Uncategorized

REVIEW Hidup Bahagia Tanpa Keluh Kesah

Salah satu kata yang paling dicari manusia adalah kebahagiaan, dan mungkin kata lain yang semakna itu. Dan salah satu kata yang paling dihindari manusia adalah kesedihan, dan hal negatif lain yang serupa. Tetapi tahukah kita, bahwa ternyata orang bahagia dan tidak bahagia cenderung memiliki pengalaman hidup yang sama? Apa yang dialami oleh manusia itu ya sebenarnya itu-itu saja. Kejadian yang menimpa mungkin sama, responnya saja yang berbeda. Respons yang berbeda ini memunculkan rasa yang berbeda juga. Ada yang berbahagia, ada yang bersedih dan menderita.

Maka, bahagia adalah soal pilihan rasa yang kita pilih. Kesedihan juga sama. Apa yang menimpa kita dan orang lain mungkin sama. Apa yang kita dapatkan, mungkin tidak jauh beda dengan apa yang didapatkan orang lain. Tetapi, apa yang kita rasakan, bisa jadi sangat berbeda. Karena bahagia adalah soal rasa, maka ukurannya pun berbeda antarmanusia. Ada yang mendapat sebungkus nasi sudah bahagia, tak peduli apa pun lauknya dia santap dengan lahap. Di sisi lain apa yang dihadapannya terhidang menu mewah dan istimewa, tetapi dia tetap tidak berselera.

Lalu, apa sebenarnya sumber kebahagiaan itu? Salah satu sumber kebahagiaan terbesar adalah keimanan kepada-Nya. Kebahagiaan baru menjadi suatu kenyataan yang dapat dirasakan, hanyalah jika ada ketenangan, ketentraman, kemanan batin, pengharapan, kepuasan, cita-cita dan kaish sayang. Untuk semua itu iman yang menjadi sumbernya. Tanpa ada keimanan, hal-hal diatas hanyalah dapat menjadi sebutan dan harapan kosong belaka. Dengan iman, tercipta keamanan lahir dan batin.

Orang yang beriman dan membuktikan keimanannya dengan amal saleh akan mendapatkan hayatan thayyibah (kehidupan yang baik), kehidupan yang membahagiakan, dan meraih al-Falah, keberhasilan di dunia ataupun akhirat. Sebaliknya, orang yang tidak mau beriman dan berpaling dari peringatan-Nya, akan mendapatkan kehidupan yang sempit.

Kehidupan yang sempit adalah kehidupan yang sulit dihadapi, lahir atau batin. Kehiduapan yang demikian menjadikan seseorang tidak pernah merasa puas, dan selalu gelisah, karena dia tidak menoleh kepada hal-hal yang bersifat ruhaniah, tidak merasakan kenikmatan ruhani karena mata hatinya buta dan jiwanya terbelenggu oleh hal-hal yang bersifat material. Penghidupan yang sempit dalam hal ini merupakan ganjaran dari sikap berlebihan dalam menuruti keinginan nafsu dan tubuh, yaitu dengan menurut syahwat, kelezatan, dan kesenangan duniawi.

Ketiga keadaan yang kita harus sabar menghadapinya adalah:

  1. Al-Ba’sa: sabar dalam menghadapi kebutuhan yang mengakibatkan kesulitan. Sederhananya, sabar menghadapi kemiskinan dan kemelaratan. Kesabaran dalam hal ini menuntut seseorang untuk berusaha memenuhikebutuhannya. Dalam proses untuk mencapai apa yang dibutuhkan itu, dia tidak kenal lelah dan tidak memedulikan rintangan yang menghalanginya.
  2. Adh-Dharra: sabar dalam menghadapi kesulitan yang telah menimpa atau sabar saat sakit dan menderita. Ketika menghadapinya, seseorang harus bersabar sehingga bisa menerimanya dengan jiwa besar dan dada lapang, serta bisa memetik hikmah dari apa yang dialaminya itu.
  3. Hina al-ba’s: sabar dalam peperangan. Atau bisa juga berarti sabar dalam melakukan perjuangan. Sebab, perjuangan membutuhkan kesabaran yang akan menguatkan kita untuk terus bertahan.

Jika kita bisa bersabar, kita akan memperoleh kebaika dan kebahagiaan. Dengan kesabaran kita akan menjadi lebih kuat dalam menghadapi berbagai cobaan hidup ini. Dengan kesabaran kita akan lebih teguh menghadapi rintangan kehidupan ini. Dan, dengan kesabaran kita akan senantiasa berada dalam kebaikan. Kesabaran merupakan pemberian terbaik dari Allah kepada hambanya.

Kita perlu sejenak untuk meletakkan beban hidup kita. Dengannya, kita akan senantiasa kuat untuk menanggunggnya. Sebab, jika kita terus membawa beban-beban hidup ini, kita pasti tidak akan kuat. Pada awalnya mungkin biasa saja, tetapi lama-kelamaan kita akan merasa berat membawanya. Bukan karena beban yang makin berat, melainkan karena jiwa kita yang semakin lemah dan lelah. Maka, kita perlu sejenak meletakkan beban itu. Kita butuh istirahat.

