ayat-ayat cinta, buku, catatan kehidupan

Serba-serbi Adaptasi Buku ke Film

skripsi-ayat-ayat-cinta

Sekarang ini, banyak sekali novel yang diangkat ke layar lebar. Banyak film dengan jumlah penonton dengan angka fantastis karena diadaptasi dari novel yang memang best seller. Sebut saja ada Ayat-ayat Cinta, Laskar Pelangi, 5 cm, Koala Kumal, Negeri Van Oranje dan masih banyak lagi. Yang terbaru untuk tahun ini ada The Chocolate Chance yang ditulis oleh Yoana Dianika. Continue reading “Serba-serbi Adaptasi Buku ke Film”

Uncategorized

Perempuan Berkalung Sorban

Niat nonton pas edisi perdana, apa daya di Museum KAA dari pagi mpe sore, malemnya pulang selalu tepar. Alhasil, aku baru nonton hari sabtu (18 jan 09). Ini pun memaksa Resty Padang yg udh nonton duluan. Hhhmmm..lg beruntung, dapet pin ma kartu pos Perempuan Berkalung Sorban ;p

Jarang-jarang nonton malam minggu, males ramenya itu loh! Dan..emang bener rame! Ada sekitar 5 baris adalah rombongan bapak-ibu gitu. Kayaknya ni efek pasca AAC, membangkitkan minat orang datang ke Bioskop. Hal ini jg terjadi wktu nonton Doa Yang Mengancam (di barisan depan banyak bapak-bapak). Kayaknya nama Hanung udah jaminan para orang tua tersebut untuk nonton film ke bioskop.

PBS adalah salah satu dunia pararel perempuan. Narasi panjang perempuan mendapatkan hak-haknya. (PBS: Narasi Panjang Pembebasan Perempuan – Pikiran Rakyat, 14 Jan 09)

Film yang berdurasi 130 menit ini (lama loh bwt ukuran film Indonesia, tp wajar klo di liat jalan ceritanya) mencoba menghadirkan metafora bahwa pesantren bisa lebih buruk dari sebuah penjara.

Dalam salah satu scene. metafora tersebut dijabarkan lewat dialog Annisa kepada sejumlah srantriwati yang kabur dari pesantren. Santriwati ini kabur setelah buku bacaan yang disebut haram oleh pemilik pesantren dibakar.

Ketika di tangan Hanung, novel ini tidak hanya memberdayakan kaum perempuan saja. Tapi Hanung telah memvisualisasikan kisah tersebut sebagai sebuah drama yang memiliki daya pikat.

Namun terlepas dari kualitas filmnya, Hanung sepertinya harus waspada bahwa film ini telah membawanya pada permainan api bisa kapan saja menyulut kontroversi. (PBS:Bola Panas Dari Hanung Bramantyo – Republika, 14 Jan 09).

Ada satu adegan (adegan kaca….), ni mirip ma adegan di AAC (ni efek samping berulang kali nonton AAC gara-gara skripsi, mpe hapal adegan demi adegan! ;p). Oya, pas nikah backsoundnya jg mirip AAC (apa krn music directornya sama ya??). Lho, kok aku jadi banding-bandingin ma AAC?? ga bermaksud kok ;p

Satu lagi, keseringan adegan makan. Kayaknya lebih dari lima kali deh adegan dialog di meja makan.

(Lagi-lagi) Hanung nongol di filmnya sendiri. Jadi tukang pos ;p Sutradara satu ini lumayan sering nongol. Sebelumnya, Hanung pernah nongol di Lentera Merah dan Jomblo. Di The Tarix Jabrix juga pernah. (lho..lho..kok malah ngomongin sutradaranya?!? yg penting kan ga ngegosipin, pisss… ;p)

Yang aku suka adalah diselipkannya tentang pentingnya perpustakaan (halah, mentang-mentang anak perpus! ^-^). Wah, buat junior-juniorku yang belum USMAS, bisa nih buat di jadiin bahan skripsi (ya ampyun…nenek-nenek sindrom skripsi film nih!)

