buku, resensi

[Serba-serbi] Buku Bertema Pencarian Jodoh [Part 2]


“Menikah itu ibarat mengenakan sepasang pakaian. Kalau klop, dua busana berbeda itu akan enak dipakai dan juga sedap dipandang. Bila tidak, bisa jadi salah satu dari pasangan itu sesak napas karena pakaian yang terlalu ketat menyiksa. Atau, malah tidak setia karena terlalu longgar.” (hlm. 13) #JogjaJelangSenja

Karena lumayan banyak, jadi aku buat dua postingan ya untuk ulasan buku-buku yang bertema pencarian jodoh. Ada yang udah pernah baca juga buku-buku ini?!? 🙂

8. Jogja Jelang Senja

WP_20160722_002

KINASIH. Semenjak kawan-kawan sebaya Kinasih satu per satu menikah, orangtuanya turut memaksanya untuk segera memikirkan hal yang sama. Kinasih sudah ingin menikah. Tapi, ia belum menemukan pasangan yang pas, yang tepat , yang klop di hatinya. Ia tidak menyukai laki-laki pilihan ayah ibunya, pun laki-laki yang mendekatinya. Tidak tahu kenapa, hanya saja hatinya merasa tidak sreg. Meski anak kampung, bukan berarti Kinasih anak rumahan. Dia bekerja sebagai buruh untuk membuat perhiasan perak. Hasilnya selain ditabung adalah untuk beberapa kursus yang dijalaninya sebagai pelampiasan karena tidak bisa mengenyam bangku pendidikan lebih tinggi seperti impiannya.

Aris bertemu Kinasih di pertigaan Pasar Kotagede, saat secara tak sengaja ia menabrak sepeda gadis itu. Sejak kejadian itu, Aris mengantar jemput Kinasih ke tempat kerja, sebab kaki gadis itu terluka, sementara ia belum mampu membayar biaya ganti kerusakan sepeda milik Kinasih itu.

Seharusnya ini menjadi jalan pilihan yang dilalui Kinasih, selain atas tekanan mamaknya yang terus menerus menyuruhnya untuk sesegera mungkin menikah dan hatinya memang sudah terpaut jauh untuk Aris, sayangnya perbedaan agama menjadi jurang besar di antara mereka. Kinasih masih ragu akan pilihannya meski Aris sedari awal yang akan mengalah untuk menipiskan perbedaan di antara mereka. Pergolakan batin Kinasih merupakan representasi seorang manusia yang menjalani hubungan tapi terbentur oleh perbedaan keyakinan.

9. Love on Probation

PicsArt_13_05_2016_16_03_50[1]

ALITA PUTRI MENDROFA. 30 tahun. Memimpikan pasangan yang nyaris sempurna; membuatnya nyaman secara lahir dan batin. Meski sahabatnya, Adriana mengatakan bahwa pasangan sempurna itu hanya ada di dongeng-dongeng, dia tetap bersikukuh mencari pasangan yang klik di hatinya. Meski pada kenyataannya dia selalu gagal dalam merangkai sebuah hubungan, termasuk pada Ares yang satu kantor dengannya.

Sama-sama single. Sama-sama ingin menjalin hubungan yang serius. Lalu apa masalahnya? Ya, hubungan mereka gagal di kencan pertama. Lita harus menunggu dua jam di lobi apartemennya, namun Ares tak kunjung datang. Boro-boro datang, nggak ada konfirmasi apapun datang darinya meski hanya lewat sms ataupun BBM. Ketika Lita berinisiatif menghubunginya, justru bentakan dari Ares lah yang diterimanya. #PukPukLita

Ada orang yang gampang ilfeel sejak kencan pertama, seperti juga dengan Lita. Meski esoknya dia menerima ribuan kata maaf dari Ares, Lita bersikeras menolaknya. Ares pun sama-sama keras, ngotot mereka harus melakukan kencan yang kedua, untuk menebus kencan pertama yang gagal.