Pernah enggak kita merasa capek sekali setelah melakukan aktivitas kebaikan, tetapi ada kebahagiaan juga kepuasan di hati? Pernah enggak kita enggak ngapa-ngapain, tetapi bingung sendiri mau berbuat apa, dan rasanya capek banget? Pernah enggak kita melakukan sesuatu yang kurang baik, saat melakukannya sepertinya senang banget, tetapi setelahnya merasa ada yang enggak enak di hati?

Orang yang melakukan perbuatan berfaeda, bermanfaat, baik atau yang dia yakini kebenarannya akan lebih mudah mendapatkan kepuasan dalam dirinya. Walaupun mungkin capek, tetapi dia merasakan kebahagiaan. Istilah dalam psikologi positif adalah kebermaknaan. Seseorang yang menemukan makna dalam hidupnya akan lebih bahagia dibandingkan dengan orang yang tidak memilikinya.

Bekerjalah sesuai dengan kemampuan kita. Carilah rezeki melalui jalan yang kita sukai. Berusahalah dengan cara yang kita sukai. Tetapi ingat, pastikan selalu bahwa semua ikhtiar kita telah berada di jalan yang benar, sehingga rezeki yang kita peroleh itu merupakan harta yang halal. Allah memberi kelebiha sebagaian orang di antara kita, dengan sebagian yang lain. Ada yang kaya, ada yang miskin. Ada yang sangat kaya, ada yang sangat miskin, bahkan hidupnya minus (punya utang).

Pada harta yang Allah berikan kepada orang yang berkecukupan, pada dasarnya ada hak bagi mereka yang kekurangan. Pada tabungan orang kaya yang tak terhitung jumlahnya, ada hak fakir miskin yang kekurangan. Maka, orang yang berkecukupan perlu berbagi kepada yang kekurangan. Orang yang kaya perlu berbagi kepada orang miskin, agar kesenjangan tidak semakin jauh, serta adanya solidaritas pada sesama.

Apa yang bagi kita mungkin tidak seberapa, bisa saja itu begitu berharga bagi orang lain. Dan bisa saja apa yang kita berikan kepada orang lain itu, biarpun kecil, dipandang besar oleh Allah SWT. Selain itu juga, sekalipun kecil, tetapi ikhlas memberikannya dan berasal dari usaha yang halal sehingga diterima di sisi Allah, nantinya ia akan berkembang dan membesar, dan menjadi begitu banyak karena karunia-Nya.

Salah satu kunci kebahagiaan orang beriman dalam menghadapi kehidupan ini sehingga tetap bahagia dalam kondisi apa pun adalah dengan sifat sabar dan syukur, yang mana keduanya ibarat dua sayap yang membuat kita bisa terbang ke langit kebahagiaan.

Setelah membaca buku, menemukan beberapa istilah baru yang belum pernah aku dengar sebelumnya:

  1. Al-Falah artinya keberhasilan serta tercapainya cita-cita. Dan keberhasilan itu dibagi menjadi dua kategori, yaitu keberhasilan yang bersifat duniawi dan bersifat ukhrawi. Mereka yang memperoleh al-falah adalah mereka yang berhasil dan sukses mendapatkan apa yang diinginkannya baik untuk kehidupan dunia ataupun akhirat. Jika ada orang yang mendapatkannya, tentu dia akan merasakan kebahagiaan, dan tidak ada lagi kesedihan dalam dirinya.
  2. Di antara salah satu sifat negatif manusia adalah halu’a. Kalau kita baca terjemahan di Al-Quran, biasanya diartikan sifat keluh kesah lagi kikir. Namun, maknanya lebih dari itu. Syaikh Wahbah az-Zuhaili mengartikan halu’a dengan cepat sedih dan gelisah, sangat rakus dan kurang sabar. Sedangkan az-Zamakhsyari mengartikan al-halu sebagai cepat resah ketika terkena musibah, cepat menolak ketika mendapatkan kebaikan.
  3. Kehidupan yang baik (hayatan thayyibah) itulah mungkin kehidupan yang diharapkan semua orang. Tetapi, tidak semua orang bisa merasakannya. Hanya orang beriman dan mau membuktikan keimanannya dengan amal salehlah yang akan merasakannya. Jika orang yang beriman akan mendapatkan hayatan thayyibah, maka orang yang berpaling dari-Nya akan mendapatkan ma’isyatan dhanka, kehidupan yang sempit.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Kebahagiaan adalah seluruh maksud dan tujuan dari keberadaan manusia. (hlm. 5)
  2. Tidakkah seseorang mengeluarkan sedekah, melainkan sedekah itu akan jatuh ke tangan Allah sebelum jatuh ke tangan orang yang memintanya. Allah meletakkan tangan-Nya di tangan orang yang memintanya. (hlm. 107)
  3. Orang lain adalah obat penawar terbaik bagi kekecewaan hidup dan yang paling bisa diandalkan. (hlm. 136)

Keterangan Buku:

Judul                     : Hidup Bahagia Tanpa Keluh Kesah

Penulis                 : Sirot Fajar

Editor                    : Nani Supriyanti

Penyelia               : Fajar K.

Proofreader       : Chaerul Arif

Desain sampul   : Composer Desain

Tata letak            : Alesya E. Susanti

Penerbit              : Alifia Books

Terbit                    : Februari 2021

Tebal                     : 240 hlm.

ISBN                      : 978-623-7163-57-2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s