Walaupun skripsiku ttg AAC (yang telah mengantarkanku pd gelar sarjana), walaupun sutradara, penulis skenario dan beberapa kru lainnya sama dengan AAC (ya iyalah, mereka kan satu tim!^-^), setelah nonton ini kuakui aku lebih suka PBS. Lebih berisi. Lebih banyak makna dan pesan yang tersembunyi dalam film ini.

ayat-ayat cinta

Ayat-ayat Cinta mengantarkanku pada gelar sarjana…

Alhamdulillah,
Akhirnya Ayat-ayat Cinta mengantarkanku pada gelar sarjana…
(5 Nov 08)

Akhirnya,
Aku bisa membuktikan bahwa aku bisa!!

Bisa menjadi lulusan pertama dari Lampung,
Bisa menjadi edisi perdana kajian film,
Bisa menjadi yang pertama menggunakan analisis semiotika,
Bisa lulus dengan cum laude,

“Joker adalah sosok kecil yang bodoh dan berbeda dari sosok lainnya. Dia bukan keriting, wajik, hati atau skop. Dia bukan sembilan atau delapan, raja atau pangeran. Dia orang luar. Dia ditempatkan dalam pak yang sama seperti kartu lainnya, tetapi dia bukan termasuk kelompok itu. Oleh karena itu, dia dapat dibuang tanpa ada seorang pun merasa kehilangan.”
(Misteri Soliter – Jostein Gaarder)

Dan aku…
adalah joker itu…

Setiap orang pasti akan bertemu dengan gelar sarjananya,
Hanya waktu saja yang membedakan,
Dan hari ni aku bisa membuktikannya,

Sebuah perjuangan kecil teruntuk malaikatku, mama yang genap dua tahun pergi…

Baru saja berakhir,
Hujan di sore ini,
Menyisakan keajaiban,
Kilauan indahnya pelangi….
(Ipang – Sahabat Kecil)

laskar pelangi, Uncategorized

Laskar Pelangi: The Phenomenon

Kalau novel Ayat-ayat Cinta punya Fenomena Ayat-ayat Cinta, maka Laskar Pelangi punya Laskar Pelangi: The Phenomenon.

Belitong pun terkena dampaknya. Bahkan, di Pulau Belitong ucapan selamat datangnya berbunyi: “Selamat Datang di Bumi Laskar Pelangi”. Dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) di Kalimantan Timur, Juli 2008, kontingen Babel diberi nama “Laskar Pelangi”.

Apa yang menyebabkan tetralogi Laskar Pelangi begitu meledak di pasaran?

Pertama, teori momentum. Lima tahun terakhir, peta buku best seller kita didominasi buku jenis metro pop. Saat jenis buku dominan itu menurun, kebetulan Laskar Pelangi hadir, menyajikan warna baru.

Kedua, terjadi situasi dimana orang sedang kehilangan pegangan. Butuh role model, kata Andrea. Bener juga siy, dulu da da’i kondang gara-gara poligami jadi merosot tajam popularitasnya, ada remaja yang jadi panutan karena jilbabnya ternyata diketahui ‘gemar’ merokok. Bu Mus datang, menjadi ‘pahlawan’ sesungguhnya yang patut digugu dan ditiru.

Ketiga, subtansi buku. Bila buku Ayat-ayat Cinta cerminan pencarian model bagaimana hubungan laki-laki dan perempuan yang benar secara Islam, buku Laskar Pelangi cerminan orang yang mencari model bagaimana learning yang benar.

Keempat, faktor media. Walaupun tidak otomatis, tapi tak bisa diabaikan. Bahkan, setelah tampilnya Laskar Pelangi di Kick Andy, turut mendongkrak penjualan bukunya.

Kelima, faktor ‘sektarian’. Tetralogi Laskar Pelangi menggunakan sentimen Islam, dan khususnya Muhammadiyah. Bagaimanapun ada 30 jutaan warga Muhammadiyah. Meski mereka cair, tapi bisa mengkristal dengan sentimen ini.

Keenam, faktor Melayu. Ada pesan orang bijak, “Jangan kau pinjamkan uang pada orang Melayu, karena nanti putus perkara. Tapi kalau kau pinjamkan kata, dia akan berpanjang cerita.” Orang Melayu dikenal pandai bercerita. “Hanya karena saya orang Melayu itulah yang bisa saya jelaskan mengapa saya bisa menulis,” papar Andrea.

Di bab PENDIDIKAN INKLUSI BERMODAL NALURI PEDULI, PENGUAT SEMANGAT GURU MELARAT, HOWARD GARDNER ASAL BELITONG, dan RAHASIA GURU BIKIN SISWA GILA ILMU yang dituliskan secara berurutan ini cocok banget buat yang punya jabatan guru. Menyentuh, memikat dan membangkitkan semangat.

