Sekuel keempat The Naked Traveler ini berisi kumpulan pengalaman travelling penulis rentang waktu 2010-2012. Seorang teman penulis pernah bertanya padanya, “Ngapain sih, buang-buang duit jalan-jalan ke sana kemari untuk menulis tentang perjalanan? Kan, tinggal duduk, browsing, lalu bikin deh tulisan. Tentunya penulis benar-benar tersinggung akan ucapan temannya ini. Ya maklumin aja, temannya ini baru menikah dan sedang meniti karir, dan nggak doyan jalan-jalan. Tentu prioritas hidup mereka amat jauh berbeda. Ya ampuuunnn…. saya pun ada banget teman yang kayak gini… x)) #kurangpiknik Continue reading “REVIEW The Naked Traveler 4”
Tag: buku traveling
REVIEW The Naked Traveler 3
Bagi penulis, traveling itu bagaikan sekolah. Penulis yang bayar, tapi tetap harus mengerjakan ‘tugas-tugasnya’, seperti merencanakan perjalanan, membeli tiket, mencari penginapan, berkomunikasi dengan orang dengan bahasa yang tidak dimengerti, menemukan jalan di tempat yang asing, dan sebagainya. Continue reading “REVIEW The Naked Traveler 3”
REVIEW The Naked Traveler 2
Jika di buku kedua covernya ada jemuran kacamata, buku kedua covernya jemuran ada kaos gombrong gitu sesuai karakter penulisnya. Masih seperti buku yang pertama, seputaran pengalaman travelingnya. Kalo di buku ini kisah perjalanannya rentang waktu tahun 2003 sampai 2009. Continue reading “REVIEW The Naked Traveler 2”
REVIEW The Naked Traveler 1
Sebenarnya udah niat banget baca buku ini pas edisi cover baru terbit. Tapi apa daya, meski ini buku non fiksi, ternyata buku bertema travelling menjadi salah satu buku favorit yang dibaca murid-murid di sekolah. Begitu juga dengan serial The Naked Traveler ini. Nah, saya akan mulai reviewnya dari buku pertama ini. Untuk cover baru, nuansanya berbackgroud kuning dengan tali jemuran yang nyambung satu sama lain dengan cover berikutnya. Dan untuk cover buku pertama, jemuran yang digantung adalah kacamata 😉 Continue reading “REVIEW The Naked Traveler 1”
REVIEW The Dusty Sneakers
Saat kau pergi suatu tempat, kau meninggalkan sepotong kecil dirimu di sana. (hlm. 67) Continue reading “REVIEW The Dusty Sneakers”
REVIEW #Egyptology
“Anda Muslim, saya juga Muslim. Kita bersaudara. Saya tidak boleh berprasangka buruk kepada anda.” (hlm. 38)
REVIEW The Gong Traveling
Setiap detik waktu adalah suara hati
Lalai memanfaatkannya, jatuhlah ke bumi
Ibarat daun kering hancur luruh
Tak akan bisa kembali lagi
Begitulah roda waktu mengiringi
Menjadi musuh bagi kita
Juga kawan bagi kita. (hlm. 21)
REVIEW Traveler of The Month
Tak perlu menua di ujung malam, hidup bukan hanya untuk bekerja. (hlm. 5)
REVIEW Nadrenaline
Jangan menunggu. Jangan pula melakukan hal yang sama, apalagi yang standar. (hlm. 77)
Berjalan tanpa mimpi terasa hampa, berpikir tanpa tujuan terasa kosong, berharap tanpa usaha itu bodoh! (hlm. 91)
Jadi, apa beda berharap dan bertindak untuk mewujudkan keinginan? Banyak hal, dan mungkin diperlukan waktu lama untuk bisa terjawab. Lebih mungkin lagi terjadi jika kita peduli banyak tentang harapan, dan bertindak untuk mewujudkannya. (hlm. 91)
Jika kita berani mendobrak ketidaknyamanan akan membawa kita ke tingkat lebih tinggi tentang kepuasan hidup. (hlm. 209)
Wah, kalimat-kalimat tersebut dalam buku ini memang JLEBB banget. Mengingatkan saya impian ke Lombok yang belum juga kesampaian ampe sekarang.. ♥(>̯┌┐
Dari Sabang sampai Papua, sudah Nadine jamah. Dari naik gunung hingga diving bahkan dicium bulu babi pun sudah dirasakan.
