Uncategorized

REVIEW Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan

Setiap orang ingin bahagia, setiap orang ingin sejahtera. Perempuan mengira bahwa untuk dapat sejahtera, ia harus berhasil memenuhi tuntutan-tuntutan masyarakat.” (hlm. 135-136)

Ada serigala betina dalam diri tiap perempuan. Jika banyak perempuan tidak menyadarinya, itu karena keliaran perempuan sejak lama direkam oleh masyarakat. Liar bukan dalam makna negatif yang merendahkan, seperti tak terkendali. Liar mengandung arti kebersatuan dengan alam: menjalani kehidupan secara alami, mengikuti irama kehidupan dan aspirasi-aspirasi yang terdalam.

Jangan bayangkan perempuan liar sebagai sosok mengerikan. Ia adalah pribadi yang hangat dan autentik. Jujur terhadap diri sendiri dan orang lain. Tidak berpura-pura menikmati persahabatan hanya karena kekhawatiran tidak punya teman. Dan tidak takut akan penolakan sosial.

Perempuan liar mampu beradaptasi sambil tetap menjadi diri sendiri. Ia menjalin persahabatan secara tulus, bukan untuk memenuhi kebutuhan diri dicintai atau dihargai. Ia sudah bebas dari kompleks semacam ini.

Karena telah mencintai dirinya sendiri, ia punya identitasnya sendiri. Ia tidak mengizinkan orang lain mengatakan apa yang harus ia lakukan. Ia tidak membiarkan masyarakat menetapkan kriteria kecantikan, bahwa ia harus langsing dan putih untuk menjadi cantik. Ia tidak dicengkram oleh tirani kecantikan.

Perempuan liar paham bahwa sebagai perempuan, ia tidak berfungsi untuk menyenangkan orang lain dan apalagi memuaskan tatapan orang lain.

Perempuan liar tidak otoriter. Namun tegas, berani dan otonom. Ia mandiri dalam mengambil keputusan dan tidak membiarkan diri dikekang oleh norma-norma. Ia tidak merasa wajib mengikuti garis kehidupan ‘normal’ yang ditetapkan masyarakat.

Ia menikah atas keinginan pribadi karena menganggap diri sudah siap, sudah menemukan pasangan yang dengannya dapat menjalin hubungan setara. Ia tidak menikah hanya karena sudah berada di ‘usia menikah’, karena desakan keluarga, karena tema-teman sudah menikah dan lain sebagainya.

Ia berani mengambil keputusan kontroversial yang mendobrak nilai-nilai tradisional jika menurutnya terbaik tanpa khawatir dicemooh.

Ketika keputusan kontroversial yang pernah ia ambil ternyata tidak membuahkan kebaikan sesuai yang ia bayangkan atau kariernya tidak segemilang yang ia harapkan. Praktik budaya ‘pembangkitan rasa bersalah’ semacam ini telah membunuh karakter liar perempuan. Perempuan liar tidak terjebak di dalamnya.

Seperti serigala betina, ia menjadikan pengalaman-pengalaman semacam ini untuk melatih ketajaman insting dan kepekaan instuisi agar tidak lagi terperangkap dalam ‘bahaya’ yang sama.

Perempuan liar tidak pernah melarikan diri dari masalah; ia tegar dan berani menghadapi masalah seberat apa pun. Ia tidak membiarkan diri larut dalam rasa bersalah dan keterpurukan. Apalagi yang buruk yang dapat terjadi ketika sudah kehilangan semuanya, bahkan kehilangan harapan? Tidak, yang paling buruk sudah berlalu dan akan menjadikannya lebih kuat. Perempuan liar tahu saatnya bangkit. Sudah hampir mati sekalipun, terseok-seok, serigala betina akan bangkit.

Seperti serigala betina, perempuan liar setia dan penuh cinta. Ia mampu mencintai berulang kali dengan pasangan yang sama. Ia memahami bahwa dalam sebuah relasi, ada kematian dan kelahiran kembali. Ia mampu menerima dan memaafkan.

Perempuan liar bukan perempuan sempurna. Keputusannya-keputusannya tidak selalu benar. Namun ia belajar dari pengalamannya untuk bangkit, menjadi lebih baik, dan lebih kuat. Jika pernah naïf, ia belajar untuk tidak lagi naïf.

Menjadi perempuan yang sejahtera bukanlah menjadi perempuan yang sempurna. Menjadi perempuan yang sejahtera justru menjadi perempuan yang bebas dari kompleks-kompleks kesempurnaan yang standarnya diciptakan dan dipaksakan masyarakat atas diri perempuan. Menjadi sejahtera adalah menjadi diri yang telah bebas dari upaya mencapai kesempurnaan, dari kekhawatiran untuk menjadi tidak normal karena berbeda atau menyimpang dari apa yang sudah ditentukan masyarakat. Menjadi sejahtera adalah menjadi diri sendiri dengan menerima ‘ketidaksempurnaan-ketidaksempurnaan’ yang dimiliki.

