Uncategorized

REVIEW Mengapa Aku Mengalami Burnout?

Apabila kita menggunakan energi secara berlebihan melebihi kapasitas sehingga merasa terlalu lelah, itu akan mengganggu hidup kita yang sehat. Hal ini membuat kita tidak berdaya dan terlalu lelah. Karena itu, sindrom burnout seringkali disebut sindrom kelelahan atau sindrom bekerja berlebihan. Semua istilah itu berarti semua energi sudah terpakai sampai tidak ada yang tersisa lagi.

Jika baterai ponsel kurang dari 20%, simbol baterai akan menyala merah. Jika di kondisi ini baterai tidak diisi ulang, baterainya akan mati. Begitupula dengan tubuh kita. Jika bahan bakarnya habis dan tubuh sudah member sinyal bahwa ia lelah, kita harus beristirahat penuh. Jika kita menyukai pekerjaan kita, itu akan menciptakan kecemburuan bagi orang lain dan kita harus bangga akan hal itu. Karenanya, kita tidak boleh terlarut dalam pekerjaan dan keseharian kita bahkan saat selesai bekerja.

Banyaknya pekerjaan juga menjadi masalah, tapi sampai mana tanggung jawab akan pekerjaan kita lebih penting. Kita harus tahu pekerjaan apa yang ditugaskan pada kita dan sampai mana kita harus bertanggung jawab terhadapnya. Ada banyak hal yang ambigu di sini. Ada perusahaan yang tidak memberi batasan pada karyawannya sama sekali. Banyak sekali yang harus dilakukan, tetapi jika batas tanggung jawabnya tidak jelas, hal itu akan sangat mengganggu. Lingkup kerja yang sangat lebar untuk dikontrol adalah salah satu penyebab burnout. Mereka bekerja sangat keras dan tanpa henti, tetapi mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan. Bahkan di saat lelah sekalipun, jika kita memiliki keinginan untuk mencapai sesuatu, itu bisa kita hadapi. Namun jika kita bekerja bagai buruh pabrik atau sukarelawan yang mengerjakan segala hal, kita tidak bisa menangani pekerjaan itu dan hanya akan menjadi stress. Saat kita tidak memperkirakan kapasitas diri dan batasan kemampuan kerja, pekerjaan menumpuk dan membiarkan pekerjaan mengendalikan kita, itulah penyebabnya burnout.

Rasa cemas dan bersalah untuk mengambil jeda ini diperparah dengan terpaparnya kita pada kondisi produktvitas orang lain. Bukan hanya keluarga, rekan kerja, teman dekat, tapi juga siapa pun yang berseliweran di media sosial, membuat kita, di satu sisi terinspirasi serta terpacu untuk lebih produktif, namun di sisi lain menjadi tidak memiliki control diri yang baik dalam memahami batasan kita sebagai manusia. Kita kerap berlomba-lomba untuk bekerja lebih banyak, lebih keras, dan lebih tidak kenal waktu.

Menariknya, di salah satu survey global dari World Values Survey yang dilaksanakan sejak tahun 2017-2020 mengenai nilai-nilai yang dipentingkan masyarakat berbagai negara, masyarakat Indonesia beranggapan bahwa bekerja merupakan prioritas sangat penting. Bahkan lebih penting dibandingkan keluarga, teman, dan kegiatan bersenang-senang. Bisa dikatakan bahwa hustle cuture, budaya gila kerja, sepertinya menjadi lifestyle yang dianggap keren bagi banyak kalangan anak muda. Bahkan seringkali menggeser healthy lifestyle (gaya hidup sehat) yang masih selalu merekomendasikan seseorang untuk makan sehat, tidur, istirahat dan berolahraga sambil menjaga kesehatan fisik serta mental. Seringkali kita terjebak untuk terus-menerus bekerja, bahkan waktu untuk menjalani hobi, menghabiskan waktu dengan orang-orang terkasih, menikmati hidup tidak lagi masuk dalam prioritas kehidupan seseorang. Dari mulai kita bangun pagi, sampai waktunya tidur, pikiran kita seolah-olah tidak bisa berpaling dari pekerjaan, dan tidak jarang bahkan mengganggu tidur.