Saat baca bab MELAYU PEMALAS: MITOS ATAU REALITAS?, aku senyum-senyum sendiri (mungkin karena aku sering mengalaminya ^-^). Bukan hanya Melayu yang menerima stereotype buruk, banyak daerah dan suku lain di Nusantara yang juga terlekati citra buruk: kurang beradab, pelit, tukang dandan, tak bisa pegang janji, fanatik kedaerahan dan sebagainya. Walhasil, apa pun citra tentang Melayu, juga tentang Indonesia, pemalas atau kerja keras, yang terpenting adalah bagaimana integritas dan mentalitas kita menyikapi keadaan itu. Itulah salah satu ruh yang disebarkan fenomena Laskar Pelangi.

BERBURU TANDA TANGAN DEMI MAS KAWIN adalah bab yang membuatku terbahak-bahak. Mirip kayak sinetron aja (atau lebih bagus dari sinetron?? ^-^). Ini kisah asmara antara dua anak muda yang bernama Mega Hutagama dan Teguh Oktavianto yang benih cintanya bersemi dalam gerbong sumpek kereta api ekonomi Surabaya-Malang. Benih itu tumbuh berkat siraman inspirasi buku Edensor. Saat Teguh menyatakan ingin menjalin hubungan yang lebih serius, Mega dengan sponta memberi syarat: “Aku mau maharnya buku Edensor yang ada tanda tangannya Andrea Hirata.”

Ada lagi, Novi meminta calon suaminya membelikan novel Maryamah Karpov sebagai mas kawin. Bahkan dia meminta Maryamah Karpov lebih dahulu. Ampyun!

Terakhir, bab NYALI GADIS PONTI JELAJAHI BELITONG adalah yang paling ‘gila’. Sindrom akibat baca tetralogi Laskar Pelangi itulah yang kemungkinan mengantarkan Rika menjalani petualangan keluar pulau pertamanya yang beraneka warna. Mirip aneka warna pelangi. Rika sempat harus mendorong sendiri angkot mogok yang ia tumpangi, memperoleh pelajaran disiplin dari sopir Bus Damri yang selalu tepat waktu, hingga pernah digelandangi mobil polisi gara-gara nekat menaiki tower Telkomsel setinggi 75 meter, di Desa Gantung, demi melihat langsung wajah bolong-bolong daratan Belitong dari atas. Hmm…petualangan yang ‘gila’!! ^-^

Andrea bermimpi bahwa film Laskar Pelangi akan diputar secara nasional setiap Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei, sebagaimana film G-30/S, yang ditayangkan rutin setiap tanggal 30 September, pada zaman Orde Baru. Hmm…semoga saja mimpi yang ini jadi kenyataan…amin…

catatan kehidupan

Jatinangor-Garut-Bandung

Mulanya aku ragu waktu teman-teman pada ngajakin ke tunangannya vita-waluyo (dua-duanya teman sekelasku).

Bukannya apa-apa,

Aku ragu mau ikut karena adik dan kakak-kakak tiri lagi di Jogya bilang mau ke Bandung jg,

Pastilah aku jadi guide mereka,

Ternyata ga jadi ke Bandungnya,

Akhirnya, aku bisa ke Garut jg

Ini kesekian kalinya aku pergi bareng2 ma teman2 sekelas,

Aku semobil dengan tiga perempuan lainnya,

Memang cuma kami berempat perempuannya

Dalam perjalanan pulang terasa lama,

Berangkat: Jatinangor-Garut

Pulang: Garut-Bandung-Jatinangor

Bercanda,

Bercerita masa depan,

Skripsi (Duh, diingetin!)

Mencela-cela Toge (kasian ’sopir’ kita ni jd korban ^-^)

Dan mendengarkan musik di radio,

Entah kenapa,

Radio ini seperti tahu isi hatiku,

Pertama, Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki-S07 menyentak ingatanku. Gila, ni lagu jaman SMP! Di Bandung, jarang2 bgt denger lagu2 SO7, konon orang Bandung ga begitu suka S07 (katanya!!). ini menyiksaku yg demen ma band ni. Klo mau denger lagu2nya, ya denger aja di komputer.

