro, pada saat sama, hati Ping teriris. Manusia yang konon terdekat dalam hidupnya saat ini pun hanya sebatas mengkhawatirkan kariernya semata. Dalam waktu singkat, Ping menjadi nama yang diperhitungkan di industri musik. Musikalitas dan pendidikannya memosisikan Ping di kelas lebih elegan dibandingkan Lodeh, yang pada waktu berdekatan juga mulai berkarier solo. Ketika karier Lodeh meredup usai dua album, Ping seperti baru pemanasan. Lodeh harus bergantung kepada penulis lagu lain, sementara Ping memproduksi lagu-lagunya sendiri. Berada di lingkungan para musisi, terlebih lagi Pedro Mauressy, memberi Ping stimulus dan perkembangan pesat.

Intensitas pekerjaannya membuat Ping menghabiskan waktu paling banyak bersama Pedro. Mereka berjumpa setiap hari, bersama pada hampir setiap acara. Ping semakin jarang ke kampus. Ia datang hanya buat kuliah dan ujian, tanpa pernah sempat lagi bersosialiasi. Sebaliknya, Rakai yang bergelut dengan kuliah gandanya seperti terkurung di kampus sehingga jarang menemui Ping. Jadwal yang padat, tanpa disadari membuat Ping merasa burn out. Lelah dengan segalanya. Popularitas tidak menjamin segalanya. Dia merasa kosong dan sangat lelah.

Kemana pun Rakai bertanding, Inggil selalu ada. Fungsi Inggil bukan sekedar penggembira, Inggil ikut menyusun strategi tanding Rakai layaknya seorang pelatih. Ketika lebih dekat dengan Rakai, Ines pun jadi tahu lebih jauh tentang ikatan kedua pria itu. Rakai dan Inggil bersahabat sejak SMA. Keduanya menggemari ‘permainan’ yang sama. Bukan olahraga. Pendulang harta karun terbuka, begitu Inggil mengistilahkannya. Ya, dibandingkan Ping yang beruntung karena bisa hidup dengan bakat dan passionnya di musik, Rakai dan Inggil memilih jalur yang berbeda. Selepas lulus kuliah, mereka memilih menjadi mas-mas kantoran demi sebongkah berlian. Karena hidup memang harus realistis; cuan, cuan, dan cuan x))

Memang tidak salah pilihan Rakai dan Inggil yang saat sekolah sama-sama berstatus siswa subsidi, alias bukan dari keluarga menengah ke atas. Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang. Inggil yang sejak kecil hidup susah bersama ayahnya, tentu punya tekad ingin keluar dari ramah kemiskinan. Terbiasa hidup di gang sempit, dengan bermodalkan otak cemerlang, Inggil mencoba keluar dari kubangan kemiskinan.

Sejak remaja, selain mengalami broken home, Rakai memiliki inner child yang terbentuk karena sang ayah tak sehebat yang ia bayangkan selama ini. Kasihan juga sebenarnya pada ibunya Rakai. Sangat menjaga sekali perasaan Rakai, dan tanpa disadari membuatnya menderita secara lahir maupun batin. Selain mengalami inner child, Rakai juga mengalami toxic parenty.

Beda halnya dengan Buto dan Jemima. Dari luar, mereka tampak lebih beruntung dari segi ekonomi dibandingkan teman-teman mereka di Rapijali dulu. Tapi seperti anak-anak orang kaya pada umumnya, mereka tanpa disadari ‘dipaksa’ harus mengikuti jejak orangtua mereka. Misal, Buto dari mulai kuliah sudah diarahkan agar kelak menjadi pengacara. Begitu juga Jemima, kelak dia harus meneruskan perusahaan ayahnya. Padahal dia sudah nyaman di negeri orang meski hanya menjadi pegawai biasa. Begitu juga soal jodoh, tak jarang dua keluarga berniat menyatukan sepasang anak untuk melanggengkan usaha bersama agar saling menguntungkan kedua belah pihak. Begitulah kira-kira nasib Jemima, tampak sempurna di luar tapi sebenarnya hatinya rapuh di dalam. Tak jarang kita menemukan anak-anak orang kaya bernasib sama seperti Jemima ini. Punya segalanya, tapi tidak bisa melakukan segalanya seperti yang ia inginkan.

