Uncategorized

REVIEW Gempa Literasi

Reading society menjadi prasarat utama menuju advance society. Kenyataan bahwa Indonesia kurang buku. Di tahun 2009 saja yang saat itu masih berpenduduk 225 juta baru bisa memproduksi 8.000 judul buku per tahun. Artinya di Indonesia saat itu hanya ada 35 judul buku per 1 juta penduduk. Sekarang lebih memprihatinkan lagi, jika kita sering mengikuti webinar-webinar yang diadakan oleh Perpusnas RI, Bapak Syarief Bando sering menjelaskan jika perbandingan satu buku ditunggu 90 orang. Jadi selain darurat membaca, sebenarnya Indonesia juga darurat buku.

Dalam buku ini dijelaskan tentang salah satu solusi agar pemerataan persebaran buku. Yaitu subsidi buku seperti yang dilakukan Vietnam. Subsidi itu bisa dalam bentuk regulasi perpajakan maupun kestabilan harga bahan baku, terutama kertas. Subsidi memungkinkan tiap penerbit memenuhi skala ekonomi produksi. Penerbit mampu mencetak buku baru dalam jumlah efisien, sesuai dengan harga pokok produksi minimal, sehingga harga jual buku jadi murah. Sebenarnya pemerintah Indonesia pernah memberikan solusi persoalan pendistribusian buku terutama di luar Pulau Jawa. Di tahun 2017-2019, setiap tanggal 17 ada program bebas ongkir untuk pengiriman buku yang ditujukan bagi taman bacaan maupun perpustakaan. Sayang sekali program itu sudah tidak ada lagi, kemungkinan karena dananya dialihkan untuk pandemi kemarin. Semoga kedepannya program ini berlanjut karena sangat membantu sekali bagi kami yang berdomisili di Luar Jawa.

Gerakan Indonesia Membaca merupakan gerakan berkelanjutan bersifat cultural edukatif yang berupaya memperbanyak akses informasi, memfasilitasi dan membuka ruang partisipasi seluas-luasnya kepada masyarakat untuk memperkuat budaya baca. Gerakan ini menyosialisasikan aktivitas membaca dan menulis di tingkat lokal (local literacy) serta mendukung tumbuhnya perpustakaan-perpustakaan komunitas (community libraries) di Indonesia.

Selama ini keberaksaraan (literacy) kerap didaulat menjadi kunci yang mampu membuka pintu bagi datangnya modernisasi, partisipasi, empati demokratisasi, desentralisasi ilmu pengetahuan, perbaikan taraf hidup terutama ekonomi, serta kemajuan suatu bangsa. Adanya hubungan erat antara illiteracy (ketidakberaksaraan) dengan kemiskinan. Negara berkembang seperti Indonesia, tentu saja kebutuhan perut tentu lebih penting dibandingkan dengan kebutuhan membaca.

Ada banyak faktor kenapa minat baca kita rendah. Pertama, jumlah perpustakaan SD di Indonesia sangat minim. Mengapa demikian? Karena mayoritas anak kenal dan mulai membaca buku dari perpustakaan sekolah, meskipun saat ini TBM sudah bertebaran dimana-mana. Belum lagi dikulik lebih dalam; apakah keragaman bacaan yang dimiliki sudah memenuhi harapan pembaca? Yang mengelola perpustakaan adalah pustakawan atau sekedar guru piket demi memenuhi syarat untuk sertifikasi? Apakah ada program-program kreatif yang ditujukan untuk memasarkan perpustakaan? Kedua, tidak adanya integrasi yang nyata, jelas, dan tegas antara mata pelajaran yang diberikan dengan kewajiban siswa untuk membaca. Siswa tidak diberi keleluasaan dan kebebasan mencari sumber pembelajaran di luar buku pegangan dari guru. Dan ketiga, pengenalan pra-membaca dan membaca, atau berkenalan dengan buku, yang dialami anak kurang menyenangkan. Buku, sebagai media yang lazim digunakan untuk mengukur tingkat minat baca, dikenalkan kepada anak-anak dengan cara yang tidak menarik. Anak-anak langsung dijejali buku-buku pelajaran yang tidak menarik. Kebalikannya, saat anak-anak lebih minat dengan komik justru dilarang oleh orangtuanya dengan alasan tidak mendidik. Beruntung saat remaja dulu, aku puas membaca komik di tempat penyewaan bahkan didukung almarhumah mama. Di luar itu, promosi buruk orangtua tentang buku juga turut menyukseskan rendahnya minat baca anak. Promosi buruk tersebut berupa ketiadaan bahan bacaan di rumah serta minusnya keteladanan dari orangtua.