Gaya hidup sibuk ini membuat kita akrab atau mungkin beberapa kali sempat mendengar kata burnout, apalagi semenjak dua tahun terakhir efek pandemi terjadi. Jika kita mendengar kata burnout, yang langsung terbayang adalah kondisi stress, jenuh, ataupun lelah. Kondisi ini sering tidak disadari atau dipandang sebagai sesuatu yang serius, terutama karena adanya tekanan untuk 24/7 menjadi produktif. Banyak orang terjebak untuk terus berpura-pura kuat padahal di dalam hati sudah ingin berhenti dan tidak bisa lagi meluangkan waktu untuk bekerja non-stop. Padahal situasi ini sudah merupakan tanda bahaya bagi kesehatan mental kita, yang ironisnya juga cepat lambat akan berpengaruh pada produktivitas dan kualitas hidup kita.

Kondisi burnout ini perlu lebih banyak diangkat dan disebarluaskan. Bukan untuk menakut-nakuti, membuat orang menjadi malas, apalagi menghambat kemajuan seseorang. Kondisi ini perlu dipahami dan disoroti bukan cuma oleh individu-individu yang rentan atau sudah terjebak di situasi ini, tapi juga bagi perusahaan untuk lebih memerhatikan pembangunan budaya yang sehat bagi asset utama perusahaannya, yaitu pegawai atau karyawan. Mencegah burnout ini akan sangat membantu seseorang atau perusahaan untuk lebih meningkatkan produktivitas dan kemajuan dalam kadar yang lebih sehat serta konsisten.

Kita perlu memahami kondisi burnout dan juga lebih berani untuk meminta bantuan dalam menghadapi permasalahan mental yang dihadapi ke pihak-pihak yang memang ahli untuk melakukan pendampingan. Kita juga perlu ingat bahwa pekerjaan kita memanglah suatu hal yang penting, tapi keluarga, teman, istirahatm, dan utamanya kesehatan mental juga perlu diprioritaskan dalam hidup. Kesehatan mental bahkan bisa jadi lebih penting daripada perkembangan karier, opini orang lain, status, bahkan prestasi-prestasi kita. Dengan terjaganya kesehatan mental, kualitas hidup dan kerja kita dengan sendirinya akan menjadi lebih baik lagi.

Pertama ialah masalah kelelahan emosional. Seperti namanya, pertanyaan ini memeriksa apakah kita memiliki beban psikologis, apakah sumber daya emosional kita terkuras karena permintaan yang terlalu banyak sehingga merasa sangat lelah. Bagian kedua adalah bagian yang memeriksa efektivitas pekerjaan, efisiensi, dan pencapaian pribadi. Bagian ini disebut efektivitas pekerjaan. Bagian terakhir adalah bagian yang paling menyedihkan. Pertanyaan ini memastikan apakah kita mulai kehilangan minat akan pekerjaan yang dibebankan? Apakah kita mulai berubah menjadi pasif dan mempertanyakan peran kita dalam pekerjaan? Apakah kita kehilangan kepercayaan diri secara keseluruhan? Ketiga, pertanyaan ini disebut dengan senyum palsu atau depersonalisasi. Jika merasa lelah dengan pekerjaan, perlahan perasaan kita akan menjadi datar dan sinis. Dengan begitu, mereka akan melihat barang atau objek sebagai sesuatu yang tidak berarti. Bagian ini memeriksa elemen emosional seperti ini.

Burnout bukan hanya disebabkan oleh faktor psikologis, tetapi juga kelelahan kognitif dan fisik. Pertama, akumulasi kelelahan kognitif adalah kondisi saat seseorang merasa bahwa proses berpikir mereka melambat dan sulit berpikir jernih. Sulit fokus juga merupakan gejala burnout yang penting. Banyak kejadian kelelahan kognitif akibat burnout dapat menyebabkan penurunan efektivitas dalam bekerja. Namun dalam kondisi seperti ini banyak pekerja yang menyalahkan diri karena tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan baik dan memaksakan diri. Saat mereka berusaha menyelesaikan pekerjaan meskipun memakan waktu lama. Waktu yang digunakan untuk bekerja akan semakin lama dan resiko mengalami burnout lebih besar. Selain itu, karena mereka tidak tahu bahwa penurunan fungsi kognitif disebabkan oleh burnout, ada kemungkinan mereka akan berpikir kita tidak kompeten atau habislah riwayat kita.

