catatan kehidupan

About Me

Biasanya seorang blogger membuat semacam about me itu di awal mula membuat blog, saya malah nggak kepikiran blas. Seiring waktu kalo blogwalking baru ngeh ada banyak blogger yang mencantumkan apa saja yang pernah diraihnya selama ini. Kagum juga kalo liat prestasi-prestasi orang lain. Dan merasa hidup ini kok recehan banget dibandingkan yang lain x)) Continue reading “About Me”

Uncategorized

Membingkai Diri

Saya besar di lingkungan yang penuh dengan keberagaman budaya, suku, ras dan agama. Saya terbiasa dengan perbedaan. Tidak pernah menganggap perbedaan itu menjadi kendala. Saat kecil, menjadi muslim yang saya tahu adalah (hanya) sholat, puasa, zakat dan ngaji. Bila mampu, naik haji. Sewaktu saya kecil, masih jarang perempuan mengenakan jilbab. Paling banyak adalah ibu-ibu, termasuk almarhum mama saya. Di sekolah, saat SMP hanya ada segelintir siswi yang mengenakan jilbab. Jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Beranjak ke bangku SMA, walaupun jumlah siswi yang mengenakan jilbab lebih banyak dibandingkan saat SMP, saya masih belum ada niatan untuk menutup aurat. Meskipun saya sudah tahu bahwa menutup aurat itu suatu kewajiban, walaupun saya sudah banyak membaca buku-buku islami, entah kenapa hati saya belum tergerak. Mama pun tak pernah memaksa, mama pernah bilang; “Nduk, kalau mau pake jilbab harus dari hati. Kenakan saat kamu siap.”
Sebenarnya saat mengenyam masa kuliah, saya sudah berniat untuk mengenakan jilbab. Entah kenapa, lagi-lagi niat itu (kembali) tertunda. Baru saya sadari bahwa keragu-raguan itu adalah bisikan dari setan. Akhirnya niatan berjilbab kembali muncul ke permukaan saat ulang tahun ke sembilan belas. Gagal lagi. Menginjak semester kedua pun belum berjilbab. Di semester ini saya (yang masih belum berjilbab) justru terpilih memangku jabatan menjadi pemimpin redaksi bulletin musholla kampus. Duh, agak berat juga ya, apalagi dengan label ‘belum berjilbab’!!
Pernah suatu hari ada yang mengirim sms, kira-kira begini isinya; “Belum pakai jilbab kok jadi pemred bulletin musholla?!?” JLEBB!! Itu saya terima tidak hanya sekali, tapi beberapa kali. Maksud si pengirim sms pasti baik. Dia berpikir bahwa saya (yang waktu itu belum berjilbab) tidak pantas menjadi pemred bulletin musholla. Mungkinkah dianggapnya ahlak saya kurang baik karena belum mengenakan jilbab??
Justru disitulah tantangannya, semenjak itu saya mulai mempelajari Islam secara lebih mendalam. Mencari referensi bulletin atau majalah Islam. Membaca buku-buku Islam walaupun sudah saya lakukan sejak SMA, kali ini membaca buku yang lebih berisi dan bergizi. Buku-buku Islam itu belum ada yang membuat hati saya bergetar, atau memang hati saya yang bebal ya?!? :p
Suatu hari, saat saya ke Palasari (surganya buku di Bandung) mampir ke salah satu toko buku favorit saya. Perhatian saya tertuju pada sebuah buku yang berjudul Agar Bidadari Cemburu Padamu-nya Salim A. Fillah. Buku yang saya beli ini sudah masuk cetakan kelima.