Ada garis lurus antara komik sebagai jenis bacaan dan sebagai alat komunikasi. Komik adalah bacaan dengan bahasa yang cair, tampilan rileks, bikin tertawa, ringan tapi mencerdaskan. Setelah membaca komik, dijamin adrenalin kita tidak akan naik. Justru sebaliknya, jantung akan bekerja secara optimal lantaran kebahagiaan dan tawa.

Maka, maraknya komikisasi buku-buku serius merupakan solusi cerdas atas dua masalah: minat baca rendah dan tuntuta keuntungan yang professional. Komikisasi buku-buku serius menjadikan motivasi sosiologis dan ekonomis bertemu dalam satu titik. Dengan tampilan layaknya komik, pembaca dapat memanfaatkan waktu yang pendek untuk membaca buku serius dengan tidak kehilangan subtansinya, sekaligus bisa membuat pikiran segara. Kepentingan penerbit, buku dan tanggung jawab mencerdaskan masyarakat –pun dapat dicapai bersama.

Aktivitas membaca buku bersifat variable dependen (akibat). Jadi, jika ingin masyarakat kita gemar membaca (dan menulis) yang harus diperbaiki adalah soal-soal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan –baik sarana maupun kurikulumnya-. Kemudian, kurikulum pendidikan diarahkan pada kecintaan membaca buku dan mendaras bacaan agar bisa mengecek kemajuan bacaan peserta didik, menyangkut bacaan wajib (required reading), bacaan yang dianjurkan (recommended reading), serta bacaan yang menyangkut pengetahuan umum (general knowledge).

Ada beberapa hal yang mengakibatkan pudarnya pesona bahasa Indonesia. Pertama, tidak seluruh siswa mendapatkan pelajaran Bahasa Indonesia dari guru (sarjana) Bahasa Indonesia. Kedua, tujuan penilaiannya kurang dipahami oleh banyak pihak. Yang dikejar sekadar nilai akhir. Padahal berbicara tentang bahasa tentu akan berkaitan dengan ekspresi bahasa atau praktik bahasa. Ketiga, bahasa Indonesia, ibarat produk, lebih sering ditawarkan secara inferior. Tidak dikemas bagus, tapi ala kadarnya dan monoton, sehingga siswa sebagai konsumen tidak tertarik membeli.

Terobosan baru itu, misalnya dari aspek menulis, memanfaatkan blog sebagai ruang kreatif siswa. Tabiat asli blog yang bersifat personal akan memampukan mereka menulis apa pun yang mereka sukai sesuai kemampuan masing-masing. Menulis di blog memang lebih fleksibel. Hampir empat belas tahun aku memiliki blog, yang awalnya hanya untuk menuangkan hobi, beberapa tahun terakhir bisa menambah uang jajan.

Membebaskan anak seperti yang dilalukan penulis, Gol A Gong dan istrinya. Membebaskan dalam arti membiarkan anak-anak menemukan jalannya sendiri. Biarkan mereka mengembara dengan kecerdasan majemuk yang mereka miliki. Mereka akan menemukan muaranya sendiri.

Ada tiga kategori melek huruf. Pertama, melek huruf teknis. Yaitu mereka yang tergolong secara teknis dapat membaca, tetapi secara fungsional dan budaya sebetulnya. Penyebabnya bisa karena jarang ada bahan bacaan atau pekerjaan yang menyebabkan mereka tidak mempunyai waktu untuk mempraktikkan kemampuan membaca mereka. Jadi, mereka sekedar melek huruf. Kedua, melek huruf fungsional, yaitu mereka yang tergolong membaca dan menulis sebagai fungsi yang harus dijalankan karena konsekuensi pekerjaan. Akan tetapi, sangat kurang menjadikan kegiatan membaca dan menulis sebagai kebiasaan untuk berkomunikasi dan berekspresi. Ketiga, huruf melek budaya, yaitu orang-orang yang disamping mempunyai kesanggupan baca-tulis secara teknis dan fungsional, ia menjadikan baca tulis sebagai kebutuhan hidup sehari-hari dengan membaca dan menuliskan hal-hal yang tidak hanya terbatas pada pekerjaan.