11. Finally Mr. Right

WP_20160504_004[1]

Ava punya impian tentang pernikahannya. Salah satu impian tersebut adalah mewujudkan pernikahan secara tematik bersama dua sahabatnya; Cindy dan Disti. Ketika dua sahabatnya itu sudah merencanakan secara matang pernikhan mereka di tahun depan, Ava masih kelabakan mencari pasangan impian. Bahkan dia memiliki semacam scraftbook yang isinya berisi seputaran pernikahan yang diimpikannya itu, terutama sederet gagasan tentang hubungan sepasang kekasih ideal. Scraftbook ini semacam panduan mencari jodoh atau menyusun wedding organizernya sejak kelas 2 SMP.

Cindy dan Disti sampai lelah dan angkat tangan soal selera dan kriteria pria idaman Ava. Dalam pencarian pasangan, Ava mematok standar yang tinggi bahkan muluk. Misalnya saat pacaran dengan Hans hanya karena merasa Hans mirip Ringo Star yang sama-sama sebagai drumer.  Ava tahu, jika Hans bukan Ringo Star. Namun dia sulit memungkiri jika Ava selalu memberi perhatian lebih pada drummer secara otomatis.

Begitu juga saat berpacaran dengan Didit yang mirip Matt Damon. Di scraftbooknya itu, juga berisi kumpulan profil selebritas para pria idolanya. Jadi ketika mencari pasangan, patokan Ava adalah seleb-seleb idolanya itu.

12. Perfect Wedding

perfect wedding

Tiga perempuan. Tiga cerita. Tiga masalah. Dan uniknya ditulisnya oleh tiga penulis. Setiap tokoh memiliki sudut pandang yang berbeda dalam memandang arti sebuah pernikahan. Setiap tokoh memiliki permasalahan yang berbeda. Uniknya tiga tokoh utama dalam buku ini merupakan kakak beradik. Meski mereka bersaudara dan menyayangi satu sama lain, masing-masing menyimpan masa lalu dan luka di dalam dirinya, dan tidak membaginya ke saudaranya karena merasa saudara mereka bebannya sudah lebih berat apalagi nanti ditambah berbagi beban masalah saudaranya.

Julia yang manja dan egois sebagai anak tengah tapi beruntung karena dilamar bosnya yang kaya raya tapi dia belum yakin apakah ini yang dinamakan cinta atau hanya sekedar suka. Meisha dengan segala kehidupan bebasnya, merasa bahwa sebuah pernikahan akan membelenggunya untuk melakukan segala hal yang dijalaninya terlebih lagi melihat teman-temannya yang menikah bukannya happy ending malah terjerat dan terjebak dengan ikatan yang mengharuskan mereka patuh pada perjanjian suci yang sudah dilakukan. Dan Octa yang tidak menginginkan pernikahan karena baginya pernikahan baginya adalah sebuah ikatan yang serius, tidak main-main, dan justru itulah dia takut untuk mencoba berkomitmen.

Julia, Meisha dan Octa ini adalah representasi kehidupan para lajang di dunia nyata. Ada yang mengharap pernikahan manis bak di negeri dongeng dengan pangeran berkuda putih yang menjemputnya seperti impian Julia, atau seperti Meisha yang tidak mau terikat agar bisa bebas, atau juga seperti Octa yang takut dengan yang namanya pernikahan. Semua pilihan ada konsekuensinya. Dan semua pilihan adalah yang terbaik bagi yang menjalaninya sekalipun akan berbeda pada masing-masing individu.

13. Broken Vow

broken vow cover

Tiga sahabat. Tiga pernikahan. Tiga luka. Tagline buku ini sungguh menarik, memikat hati untuk berburu bukunya. Tiga tokoh dalam buku ini merepresentasikan problema perempuan dalam menghadapi pernikahan. Dalam kehidupan nyata, kita akan menemukan banyak sekali yang kisah hidupnya seperti Amara, Irena maupun Nadya. Kalau kisah hidup saya sih nyerempet sebelas dua belas kayak hidup Nadya. Saya juga punya teman meski bukan sahabat ya, seperti Amara maupun Irena. Ada, ada banget kok kisah mereka dalam kehidupan nyata. Bahkan ada juga hidupnya berakhir lebih tragis dari kisah tiga perempuan dalam buku ini.