Saya punya kebiasaan saat membaca. Jika membaca harus langsung selesai hari itu juga. Begitu juga dengan buku bersampul pink ini. Isinya sangat perempuan sekali. Hati saya bergetar saat membaca Bab 2: Dan Kaupun Semakin Memesona. Aduhai, menyentuh sekali tulisannya. Saya sudah banyak membaca buku yang membahas tentang kewajiban berjilbab, tapi selalu saya baca hanya angin lalu saja. Mungkin karena isi tulisannya yang kaku dan berat. Buku ini sangat berbeda. Yang paling membuat saya bergetar adalah penulisnya seorang laki-laki. Duh, malunya!! Masak yang mengingatkan justru seorang laki-laki?!? @_@
Entah kenapa sejak membaca buku itu, dalam pikiran saya selalu terngiang surat Al Ahzab, ayat 59:
“…Hendaknya mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karenanya mereka tidak diganggu. Dan adalah Allah, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “
Begitu juga dengan surat Al A’raf, ayat 26:
“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kalian pakaian untuk menutupi aurat kalian dan pakaian yang indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang terbaik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.”
Saat libur panjang. Saya pulang ke rumah. Mama bilang; “Nduk, kapan pakai jilbab? Nanti keburu mama pergi loh…” Walaupun diucapkan mama dengan nada bercanda, justru saya merasa perkataan itu seperti isyarat.
Di kampus banyak mahasiswa berjilbab justru membuat saya makin ragu. Apa yang sebenarnya membuat saya ragu? Mereka berjilbab karena belum sesuai syariah. Baju berlengan tigaperempat. Jilbab cekak, memperlihatkan lehernya. Baju pas bodi, bahkan terkadang pusarnya terlihat! Yang lebih mengerikan adalah ada beberapa mahasiswa yang sengaja menggunakan jilbab untuk menutupi lehernya yang habis jadi korban pacarnya!! Astagfirullah!!
Banyak yang belum berjilbab (termasuk saya) berdalih dengan alasan ingin menjilbabkan hati terlebih dahulu, baru kemudian menjilbabkan diri. Saya berpikir, kalau menunggu ahlak kita baik, kapan akan siap berjilbabnya?!? Iya, kalau sama Allah dikasih umur panjang, kalau udah keburu dipanggil oleh-Nya, gimana dong??
Tanpa berpikir dua kali, masuk semester tiga akhirnya memutuskan mengenakan jilbab. Walaupun ahlak saya masih pas-pasan. Walaupun ngaji saya belum merdu. Walaupun sholat masih sering di ujung waktu. Walaupun hapalan saya masih berupa surat-surat pendek. Walaupun belum menutup aurat dengan sempurna sesuai syariah. Dan masih banyak walaupun-walaupun lainnya yang masih melekat dalam diri saya.
Tapi, percayalah bahwa semua itu butuh proses. Justru dimulai dengan saat berjilbablah saya mulai benar-benar mendalami Islam dengan hati nurani tanpa paksaan. Dengan berjilbab, contoh kecilnya adalah lebih disegani bila di jalan, tanpa khawatir ada yang mengganggu atau menggoda. Hidayah itu bukan datang sendiri, justru kitalah yang harus mendatangi hidayah-Nya.
Tak terasa, tahun ini genap lima tahun saya berjilbab. Terima kasih kepada Allah yang masih memberikan kesempatan kepada saya untuk merasakan indahnya Islam. Terima kasih kepada almarhum mama yang tak pernah bosannya mendorong saya untuk berjilbab, untunglah mama masih sempat melihat saya berjilbab walaupun cuma setahun. Dan yang terakhir, terima kasih pada Salim A. Fillah yang telah menuliskan buku Agar Bidadari Cemburu Padamu mampu membukakan pintu hati saya.
Semoga, kelak suatu saat nanti saya bisa membakar cemburu para bidadari-bidadari di surga!! Amiiiinnn… (>,^)