Selang beberapa lagu, di jalanan Bandung, di radio da lagu Ode To My Family-The Cranberries. Ya ampun, bikin sedih aja! Lagu ini favoritku bgt! Sering bgt kudengerin di komputer: klo ngerjain skripsi, klo lagi kangen rumah, klo lagi inget mama, klo lagi buntu, klo lagi byk masalah, klo lagi….apa aja deh klo lagi di titik nol…

Sesampai di D’cost seafood, pas lagi nungguin makanannya dateng, tiba-tiba alunan lagu Jalinan Cinta-Sherina terdengar jelas. Kyaa…mengingatkan skripsi aja, bikin nafsu makan berkurang. (ga ding, buktinya makanku ttp byk J). Untung ga sekalian lagu Ayat-ayat Cintanya Rossa juga diputer, bisa sesak napas ngingetin skripsi (ini mah berlebihan! J)

Pulangnya,

Menuju Tol Cileunyi,

Da lagu Runaway-The Corrs,

Oh tidakkk!!

Jatinangor-Garut-Bandung-Jatinangor mungkin hanya sebuah perjalanan sesaat,

Namun bagiku, perjalanan yang menoreh catatan dalam kehidupanku…

22 Agustus 2008,

02.15 WIB

catatan kehidupan

Berbagi bapak

Ini bukan cerpen. Ini juga bukan plesetan film Berbagi Suami. Ini kisahku, yg kualami setahun kebelakang. Berbagi bapak. Waktu musim film Berbagi Suami, masalah poligami di bahas dari sudut pandang yang berbeda: status ekonomi, budaya, dan agama.

Sekitar dua tahun yang lalu, ketika AA’ Gym diberitakan poligami, lagi-lagi masalah ini di bahas lagi oleh masyarakat. Bahkan, SCTV yang dipandu Rieke Amru pada tanggal 5 Desember 2006 sempat menayangkan TOPIK: POLIGAMI, SIAPA TAKUT? yang menampilkan Musdah Mulia, Yoyoh Yusroh, Billah dan tentunya Puspo Wardoyo.

Pemerintah pun ikut repot gara-gara poligami: SBY sampai memanggil Menteri Pemberdayaan Perempuan Prof DR. Meutia Farida Hatta dan Dirjen Bimas Islam Dep. Agama Prof. DR. Nasaruddin Umar untuk membahas undang-undang dan peraturan pemerintah tentang perkawinan yang dinilai belum memberikan perlindungan bagi kaum perempuan.

Yang terakhir, di Film Ayat-ayat Cinta yang menampilkan poligami antara Fahri, Aisha, dan Maria (yang menjadi inspirasi buat skripsiku J)

Aku tidak akan membahas film Ayat-ayat Cinta, udah pasti basi banget. Bukan pula membahas poligami. Namun, ceritaku tentang Berbagi Bapak bisa dikaitkan dengan Berbagi Suami alias Poligami.

Berbagi bapak. Hmm…tidak pernah terbayangkan dalam hidupku bila suatu hari nanti punya ibu tiri. Ibu tiri?? Membayangkannya saja mengerikan bagiku. Mengerikan?? Sterotip ibu tiri yang kejam udah melekat dalam otakku. Hampir semua orang mengidentikkan punya ibu tiri ga enak, ibu tiri tak sebaik ibu kandung. Bahkan ada lagu: Ibu tiri…hanya cinta pada ayahku…

Seperti disambar petir waktu papa bilang mau nikah lagi. Dan keputusan itu tergantung aku. Aku?? Aku adalah pisang yang dikarbit, dipaksa matang sebelum waktunya. Aku belum siap menghadapi semuanya. Padahal dulu aku yang bilang sendiri kalau papa boleh menikah lagi. Mamalah yang berpesan seperti itu sebelum ’pergi’. Kenapa sekarang aku yang tak rela? Tak rela kasih sayangnya terbagi? Tak rela ada pengganti mamaku? Tak rela..ahhh semuanya aku jadikan alasan untuk berkata: ”tak rela”.

Egois. Mungkin seperti itulah aku saat itu. Bahkan mendekati hari-H pernikahan papa yang kedua kalinya ini aku masih belum rela ada pengganti mama. Sampai aku sempat berpikir tak mau melihat ijab kabulnya. Dan…anehnya, saat ijab kabul berlangsung justru aku tak meneteskan air mata sedikitpun. Tegar, pura-pura tegar, atau udah ga da air mata lg?? Entahlah. Inget penggalan di Film Ayat-ayat Cinta waktu Fahri nikah ma Maria?? Ekspresi Aisha seperti ekspresiku, berusaha kuat toh tak kuat melihatnya, dan langsung keluar ruangan. Persis.