Faktor terakhir adalah kelelahan fisik. Mereka merasa kekuatan fisik mereka sudah habis, seperti baterai yang kehabisan daya, dan tidak bertenaga untuk masuk kerja pada pagi hari. Selain itu, mereka sering berpikir bahwa kondisi kesehatan mereka memburuk dan masalah fisik seperti nyeri kronis dan masalah fisik seperti nyeri kronis dan masalah pencernaan juga bisa muncul. Mereka juga tidak menyadari bahwa kelelahan dan berbagai gejala fisik yang dialami disebabkan oleh burnout.

Berbagi ceritalah dengan rekan kerja. Mungkin sulit untuk mengutarakan ketidaknyamanan dan membuat perbaikan. Untuk menghadapi tuntutan masyarakat yang tidak manusiawi, jangan terlalu terpaku pada anggapan masyarakat yang salah. Kita juga harus bangga pada diri sendiri.

Akhir tahun 2017 sampai 2019 aku merasa kelelahan terhadap hidup, terutama soal pekerjaan. Dulu aku gak paham kenapa dengan diri. Aku pikir cuma jenuh saja karena melakukan rutinitas yang sama setiap harinya selama hampir menuju sepuluh tahun bekerja. Pas aku baca-baca artikel baru paham ini dinamakan burn out. Kala itu belum banyak artikel yang membahas burn out. Baru di tahun 2020, awal pandemic, ulasan burn out mulai banyak dibahas mungkin karena efek pandemi banyak orang yang mengalami masalah dengan kesehatan mentalnya termasuk mengalami burn out.

Hikmah dari adanya pandemi ini, kita mempunyai waktu untuk istirahat sejenak dari rutinitas yang ada. Berhenti sesaat tidak masalah. Karena kehidupan bukanlah seperti lereng, tapi seperti menaiki tangga, pelan-pelan tapi perlahan.

Nah, akhirnya aku menemukan buku yang membahas burn out secara lengkap. Dan buku ini makin membuatku membuka mata bahwa burn out itu nyata dan ternyata banyak dialami oleh orang-orang. Dan di buku ini pula aku baru tahu banyak sekali istilah yang selama ini aku belum pernah mendengarnya. Berikut beberapa istilah yang aku temukan dalam buku ini:

  1. Brain burnout                    : keadaan lelah akan pekerjaan
  2. Emotional burnout          : simbol kelelahan mental yang sering dialami pekerja yang sering berhadapan dengan orang lain dan menghabiskan banyak waktu berada dekat dengan orang tertentu.
  3. Anticipatory anxiety       : kecemasan karena dugaan dan keadaan
  4. Incentive love act             : mengharuskan seseorang untuk berusaha lebih giat agar diakui orang lain
  5. Sense of prosperity         : perasaan saat kita bisa berhasil dan bertumbuh dalam pekerjaan
  6. Job involment                    : istilah yang digunakan jika kita tidak dikucilkan dalam pekerjaan dan mendapat dukungan positif
  7. Effective prority                                : melakukan pekerjaan tidak boleh ada yang bermasalah. Pikiran seperti ini memicu kelelahan
  8. Experiencing ego              : pribadi yang mengalami dunia nyata
  9. Observing ego                   : pribadi yang mengamati saat kita gagal
  10. Physiological fever          : demam secara psikologis
  11. Sindrom chronic fatigue                : kekurangan fungsi saraf parasimpatik yang membuatnya tubuhnya beristirahat dan rileks

Keterangan Buku:

Judul                     : Mengapa Aku Mengalami Burnout?

Penulis                 : Ahn Juyeon

Penerjemah       : Gitta Ananda Lestari

Editor                    : Fajar Diana S.

Layouter              : Amanda Yuliana

Cover                    : Sani Febriani

Penerbit              : Reneluv Books

Terbit                    : Desember 2021

Tebal                     : 200 hlm.

ISBN                      : 978-623-6083-22-2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s