Uncategorized

REVIEW Si Kecil yang Terluka dalam Tubuh Orang Dewasa

 “Yang perlu dilakukan adalah kita menyadari dan menerima masa lalu kita yang penuh luka, bukan melakukan sesuatu sebagai wujud balas dendam saja.” (hlm. 66)

Pada tiap periode kehidupan, semua orang punya tugas-tugas perkembangan tersendiri. Contohnya pada masa kanak-kanak, ada tugas terkait pembentukan kepercayaan diri, disiplin dan sebagainya. Ketika ada pemenuhan tugas pada satu periode kehidupan yang terhambat karena pola pengasuhan yang tidak ideal, itu bisa jadi unfinished business. Kita bayangkan hidup kita seperti sebuah usaha bisnis. Ketika kita punya utang di bisnis terdahulu, terus mau membuka bisnis baru, biasanya lebih berat. Biasanya kita punya harapan lebih di bisnis baru, bahwa dia bisa mengisi atau membayar utang bisnis yang lama. Begitu juga dengan inner child.

Buku ini ditulis oleh seseorang yang memang mengalami inner child dalam kehidupannya. Sepanjang ingatannya yang bisa jadi bias karena pada orang depresi biasanya, ingatan tentang hal buruk lebih kuat dibandingkan hal baik. Yang dirasakannya, 80% cara berkomunikasi sang mama itu tidak enak padanya. Mulai dari nada tinggi, mengungkit masalah lama, hingga mempersoalkan hal yang seharusnya tidak jadi persoalan.

Sebagian besar orangtua menyayangi anaknya sepenuh hati. Namun ekspresi cintanya bisa jadi sembilu bagi si anak ketika ‘bahasa cinta’ yang dipakai tak sama. Orangtua mau jadi anaknya mandiri dan kuat dengan jalan memperlakukannya secara keras, sedangkan anak ingin orangtuanya lebih lemah lembut dan peka terhadap kondisinya yang seringkali tak orantua mengerti.

Ada anak yang senang dipeluk, ada yang merasa diapresiasi dengan pemberian barang tertentu, ada juga yang merasa lebih dicintai lewat kata-kata. Sayang sekali bila orangtua mengabaikan atau menafikan hal ini dengan dalih ‘orangtua selalu tahu yang terbaik buat anak-anaknya’.

Secara psikologis, pengalaman kecewa atau tersakiti otomatis membuat orang membangun pertahanan diri supaya serupa tidak kejadian di kemudian hari. Pertahanan diri kita berwujud kemandirian karena kita tidak mau orangtua kita punya alasan untuk menyuruh kita ini itu lagi. Kita hanya cukup membuktikan bahwa kita bisa menjalani hidup kita sendiri tanpa bantuan mereka, seberapa pun susah itu.

Ada empat gaya pola asuh yang kerap ditemukan dalam masyarakat. Apa sajakah itu? Pertama, gaya otoriter. Di sini orangtua menegakkan hierarki kuasa dalam pengasuhan; mereka benar-benar mengontrol anaknya, tidak memberikan kebebasan atau otonomi sekalipun anak telah beranjak remaja, bahkan dewasa, dan kerap memakai mekanisme pendisiplinan berupa hukuman. Dalam gaya pengasuhan ini, orangtua memiliki low responsiveness dan high demandingnes.

Kedua, gaya permisif. Orangtua cenderung toleran kepada anak dan longgar dalam peraturan atau kedisiplinan. Ditemukan high responsiveness dan low demandingness. Orangtua bergaya pengasuhan ini menunjukkan rasa sayangnya dengan member anak kebebasan untuk mengambil keputusan, bahkan yang besar sekalipun, dan mengesampingkan soal tanggung jawab anak. Meskipun mereka membuat sejumlah aturan, tidak jarang hal tersebut diterapkan secara inkonsisten karena ada tujuan menghindari konfrontasi. Mereka juga mungkin melakukan strategi menyuap dengan mainan atau barang-barang kesukaan anak supaya si anak berlaku baik.

Ketiga, gaya pegabaian. Memiliki ciri low responsiveness dan low demandingnes. Orangtua memusatkan perhatian pada dirinya sendiri dan jarang terlibat dalam pengasuhan anak. Tidak ada aturan tegas, begitu pula dengan kehangatan kasih saying orangtua – anak di dalamnya.

Keempat, gaya otoritatif. Adalah gaya yang paling ideal. Orangtua punya high responsiveness dan high demandingnes. Mereka yang menerapkan gaya pengasuhan ini cenderung suportif kepada anaknya, tetapi tetap menegakkan batasan tertentu.

Selain empat gaya pengasuhan tadi, ada dua lagi gaya pengasuhan yang dipopulerkan oleh media. Pertama, helicopter parenting. Orangtua terlalu berfokus pada kehidupan anak di mana mereka selalu memantaunya bak helicopter. Orangtua yang menerapkan ini bersikap sangat mengontrol, bahkan mengambil kredit dan tanggung jawab atas pencapaian dan kekecewaan anak. Orangtua yang menerapkan pola pengasuhan ini juga cenderung cemas dan protektif berlebihan, serta kerap mencampuri urusan anak. Akibatnya, sang anak kehilangan kesempatan untuk bereksplorasi dan mengelola resiko.