Tak terasa sudah satu tahun kejadian itu terlewati. Orang-orang yang dulunya juga berat dengan kejadian ini, sekarang juga memberi dukungan:

Arsi, sepupuku: Keadilan semoga dapat tercipta, adil bukan berarti sama. Jika kamu belum mendapat keadilan, kejarlah terus.

Bina, sepupuku juga: Berbagi adalah perbuatan mulia. Membuat orang lain bahagia menambah pahala. Dan, yang namanya memberi berarti kita lebih.

Nano: Yang namanya berbagi itu berat. Tapi, cobalah berbagi. Ga semua menakutkan seperti yang kita bayangkan.

Mas Nug: Semoga Allah selalu memberi kesabaran yang berlipat ganda, karena kelak pasti akan terlihat maknanya.

Mas Sakidi: Satu ujian lagi telah Luckty lalui, jangan hanya meratapi hal yang sudah terjadi. Ambil hikmahnya demi menyongsong masa depan.

Om Yono juga bilang: Hidup ini memang perjuangan yang harus diperjuangkan, dengan kesabaran dan keihlasan, hati tak lupa mendekatkan diri pada Allah, hidup kan jadi ringan.

(aku sengaja hanya menuliskan pendapat-pendapat dari sisi laki-laki)

Tuhan tak pernah memberikan yang kita pinta, tapi Tuhan memberikan yang kita butuhkan. Apakah ini jawaban dari-Mu?? Dulu aku pernah mendambakan punya kakak, sekarang aku merasakan punya mas dan mbak. Mungkin inilah salah satu jawaban darimu.

Semuanya emang ga mudah, semuanya butuh waktu untuk memahami dan menerimanya, dengan proses setahun ini aku mencoba bersikap sabar dan ikhlas untuk berbagi bapak. Hmmm…setahun sudah aku berbagi bapak. Tapi semuanya terekam kuat dalam ingatanku. Bahkan aku kerap berpikir INGIN HILANG INGATAN seperti yang dinyanyikan Rocket Rockers.

Aku menuliskan kisah ini hanya ingin berbagi cerita, bercerita bahwa kita tak pernah sendiri. Bercerita bahwa betapa susahnya berbagi bapak, apalagi berbagi suami, itu saja…

Hari ni genap 1 tahun 22 hari aku berbagi bapak…

catatan kehidupan

Kau Percaya, Jodoh?

“Kau percaya jodoh, Fahri?” tanya Maria.

“Ya, setiap orang memiliki…” jawab Fahri.

“Jodohnya masing-masing,” sahut Maria, “Seperti yg sering kamu katakan.”

“Aku rasa, sungai Nil dan Mesir, itu jodoh.”

Hmm..pasti udah tau itu adlh penggalan dialog di film Ayat-ayat Cinta (klo di novelnya siy ga da). Mgkn ini sisi menarik dari filmnya. Aku ga’ akn ngebhs baik novel maupun fimnya kok, udh ribuan orang yg menilainya. Cari aja di om google, pst byk bgt yg komen, ada pro, ada jg yg kontra, wajarlah, namanya jg bebas berpendapat.

Aku cuma mw komen,

”kau percaya jodoh?”

Ini percakapanku d telpon dgn sepupu:

”Dah dkt blm jodohnya?”

”Klo jodoh ga’ kan kmn, Luck”

”Halah, soh tua!” (pdhl emg dah tua! ^-^)

”Dah nonton AAC?” (promosi, ini kn skripsiku!)

”Udh.”

”Gmn?”

”Jd, jodoh Fahri sp? Aisha ato Maria? Wah, aq mw lah jd Fahri.”

”Tanya ja ma pengarangnya.”

”Lha, kn aq nanya km, Luck?!”

”Pertanyaannya, sm ja kyk: jd jodoh papa sp? Mama ato ibu?”

(lama ga’ da suaranya bbrp saat…)

”Hmmm…Luck, kyknya aq g tau jg”

Pas suatu sore d perpus kampus, Mira lg YM-an ma Acep:

Aku nimbrung:

”Kpn niy pembentukan panitia?”

