Uncategorized

REVIEW Aku Klik Maka Aku Ada

“Orang berhenti tumbuh bila ia berhenti bersikap kritis, ketika ia menolak atau menyangkal untuk mengakui bahwa apa yang telah ia buat –pengetahuannya, rancangan-rancangan sosialnya- mengandung kontradiksi-kontradiksi dan menghasilkan dampak-dampak yang merugikan.” (hlm. 71)

Di abad 21 ini, ego merasa pasti akan eksistensinya bukan dari dirinya, melainkan dari citra yang tidak jarang mengecoh. Seseorang membuka smartphone pagi-pagi dan melihat dirinya terpampang di facebook atau kicauannya dikomentari di twitter. Di sana ada personal brandnya. Dia pun yakin dia sungguh ada dan bukan delusi. Buktinya, foto, teks atau videonya ada di sana. Sewaktu-waktu, si ego bertindak, dengan klik untuk apa saja agar tetap update. Berpikir tidak penting lagi; yang terpenting adalah klik agar si ego exists dalam media-media sosial.

Berbeda dari apa yang ditemukan. Descartes di awal modernitas, si ego di zaman kita tidak menyangsikan eksistensi digitalnya, padahal masih dapat disangsikan apakah citra-citra dalam dunia digital dan isi komunikasi di dalam media-media sosial bukan kecohan suatu genius malignus. Eksistensi si ego tidak ditentukan oleh kesangsiannya, melainkan oleh kepastiannya, bahwa dia telah mem-post, membalas chats, mendapat likes, atau merekrut sejumlah besar followers. Untuk itu tidak perlu pikir-pikir, melainkan cukup klik. ‘Aku klik, maka aku ada’, premo ergo sum. Saat ini seolah tidak ada yang lebih pasti daripada itu. Dengan kepastian dalam layar itu, homo sapiens berubah menjadi homo digitalis. Bersamaan dengan itu pula, kepastian-layar menggeser kepastian-realitas.

Istilah ‘digital’ berasal dari kata latin ‘digitalis’ yang artinya ‘jari’. Homo digitalis, ‘manusia jari’, memastikan keberadaannya lewat jari yang mengklik. Namun, kepastian itulah yang perlu kita sangsikan di sini, jika kita tidak ingin seluruhnya dikendalikan genius malignus zaman kita yang menukar eksistensi corporeal dengan eksistensi digital. Dunia aktual yang ke dalamnya kita terlibat sebagai darah dan daging terus dikolonisasi dengan suatu dunia keseolahan yang bertempat di mana pun, sekaligus tidak dimana pun. Dari situ keseolahan mulai menyihir siapa pun.

Kekaburan memang bukan hal baru karena melekat pada kondisi manusiawi, tetapi dewasa ini kekaburan menjadi intensif dan rumit lewat teknologi komunikasi. Yang menjadi sumber pikiran bukan lagi subjek, melainkan pesan (message) dalam komunikasi digital. Demikianlah, sungguh pun tampaknya menghasilkan ide, orang sesungguhnya hanya meneruskan pesan dalam sirkulasi komunikasi. Jika luapan informasi tidak tersaring, distingsi antara realitas dan fiksi yang kokoh dalam modernitas didestabilisasi. Berpikir menjadi tidak lebih dari kolase pesan-pesan yang berdiri gamang di antara fiksi dan fakta. Karena itu, dalam situasi baru ini pendakian dialektis dengan tangga rasionalitas dan pengusiran metafisika dengan observasi dianggap dua narasi yang tidak kurang fiktifnya seperti yang mereka lawan. Mereka dianggap sekedar cerita yang segera lewat oleh pesan-pesan baru.

Ketika kata-kata dan citra-citra menjadi liar dan lepas dari benda-benda, pada saat itu semua menjadi sama real dan sama fiktifnya, dan hipotesis genius malignus dianggap berlebihan. Ada satu nama yang telah lama muncul untuk kondisi epistemis dan ontologis yang diwakili oleh pengkhianatan citra itu; postmodernisme. Namun jangan dilupakan bahwa berbagai bentuk radikalisme termasuk fanatisme agama dan supremasi ras, juga bertolak dari kondisi tersebut.

