Uncategorized

[Serba-serbi] Buku Beraroma Fashion

Di Bulan Maret ini, bahasan tentang fashion cukup menyita perhatian karena adanya Paris Fashion Week tahun ini. Acara ini sebenarnya selalu diadakan setiap tahunnya, yang menjadi perhatian di tahun ini adalah beberapa produk Indonesia yang meng-klaim mengikuti perhelatan akbar ini yang ternyata hanya Fashion in Paris, dan menjadi hal yang ambigu atau sebenarnya bisa juga ini disebut ambush marketing x))

Nah, mumpung masih happening, jadi kepikiran mau buat postingan tentang kumpulan buku-buku bertema fashion yang pernah aku baca. Apa sajakah itu?

1.Tetralogi Fashion

Ednastoria: Lontong Sayur dalam Lembaran Fashion

Untuk pertama, judulnya ada Ednastoria, dengan anak judul Lontong Sayur dalam Lembaran Fashion. Dengan cover berwarna dasar kuning. Nanti pas baca, baru diopeningnya aja kita langsung dijejalin segala hal brand-brand yang digandrungi cewek-cewek metropolitan. Meski tas, sepatu, baju, dan apa pun yang nempel di badan mereka ada yang mencapai jutaan bahkan menembus puluhan jutaan, sebagai perempuan yang nggak hobi fashion, melihat kehidupan para wartawan lifestyle di majalah ini membuat saya melongo. Ternyata menjadi wartawan fashion juga harus berkelas dengan ‘harga’ yang ada di benda-benda yang menempel di tubuh mereka. Tapi jangan salah, meski mereka punya berbagai benda dengan harga yang bikin kita wow, makanan favorit tentunya di kantin kantor ataupun malah lebih turun derajat lagi; lontong sayur di kaki lima.

J’ Adore: Jakarta-Paris via French Kiss

Banyak tantangan yang harus dilewati Alif jika sedang dinas di luar, salah satunya adalah perkara ID card. Tidak sembarang orang bisa mendapatkan ID card untuk masuk lokasi-lokasi fashion week dan menggunakan fasilitas-fasilitas yang disediakan seperti communication center, press office, dan photographer centre. Memiliki ID ini buka berarti sudah jadi digdaya untuk bisa masuk ke semua show, tiket masuk show diurus terpisah ke desainer-desainer bersangkutan. Namun, kadang-kadang petugas penjaga pintu masuk kerap berbaik hati dan membiarkan orang yang memiliki ID masuk ke tenda fashion show. Kebaikan hati para petugas jaga inilah yan banyak diharapkan para fotografer wartawan.

Bohemia: Pengantin Gypsy dan Penipu Cinta

Menjadi jobless, biasanya langsung turun derajatnya saat di pergaulan. Beberapa pihak langsung memutuskan kontak begitu saja begitu Alif mengatakan jika dia sudah tidak bekerja di kantor kebanggaannya itu. Ada semacam keputusasaan yang dialami oleh Alif, yang mungkin banyak dialami oleh para jobless lainnya. Untungnya dia masih memiliki para sahabat: Nisa, Didi, dan Raisa yang selalu menemaninya saat suka dan duka. Di lingkaran lifestyle di Jakarta, orang yang tak ada label besar di atas kepalanya benar-benar tak ada harganya lagi.

Monsoon: Apa Maksud Setuang Air Teh

Membaca keseluruhan empat buku ini, semuanya suka. Setiap buku punya warna kehidupan yang berbeda, sama seperti covernya yang memiliki warna berbeda tiap bukunya. Meski sampai di buku keempat, sudut pandang cerita selalu dari sisi Alif, porsi Raisa, Didi, dan Nisa lumayan banyak. Endingnya sungguh tak tertebak. Good job!!

2.Love, Lust, Lost

Sudah delapan kali Saski menghadiri perhelatan mode akbar ini. Selama seminggu penuh harus berkutat dalam jadwal fashion show di negara yang bertebaran laki-laki ganteng genit bertubuh tegap. Rasanya dulu, tak mungkin Saski berada di sini. Mantannya super posesif. Tak terbayang bagaimana caranya dapat izin dari dia, untuk bisa pergi selama sepekan ke kota-kota yang jelas-jelas akan penuh godaan. Pasti akan dituduhnya macam-macam. Cinta penuh gejolak yang bergejolak lima tahun lalu itu, sesekali memang masih berhasil membuat hatinya perih.

3.Cinderella Tanpa Sepatu Kaca

Selain keadaannya yang cukup rumit, dari sisi Astrid kita belajar bagaimana memahami kenapa seseorang melakukan pilihan hidup meski terkadang harus mengorbankan passionya karena keadaan. Astrid punya keinginan menjadi seorang desainer, dia merasa harus tahu diri. Dia memilih program studi Akuntansi karena menilai peluang untuk segera bekerja terbuka lebar. Itupun akhirnya Astrid akhirnya mengambil cuti kuliah satu semester karena terbentur masalah biaya. Meski sudah bekerja sekeras yang diizinkan oleh tubuhnya. Namun dia tahu diri dan memilih cuti karena harus fokus memikirkan Willa yang akan segera berseragam putih biru. Dan itu artinya hanya satu, Astrid harus menyiapkan dana tambahan.

Masalah passion sebenarnya juga dibahas tidak hanya dari sisi Astrid. Tapi juga dari sisi Jang Song Joo. Sebenarnya, bekerja di bidang fashion tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Meski Song Joo tidak asing dengan Trend Setter yang didirikan ibunya tatkala usianya baru empat tahun. Namun Song Joo tidak bisa memikirkan alternatif lain setelah karier impiannya sebagai pemain bulu tangkis kandas. Cedera parah yang dideritanya saat latihan membelokkan kariernya.