”Mgkn 2 ato 3 purnama lg, Luck”

”Msh lm donk!”

”Lg apa?”

”Di kampus rame, lg da band, lagunya SEMUA TAK SAMA”

”Oh, lagunya Padi”

”Smw tak sama…pas bgt!”

”Apanya”

”Dia dan mamaku..”

”Bedanya pa, Luck?”

”Karena MAHADEWIku, BEGITU INDAH bg smw org..”

”Ga da yg sama, Luck di dunia ni..”

”Apkh, kau percaya jodoh?”

”Percaya”

”Jd, jodoh bapakku sp?”

Lama g dbls2 YM-nya…

”Luck, klo aku dpt jwbnnya lwt email ja ya…”

Dan..stlh kutunggu2 smpe skrg blm da jwbnnya.

Makan siang di kampus, beli nasi gila ma Ima:

”Ima, kt Acep pembentukan panitianya 2 ato 3 purnama lg”

”Lbh lama kok, Ty. Ktnya 6 purnama lg”

”Wah, keburu aq blik k Lpg niy. Pdhl kn mw jd panitia nikahan kalian”

”Ima, apkh kau percaya jodoh?”

”Hmm…”

”Kmrn aq jg nanya Acep, dy blm jwb jg”

”Dulu sy pnh b’pikir, klo pasangannya meninggal, brarti jodohnya abs”

”Brarti jodoh bpkku ma ibuku abs, trus gnti ma ibu tiri?”

Smsan ma Anggi,

”Duh, g dpt LAYAR KATA! Bwt referensi skripsi nh!”

”Cr ja d Gramed”

”Udh, tp ga da. D palasari jg ga da.”

”AAC mah intinya poligami”

”Kau percaya, jodoh?”

”Percaya, tp sy udh susah ngerasain cinta!”

”Wah, sama. Gmn nh?”

”Apanya?”

”Pura-pura…”

”Oh….udh ga kok”

”Halah, mkin dilupain makin inget loh!”

”Tau aja, Luck. Kpn2 qt YM-an ya!

(Moga2 Anggi menemukan jodohnya)

Aku jg pernah nanyain ini ke beberapa temen: ”Kau percaya, Jodoh?”

Resty padang : ”Percaya”

Rasmira : ”Apakah jodoh percaya padamu, luckty?” (Gubraaa….k!)

Iing : ”Percaya. Makanya Bu Luck, cari cowok donk! (Kurang ajar!)

Vika : ”Percaya, senja kan datang…”

Mpok : ”Percaya lah, emang nenek! Jombolo mulu ”(hoho!)

Tessa : ”Aku percaya, apa yg kulakukan saat ini adlh jodohku.”

Slamet : ”Percaya, ga usah pusing. Biar jodoh yg menghampiri qt.”

Faisal : (garuk-garuk!…ga da jawaban…)

Deny : ”Percaya sih, tp kok ampe skrg blm dpt?. hehe!” (sama!)

Eha : ”Percaya, emg Luckty ga?”

Tisna : ”Jodoh udh da yg ngatur. Doain aku cpt nikah ya!

Mbak Ning : ”Percaya, walaupun mbak dah mau keloncatan dua”

(moga2 Mbak Ning dkt ma jodohnya…)

Sebenernya, byk bgt yg aku tanyain ini, tp lupa ke sp ja ^-^ (kyknya smw org udh aku pnh tanyain ini, mngkin pd mpe bosen!?)

Jadi, sekali lg: ”Kau percaya, Jodoh?”

Dan…aku percaya, jodoh skripsiku adalah Pak Agus ^-^

catatan kehidupan

Mengapa Ayat-ayat Cinta?

Yup, mengapa Ayat-ayat Cinta??

Entah dpt wangsit apa waktu memutuskan: ”inilah judulku untuk USMAS”.

Yg akan mengantarkanku pd skripsi ”Transformasi Tekstual dalam Visualisasi Novel Ayat-ayat Cinta”.

Mulanya aku terobsesi bacaan-bacaan best seller,

AAC,

Ketika Cinta Bertasbih,

Laskar Pelangi,

Sang Pemimpi,

Edensor,

Tp Pak Yunus saat USMAS blg, ”Ini berat, seperti tesis. Lebih baik pilih salah satu satu saja dari sekian ini.”