Banyak pengetahuan baru yang aku temukan dalam buku ini:

  1. Anorexia-Scholastica: penyakit yang hanya menyerang perempuan (female-only) karena terlalu banyak belajar.
  2. Battered women’s syndrome: sindrom perempuan yang teraniaya
  3. Feminist critical psychological: psikologi kritis feminis yang mempelajari bagaimana pembentukan psikologi itu sendiri  sebagai sebuah ilmu, telah mengontruksikan perempuan seperti yang saat ini ditampilkan dalam psikologi
  4. Rest cure: mengharuskan perempuan berdiam diri di rumah, diasingkan, dan tidak boleh melakukan kegiatan mental
  5. West cure: mengirimkan laki-laki ke luar rumah untuk melakukan kegiatan fisik (berburu, cattle roping, dan rough riding) serta bertemu dengan teman-teman sesama laki-laki lainnya.
  6. Kompleks Oedipus: keinginan untuk memiliki ibu dan (untuk itu) membunuh ayah
  7. Blessure narcissique: perempuan cenderung menjadi rendah diri dibandingkan anak laki-laki
  8. Stimulus generalization: menyamakan semua stimulus yang mirip dengan stimulus awal yang menimbulkan trauma
  9. Trauma therapist: menampilkan sikap empati, membangkitkan sikap realities, tetapi tetap optimis, menumbuhkan harapan pada korban
  10. Body dysmophic disorder: merasa kurang percaya diri dan akan selalu merasa diri kurang menarik, atau selalu ada yang kurang dalam tubuhnya.

Dan banyak juga pandangan negatif yang selama ini dilontarkan untuk perempuan:

  1. Masyarakat patriaki tidak memberikan dukungan, melainkan semakin membuat perempuan tidak berdaya dengan praktik-praktik yang diskriminatif dan merendahkan.
  2. Masyarakat selalu menuntut perempuan untuk mengikuti standard yang sulit dipenuhi. Perempuan harus cantik, sealami mungkin. Jika tidak cantik, baiklah ia mengompensasinya dengan pencapaian lain; prestasi akademis, bakat-bakat. Ia juga harus perawandi hari pernikahan dan menampilkan karakteristik-karakteristik perawan sepanjang hidupnya.
  3. Ketika rumah tangganya tidak harmonis, apalagi jika suami selingkuh dan anak-anak bermasalah, lagi-lagi perempuan harus siap masuk dalam situasi rendah diri kronis dan perasaan bersalah karena buka sebagai ibu atau istri yang baik.
  4. Mitos kesempurnaan dapat mengakibatkan gangguan kondisi mental pada sebagian perempuan. Sebagian lagi, mitos kesempurnaan dapat membawa perempuan dalam jebakan harga diri yang rendah.
  5. Ketidakmampuan perempuan untuk memenuhi standard ideal feminitas yang ditetapkan masyarakat berpotensi menurunkan harga diri si perempuan, membuatnya menilai diri sendiri negatif.
  6. Tidak sedikit perempuan memutuskan untuk tetap menikah dengan seorang pria meski ia belum siap atau tidak yakin dengan pria tesrebut. Keputusan mereka didasarkan pada beberapa alasan ini: (a) tuntutan orangtua dan keluarga besar terkait usia yang sudah cukup untuk menikah; (b) sudah terlanjur melakukan hubungan seksual sehingga khawatir jika pria lain tidak akan menerima; (c) sudah hamil; (d) sudah melakukan hal-hal lain yang tidak dilakukan perempuan baik-baik; (e) khawatir bila tidak ada laki-laki lain yang akan tertarik dengannya.

Bagus banget buku ini, jadi membuka wawasan, terutama tentang perempuan dalam sudut pandang yang lain. Awalnya pas baru baca judulnya aja, sempat berpikir jika buku ini akan membahas seputar sisi negatif perempuan semata. Tapi ternyata aku keliru, justru buku ini mengupas lebih dalam kelebihan perempuan dari berbagai sisi. Buku ini cocok gak hanya dibaca bagi perempuan, tapi juga bagi laki-laki agar lebih memahami sisi kehidupan perempuan x))

Keterangan Buku:

Judul                                     : Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan

Penulis                                 : Ester Lianawati

Penyunting                         : Muhammad Aswar

Pemeriksa aksara             : Dyah Permatasari

Penata isi                             : Azka Maula

Illustrator sampul             : Hidayatul Azmi

Penerbit                              : Buku Mojok Group

Terbit                                    : Februari 2021

Tebal                                     : 292 hlm.

ISBN                                      : 978-623-94979-0-3

1 thought on “REVIEW Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan”

  1. Wah buku ini bagus banget ternyata ya, aku suka banget pembahasannya. Udah beberapa kali liat buku ini tapi belum ada niat baca karena takut terlalu berat atau gak cocok pembahasannya, eh isinya malah bagus banget. Terima kasih reviewnya Mba!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s