Ketika populasi mengarahkan mata mereka lebih ke layar telepon genggam daripada ke lingkungan fisik, imperative-imperatif dunia digital mulai menjadi aturan harian. Sikap orang pun berubah. Wajah yang seharusnya terangkat berhadapan dengan wajah lain, sekarang menunduk menatap layar gawai untuk merasa bebas dari lingkungan fisik. Di era ini, orang mulai takut menghadapi langsung wajah real orang lain yang tidak bisa di skip seperti foto dalam gawainya, bila tak suka. Pengguna merasa menjadi tuan atas tombol-tombol digital yang memindahkannya segera dari situasi ke situasi sesuai seleranya. Tapi itukah kebebasan? Layar yang ditatapnya tanpa disadarinya juga ‘menatapnya’ sehingga dirinya tersedia bagi pihak lain yang tidak dikenalinya. Para pengguna internet tidak dapat menghindari paradox komunikasi digital; mereka merasa bebas berkomunikasi, tetapi sesungguhnya, yang sebaliknya juga terjadi. Karena makin aktif memakai internet, data diri mereka makin ‘diketahui’ oleh system pengawasan digital perusahaan-perusahaan media yang pada gilirannya akan berbalik menjadi control dan modifikasi perilaku mereka. Dialektika melihat dan dilihat terjadi di sini secara teknologis: main sering melihat berarti juga makin tajam dilihat. Tidak perlu lagi pengintaian karena pengguna menyediakan diri untuk dilihat dan akhirnya juga dikendalikan.

Deskripsi dan analisis fenomonologis buku ini memperhatikan tiga hal berikut. Pertama, fenomena komunikasi digital didekati tidak hanya secara empiris, melainkan dengan menghubungkannya secara reflektif dengan dimensi-dimensi yang lebih mendasar, seperti dimensi epistemologis, antropologis, ontologis, dan etis. Kedua, untuk menjalankan fenomenologi kita membedakan antara dunia-kehidupan yang taken for granted dan konstruksi-konstruksi makna yang dihasilkan lewat interaksi social, sehingga komunikasi digital menampakkan diri buka seperti dunia apa adanya, melainkan sebagai dunia konstruksi-konsruksi. Ketika, kompleksitas fenomena yang akan didekati menentukan kompleksitas deskripsi fenomenologinya.

Semua data pikiran itu sering mengganti memori dan penalaran. Homo digitalis bukan lagi suatu I think sebagaimana ada sejak Decrates, melainkan suatu I browse. Ia berpikir lewat internet. ‘Siapa aku’ akan semakin identik dengan ‘aku-online’, sementara aku-offline akan makin surut ke belakang. Pada akhirnya diktum aku berpikir diganti dengan ‘Aku klik, maka aku ada’. Pikirannya mengerucut di jari. Istilah homo digitals bisa terdengar sarkatis karena bisa berarti ‘manusia jari’, bukan manusia bijak atau sapiens.

Homo digitalis buka sekedar pengguna gawai. Ia bereksistensi lewat gawai. Eksistensinya ditentukan oleh tindakan digital, yakni; uploading, chatting, posting dan selfie. Dengannya, ia berbagi atau pamer untuk kebutuhan akan pengakuan.

Homo digitalis belum mencapai sosok paripurnanya; yang sedang terjadi sekarang adalah peralihan revolusioner yang menghasilkan kebebasan sekaligus brutalitas. Sebagaimana revolusi lain, revolusi digital melepaskan orang dari belenggu tatanan lama dan meraih kebebasan-kebebasan baru dalam komunikasi. Kebebasan baru ini bahkan melambung sampai melepaskan kekebasan alamiah, yang selama ini masih dibatasi oleh norma-norma moral dan menghasilkan brutalitas dan kebencian terhadap penganut agama lain. Homo digitalis mendapati dirinya seolah dalam dunia baru tanpa Negara, digital state of nature. Dalam keadaan itu adil dan tidak adil tidak dikenali. Setiap orang menjadi hakim dan bahkan Tuhan atas yang lain. Kecanggihan gawai membuat penggunanya tidak cepat menyadari, dirinya bisa menghasilkan brutalitas lewat pesan-pesannya. Homo digitalis dapat menjelma menjadi homo brutalis.