Keterangan buku yang menginspirasi:
Judul : Agar Bidadari Cemburu Padamu
Penulis : Salim A. Fillah
Penerbit : Pro-U Media
Terbit : 2005 (Cet.5)
Tebal : 254 hal.
ISBN : 979-98151-1-8

NB:
Kisah ini untuk diikutsertakan dalam Lomba Kisah Menggugah Pro-U Media 2010 di http://proumedia.blogspot.com/2010/10/lomba-kisah-pendek-menggugah-pro-u.html

catatan kehidupan

Rapel: 13 Hari (Jatinangor-Metro-Jatinangor)


26 September 2008
Laut Biru yang Bikin Haru…
Untuk pertama kalinya, pulang ke Lampung ngeteng a.k.a. putus-putus naek bus empat kali bus plus naek kapal pas siang-siang (biasanya kena malem klo pas di kapal). Akhirnya aku bisa liat laut yang biru dengan jelas!! Senangnyaaa…apalagi pas di kapal dapet view yg bagus liat lautnya. Kereeen!! Aku kebagian di dek kapal atas, pas deket corong suara pemberangkatan kapal, jadi bisa liat-liat orang hilir mudik plus mobil-mobil yang berderet antri masuk kapal.

Dari style-nya, aku menebak penumpang-penumpang kapal sebagian besar adalah pemudik yang akan berlebaran di kampung halamannya (seperti aku!)
Tapiiii…!!! Buanyaaak bgt orang yang nggak puasa!?!? Pada makan cuek bebek (loh, bebek ikut mudik?! ^-^) Apakah pemudik tergolong musafir?? Aku mah, selagi kuat, kenapa tidak melanjutkan puasa. Toh, aku kuat juga nyampe rumah. Entahlah kalo’ orang lain.

Ternyata, terminal di Merak baru, pindahnya lumayan jauh dari kapal. Wah, kasian banget orang-orang yang bawaanya banyak. Untungnya, aku dan Apri pulang sama-sama hanya membawa satu ransel ajaa…!! Klo kayak gini, kuli-kuli barang jadi laku, gpplah buat penghasilan mereka, berbagi rejeki buat orang lain kan juga pahala tho?!

27 September 2008
Seperti Desa Mati
Masih syok dengan keadaan di rumah. Mati lampu, pemadaman total dari sebelum puasa mpe aku pulang blm juga berakhir. Ya ampyun, Metro Utara gelap total, seperti nggak ada kehidupan. Nggak ada lampu yang nyala, nggak bisa denger radio, apalagi suara TV, nggak bisa minum dingin (kulkas nggak kepake), masak nasi pun kembali ke kompor (magic com nganggur), mandi pun musti irit air (masih mending punya sumur, bayangin aja di rumahku yang nggak punya sumur!), solat teraweh ke mushola pun muaaales bgt rasanyaaa…secara gelap gulita gitchuuu…!?!

Papa bilang: jangan ngeluh, bukan hanya kita kok yang gelap-gelapan. Semua tetangga juga nasibnya sama kayak kita. Biar ngerasain susahnya zaman dulu pas nggak ada listrik. Hiks…

29 September 2008
Reuni SMANSA
Gini nih resiko mati lampu, musti irit batere HP. Secara ngecharger-nya aja butuh perjuangan, musti ke rumah ibu (my step mother) yang beda daerah. Gara-gara irit batere HP, aku baru tau dadakan kalo ada reuni SMANSA. Mana baju keriting semua. Bodo ah! (tetanggaku malah pada beli setrika areng, nyetrika kayak gitu butuh tenaga ekstra loh!)

Pas aku cerita ma temen2, bukannya mereka turut berduka, malah diketawain. “Makanya pindah aja dari Metro Utara, Luck”. Argh….!! Terlebih temen SMANSA yang rumahnya di daerah Metro Utara (terdiri dari tiga desa ini) hanya hitungan jari, nggak nyampe sepuluh orang.

30 September 2008
Malam Takbiran yang Mencekam
Aku (dan orang-orang) di sini berharap (setidaknya) malam takbiran kali ini lampu akan menyala walaupun (cuma) sehari sajaaa…
Nyatanya…mungkin Allah sedang menguji kami, di saat yang lain bersuka cita menyambut lebaran, aku (dan orang-orang di sini) harus berupaya lebih ekstra menghadapi malam takbiran dengan cahaya dari lilin yang kian redup termakan dinginnya malam.