4.The Time Traveling Fashionista: on Board the Titanic

Louise menganggap dirinya semacam ahlinya pakaian vintage. Dia dapat dengan mudah mengenal produk Balenciaga dari rancangan Givenchy. Dia tahu istilah vintage merujuk pada pakaian yang muncul sebelum 1980-an, dan semua yang melewati tahun itu akan dianggap sebagai pakaian bekas. Louise tahu bahwa risleting jarang digunakan sebelum 1940-an. Dan, dia juga tahu hanya karena sesuatu merupakan barang lama, belum tentu barang itu tidak ada nilainya.

Suatu hari, Louise mendapat undangan misterius untuk datang ke Traveling Fashionista Vintage Sale. Louise sangat antusias untuk ke sana, apalagi vintage adalah salah hal yang disukainya selama ini. Dia mencoba berbagai hal di sana, salah satunya adalah memakai gaun pink pudar sempurna; warna permen kapas, permen karet, dan Marilyn Monroe. Tanpa disangka gaun itu membawanya ke lorong waktu; 1912. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah dia berada di kapal titanic yang fenomenal itu!

5. Love in Montreal

MAGHALI TIFANA SAFRI. Lulusan sekolah fashion di Jakarta, kota tempat tinggalnya yang merupakan cabang dari jurusan fashion di La Mode College. Ya, dia sudah lulus diploma. Lalu membuka usaha butik yang memajang rancangannya. Sudah berjalan empat tahun dan cukup sukses. Membuatnya diundang dan ikut serta dalam pertunjukkan beberapa fashion di beberapa negara. Kemudian dia melamar beasiswa karena ingin lebih memperdalam ilmu fashion sekaligus menambah wawawan dan pengalaman.

6. Tahajud Cinta di Kota New York

Selama hidupnya di Jakarta dulu Dara dikenal memiliki banyak kenalan penting dan paling eksis dalam pergaulan remaja kelas atas. Sebagai anak dari seorang pergaulan remaja kelas atas. Sebagai anak dari seorang pengusaha salah satu perusahaan property besar di Indonesia, Dara biasa hidup bergelimang kecukupan. Dalam lingkungan pergaulannya, ia juga dikenal sebagai seorang fashionista. Pakaian yang dipilihnya selalu bermerk mahal. Bukan hanya hasil rancangan designer pakaian kelas dunia, juga rancangan designer pakaian terkenal di Indonesia. Terkadang ia mendesain sendiri apa yang ingin dipakainya. Keputusannya untuk berubah jelas akan menjungkirbalikkan semua imej fashionista modern yang melekat pada dirinya selama ini.

7. Bride Wannabe

Sascha punya passion yang besar di butik ini. bukan dalam pakaian, aksesori, atau pernak-pernik cantik lainnya, mungkin itu bagian Baby. Sascha punya passion yang besar dalam hal mengembangkan bisnis butik ini. Sascha ingin sekali mempunyai beberapa butik seperti ini yang selalu ramai dikunjungi banyak orang dan menuai keuntungan yang besar. Dalam impiannya, butik ini akan bercabang-cabang seperti dahan pohon. Sebenarnya, Sascha ingin sekali mempunyai toko bunga. Namun, rasanya untuk sekarang ini, mimpi itu masih harus Sascha tunda. Mungkin nanti bisa terwujud. Entah kapan.

8. Love in Blue City

NADA. Jika di buku Love in Marrakech masih belum menemukan passionya, di buku sekuelnya ini, Nada perlahan menemukan passion yang ingin ditekuninya yaitu bidang desain. Memiliki dua tukang payet dan meski menjahitnya masih dititip di tukang jahit langganan, tapi ini merupakan kegiatan baru yang berarti bagi Nada. Bahagia rasanya melhat orang jadi tambah cantik mengenakan baju-baju buatannya.

9. Love in Sydney

MAGHALI TIFANA. Dia aman berkarier mengembangkan passion-nya di bidang fashion muslimah di bawah merek ‘Maghali’. Bakat Maghali memang tidak sembarangan. Dibandingkan dengan Maura, sebenarnya lebih suka tokoh Maghali ini. Karakternya yang lebih tenang dan lebih bisa mengontrol emosi. Oya, dia juga tampak dewasa karena selalu optimis melihat masa depan yang gemilang.

10. Remuk Redam

Sebagai pemilik tunggal, Olivia sadar betul nggak bisa membiarkan butiknya terus-menerus terpuruk seperti ini. Dia takkan memaafkan dirinya kalo usaha yang dirintisnya dengan berkorban keringat dan air mata, juga sebagian besar dari almarhumah kakeknya, berakhir tragis begitu saja.

Fendi, sahabat Olivia mengusulkannya untuk nge-hire jasa buzzer dan selebgram. Brand-brand pakaian ngelakuin itu loh selama dua tiga tahun terakhir. Paid promo. Internet adalah masa depan periklanan. Kalo bisa menjalin kerjasama promosi dengan buzzer atau influencer dengan follower mencapai jutaan, efeknya jauh lebih hebat daripada media promosi tradisional di luar sana.

Itu tadi beberapa buku bertema fashion yang pernah aku baca. Apakah sudah ada yang membacanya juga? Atau punya referensi lain tentang buku bertema fashion lainnya yang belum aku jabarkan di sini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s