Penulis menyelipkan beberapa isu mental yang berhubungan dengan pola asuh dalam sebuah keluarga yang membentuk kepribadian seseorang. Pertama, dari sisi Ping, tidak mengetahui figur ayah sejak lahir. Dan ibunya meninggal. Hanya figur sang kakek yang hadir dalam hidupnya. Meski begitu, Ping tidak kehilangan kasih saying. Tetangga dan teman-teman kakeknya juga sangat menyayanginya. Kedua, Rakai dari keluarga broken home. Berusaha keras menjaga ibunya karena hanya itu satu-satunya keluarga yang ia punya. Inggil yang tinggal bersama bapaknya.

Banyak juga selipan isu sosial yang diangkat dalam buku ini. Pertama, tentang beauty standard. Disebutkan Andrea, sahabat Jemima sejak sekolah yang kini bekerja di beauty industry. Mau tak mau mengharuskannya tampil paripurna meski tidak memiliki jabatan yang tinggi di perusahaan tersebut. Kedua, toxic parenty yang sempat aku bahas di awal. Tanpa disadari banyak orang tua yang melakukan ini dengan dalih tahu yang terbaik untuk anaknya, padahal sang anak belum tentu setuju dengan pendapat atau kemauan orangtua. Ketiga, meski kini anaknya hidup berkecukupan dan bisa tinggal di apartemen, sang ayah masih nyaman dengan kehidupannya di gang sempit pinggiran kota. Padahal selama ini Inggil bekerja keras demi mengangkat kehidupan mereka untuk lebih layak. Ada semacam gap antara kemauan sang ayah dan kemauan Inggil sebagai anak. Keempat, burn out yang dialami Ping ini sebenarnya merepresentasikan kehidupan para selebritas. Dibalik gegap gempita popularitas yang mereka raih, dan selalu dituntut tampil sempurna tanpa celah, tentu bukan hal yang mudah. Ditambah lagi para penggemarnya selalu menunggu karya terbarunya. Bahkan Ping harus ke psikolog, apalagi selama ini pasca vakumnya Rapijali, dia tidak memiliki teman yang benar-benar teman; yang selalu ada saat suka dan duka.

Buku ketiga ini membahas Ping dan teman-temannya, setelah delapan tahun lulus sekolah. Tentu tampak berbeda jalan hidup mereka saat sekolah dulu dengan saat mereka telah dewasa. Yang menjadi pertanyaan adalah hidup tahun berapakah mereka ini? Delapan tahun adalah rentang waktu yang cukup lama. Misalkan Ping dan kawan-kawan saat sekolah hidup di tahun 2010-an, tentu instagram belum sehits sekarang. Begitu juga youtube. Apalagi di serial ini saat buku pertama disebutkan jika saat mereka seleksi musik yang diadakan TVRI, juga disiarkan di youtube juga. Rasanya untuk tahun segitu, youtube belum sebooming beberapa tahun ini. Begitu juga dengan perkara kontrak mereka dengan TVRI, yang sudah beberapa tahun lalu, rasanya terlalu dipaksakan untuk memasukkan masalah ini. Biasanya kan kalau di kontrak oleh stasiun televisi tidak selama itu, apalagi setelahnya mereka vakum jika tidak dikatakan bubar.