Masyarakat marah. Marah pada siapa?? Pada pemerintah?? Tau apa pemerintah penderitaan kami yang dibiarkan terlunta-lunta sebulan lebih?! Bendera-bendera partai berkibar di jalanan saling berlomba unjuk gigi menuju garis pemilu. Buat apa?? Masalah listrik aja nggak becus!! Fuih…

Malam takbiran seharusnya diisi dengan alunan suara-suara takbir yang menggema di masjid-masjid…yang ada masyarakat marah…sudah jengah dengan semua ini…trafo-trafo listrik dibakar massa yang mulai menggila…benar-benar malam takbiran yang mencekam….

30 September?? Bukankah hari ni G/30S/PKI??

1 Oktober 2008
Hujan Turun di Hari Lebaran Pertama
Ini kali kedua lebaran dengan keluarga baru.
Rute lebaran hari pertama juga berbeda mulai dua tahun ini.

Hujan mulai mengguyur Lampung: Metro – Pekalongan – Purbolinggo – Raman Aji – Pakuan Aji – Sukadana – Kota Gajah. Hmmm…tampaknya hujan rata di mana-mana. Dari balik mobil, aku melihat tetesan hujan membasahi tanah dan pohon-pohon yang kehausan. Pohon-pohon singkong disepanjang jalan Sukadana menari-nari saat hujan menghampiri, daun-daun pohon kelapa meliuk-liuk tertiup angin. Tanah merona merah tersapu hujan..

Seperti pelangi, setia….menunggu hujan reda…. (ERK-Desember)

5 Oktober 2008
Gurame Bakar
Sudah menjadi ritual di hari kelima lebaran, aku reunian ma temen-temen SD. Reuni sama dengan gurame bakar. Yup, setiap reunian SD, menu kami adalah gurame bakar plus sambal terasi, mantab deh! Tahun ini yang gendong anak baru Isti, gimana tahun depan ya?? Yang pasti tahun depan, status kami (insyaallah) melepaskan label mahasiswa.

6 Oktober 2008
Tragedi Tai Kucing
Nggak tau kenapa, dari dulu aku tak pernah menyukai binatang, sekalipun binatang itu lucu!! Eits, tapi bukannnya benci loh! Tapi, yang perlu digarisbawahi: aku tak suka memelihara binatang! Males aja joroknya, hueks..!! terlebih lagi mahluk yang bernama K.U.C.I.N.G. ! !

Hari ni aku bersama Mbak Erni lebaran ke rumah Bu Masna (teman mama ngajar di SD). Rumahnya banyak sekali kucing, di mana-mana, di teras, di dapur, bahkan di ruang tamu. Aku sih nggak masalah selagi kucing-kucing itu tak menggangguku. Sehabis itu, aku ke rumah Om Rono, sekalian mau minta potong rambut ma Tante Sures (mumpung gratis! ^-^). Nyampe di rumah Om Rono, aku (dan Mbak Erni) merasa bau-bau kucing di rumah Bu Masna tadi masih mengikuti kami. Ah..mungkin hanya perasaan saja, pikirku. Tapi, kok nggak ilang-ilang ya?? Dari kami di ruang tamu sampe pindah ke ruang belakang, teuteup aja bau-bau kucing itu masih ada. Aku periksa sandal, jangan-jangan nempel di tapak bawah, nggak ada. Kuperiksa motor, siapa tau, nggak ada juga. Akhirnya, kami (pun) membau-baui baju kami masing-masing dari jilbab, baju hingga celana. Nggak ketemu juga sumber bau kucing itu. Ternyataaaa….!!! Tersangkanya adalah tasku!! Hugs…bau tai kucing, kayaknya waktu pas tas itu di taruh di kursi ruang tamu yang kursinya (abis) di pub-in kucing sialan..huhuhu…!! Huaaaa……tai kucing sialan!!

7 Oktober 2008
Melahap Buku
Hari ni terakhir aku di rumah, seharusnya jadi hari terberatku (setiap) meninggalkan rumah. Dan (memang) berat kurasakan. Bayangin, dari kemarin di rumah nggak da listrik, bahkan airpun tak ada. Jadi ya (otomatis) blm mandi dari kemarin, hihi!!

