REVIEW Sylvia’s Letters

“Karena hidup ini bukan ujian nasional. Kamu tidak perlu melakukan hal-hal tertentu karena semua orang menganggapnya ‘benar’. kamu kira kamu harus menuruti standar-standar yang ada supaya lulus jadi manusia normal. Padahal siapa yang membuat standar ujian nasional itu? Pemerintah. Orang lain. Sama seperti hidupmu. Siapa yang memberimu standar, hidup yang benar itu begini, yang salah itu begini? Masyarakat. Kata siapa pendapat publik selalu benar?” (hlm. 88) Continue reading

Advertisements

Perpustakaan DPR

Alhamdulillah, untuk kedua kalinya dapet kesempatan masuk ke Gedung MPR/DPR. Sama seperti tahun lalu, untuk masuk ke lingkungan ini harus pagi-pagi banget. Sekitaran jam lima pagi abis Subuh, selain karena faktor takut macet juga kalo agak siang jalanan harus steril dari hiruk pikuk karena rombongan presiden jajarannya akan masuk ke gedung utama.

Continue reading

REVIEW Nightfall

“Hei, ini kan punyamu. Mungkin kau butuh untuk di perjalanan nanti.”

“Anggap saja sebagai hadiah.”

“Aku tak bisa. Kau menyukai buku ini, aku masih bisa meminjamnya dari kakakku.”

“Aku tak yakin kau akan membacanya.”

“Aku berjanji.”

“Kalau begitu, jadikan ini sebagai pinjaman.”

“Bagaimana cara aku mengembalikannya?”

“Datanglah ke Seattle.”

“Apa?”

“Kalau kau bersepakat.”

“Mungkin harus ditulis kalimat undangan di halaman pertama.”

“Aku tak sungguh-sungguh. Tapi jika kau mau datang ke Amerika, kau akan punya pemandu. Ada e-mailku tertulis di balik sampulnya.” (hlm. 40-41) Continue reading