Ada tiga nilai dasar yang harus dipahami dari kenyataan buku yang tak pernah sendiri. Pertama, buku mempunyai nilai di luar bentuk fisiknya. Bukti yang paling tampak adalah penataan buku di rak. Mereka tidak diletakkan berdasarkan ukuran fisik, tapi berdasarkan kesamaan isi. Kedua, ketika satu buku diterbitkan, sudah dengan sendiri membawa serta dekontekstualisasi suatu teks. Artinya, tiap pembaca mempunyai kebebasan menentukan cara pembacaan dan pemberian makna terhadap buku itu. Termasuk pilihan untuk tidak membacanya. Ketiga, munculnya perpustakaan sebagai bentuk konsekuensi nyata perpanjangan alamiah dari upaya untuk terus-menerus memperbesar himpunan kelompok buku.

Mengingat perpustakaan pada awalnya merupakan wadah bagi buku yang tak pernah sendiri, secara otomatis menjadi lembaga yang bersifat terbuka. Semua orang mempunyai kesempatan yang sama untuk membaca hal yang sama maupun berbeda. Dari sinilah mulai muncul gerakan minat baca (dan tulis), komunitas literasi.

Buku tak pernah sendiria. Ia senantiasa berkumpul dengan buku lainnya, baik secara fisik maupun substansial. Maka, benar jika ada yang mengatakan buku yang terbit saat ini sejatinya merupakan hasil pembacaan atas buku yang terbit pada masa lalu. Setiap buku secara lahir bersama dan melahirkan buku-buku lain. Kita cenderung mengaitkan isi buku satu dengan lainnya.

Ada beberapa nilai dasar yang harus dipahami dari kenyataan buku yang tak pernah sendiri itu. Pertama, buku mempunyai nilai di luar bentuk fisiknya. Bukti yang paling bisa dilihat dari value ini adalah penataan buku di rak. Mereka tidak diletakkan berdasarkan ukuran fisik tapi berdasarkan kesamaan isi. Mereka mempunyai hak yang sama untuk didaras. Kedua, ketika satu buku diterbitkan, buku ini dengan sendirinya membawa serta dekonstekstualisasi suatu teks. Artinya, tiap pembaca mempunyai kebebasan menentukan cara pembacaan dan pemberian makna terhadap buku ini. Ketiga, munculnya perpustakan sebagai bentuk konsekuensi nyata perpanjangan alamiah dari upaya terus-menerus memperbesar himpunan kelompok buku.

Perpustakaan otomatis juga menjadi lembaga yang bersifat terbuka. Semua orang mempunyai kesempatan yang sama untuk membaca hal yang sama maupun berbeda. Dari sinilah mulai muncul gerakan minat baca (dan tulis), komunitas literasi. Basis gerakan komunitas biasanya bermula dari pembentukan perpustakaan, hingga disebut sebagai perpustakaan komunitas.

Beda halnya dengan perpustakaan daerah atau perpustakaan-perpustakaan lainnya yang dibawah pemerintah. Pertama, perpustakaan kerap dianggap sebagai lembaga yang hanya menghabiskan uang. Tidak berkontribusi pada pemenuhan lumbung kas atau pendapatan daerah. Hal ini berakibat pada minimnya anggaran untuk pengembangan perpustakaan serta menempatkan perpustakaan sebagai prioritas akhir dalam struktur pengeluaran pembangunan daerah. Kedua, terbatasnya pemimpin perpustakaan daerah yang berjiwa pemimpin. Mereka kebanyakan belum mampu memerankan diri sebagai figur pemersatu untuk mencapai tujuan organisasi, apalagi memotivasi anak buahnya agar bangkit dari keterpurukan akibat label buruk maupun memberi insentif kepada staf dan pustakawan yang kinerjanya baik sehingga menciptakan gairah kompetisi yang sehat dan kecintaan terhadap profesi mereka.