Fashion is something, but don’t take it seriously. Do whatever you want, wear whatever you like, as long as you feel comfortable with it! Everything is wearable but comfortable. (hlm. 106)
Traveling dan fashion. Sepertinya kedua hal ini gampang-gampang susah dicerna artinya. Banyak orang menganggap, the key of the fashion adalah comfortable. Masalah matching dan tren itu urusan belakangan. Tapi perlu diingat kemana tujuan perjalanan kita sangat menentukan bagaimana kita bergaya. Hal lain yang memengaruhi the way we dress, yaitu dengan siapa kita melakukan perjalanan.
Bagaimana dengan orang yang tinggal di luar Jakarta dan menghabiskan waktunya berpuluh tahun tanpa fasilitas itu… (hlm. 130)
Dalam BAB Anak Mal, Nadine bisa memahami apa yang dirasakan masyarakat kita yang tidak merasakan adanya mal di daerahnya, seperti di daerah saya #eaaa (“˙▿˙)
Berhubung saya suka gajah, jadi saya suka BAB Bisikan Gajah. Ada cerita kisah Kaeki, bayi gajah yang diadopsi Nadine dari Taman Safari Indonesia. Gajah, mahluk ini sebenarnya adalah mahluk yang peduli kedamaian. Mereka memiliki kemampuan bersosialisasi tinggi. Penuh rasa ingin tahu, cerdas sekaligus emosi yang kuat. Tak heran mereka sering menetaskan air mata. Oya, durian termahal dan terenak di dunia datang dari kotoran gajah! Ah, sayangnya kok gak ada cerita gajah di Way Kambas yaa.. ( ʃ⌣ƪ)
BAB PACKING SINTING. Pengalaman terekstrimnya selama packing adalah saat mengikuti ajang Miss Universe tahun 2006. Ada empat koper yang harus dibawanya sendiri. Padahal dia membenci packing. Koper pertama penuh dengan sepuluh kebaya megah Anne Avantie beserta delapan highheels dan lima belas aksesori Tascha. Koper kedua tetap dengan perlengkapan busana rancangan Anne Avantie, yaitu Kencono Wungu. Koper ketiga berisi perlengkapan make-up dan hair-do yang berupa cairan. Koper terakhir berisi sepuluhtas dengan jenis berbeda dari berbagai warna clutch sampai shoulder bag dan sling back. #PukPukNadine (⌣̩_⌣̩)\(‘́⌣’̀ )
Ada beberapa foto yang sebenernya gak nyambung ama isinya. Untung Nadine ini cantiknya gak diragukan lagi. Jadi kita gak bosan lihat foto-foto tersebut.. (ˇ▼ˇ)-c
Waktu baca judulnya, ekspetasi saya adalah saat membaca bakal terguncang dengan cerita-cerita perjalanan yang menegangkan dan bikin adrenaline naik turun. Ternyata tidak. Apalagi ceritanya yang meloncat-loncat, dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Coba ceritanya lebih diperinci dan detail, biar kesannya gak singkat-singkat.
Meskipun begitu, kita akan menemukan sosok Nadine dari segi yang lain. Bukan dari segi putri anggun yang kita lihat di layar kaca. Nadine yang sesungguhnya. Nadine yang tidak mandi selama seminggu. Nadine yang makan kecoak. Nadine yang menyelundupkan lima botol alcohol. Nadine dengan karpet hitam dan bolong. Dan cerita Nadine lainnya yang belum pernah kita dengar.