Aku pilih Laskar Pelangi.

Secara aku terobsesi Ikal dan Arai (ga nyambung coba?! ^-^)

Ceritanya yg mengena bgt!

Tapi…

Filmnya kan blm nongol, masak aku hrs nungguin filmnya kluar dulu??

Keburu jamuran nungguinnya, temen2ku dah pada ngilang: lulus, kerja, kawin.

Yah, apa daya aku tak jadi memilih Laskar Pelangi.

Mengapa Ayat-ayat Cinta?

Waktu itu lg booming bgt, kupikir pst gmpng dpt referensinya. Ayat-ayat Cinta perwujudan suksesnya film adaptasi (walaupun kenyataannya, novel dan filmnya beda. Yaiyalah, yg namanya imajinasi dan visualisasi jelas beda). Mengutip kata-kata Eric Sasono – mungkin ini timing yg tepat bwt Ayat-ayat Cinta setelah Jelangkung, Petualangan Sherina, Ada Apa dengan Cinta?

Semoga Ayat-ayat cinta mengantarkanku pada gelar sarjana…amin…

ayat-ayat cinta

Pembuktian Sebuah Dongeng Cinta

”Ayat-ayat Cinta” adalah fenomena terbaru industri perfilman Indonesia. Dalam minggu pertama pemutarannya di bioskop, film garapan sutradara Hanung Bramantyo tersebut mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat.

Menurut Manoj Punjabi, produser Ayat-ayat Cinta, gedung-gedung bioskop yang memutar film itu serentak sejak 28 Februari selalu terisi di atas 95 persen kapasitas tempat duduk. Bahkan di beberapa tempat sampai melebihi kapasitas tempat duduk yang tersedia. ”Di bioskop Regent, Bandung, orang sampai rela membayar untuk duduk di bangku ekstra. Kapasitas gedungnya hanya 96 kursi, penontonnya 101 orang,” papar Manoj.

Sebagian besar gedung bioskop di Jabodetabek, Pekanbaru, dan Medan menyediakan dua layar untuk memutar film itu. Di Semarang dan Makassar, pihak bioskop membuka jam pemutaran ekstra untuk mengantisipasi membeludaknya penonton. Di Jakarta, film tersebut diputar di kelas Premiere (kelas tertinggi dengan harga tiket Rp 100.000 per lembar) di dua lokasi bergengsi di pusat kota, yakni Plaza Senayan dan Senayan City.

Bukti kesuksesan

Untuk pertama kalinya, MD Pictures yang dipimpin Manoj menggandakan pita film ini hingga 100 copy. Sebuah angka yang fenomenal untuk ukuran film nasional. ”Rata-rata film Indonesia paling hanya dicetak 10-20 copy. Bahkan film-film utama Hollywood pun paling banyak dicetak 65-70 copy,” ungkap Manoj.

Saat Kompas menonton film ini di Pondok Indah XXI hari Rabu (27/2), penonton memenuhi sekitar 90 persen jumlah tempat duduk, bahkan hingga deretan kursi di bagian depan, pada jadwal pemutaran yang ”tidak populer”, yakni pukul 15.40-18.20.

Sebagian besar penonton adalah perempuan, yang di antaranya terdapat beberapa rombongan ibu-ibu berjilbab. Di akhir film, tak sedikit penonton yang bertepuk tangan, atau mengusap matanya yang masih sembab usai menangis. ”Saya tadi tak bisa menahan tangis,” ucap Heny (19), salah satu penonton dari Cinere.

Bagi Hanung Bramantyo, itulah salah satu bukti kesuksesan tersendiri Ayat-ayat Cinta. ”Film ini berhasil mendatangkan penonton dari luar kalangan penonton film ke bioskop, seperti ibu-ibu pengajian, kini datang berbondong-bondong nonton film ini,” ujar Hanung, yang butuh 1,5 tahun untuk menyelesaikan film ini.

Dongeng klasik

Apa yang membuat Ayat-ayat Cinta begitu fenomenal? Dari segi ceritanya, film yang diangkat dari novel laris berjudul sama karya Habiburrahman El Shirazy (hingga akhir 2007 telah dicetak ulang 30 kali dan terjual sekitar 300.000 eksemplar) tidak terlalu istimewa. ”Isinya dongeng cinta klasik. Seorang lelaki yang dicintai empat wanita dan ia harus menentukan pilihan,” ungkap Hanung.