Dengan melihat pemetaan persoalan yang tengah menggenangi sebagian besar perpustakaan daerah, sudah saatnya teman-teman penggerak perbukuan, aktivis literasi, dan kerani pustaka turun gunung. Sapa dan dengarlah kesulitan mereka, para pustakawan yang membutuhkan teman bicara sekaligus advokasi dari luar. Para kepala perpustakaan yang memaknai gelas setengah kosong sebagai setengah isi. Kita yakin, dalam perpustakaan yang dinilai buruk itu ada satu-dua mutiara yang dapat kita temukan, yang jika digosok akan mengkilat dan mempesona. Para eksponen komunitas literasi dan para kerani perbukuan bertugas menemukan dan menggosok mutiara-mutiara itu. Dengan memahami pemetaan persoalan yang tengah dihadapi perpustakaan daerah, para kerani perbukuan lebih mudah memosisikan diri.

Aku setuju sekali dengan pernyataan di atas. Bahwa penggerak literasi, relawan literasi dan sejenisnya sudah bukan waktunya lagi mengekslusifkan diri dari perpustakaan yang berada di bawah naungan pemerintah. Begitu juga sebaliknya. Ini saatnya kolaborasi. Salah satu wujud nyata yang pernah dilakukan Dinas Perpustakaan & Kearsipan Kota Metro, Lampung ketika mengadakan event Lorong Baca bisa dikatakan sangat berhasil di tahun pertama karena adanya kolaborasi dengan berbagai komunitas yang ada di Kota Metro. Tidak hanya dari bidang literasi, tapi juga bidang seni. Event ini berlangsung selama tiga kali, yang setiap tahunnya diadakaan untuk perayaan Hari Kunjung Perpustakaan setiap bulan September. Sayangnya, sejak pandemi dan kepala dinasnya mulai berganti, sudah tidak ada lagi perayaan istimewa yang melibatkan komunitas seperti tahun-tahun sebelumya. Tahun ini hanya sekedar seremonial semata, dengan hanya melibatkan kecamatan dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

Salah satu sarana penting membentuk komunitas baca adalah perpustakaan. Posisi perpustakaan menjadi demikian strategis, mengingat masih terbatasnya akses masyarakat terhadap buku, baik karena harga buku mahal maupun masih kurangnya jumlah toko buku. Pada titik itu, kehadiran perpustakaan yang representasif tentu menjadi harapan banyak orang. Jika dalam buku ini, ada satu ide yang menarik yang dilontarkan penulis, yaitu tentang diadakannya perpustakaan di dalam mall. Berhubung di kota kami tidak ada mall, hal ini bisa diganti dengan membuat beberapa Pojok Baca di tempat-tempat strategis seperti di layanan tunggu rumah sakit, layanan tunggu pembuatan pajak kendaraan, dan sebagainya. Salah satu hal yang sudah diterapkan oleh Dinas Perpustakaan & Kearsipan Kota Metro adalah adanya Pojok Baca Digital (Pocadi) diantara Masjid Taqwa dan Taman Merdeka. Semoga kedepannya, adanya penambahan lagi Pocadi di tempat-tempat strategis lainnya yang bisa merangkul masyarakat.

Travelling sejarah dapat dijadikan sarana untuk mengonfirmasi apa-apa yang pernah dibaca, berkaitan dengan situs sejarah tertentu. Atau sebaliknya, memberikan bekal kepada para eksponennya untuk mencari kelengkapan penjelasan dari artefak sejarah melalui buku. Jika di dalam buku ini sempat diulas Komunitas Historia yang berfokus pada bidang sejarah, sebenarnya di Kota Metro juga ada komunitas setipe ini.

Butuh waktu lama untuk menuntaskan buku ini. Selain karena ketebalan bukunya, juga karena isinya yang ‘daging’ semua. Tidak hanya menambah pegetahuan seputaran dunia literasi, tapi juga membuka mata kita akan permasalahan sekaligus solusinya dalam dunia literasi. Bukan saatnya lagi hanya berkeluh kesah, tapi juga bergerak mulai sekarang juga demi Indonesia keluar dari keterpurukan dalam bidang literasi.

Keterangan Buku:

Judul                                     : Gempa Literasi

Penulis                                 : Gol A. Gong & Agus M. Irkham

Penyunting                         : Yemima Lintang Khastiti

Perancang sampul           : Fernandus Antonius & Wendie Artswenda

Penerbit                              : KPG

Terbit                                    : 525 hlm.

Tahun                                   : 2012

ISBN                                      : 978-979-91-0385-7

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s