Media sosial dapat memodifikasi warga baik-baik, menjadi kaum bumi-datar, anti-vaxxer, kadrun, dan bahkan Nazi. Jalan dari kesalehan ke brutalitas bisa saja hanya sejauh satu klik. Adalah ironi besar dalam peradaban bahwa pada saat kebebasan baru dalam berkomunikasi diraih seluas-luasnya, manusia justru berada dalam kendali mesin-mesin cerdas Facebook, Youtube, Twitter, yang dewasa ini melampaui kekuasaan Negara-negara. Ketika digitalisasi dan globalisasi ditampilkan sebagai pemersatu dunia, tragedi Menara Babel terulang, tanpa pernah diakui para pengguna media-media social.

Dalam ruang digital tidak ada urutan zaman, status social, hierarki nilai. Dalam semburan pesan-pesan digital silih berganti masa silam tiba-tiba muncul seperti masa depan, atau masa kini mencoba bertahan dari serbuan masa silam dan masa depan dan segera raib dalam kehidupan. Dalam dunia digital waktu menjadi liar, seliar kata-kata yang kehilangan acuan mereka pada benda-benda. Jika waktu adalah ingatan, dan ingatan ditindas oleh sirkulasi cepat kesibukan, segalanya akan cepat menguap ke masa silam. Waktu dan ingatannya bergerak naik turun, maju mundur bagaikan citra-citra impian dalam lukisan surealistis. Inilah zaman ketika semua orang bergawai merasa bisa ‘menangani’ semua, termasuk waktu. Waktu ‘digenggam’ dengan fungsi-fungsi digital, seperti: save as, bookmarks, history, cache, dan sebagainya, dan seolah berhenti sebagai memori digital dengan ‘efek keabadian’, tetapi pada saat yang sama muncul problem: tidak ada kelupaan di dalam dunia digital. Ingatan digital suatu hari dapat muncul menghantui pengguna. Homo digitalis bisa melupakan, tetapi komputer tidak, maka ia mulai menuntut ‘hak untuk dilupakan’, supaya ia dapat hidup tenang tanpa dibayang-bayangi jejak digital ketidaksempurnaannya.

Buku ini sebenarnya bagus, membuka takbir sisi gelap dunia maya. Sayangnya tidak seimbang dengan menyuguhkan sisi positif dari dunia maya. Sebagai pengalaman pribadi, aku banyak mendapatkan manfaat dari berkecimpung di dunia online. Misal, mereview buku via blog, mendapatkan lebih dari seribu buku gratis dari penerbit maupun penulis hanya karena mereka membaca tulisanku dari dunia maya via facebook maupun instagram. Begitu juga di tahun 2015, aku pernah lulus seleksi dan berhasil meraih juara 1 saat pemilihan pustakawan berprestasi tingkat provinsi dengan membuat karya tulis berjudul ‘Promosi Perpustakaan Melalui Media Sosial’. Dan di tahun 2017, aku mengikuti seleksi di pemilihan yang sama dan menjadi salah satu finalis di nasional dengan karya tulis ‘Meningkatkan Minat Baca Melalui Blog’. Itu tadi beberapa contoh manfaat yang aku rasakan dari aktif di dunia maya. Sebenarnya dunia maya maupun di dunia nyata, mempunyai sisi negatif, tapi juga sama-sama memiliki sisi positif. Tinggal bagaimana kita memanfaatkannya.

Keterangan Buku:

Judul                                     : Aku Klik Maka Aku Ada: Manusia dalam Revolusi Digital

Penulis                                 : F. Budi Hardiman

Editor                                    : Erdian

Illustrator cover                                : Alethia

Desainer isi                         : Hermanus Yudi

Penerbit                              : Kanisius Media

Terbit                                    : 2021

Tebal                                     : 279 hlm.

ISBN                                      : 978-979-21-7039-9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s