Pas abis baca ini, jadi kepikiran ngajak salah satu guru di sekolah yang hobi traveling buat nulis, trus pengen ngajak juga guru dari Korea yang udah jalan-jalan ke beberapa tempat wisata untuk menuangkan pengalamannya menjadi buku traveling kayak gini.. (◕‿-)
Perjalanan dibangun dari keinginatahuan dan mimpi. Di mana saya berada, itu menjadi rumah saya. Ketika kita tahu rumah itu di hati, sangat mudah membuka pintu perkenalan dengan orang asing yang kita temui. (hlm. 196)
Buat yang berjiwa traveling, buku ini musti masuk dalam rak koleksimu.. (✽ˆ⌣ˆ✽)
Keterangan Buku:
Judul : Nadrenaline
Penulis : Nadine Chandrawinata
Penyunting : Suryo Utomo
Perancang sampul depan: Ismael, Third Eye Studio
Perancang sampul belakang: Adien Dendra
Pemeriksa aksara : Ine & Nurani
Penata aksara : gores_pena
Ilustrasi isi : Ikan
Penerbit : B-first
Terbit : Februari 2012
Tebal : 218 hlm.
ISBN : 978-602-8864-54-1
Cuplikan Launcing Buku #Nadrenaline:

REVIEW Travelove
Lagi tren buku-buku bertema traveling. Bahkan B-First sudah menerbitkan belasan buku bertema traveling. Travelove ini salah satunya, buku keroyokan yang diracik oleh beberapa penulis yang rata-rata sudah menerbitkan buku tentang traveling.
Ini bukan sekedar traveling. Sesuai judulnya; Travelove. Perjalanan dalam cinta atau cinta dalam perjalanan? Semuanya bisa kita temukan disini.
travel writer kini menjadi profesi yang membanggakan, menjadi idola baru, bahkan mengalahkan artis sinetron, gyahahaha.. Coba deh perhatikan, selain booming buku-buku bertema traveling, foto-foto di social media lebih banyak mengekspos dunia traveling. Gak jalan-jalan, gak gaul.. (ʃƪ´▽`) (´▽`ʃƪ)!
Bertemu Itu Kesempatan, Bersama Itu Pilihan – Andrei Budiman @travellous
Memandang diam-diam seseorang yang menyeberangi jembatan penyeberangan seperti yang dialami penulis ini tampak mustahil? Gak juga, dulu punya teman yang seperti itu. Diam-diam selalu melihat seseorang di gerbang kampus. Bayangkan, hanya dengan melihat seseorang yang dia puja yang lewat di gerbang itu sudah membuatnya amat sangat bahagia, gyahahaha.. Cinta memang tidak mengenal tempat, bisa di jembatan penyeberangan, bahkan gerbang kampus.. ~(ˆ▽ˆ~) ~(ˆ▽ˆ)~ (~ˆ▽ˆ)~
Perjalanan Ke Surga – Trinity @TrinityTraveler
Jujur, saya belum baca satu pun bukunya yang fenomenal itu. Bahkan sudah beberapa seri, dan cetak ulang berkali-kali, hingga masih bertengger di rak best seller. Tapi belum membuat hati tergerak untuk membacanya. Setelah membaca kisah Trinity bersama orang paling dicintainya yang menyentuh dalam buku ini, saya langsung jatuh cinta dengan tulisannya dan bertekad ingin membeli buku-bukunya yang best seller itu! ( ‘̀⌣‘́)9
Perjalanannya yang menghasilkan beberapa buku best seller, bisa disimak di http://naked-traveler.com/
Terima Kasih, Giving Alms – Rini Raharjanti @riniraharjanti
Aku tak pernah menyangka jawaban permohonanku terjadi begitu cepat. Pagi itu saat aku mengikuti ritual giving alms, aku memohon agar diberikan CINTA di dalam hidupku. Pagi ini, permohonan itu terkabul. Terima kasih, giving alms. (hlm. 47)
Jadi teringat perkataan seorang teman yang sudah menikah: “Mungkin kamu terlalu lupa untuk memohon kepada Tuhan untuk meminta jodoh.” à #jlebb #eaaaa ~~~(/´▽`)/
Oya, cerita perjalanan penulisnya bisa disimak di: http://cuapcuapnabi.blogspot.com/
Winter Serenade – Salman Faridi @salmanfaridi
Pasangan itu tidak mudah dicari, dan pasangan yang baik, ibarat gambar, akan melengkapi citra diri kita. Pasangan kita adalah saudara kembar yang kita temukan dengan radar yang sudar tertanam secara melekat sejak lahir: cinta. (hlm. 51)