Kedua, tiger parenting. Anak-anak biasanya cederung tertekan karena waktu bermain atau nongkrong bersama teman-teman terbilang minim lantaran besarnya tuntutan orangtua mereka untuk menjadi prima dalam akademik. Anak-anak dalam gaya pengasuhan ini bisa saja mencapai beragam prestasi karena mereka takut akan hukuman orangtua dan berusaha keras mendapat penerimaan mereka. Walau tujuannya positif, anak hanya menilai keberhagaan dirinya dari capaian kesuksesan semata, dan itu menciptakan tekanan yang begitu besar.

Ketika anak dididik tidak boleh menangis karena sikap itu dianggap akan membuatnya kuat, sebenarnya orangtua malah membentuk jiwa anak menjadi rapuh. Ia bisa saja terlihat tangguh secara fisik, tetapi emosi-emosi negatif yang terpendam sejak lama dalam dirinya atas nama man up sedang menggerogoti mentalnya. Tinggal menunggu waktu sampai itu tumpah, atau justru terekspresikan secara merusak lewat kemarahan atau kekerasan.

Sejak usia dini, seseorang sudah punya emosi dan selayaknya orang dewasa, dapat merasakan sakit bila emosi yang ia rasakan tidak diakui dan diterima oleh orang terdekatnya. Upaya pemaksaan orangtua bisa berdampak panjang pada anak. Ibarat dipaksa memakai sepatu kesempitan yang membuat kaki lecet, jiwa anak pun bisa terluka dan bekasnya akan senantiasa terlihat.

Sementara dalam kasus-kasus lain, pemaksaan dapat terlihat dari bagaimana anak-anak kecil dimasukkan oleh orangtuanya dalam berbagai kursus, jurusan studi, pekerjaan, bahkan jodoh dengan tipe tertentu tanpa melibatkan kehendak anak, hanya karena orangtuanya ingin mewujudkan impian masa muda yang gagal terealisasi. Orangtua lupa bahwa anak bukan buku kosong tempat mereka bebas menorehkan apa saja sekehendak mereka. Mereka abai bahwa peran orangtua yang ideal adalah sebagai pembimbing, pemandu atau fasilitator, bukan atasan, penguasa, apalagi diktator.

Orangtua yang mengasuh secara tidak ideal dan menimbulkan luka pada diri anaknya adalah sosok yang juga punya inner child terluka da tidak disadari.

“Setiap orang punya cara masing-masing dan tingkat resiliensi berbeda dalam menghadapi beratnya pegalaman masa lalu, yang seringkali membekas dan memengaruhiya pada masa kehidupan dewasa. Kecenderungan seseorang untuk mengalami masa gangguan mental dengan tingkat keparahannya masing-masing bertaut dengan seberapa cepat ia menyadari akar permasalahan dirinya, dan seberapa jauh upayanya untuk mengentaskan hal itu. (hlm. 133)

Nah, akhirnya aku menemukan buku yang membahas inner child secara lengkap. Dan buku ini makin membuatku membuka mata bahwa inner child itu nyata dan ternyata banyak dialami oleh orang-orang. Dan di buku ini pula aku baru tahu banyak sekali istilah yang selama ini aku belum pernah mendengarnya. Berikut beberapa istilah yang aku temukan dalam buku ini:

  1. Blessing in disguise          : sesuatu yang terlihat tidak baik ternyata membawa hikmah seperti kebaikan atau keberuntungan
  2. Self harming                      : melukai diri
  3. Trust issue                           : masalah kepercayaan diri seperti dikhianati, dimanipulasi, hingga tidak percaya pada orang lain
  4. Toxic parent                       : orangtua yang toxic dalam hal pengasuhan anak
  5. Impostor syndrome        : sebuah kondisi ketika seseorang memiliki berbagai capaian yang membanggakan, tapi kerap menganggap kecil pencapaiannya, atau sering menilai itu hanya hoki alias keberuntungan semata, bukan karena talentanya
  6. Borderline personality disorder  : gangguan kepribadian ambang
  7. Victim blaming                  : keadaan ketika korban justru diminta pertanggungjawaban terhadap apa yang terjadi pada dirinya
  8. Bystander effect               : keadaan saat orang-orang sekitar yang melihat suatu kejadian gawat atau berbahaya memilih tak mengintervensinya
  9. Post traumatic stress disorder    : kondisi kesehatan jiwa yang dipicu oleh peristiwa yang traumatis, baik mengalaminya maupun menyaksikannya
  10. Abandonment wound   : cenderung merasa selalu ditinggalkan, dan menjadi sangat bergantung pada orang lain karena takut sendirian
  11. Trust wound                      : sulit memercayai diri sendiri sehingga butuh validasi terus menerus dari orang lain, pada saat bersamaan susah memercayai orang lain, takut disakiti dan sering merasa tidak aman
  12. Guilt wound                       : kecenderungan untuk selalu merasa bersalah ketika ada suatu hal tidak sesuai rencana meski itu bukan kesalahannya, sulit menerapkan batasan dan sulit meminta bantuan
  13. Neglect wound                 : kecenderungan sulit melepaskan sesuatu, merepresi emosi, punya rasa keberhargaan diri rendah, dan kesulitan mengatakan tidak

Keterangan Buku:

Judul                                     : Si Kecil yang Terluka dalam Tubuh Orang Dewasa

Penulis                                 : Patresia Kirnandita

Penyunting                         : Rifai Asyhari

Pemeriksa aksara             : Zaim Yunus

Penata isi                             : Razi Andika Pasha

Desainer sampul              : M. Sadam Husaen

Ilustrasi sampul                 : Patresia Kirnandita

Penerbit                              : EA Books

Terbit                                    : November 2021

Tebal                                     : 230 hlm.

ISBN                                      : 978-623-96940-8-1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s