Mau keluar nggak enak dong klo blm mandi, gila aja apa keluar rumah nggak mandi (dari kemarin! ^-^)

Daripada aku berbete2 ria di hari terakhir di rumah, mending kuabiskan waktu untuk baca2, dari jam 8an pagi mpe jam 5an sore, nggak kerasa ada lima buku yang kulahap (hap!)

• Bintang Bunting
Kalo kita nyangka ini cerita seorang tokoh bintang yang bunting, salah banget! Bercerita ttg Audine yang tak bisa membedakan antara mimpi dan nyata, Adam (suami Audine), Mada (peramal…), Raeli (pemilik salon). Awalnya, ceritanya agak membingungkan, terkesan loncat2 kali’ ya?? Kisahnya menarik saat di akhir cerita yang tak disangka-sangka.
“…kalo takut mati itu kayak ketakutan kita kalo lagi nyetir dalam sebuah perjalanan.”
“…takut ga tau jalanlah, takut abis bensinlah, takut ada apa-apa pas nyampe, karena ga ngerasa punya tempat tinggal di tujuan.”
(hal. 79)

• Joker: Ada Lelucon di Setiap Duka
Bercerita tentang kisah seorang penyiar, Brama dan kehidupan di radio. (tampaknya tak jauh berbeda dengan keseharian sang penulis yang memang bekerja di salah satu radio terkemuka di bandung). (lagi-lagi) kelemahan Valiant Budi yang (juga penulis Bintang Bunting), selalu hambar diawal cerita walaupun sebenarnya ini bukan cerita biasa. Terbukti akhir cerita (yang selalu) jadi sisi menariknya. Tap salut deh buat Valiant Budi yang bercerita ttg tema yang tidak biasa.
“Sempurna bukan berarti ga ada cacat. Kita sebagai manusia terlalu sibuk membuat patokan sempurna, terlalu sibuk membuat pagar-pagar standar, jadinya segala sesuatu yang nggak sesuai dengan patokan dan pagar2 tadi, kita anggap cacat dan di bawah standar. Justru adanya cacatlah yang membuat sesuatu begitu sempurna.” (hal. 73)

• Malaikat Jatuh
Buku ini berisi kumpulan cerpen karya Clara Nag yang terdiri dari 10 cerita; Malaikat Jatuh, Negeri Dadu, Makam, Di Uluwatu, Lelaba, Hutan Sehabis Hujan, Akhir, Barbie, Bengkel Las Bu Ijah, Istri Paling Sempurna. Semuanya bercerita tentang hubungan antara ibu dan anak, bahkan kematian. Setiap cerita dikemas dengan menarik dengan jalan cerita yang tak gampang di tebak.
“Ibu, panggilnya dalam senyap.
Dia merindukan suara lengkingan ibu yang bergetar melewati awan-awan putih.
Dia selalu berpikir guntur adalah perpanjanagn suara ibu dari kejauhan, suara yang sama seperti suara hangat yang berasal dari sudut hatinya yang paling dalam.” (hal.18)

• Kepompong
Karya Indah Darmastuti ini bercerita tentang hubungan dua manusia yang sama-sama mencari arti apa itu hidup dan apa itu cinta, antara Prasasti (Gadis Jakarta yang hidup di Bandung) dan Pramono (Pemuda Solo keturunan keluarga Keraton).
“Setiap manusia adalah ‘ratu’ bagi dirinya sendiri; bisa menjadi rusak atau baik oleh pikiran dan perasaan ketika sedang memimpin diri dalam hidupnya. Tak ada yang bisa memaksa seseorang jadi penolong atau pendosa, pemaaf atau pendendam.”

• Travel Trails. Balik kanan: Barcelona!
Ni buku udah lama, tapi aku baru baca ^-^
Sebenarnya biasa saja, kisah tentang empat sekawan dari sejak zaman mereka ingusan yang berujung pada cinta yang terpendam. Yang bikin menarik adalah kisah empat orang dengan setting yang berbeda-beda yang ditulis keroyokan oleh empat pengarang pula. Ada Farah yang memendam cinta dengan Francis, teman sebangku saat sekolah; Yusuf a.k.a. Ucup yang diceritakan tampak hobi melakukan hal-hal nekat; Retno, gadis ayu yang paling ‘normal’ diantara yang lain; dan Francis, si pianis yang akan menikah dan mengakibatkan mereka berempat yang telah bertahun-tahun tak bertemu kembali bertatap muka.

8 Oktober 2008
(Kembali) Menuju Jatinangor (Lagi)
Hal berat apa yang ada dalam hidupku? Salah satunya adalah balik (lagi) ke Jatinangor. Rasanya buueraaat banget ninggalin rumah! Tapiiii….kalo nggak inget skripsi yang deadlinenya November (semoga!), aku pasti masih betah berlama-lama di rumah (walaupun listrik belum hidup hingga aku pulang). Hmmmm…tampaknya ni (adalah) mudik lebaran terakhirku ke Jatinangor, karena tahun depan aku (insyaallah) bakal di Lampung selama-lamanya..

catatan kehidupan

Kerja ato Gelar??

Iklan A Mild bilang gini:

Daripada gak dapet-dapet kerja mending gak dapet-dapet gelar

( ) Gelar dulu

( ) Kerja dulu

Waktu liat iklan ini pertama kali,

Pas ma Tessa, kita lagi nonton TV di ruang tamu kosan.

Kontan, kita merasa ’kesentil’ ma iklan ini!!

Kita banget ya??? Hugs…

Jadi inget headline KOMPAS, 22 Agustus 2008:

”PENGANGGUR TERDIDIK 4,5 JUTA: Sedikitnya 30 Persen Lowongan dalam Bursa Kerja Tidak Terisi”

Waaaa….serem bgt!!

Ni lebih serem dari nonton film horor!!

Klo aku di suruh milih: Gelar ato Kerja??

Yang kujalani saat ini cari duit tapi nggak lupa mikirin kpn lulus…

Nyatanya…skripsi itu sempet terbengkalai…

catatan kehidupan

Debu-debu Beterbangan…

Debu-debu itu memang terlihat jelas beterbangan, menghinggap pada es buah, es pisang ijo, lumpia basah, batagor, siomay, bakpia, mie ayam, bakso, nasi gila, sate, lotek, kolak, dan jajanan lainnya di sepanjang gerbang Jatinangor yang tinggal menghitung hari akan runtuh itu..

Debu-debu bertambah banyak bersamaan dengan mobil dan bus-bus yang melewati jalan Jatinangor yang sempit nan macet itu..

Debu-debu semakin terasa saat hujan tak pernah datang di Jatinangor yang gersang ini, pohon-pohon pun tak berdaun…

Debu-debu beterbangan…

semoga Ramadhan kali ini,

dosa kita pun beterbangan bersama debu-debu itu..

17 September 2008

Berjalan menuju kosan sambil menunggu detik-detik azan magrib sambil melewati debu-debu yang beterbangan itu….

umum

Pilgub Lampung

Pilgub Lampung tlah berakhir, tapi nggak kedengeran gaungnya. Kalah tenar ma Pilgub Sumsel, yg hari pelaksanaannya beda dua hari dari Pilgub Lampung. Salah satu faktornya, Helmy Yahya mungkin jadi salah satu pendongkraknya. Iklannya di TV aja nongol mulu’. Punya duit mah nggak masalah. Walaupun pada akhirnya Helmy Yahya kalah. Sayang sekali, padahal Helmy lebih berkompeten dibandingin artis-artis yg ’latah’ mencalonkan diri jadi pejabat.

Lho, malah ngomongin Pilgub Sumsel?!? Balik lagi ke Pilgub Lampung.

Pilgub Lampung adalah satu-satunya Pilgub di Indonesia dengan kandidat terbanyak: tujuh pasangan. Sayangnya, dari ketujuh itu adalah ’orang lama’. Yang pastinya orang-orang lampung udah tau ’kulitnya’ mereka. Sayangnya (lagi), nggak ada pasangan yang menonjol. Masih standar-standar aja visi misinya.

Walaupun aku nggak ikut milih (yah, secara merantau. Padahal terdaftar sebagai pemilih juga loh!), aku berharap lampung lima tahun ke depan dengan pemerintahan yang baru (walaupun gubernur lama terpilih kembali) ada perubahan. Aku juga berharap, Lampung bisa nunjukin sesuatu. Sumatera kan yang di kenal cuma Aceh, Palembang, Padang, Medan. Bangka Belitung aja yg baru propinsi udah ’eksis’ bener: ada Artika Sari Devi, ada Sandra Dewi, apalagi ditambah adanya film Laskar Pelangi, tambah melesat aja popularitasnya propinsi yg satu ini.

Hmm…apa yg bisa kubanggakan dari Lampung?

Entahlah,

padahal Way Kambasnya bisa jadi ’aset’ yang menjual.

Pantai-pantainya juga indah…

Kerupuk kemplang juga khas dengan sambal yang bikin nagih!

Duriannya juga menggoda…

Oya..dua emas yg diperoleh Indonesia pas Olimpiade di Cina kmrn, dua-duanya dari Lampung, daerah Metro pula (promosi daerah sendiri! ^-^)

Mungkin Lampung hanya butuh orang-orang yang mau kembali padanya,

Kembali setelah menuntut ilmu,

Kembali membangunnya menjadi kota yang maju,

Kembali untuk ’mengharumkannya’.

Dan…aku berharap, suatu saat nanti aku kan kembali ke Lampung (seutuhnya)…semoga…

catatan kehidupan

Sudah Jatuh, Tertimpa Tangga Pula, Eh Kelindes Gajah Sekalian!!

Entah kenapa, hari ni aku melakukan kecerobohan-kecerobohan. Walaupun kecil, tapi kecerobohan ini beruntut. Kebodohan yg diakibatkan diri sendiri.

Andai aja abs solat subuh, aku nggak tiduran lg mungkin nggak bangun telat. Niatnya abs subuhan mau tidur-tiduran sekitar satu jam-an, ternyata dan ternyata, jadi kebablasan. Berangkat magang pun belepotan.

Pas sampai di kampus, pikiran msh blm loading. Rada-rada ngantuk. Duduk sambil menatap layar komputer, mengumpulkan raga (emg ilang kmn??). dan..buku-buku yg udah aku entri kmrn kesenggol. Buku-buku itu berjatuhan! Kyaaa…padahal itu dah ngurut sesuai barcode, hugs…!!

Sampai di kosan, pagar kosan tertutup rapat. Reflek kugeser untuk membukanya, dan bodohnya…kaki kananku tepat pas di area pergeseran pagar. Huaaa…sakitnya!! hiks…rasanya pengen nangis, sakit bgt! Mana pas teriak, diliatin org yg lewat. Duh, malunya!!

Pas buka, untuk pembukaan aku minum es buah, bodohnya (lagi) waktu ngambil sendok, tiba-tiba rak piringnya ambruk. Ya Allah, apalagi ini?? Aku nggak langsung membereskannya, udah keburu laper, mana blm magriban. Pas mau mandi, baru kuberesin, astagfirullah ternyata ada dua mangkok yg pecah. Untungnya nggak ngenain kaki. Mana lantainya putih.

Azan isya udah terdengar dari Masjid Ibnu Sina di seberang kosanku. Hmmm…rasanya masih kenyang bgt!! Es buah, lumpia basah, dan capcai goreng udah bercampur dalam perutku. (Duh, ketauan klo nafsu makanku menggila! ^-^) Walaupun setan ’nangkring’ di mataku yg berasa udah lima watt, akhirnya kumantapkan menuju masjid, walaupun ketinggalan jamaah isya’nya.

Pulang dari terawehan, kakinya yang kelindes pagar tadi berasa nyeri, jalan pun terseok-seok. Emang remang-remang depan masjid, aku yg pada dasarnya rabun merasakan ’efek’nya hampir saja menabrak pipa air masjid. Ampe anak-anak kosan yg bareng terawehan bilang: ”Duh, nenek2 udh kayak iklan mizone aja!!”

Ya Allah, kenapa ya aku ini??

Seperti kehilangan sesuatu zat atau apalah namanya…

12 September 2008

22.30 sambil dengerin kokologi di radio…

catatan kehidupan

EPIGON: Episode yang Bikin Gondok

Padahal hari ni niatnya mau bertobat,

Mau ’bercinta’ dengan komputer sendiri nyelesein BAB 3,

Udah sengaja ijin magang pula!

Nyatanyaaaaa….?!?!

Hari ni Jatinangor seharian mati lampu,

Dari jam 9 pagi,

Mpe jam 6 mlm,

Ya ampyuun!!

Mati gaya!

Padahal hari ni dah semangat bgt buat buka-buka buku,

Sabar…sabar…

Pas aku bilang ma papa, beliau malah bilang:

”Masih mending Luck, di rumah dari hari pertama puasa mpe sekarang lampunya nggak idup-idup. Nggak tau, apa nympe lebaran msh mati lampu juga??”

Adikku yg SMP juga bilang waktu di telpon:

”Mbak, males banget ngerjain PR gelap-gelap. Saur juga udah masih ngantuk, gelap-gelap pula!”

Ya Allah, seharusnya aku nggak boleh ngeluh baru kayak gini aja. Mungkin aku di suruh tidur aja, heuheu! ^-^ (tidur selalu cuma dari jam 1 mpe jam 3 pagi!). Hidup ini harus sabar dan ikhlas. Walaupun hari ni bagiku adalah sebuah EPIGON: episode hidup yg bikin gondok.

9 September 2008

Sebuah epigon…

catatan kehidupan

Dunia Maya

Malam ni seperti biasa aku dengerin radio sambil berniat ngerjain skripsi (Niatnyaaa…ngerjain skripsi…!!?! nyatanya?? Malah nulis-nulis nggak jelas gini…?? ^-^)

Setiap malam sabtu biasanya di 99ers temanya tentang kokologi, klo ga slh (klo ga slh, ya bener! ^-^) kokologi tu semacam sub ilmu di psikologi, melalui sebuah perumpamaan, seseorang bs di tebak sifatnya, kelakuannya, dan semacamnya…

Kokologinya cuma sebentar, sekitar setengah jam-an. Berganti dengan sandiwara radio yg biasanya nyambung ke tema yg akan di bahas mlm itu.

Temanya malam tu ttg kenalan di dunia maya,

Dan ternyata…banyak bgt yg pny pengalaman kenalan di dunia maya,

Friendster, Facebook, Multiply dan situs pertemanan yg lainnya.

Ada yg berakhir singkat, ada juga yang berakhir indah.

Wah, jadi ’gatel’ pengen ikutan sms:

Karna Friendster aku bs dpt ide skripsi,

Karna Facebook aku dpt wawancara buat BAB 3,

Karna Multiply aku bisa dpt literatur,

Karna WordPress aku bisa berdiskusi ttg skrispi,

Hidupku agak aneh,

Skripsiku terbantu dengan dunia maya… ^-^

catatan kehidupan

Kerinduan yang begitu hebat…

Entah kenapa malam ini,

Saat mau tidur tiba-tiba inget mama,

Entah kenapa,

Malam ini wajahnya terlihat jelas dalam ingatanku,

Mama,

Malaikatku yang datang menjelang tidurku malam ini…

4 September 2008

00.47 WIB

Saat yang lain sudah terlelap….

Siapa pun yang pernah kehilangan sesuatu yang mereka pikir milik mereka (seperti sudah cukup sering terjadi padaku) pada akhirnya menyadari bahwa tidak ada sesuatu pun yang benar-benar milik mereka.

(Eleven Minutes-Paulo Coelho)