Sejatinya, dalam pernikahan tidak ada yang namanya suka melulu, tapi akan banyak juga dukanya. Perempuan mau bagaimanapun selalu harus lebih banyak mengalah. Perempuan menggunakan perasaan, sedangkan laki-laki menggunakan logika. Ketika memutuskan memasuki gerbang pernikahan, berarti harus menerima paket di dalamnya; kebahagiaan dan penderitaan.

Pesan moral dari buku ini adalah apapun pilihan yang harus kita hadapi dalam sebuah pernikahan, kita harus menerimanya dengan lapang dada. Jangan lupa, terkadang untuk mewujudkan sebuah kebahagiaan akan perlu banyak pengorbanan yang harus dilalui.

14. Three Woman for Looking Love

WP_20150802_012

Di halaman 18 pasti sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Hanya karena seseorang menikah di usia 23, dia merasa jadi orang yang paling beruntung sedunia. Padahal dari kawin sampai punya anak dua, hidupnya nebeng di rumah orangtua. Bukan hanya nebeng tempat tinggal, tapi biaya hidupnya juga masih ditanggung orangtuanya. Ditambah lagi suaminya pengangguran. Nggak kerja. Tapi kalau sudah menceramahi orang yang masih lajang, seolah-olah dianggap mahluk yang paling malang. Ada. Ada banget orang yang kayak gini. Kalo saya sih tiap ada orang yang kayak begini mah cuekin aja, tapi dalam hati sih rasanya pengen ngasih kaca segede gaban x))

Kisah antara Jani – Satria meski sebentar sempat bikin nyesek. Emang nggak rela banget kalo udah nyimpen perasaan dalem-dalem, eh ternyata kecengan kita jaman SMA juga memendam perasaan yang sama, taunya telat pas dia udah nikah baru nyatain cinta diam-diam itu kekita. Pernah ngalamin kayak gini :’) #SakitnyaTuhDisini

Tokoh favorit tentunya Irawan, si tukang foto kondangan. Misterius tapi bikin meleleh. Semoga teman sekolah masih ada stok yang kayak Irawan ini ya, gyahahaha… 😀 #ngarep #dikepruk

15. Geek in High Heels

Geek in High Heels by Octaviani Nurhasanah

Athaya, 27 tahun. Web designer, pekerjaan yang didominasi kaum adam. Di usia matang seperti perempuan seusianya, teror terbesar dalam hidup adalah ketika ditanya tentang jodoh. Ditambah lagi, Athaya ini memiliki tante (yang seperti tante-tante pada umumnya yang mulutnya lebih pedas dari cabe rawit) yang amat super kepo tentang masalah PEKERJAAN dan JODOH.

“Makanya jangan sibuk kerja mulu. Lupa deh tuh sama yang lain.” (hlm. 43)

“Gue cinta kerjaan gue yang ini. Gue juga nggak akan mempermasalahkan kalau dianggap geek.” (hlm. 26)

“Kenapa nggak kerja kantoran aja sih? Kan sayang kamu udah kuliah mahal-mahal..” (hlm. 98)

“Tapi saya memang melakukannya karena senang. Bukan karena tidak punya hal lain untuk dikerjakan.” (hlm. 127)

Athaya pun menyadari kalau sekarang dia jomblo bukan karena tidak ada yang menyukai. Mereka memilih. Atau lebih tepatnya: mereka ingin menemukan orang yang mencintai dan dicintai. Memang kedengarannya sangat sulit, tapi bukan tidak mungkin sama sekali. Daripada menikah tapi harus melewati hari-hari tidak menyenangkan dengan orang yang tidak dicintai? Kan lebih baik menunda sampai menemukan orang yang tepat. #TossDuluAmaAthaya ( ‘⌣’)人(‘⌣’ )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s