Kehabisan uang di negara orang adalah sebuah bencana, apalagi jika kehilangan dompet seperti yang dialami Salman Faridi. Demi bertemu istrinya, kepala suku di Bentang ini rela melakukan apapun meski harus merasakan menggigil dan kelaparan luar biasa. Cinta memang mengalahkan segalanya.. (♥̅ ⌣ ♥̅)
Silent Retreat – Claudia Kaunang @ClaudiaKaunang
Selain Rini Raharjanti, Claudia Kaunang juga mengalamai perjalanan rohani. Retreat yang dilakukannya kali ini, meskipun awalnya terkesan terpaksa karena ajakan pacarnya, penulis mengalami perjalanan hati yang membawanya bersyukur memiliki pacar baik hati yang tidak melulu memikirkan hal duniawai.
Di akhir cerita, penulis mendapatkan sebuah buku yang di dalamnya tertulis sebuah puisi:
You had better slow down
Don’t dance so fast
Time isshort
The music won’t last
When you’re running so fast to get somewhere
You miss half the fun of getting there
When you worry and hurry through your day
It is like an unopened gift just thrown away
Life is not a race
Do take its slower
Hear the music
Before the song is over
(hlm. 75)
Beliau sudah menerbitkan banyak buku tentang travellling: Rp2 Juta Keliling Thailand, Malaysia, & Singapura; Rp2 Juta Keliling Macau, Hongkong, & Shenzhen; Rp500 Ribu Keliling Singapura; Rp3 Juta Keliling Korea dalam 9 Hari; dan Rp.2,5 Juta Keliling Jepang. Bisa disimak perjalanannya dalam blognya yang ciamik di http://claudiakaunang.com/
Rendezvous – Ariyanto @ariysoc
Memendam rasa itu seperti gulma. Tak diinginkan, tapi tak terelakkan. Namun, bahkan gulma pun kadang berguna, tentu bila dua-duanya merasa membutuhkan. Dan, entah untuk alasan apa, itu terjadi pada kita. (hlm. 79)
Menyukai seseorang adalah menyatakan langsung di hadapannya: aku suka kau! (hlm. 89)
Cerita ini, saya banget!! Generasi digital pasti banyak mengalami ini. Merasa klik dengan seseorang yang belum kita kenal secara nyata, tapi hanya di dunia maya. Pernah? Saya juga pernah sih…beberapa kali malah, gyahahaha.. Bedanya, jika Ariyanto tetap klik di dunia nyata seperti halnya saat di dunia maya, saya hanya cukup BERTEMAN saja. Nyambung di dunia maya, belum tentu nyambung di dunia nyata #eaaa (ˇ▼ˇ)-c
Penulis ini juga lumayan produktif; Rp2 Jutaan Keliling China Selatan dalam 16 Hari, Rp1 Jutaan Keliling Thailand dalam 10 Hari, Travelicious Yogya & Solo, Travelicious Surabaya-Malang-Madura, sertaTravelicious Meda. Goresan perjalanannya bisa diintip di http://a-journo.blogspot.com/
Saya Perempuan Dangkal dan Varietas Lelaki Kurang Unggul – Rei Nina
Setiap lelaki memiliki keunikan dan keanehannya masing-masing. (hlm. 91)
Bercerita seputar pengalamannya dengan seseorang yang pernah berlabuh dihatinya. Bukan cerita romantis, apalagi menye-menye. Justru itulah keunikannya. Terkadang cinta tidak butuh alasan. Cinta datang dan pergi begitu saja. Jika kita bertanya apa itu cinta, itu pasti bukan cinta.. (‾▽‾)♥(‾⌣‾)
Mencari Cupid di Kota Cinta – Sari Musdar
Inilah cerita yang paling representasi perpaduan TRAVEL dan LOVE. Perjalanan Sari Musdar ke Paris ini sukses membuat saya iri. Iri sangat! Saking penasarannya dengan Nicholas Cage a.k.a Stephane, saya ubek-ubek album di facebooknya. Sayang gak nemu si om ganteng itu, karena album di facebook Sari Musdar banyak beneeerrr.. x)
Gimana gak iri? Ada cerita perjalanannya saat sedang menikmati Gereja Sacre Coeurbisa malah diuber pelukis jalanan nekat bernama Alex dari Corsica, memotret Monalisa dalam sekejap di Musee du Louvre, dan yang paling romantis adalah saat Stephane menggiringnya menuju Kastel Parc de Sceaux.