Setelah membaca tiga buku ini secara beruntun, aku suka banget dengan kisah Ping dan kawan-kawan ini. Pas baca pun, langsung kebayang siapa saja yang layak menjadi para pemerannya jika diangkat ke layar lebar atau dibuat serial TV-nya.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Jodoh itu memang seperti air. Kita nggak perlu kalang kabut. Nggak perlu lawan arus. Tenang saja. Kalau memang alirannya ke sana, ya ikuti. Jangan dilawan juga. Nanti malah kita yang tenggelam.(hlm. 36)
  2. Kalau kamu merasa nggak bias ngomong sama aku, minimal cari orang yang bisa kamu ajak bicara. (hlm. 73)
  3. Kalau semua yang di dunia ini cuma punya kesempatan satu kali, nggak aka nada satu pun yang bisa bertahan. Kita bertahan karena dapat kesempatan lebih dari sekali. (hlm. 312)
  4. Kita nggak bisa memaksakan proses seseorang. (hlm. 387)
  5. Saat kita menyerah, hidup beraksi atas kita. Saat kita berjuang, kitalah yang beraksi atas hidup. (hlm. 414)

Banyak juga selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Orang beli motor, kan, supaya tak capek. Buat apa punya sepeda mahal-mahal kalau masih harus capek-capek diumpil? (hlm. 7)
  2. Punya calon itu jangan ditinggal-tinggal. Nanti digondol orang. (hlm. 35)
  3. Mereka yang dianugerahi fisik menawan biasanya melewati hidup lebih mudah tanpa harus bersusah payah jadi orang yang ramah. (hlm. 54)
  4. Dibutuhkan perempuan hebat untuk memulangkan satu perempuan hebat lainnya. (hlm. 97)
  5. Cuma demi satu ramalan nggak terbukti, kamu jadi malah menghindari kebahagiaan kamu sendiri. (hlm. 107)
  6. Nggak ada yang perlu dipikirin. Nggak perlu lapora ke siapa-siapa. Pacaran kan bukan soal skor kalah atau menang. (hlm. 133)
  7. Karena semua orang lain punya, jadi aku harus punya juga? (hlm. 226)
  8. Lebih baik capek nangis, daripada capek nahan tangis. (hlm. 281)
  9. Kalau lu punya kapal laut, lu bakal percayakan kapal lu ke nahkoda, bukan ke direktur bank. Dua-duanya bisa jadi pemimpin, tapi beda bidang. (hlm. 303)
  10. Kadang-kadang kedekatan seperti itu bisa jadi penjara. Apa pun yang kita lakukan, di mata mereka jadi hal biasa. Mereka terbiasa lihat kita baik, kita peduli, kita sayang. Terus, begitu sepersepuluh dari yang kita lakukan oleh orang lain? (hlm. 311)
  11. Biarkan segala energy dan kenangan dari liburan. Kalau yang memang kamu rasakan bukan letupan sesaat, berarti ada sesuatu yang layak kamu perjuangkan. Kalau ternyata berlalu, ya sudah setidaknya kalian berteman kayak dulu. (hlm. 317)
  12. Begitu capek itu lewat, perasaan kamu juga bakal lewat. (hlm. 377)
  13. Dunia kita beda. Akan selalu ada orang yang bisa lebih cocok dan nyambung sama kehidupan kamu daripada saya. (hlm. 378)
  14. Ada banyak manusia dalam hidup kita. Tapi, tidak semua punya kekuatan untuk bikin kita patah hati. Kira-kira, orang seperti apa yang punya kekuatan begitu? (hlm. 386)
  15. Lubang hitam saja ada habisnya. Apalagi cuma ngambekmu yang nggak ada kontribusinya buat kemajuan peradaban manusia dan alam semesta. (hlm. 510)
  16. Kasih mereka kesempatan buat menjernihkan air buteknya masing-masing. Nggak usah kita desak dulu. (hlm. 513)
  17. Hamper semua problem hidup itu dating dari melawan arus, jangan dilawan. (hlm. 517)
  18. Tidak semua akhir berujung manis. Adakalanya kegetiran perlu ditelan jika memang mesti demikian. (hlm. 628)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Rapijali 3: Kembali

Penulis                                 : Dee Lestari

Penyunting                         : Dhewiberta H. & Jia Effendie

Perancang sampul           : Fahmi Ilmansyah

Pemeriksa aksara             : Nuraini, Dwi Kurniawati

Penata aksara                    : Labusiam

Foto penulis                       : Reza Gunawan

Penerbit                              : Bentang

Terbit                                    : 2021

Tebal                                     : 756 hlm.

ISBN                                      : 978-602-291-866-0

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s