Lelaki itu adalah Fahri bin Abdillah (diperankan Fedi Nuril), seorang mahasiswa S-2 asal Indonesia di Universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir. Ia anak seorang penjual tapai yang polos, sederhana, dan sangat taat beragama. Jatuh cinta adalah sesuatu yang belum pernah terjadi dalam hidupnya dan pacaran adalah sesuatu yang dilarang menurut keyakinan agamanya.

Pada saat hampir bersamaan, empat wanita justru jatuh cinta kepada Fahri. Mereka adalah Nurul (Melanie Putria), mahasiswi dari Indonesia yang menjadi teman dekat Fahri di kampus. Kemudian ada Maria Girgis (Carrisa Puteri), gadis Mesir tetangga seapartemen dan sahabat dekat Fahri, beragama Kristen Koptik, tetapi mempelajari dan mengagumi isi Al Quran.

Sosok ketiga adalah Noura (Zaskia Adya Mecca), seorang perempuan Mesir yang terpisah dari orangtuanya dan jatuh ke tangan seorang penjahat dan suatu hari ditolong Fahri. Terakhir adalah tokoh Aisha (Rianti Cartwright), perempuan berdarah Jerman-Turki yang terkesan saat bertemu Fahri pertama kali di sebuah kereta api.

Dongeng cinta tersebut kemudian memiliki bobot berbeda karena ditempatkan dalam konteks agama Islam yang dijalani Fahri dengan sangat taat. Terjadi konflik batin rumit saat Maria menderita koma karena menanggung patah hati yang amat sangat setelah mengetahui Fahri memilih orang lain untuk diperistri. Maria hanya bisa sembuh kalau disentuh Fahri, sementara Fahri dilarang agamanya untuk menyentuh wanita yang bukan muhrimnya.

Tantangan berat

Interpretasi dongeng ini ke bentuk visual dan setting cerita di Mesir menjadi tantangan berat bagi setiap sutradara yang menggarap film ini. ”Dari awal saya sudah memutuskan untuk membuat film ini sesuai novelnya, jadi shooting pun harus dilakukan di Mesir,” ungkap Manoj, yang memutuskan memfilmkan novel itu pada akhir 2005.

Hambatan dan rintangan pun sudah terjadi sejak tahap sangat awal. ”Saat survei lokasi di Mesir, saya baru sadar bahwa kondisi di lapangan tak seindah gambaran di novel. Yang namanya Piramida Giza itu masih kalah bersih sama Candi Borobudur,” tutur Hanung.

Shooting pun batal dilakukan di Mesir karena biaya yang ditetapkan rumah produksi lokal terlalu besar (mencapai Rp 15 miliar). Pengambilan gambar adegan luar ruang akhirnya dikerjakan di India, sementara untuk adegan dalam ruang sebagian besar dibuat di kawasan kota tua Semarang yang memiliki banyak bangunan kuno menyerupai salah satu sudut kota Cairo. ”Saya bersama para pemain dan kru lainnya harus naik bus 30 jam dari Bombay ke lokasi shooting di Jodhpur, India. Peralatan dan kru shooting yang disediakan di sana pun tak sesuai harapan,” kenang Hanung dalam blog pribadinya.

Hasilnya, Hanung berhasil menampilkan gambar-gambar indah luar ruang (beberapa di antaranya dibantu proses komputer grafis untuk ”menempelkan” gambar piramida Mesir pada gambar-gambar yang diambil di India). Akan tetapi, porsinya terasa sangat kecil dibanding adegan dalam ruang, yang sangat panjang dan kadang menjadi membosankan.

Beberapa adegan tidak perlu— yang masih memperlihatkan karakter buruk film Indonesia—juga masih ditemukan, seperti adegan suster menutupkan selimut di atas jenazah salah satu tokoh yang di akhir cerita meninggal dunia. Untuk memunculkan rasa haru, momen kematian seharusnya tak perlu ditampilkan dengan adegan yang justru sangat mengganggu tersebut.

Namun, di luar kelemahan-kelemahan itu, Ayat-ayat Cinta membuktikan dengan gemilang, bahwa orang Indonesia ternyata bukan sekadar sekumpulan orang yang hanya bisa menggemari film horor dan roman cinta ABG.

DAHONO FITRIANTO

sumber:

http://www.kompas.com