Tulisannya bisa dibaca lewat http://sarimusdar.blogspot.com/. Uwoww…mau donk dapet buntelanCinderella in Paris.. #NgarepAbis #ColekMbakSari (‾ʃƪ‾)
Nih, ampe niat googling tempat-tempat ciamik itu:
Musee du Louvre
Kastel Parc de Sceaux
Does Anybody Know Where Natalie Is? – Lalu Abdul Fatah @lafatah
Inilah penulis paling muda diantara yang lain. Meskipun masih muda, dia sudah memiliki buku traveling sendiri, Travelicious Lombok. Dia yang membuat saya ingin menginjakkan kaki ke Lombok suatu hari nanti. Dia jugalah yang membuat saya kepincut dengan buku ini. Jika sudah membaca bukunya, kita akan tahu siapa Natalie yang dia impikan itu, bahkan yang ditulisnya dalam 2Do Be fore I Die (ihiy, jadi kepikiran juga buat list 100 hal yang ingin dilakukan sebelum mati, biasanya cuma list keinginan selama setahun setahun :p).
“…she is really cute!” (hlm. 148)
“Jika impian dituliskan maka semesta akan berkonspirasi mewujudkannya….” (hlm. 151)
Pelancong aksara ini selain sibuk traveling, sedang berjuang keras menyelesaikan skripsi yang dipersembahkan untuk orangtuanya. Masih aktif menulis di http://lafatah.multiply.com/
Saya jadi ingat tulisan Fatah saat mengirimkan buku ini, tertulis: “Ada banyak cinta dalam perjalanan. Tinggal bagaimana kita menangkapnya.” #JLEBB #eaaa (‘⌣’┐) (┌’⌣’)┌ (‘⌣’┐) (┌’⌣’)┌
Nah, apakah pernah punya pengalaman serupa saat traveling? Atau pernah mengalami hal yang sama dalam buku ini?!? Dari RANSEL turun ke HATI ƪ(♥▿♥)ʃƪ(♥▿♥)ʃƪ(♥▿♥)ʃ
Keterangan Buku:
Judul : Travelove: Dari Ransel Turun Ke Hati
Penulis : Andrei Budiman, Ariyanto, Claudia Kaunang, Lalu Abdul Fatah, Rei Nina, Rini Raharjanti, Salman Faridi, Sari Musdar, Trinity
Penyuting : Ikhdah Henny
Perancang sampul : Adien Dendra
Perancang isi : Didit Hernoko
Pemeriksa aksara : Intan Ren
Penata aksara : gores_pena
Foto : Koleksi pribadi penulis
Penerbit : B-First
Terbit : April 2012
Tebal : 158 hlm.
ISBN : 978-602-8864-56-5
Saat bedah buku TRAVELOVE, yang dicomot dari facebook Lalu Abdul Fatah: